Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
20. Mengenalnya lebih jauh


__ADS_3

"Kakimu, belum boleh banyak bergerak, aku akan menggendongmu," ucap Abbas dengan ekspresi dinginnya. Langkah kaki yang beralas sepatu sneaker terdengar di lantai keramik putih. Hingga membuat beberapa pasien di klinik tersebut memusatkan pandangan kepada mereka.


"Duh, romantis pisan nya, pasangan muda eta. Penganten baru sigana mah? si aa na kasep, si neng na geulis pisan."


"Nya Bu. nuju hamil muda kosna mah, nya? jadi di gendong Kitu." terdengar obrolan dua ibu-ibu yang sedang mengantri di bangku tunggu.


Anna yang mendengar ocehan para ibu di sana makin malu mendengarnya, apalagi saat ini, ia berada dalam gendongan Abbas. Anna melihat Abbas tersenyum penuh arti tanpa menghentikan langkahnya. Entah apa yang ia pikirkan. Wajah Anna yang sudah merona seperti tomat pun makin bertambah merah akan perlakuan Abbas terhadapnya. Ingin ia menjelaskan kepada para ibu itu, tapi apa daya, langkah tegap Abbas terus jadi perhatian di sana. Ia tak bisa berbuat apa-apa.


Abbas yang selalu menunjukan sikap dinginnya, tak menampik adanya perhatian dalam dirinya untuk Anna. Apalagi sikap Anna yang lebih banyak berbicara meski terkadang Abbas hanya menjadi pendengar saja. Semenjak kenal dengan Anna, Abbas merasa ada yang aneh dengan perasaan nya. Ia merasa senang setiap kali mereka bertemu. Merasa ingin cepat bertemu. Benar kata Bu Lidia! sikap ceria Anna itu bisa menular kepada orang yang berada di dekatnya, seakan memberikan aura kebahagiaan untuk orang sekitarnya.


***


Mobil Honda luxury warna hitam melaju meninggalkan bangunan putih itu. Suasana yang hening tanpa suara dari keduanya masih betah menemani mereka. Obrolan ibu-ibu di klinik tadi masih terbayang di ingatan Anna.


"Bang"


"hm ..."


"Maaf sudah merepotkan sampai sejauh ini," ucap Yara sambil menunduk tak berani menatap si pemilik wajah dingin itu.


"Ya, tak perlu meminta maaf, ini sudah kewajibanku menolong sesama," ucap Abbas. Pandangannya tak beralih dari konsentrasi ngemudi.


Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara Anna yang mendominasi percakapan antara mereka berdua. Anna mulai terbiasa dengan sikap Abbas yang diam. Hanya sesekali menjawab apa yang perlu ia jawab. Suasana hening kembali setelah beberapa saat. Tak ada ocehan Anna yang terdengar oleh Abbas, ternyata setelah menoleh ke arah Anna, matanya sudah terpejam bersandar menghadap jendela mobil. Mungkin karena lelah Anna jadi gampang tertidur.


Abbas membantu menurunkan posisi sandaran agar Anna merasa nyaman saat tertidur dalam mobil. Dengan hati-hati Abbas melakukan itu. Anna bergerak saat ia merasakan posisinya sedikit berubah, tapi tak membuatnya membuka mata, hingga wajah Abbas dan Anna saling berdekatan. Abbas terdiam, memperhatikan wajah Anna. Ia menyingkapkan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik Anna. Tak mau terbuai suasana, Abbas langsung tersadar dan kembali di posisi duduknya.


Abbas mengambil kain sarung di dalam dashbor yang selalu ia simpan, agar memudahkan nya ketika melaksanakan sholat saat ia memakai celana pendek seperti saat ini. Ia tutupi tubuh Anna dengan sarung itu.


***


Mobil yang sudah jauh berkendara itu terhenti tak jauh dari kampus tempat Anna belajar. Abbas tak tahu harus mengantarkan Anna kemana, jadi lebih baik ia parkirkan kendaraannya di tepi jalan menunggu si Anna bangun dari tidurnya.


"Hoaamm ..." Anna meregangkan otot dan tangannya. Ia terkejut saat terbangun, heran tubuhnya yang terselimuti kain bermerk Gajah duduk dan kendaraan yang terhenti di pinggir jalan. Pandangannya beralih kepada pemilik wajah tampan di sampingnya. Matanya terpejam dengan kepala bersandar di sandaran bangku kemudi.


Posisi tidur menghadap Abbas membuat Anna lebih leluasa memandangi wajah tampan itu. Beberapa detik berlalu, Anna masih belum mengalihkan penglihatan nya.


"Tampan, baik, salah ngga si! kalau aku suka sama dia" ucap Anna dalam hati.


"Mau berapa lama, kamu memperhatikan wajah saya! apa setampan itu sampai kamu tak mau mengalihkan nya." Tiba-tiba Abbas membuka mata. Sebenarnya Abbas tidak benar-benar tidur, ia hanya memejamkan mata sebentar tapi melihat Anna yang terbangun dan memperhatikannya, ia berpura pura tertidur.


"E-eh Abang...! itu ...em." Anna terkejut mendengar Abbas menegurnya. Ia merasa malu harus dipergoki oleh Abbas. Anna merubah posisi tidurnya jadi duduk, kursi penumpang pun ia ubah posisinya.

__ADS_1


Abbas tersenyum melihat tingkah Anna yang malu karena ketahuan memandanginya.


