Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Sikap bertoleransi dalam keluarga


__ADS_3

Maira hanya tersenyum melihat tingkah Anna.


"Apa mereka sudah menjalin hubungan? Aku harus ikhlas. Tak baik untukku menumbuhkan rasa terhadap orang yang tak memiliki perasaan terhadapku. itu akan menyiksa diriku. sudah waktunya kamu menutup lembaran perasaanmu. Allah pasti tau yang terbaik untukmu." Maira menyemangati diri sendiri dalam hati.


Tak lama Anna meletakkan benda pipih itu di atas kasurnya. Ia berbalik merubah posisi tidurnya menghadap langit kamarnya.


"An, apa kalian sudah menjalin hubungan?" Tanya Maira pelan.


"Kenapa, Mai?" Anna lekas duduk dari tidurnya. pertanyaan yang Maira lontarkan kepadanya kurang begitu terdengar karena Maira bertanya dengan suara pelan.


Anna turun dari kasur lalu duduk kembali bersama Maira di karpet bulu yang membuatnya nyaman.


"Apa kamu sudah pacaran dengan Kak Abbas?" Maira kembali bertanya.


Anna menggelengkan kepala. "Tidak, Mai. Kami masih berteman," jawab nya singkat.


"Loh, kenapa? bukannya kamu ada rasa sama dia. Aku lihat juga Kak Abbas mempunyai perasaan yang sama terhadapmu" ucap Maira.


"Mungkin kami belum siap mengungkapkan perasaan masing-masing, Mai!"


"Lalu, bagaimana dengan Niat mu yang pernah kamu ucapkan padaku. Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Maira kembali bertanya.


Anna mengangguk. "Aku sudah mendapat restu dari Mama, Mai. Aku juga sudah meminta bantuan Om Anwar untuk itu. Aku ingin Mama menemani ku pada saat itu tiba. Maunya si Papa juga datang. tapi kesibukan di kantor membuatnya tak bisa ikut datang kesini." keluh Anna.


"Kapan Mama mu datang, An?"


"Selesai sidang skripsi dia langsung kemari. Aku ingin mengajaknya dulu keliling kota Bogor sebelum Wisuda. biar Mama ku merasakan juga indahnya kota Bogor."


"Kabari Aku, ya kalau Mama mu datang."


"Pasti. aku akan kenalkan dia sama sahabat terbaikku di sini."


"Kamu bisa saja, An. Apa niat mu berpindah keyakinan karena Abbas juga, An?" Maira bertanya ragu.


"Tidak, Mai. Aku tulus berniat seperti itu. Aku tak mau niat ini muncul karena disuruh atau pun karena seseorang. Hatiku sendirilah yang mendorongku untuk itu." tutur Anna.


"Kamu beruntung sekali, An. Kedua orang tuamu merestui bahkan mereka tak melarang mu?"


"Mama dan Papa selalu memberiku kebebasan. Mereka selalu mendukung apa yang jadi keputusanku. Asal itu murni tulus dari hati pasti akan menjadi baik untuk kita, Mai. Mungkin itu yang di ajarkan eyang dulu, ketika Om Anwar memilih untuk berpindah keyakinan juga saat menemukan jodohnya." Anna menjelaskan.


Keharmonisan keluarga meski berbeda keyakinan antara Mama Ami dan Om Anwar tak membuat kedua keluarga itu berjarak. Saling menghormati dan saling menghargai selalu tercipta antara kedua keluarga ini. Jarak antara Surabaya dan Jakarta tak membuat mereka lepas memberi kabar.


Mama Ami dan Om Anwar hanya dua bersaudara. Ketika Eyang Rossa da Eyang Albert masih ada. Mereka selalu mengajarkan kedua Kaka beradik itu agar selalu bertoleransi antar sesama dan memberikan pilihan dalam memilih keyakinan sesuai hati nurani masing-masing karena dalam silsilah keluarga ada anggota keluarga yang berbeda keyakinan dengan beberapa saudara.

__ADS_1


Sampai saat ini meskipun ada perbedaan keyakinan, keharmonisan terus terjalin dan tetap saling mendukung saat keadaan apapun.


Ajaran itulah yang Mama Ami terapkan untuk Anna. Ia memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih yang terbaik sesuai keinginan hatinya.


"Semoga apa niat tulus mu di beri kelancaran ya, An." ucap Maira.


"Aamiin."


Di kamar itu mereka habiskan dengan curhatan ringan. Anna selalu menanyakan perihal lelaki rahasia yang disukai Maira. tapi percuma Maira pandai menyembunyikannya. Menurut Maira, lelaki itu bukannya untuknya, jadi tak perlu ia beritahu siapa orangnya.