"Saya antar ke kosan mu, beri tahu jalan menuju kesana! Sebentar lagi waktu orang keluar dari kantor, pasti kita akan terjebak macet jika kita terus berada di sini," ajak Abbas. Anna hanya mengangguk lalu memberi arahan kepada Abbas untuk menuju ke kosan nya.


Mobil Abbas pun melaju menuju kosan di mana Anna tinggal. Di perjalanan Anna menghubungi Maira melalui pesan WhatsApp nya.


"[Assalamualaikum]" Anna


"[Waalaikumsalam]" Maira


"[Lagi di mana, Mai?]" Anna


"[Di Kampus, baru selesai jam kuliah. kenapa, An?]" Maira


"[Aku bisa minta tolong enggak?]" Anna


"[ Minta tolong apa, An? kamu kenapa? jangan buat Aku khawatir,An?]" Maira


"[Nanti aku ceritakan, kamu ke kosan ku ya! aku tunggu! Makasih Maira, sayang ๐Ÿ˜˜]" Anna


"[Ok]" Maira


"[Assalamualaikum]" Anna


"[Waalaikumsalam]" Maira


"Terima kasih ya, Bang. Sudah mengantarku sampai sini. Sekali lagi, Anna mohon maaf sudah banyak merepotkan Bang Abbas." Anna menundukkan kepalanya sopan.


"Ya. Saya bantu kamu dulu, setelah itu saya akan pergi dari sini." Abbas keluar dari mobil. Ia memutar dan membukakan pintu mobil untuk Anna.


Anna berjalan pelan di ikuti Abbas di belakangnya. Rumah kos yang di tempati Anna terbilang mewah.


terdapat empat kamar kos, dapur, ruang solat dan ruang berkumpul. Pemilik kos ini sangat mendisiplinkan para penghuni kos agar tetap menjaga kebersihan. terbukti dari tanaman yang terawat di luar rumah kos dan keadaan ruangan yang terlihat bersih.


"Mohon maaf, ya, Bang. Tempatnya seperti ini, maklum tempat tinggal anak kosan. He.. he.." Cengir Anna. Tapi Abang ngga boleh masuk ke dalam sini ya! Anna berhenti saat ia hendak masuk ke kamarnya. Abang tunggu di ruang kumpul aja, di situ! Anna menunjukan ruang kumpul tak jauh dari kamar kos Anna. Anna mau ganti pakaian sebentar. Abbas pun melangkah menuju ruang kumpul yang ditunjuk Anna.


Ruangan yang biasa digunakan anak kosan ketika mereka libur dari kegiatan masing-masing. Kosan itu hanya di isi oleh dua mahasiswi dan dua penghuni yang sudah bekerja.


"Di minum Bang." Anna memberikan minuman kaleng yang ia ambil dari lemari pendingin di ruangan itu. Tak lupa ia menyediakan cemilan buat Abbas.


"Tidak usah repot-repot. Saya langsung pulang saja. tidak pantas rasanya hanya berdua di dalam rumah ini." Abbas hendak berdiri meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Belum juga di minum Bang, minumannya! Ngga baik loh, menolak suguhan dari tuan rumah! tenang aja, Bang Ada orang ko, di sini. Mereka lagi di kamar masing-masing, lagi nabung tidur gantiin buat nanti malam.


Abbas mengernyitkan alisnya, mendengar penuturan Anna.


" Persiapan buat kerja malam, Bang!" Anna menjelaskan perkataannya.


Abbas yang tak enak hati dengan Anna. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang, tak ada salahnya menerima jamuan yang sudah di sediakan. Abbas membuka minuman kaleng yang di suguhkan Anna, lalu meneguknya.


Mereka ngobrol sebentar menunggu kedatangan sahabatnya, Maira. Seperti biasa, hanya Anna yang lebih banyak bertanya dan berbicara. Melihat Anna dengan keceriaan dan keseruannya dalam bercerita, membuat Abbas terbawa ke dalam obrolan yang membuatnya ikut tertawa. Abbas terkekeh mendengar candaan Anna. Ia semakin mengenal seorang Anna lebih jauh. Abbas menyukai semua yang ada dalam diri Anna, hanya ia tak mau menunjukannya. Ia sadar akan perbedaanya dengan Anna.


...***...


"Terima kasih atas jamuannya, An! Saya pamit! semoga lukamu, cepat sembuh!" harap Abbas. Kamu tidak apa-apa di tinggal sendiri?.


"Ngga apa-apa, Bang! sebentar lagi juga temanku sampai ko! Abang pasti kenal deh sama dia. Dia sering ikut pengajian bulanan juga sama Abang?" ucap Anna.


Abbas mengerutkan alis sambil berpikir! "Maira! yang selalu sama kamu itu?"


Anna mengangguk.


"Aku kenal dia, tapi tidak begitu dekat." Dia salah satu jama'ah di pengajian Az - Zikra.


Dari luar terdengar suara seseorang memasuki ruangan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam," jawab Anna dan Abbas kompak.


"Itu dia, Maira. Sini, Mai?," ajak Anna dengan lambaian tangannya. Maira melangkah memasuki ruangan tempat Anna dan Abbas berada saat ini.


Terima kasih yang masih setia di sini.


dukung karyaku ya.


like ๐Ÿ‘


komenโœ๏ธ


jangan lupa


Favorit โค๏ธ juga.

__ADS_1


komen juga sebanyak banyak nya. kritikan sangat aku harapkan untuk membangun karya lebih baik lagi.


salam hangat dari Author Mayya_zha๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2