Anna hanya menghela nafas. Sulit sekali membujuk Maira agar bercerita tentang perasaannya. Tapi Anna hanya bisa berucap untuk mendoakan Maira agar ia dapat yang terbaik.


Anna juga menanyakan perihal beberapa hal yang di lakukan sebagai muslim.


Anna sudah siap lahir batin untuk niatnya berpindah keyakinan tapi untuk merubah penampilan nya seperti yang di pakai Maira, Anna belum mempunyai kesiapan untuk itu.


"Mai, aku masih belum siap memakai hijab sepertimu. Apa tak masalah nantinya" tanya Anna ragu.


"Kenapa tidak, An. kamu bisa melakukannya perlahan. Tak harus langsung merubah penampilan mu. Asalkan apa yang kamu pakai sopan dan wajar saja, An! Memang memakai hijab itu salah satu menjadi muslim yang taat. tapi harus dari hati untuk kita melakukan nya jadi pelan- pelan saja. Jangan di buru-buru.


Anna mengangguk mendengar penuturan Maira.


Maira pun menjawab beberapa pertanyaan perihal muslimah yang taat. Ia menjawab sesuai dengan kemampuannya Karena Maira pun masih belajar.


Maira memberi support untuk Anna. Sikap gigih nya dalam belajar agama begitu kuat.


Kabar tibanya Abi Khaliq di depan halaman kos an Anna membuat Anna dan Maira harus mengakhiri obrolan mereka.


Maira meminta Abi nya menjemput di tempat Anna. Kebetulan arah pulangnya melewati tempat Anna. jadi Abi Khaliq mampir dulu sebentar untuk menjemput Maira.


"An, Aku pulang dulu ya. Abi sudah jemput di depan?" Maira memberitahu seraya mengambil Proposal di atas meja agar tak ketinggalan.


"Ya, nanti kita curhat manja lagi ya, Mai."


Maira terkekeh. "Iya, meski lebih banyak kamu yang curhat, ya!" ucap Maira.


Anna pun ikut terkekeh pelan.


"Tak apalah, dari pada di pendam nanti bingung sendiri. Aku antar ke depan ya dan ini sedikit untuk Bunda Ima dan Abi Khaliq, Mai!" Anna menyodorkan tas hijau bertuliskan go green yang di jadikan kantung untuk beberapa makanan yang ia berikan.


"Loh, banyak banget sih, An. Kamu ini kebiasaan banget deh." Maira menerima paksa tas tersebut karena Anna menyelipkannya di tangan kanannya.


"Enggak pa-pa. Aku sengaja di kirimi sebanyak ini untuk berbagi ko."

__ADS_1


"Terima kasih, An"


Mereka berjalan menuju depan Kosan menghampiri Abi Khaliq yang sudah menunggunya.


"Assalamualaikum, Bi" tanya Maira dan Anna.


"Waalaikumsalam" jawabnya.


"Abi, enggak mampir dulu ke tempat Anna." Anna menyapanya dari luar mobil.


Abi Khaliq tak turun dari mobil yang di dikendarainya.


"Tidak, An. Terima kasih. sudah sore nanti kemalaman di jalan. kasian Bunda sudah menunggu di rumah."


"Cie, yang sudah tak sabar mau pulang" goda Anna kepada Abi Khaliq.


Maira masuk ke dalam mobil. Ia duduk di depan menemani Abi.


"Bi, dapet oleh-oleh nih dari Mama nya Anna, Kopi kesukaan Abi." Maira mengeluarkan kopi yang di berikan Anna kepadanya.


"Wah .. terima kasih ya, An. sampaikan salam untuk orang tuamu"


"Iya, Abi. Nanti Anna sampaikan."


"Kami pulang dulu ya, An. sampai bertemu nanti di sidang akhir. Semangat Anna".


"Semangat Maira".


"Assalamualaikum" ucap Maira dan Abi Khaliq kompak.


jawab Anna.


Mobil itu pun perlahan meninggalkan halaman kos an. Anna memberi lambaian tangan kepada mereka. Meski tak berbalas karena mobil itu sudah pergi menjauh.


Anna berbalik melangkah ke teras kos an bergaya klasik yang selalu terlihat bersih dan terawat.


"Anna ...."


Suara berat seseorang membuat langkahnya terhenti.


Jangan lupa tinggalkan jejak


like👍

__ADS_1


komen✍️ yang banyak kritikan juga di terima.


salam hangat dari Author Mayya_zha


__ADS_2