
Maira menatap Melisa penuh selidik. “Ko lu ada di dalam?” tanya Maira heran tidak biasanya Rayyan menutup pintu ruangannya jika di dalam hanya berdua dengan seorang wanita.
Itu yang Maira tahu semenjak satu devisi dan satu lantai dengan ruangan Rayyan.
“Gue abis minta tanda tangan Pak Rayyan.” Melisa menunjukan berkas di tangannya.
“Oh...,” entah mengapa perasaan Maira begitu lega mendengarnya, ia hampir saja berpikir negatif soal Melisa dan Rayyan. Sebab ia pernah dengar tingkah nakal Rayyan dari Anna, sahabatnya.
“Eh, ini, makasih, Mel!” Maira hampir saja lupa berterima kasih.
“Apa pak Rayyan sedang sibuk?” tanya Maira sambil sesekali melirik ke dalam ruangan. Maira melihat Rayyan yang memang terlihat sibuk teleponan.
“Lihat aja sendiri!” Melisa melewati Maira terpaku menatap tubuh Rayyan yang berdiri membelakanginya.
Tidak mungkin Rayyan tidak mendengar percakapan Maira dengan Melisa saat itu. Rayyan seolah-olah bersikap tidak mendengar obrolan itu membuat Maira mendesah kecewa. Padahal Maira sengaja berlama-lama berdiri di pintu yang terbuka oleh Melisa tadi.
Maira pun pergi dengan perasaan sedih. Ia menarik pintu ruanagn Rayyan yang terbuka.
Sama seperti Maira, Rayyan pun merasa sedih harus bersikap seperti itu kepada gadis yang ia cintai. Rayyan kecewa pada Maira, gadis itu sama sekali tidak berbicara soal taaruf saat dekat dengannya. Padahal hampir dua bulan ini, mereka sedang dekat dan banyak mengobrol. Disaat itu, Rayyan merasa Maira nyaman berasa di dekatnya.
Rayyan membalikkan tubuhnya, menatap pintu yang saat ini tertutup rapat. masih terlihat jelas langkah Maira yang menjauh dari dinding berlapis kaca penyekat ruangan itu.
"Semoga kamu bahagia, Mai! Ternyata sesakit melepaskanmu. Perasaan melihat mantanku yang lain rasanya biasa saja kenapa mendengar kamu telah memilih orang lain sakit sekali rasanya," gumam Rayyan lesu.
Rayyan merasa tak bersemangat bekerja. Ia memutuskan untuk pulang saja. Mendengar Mama nya da di rumah sakit menemani Anna, Rayyan memilih untuk ke sana.
Lagi-lagi Rayyan harus bertemu dengan Maira di loby kantor. Ia sedikit memperlambat langkahnya agar tidak berpapasan dengan Maira. Tatapannya tak lepas dari wajah Maira.
'Kenapa dia tidak bahagia? Apa Maira terpaksa menerima taaruf ini? Seharusnya wajahnya berseri." Rayyan bergegas menyembunyikan diri saat Maira menoleh ke arahnya.
Rayyan lebih memilih menghindar daripada harus merasakan sakit hati yang luar biasa jika Maira berterus terang kepadanya.
"Seperti ada yang memperhatikanku!" Maira mengedarkan pandangannya tapi tidak melihat siapapun yang menarap dirinya.
"Maira!" panggil Abi Khaliq yang baru saja datang menjemputnya. "Cari siapa?" tanyanya sambil mengikuti gerak pandang Maira.
"E-eh ... Abi!" Maira tersentak dengan panggilan abinya kemudian tersenyum simpul. "Aku gak nyari siapa-siapa, ko! Ayo, Bi!" Ajak Maira sambil menggandeng abinya untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Abi Khaliq melihat perbedaan sikap pada Maira. Beliau tidak ingin bertanya saat ini tentang perasaan Maira. Sebab saat ini mereka sedang ditunggu orang rumah. Abi Khaliq akan menjadi wali dari seorang gadis salah satu anggota keluarga yang akan menerima kedatangan tamu jauh dari Surabaya.
Sesampainya di rumah, Maira langsung menghampiri Bunda Ima dan Mila yang sedang sibuk menhidangakan beberpa masakan yang sudah matang di atas meja. Maira hanya menyalami mereka saja tanpa banyak bicara. Kemudian gadis pamit ke kamarnya.
Bunda Ima dan Mila, istri dari Andre saling menatap melihat tingkah Maira.
"Kenapa adikmu, Mil?" tanya Bunda Ima memarap heran tingkah Maira.
Mila hanya mengangkat bahu pelan. Tidak tahu apa yang terjadi. "Gak tahu, Bun! perasaan tadi pagi biasa aja," ujarnya.
Bunda Ima lekas bergantian menatap suaminya. Seakan bertanya tanpa bicara.
"Abi juga gak tahu, Bun! Sepanjang perjalanan Maira diam. Biasanya senyum-sentum sendiri, tadi malah diam seribu bahasa. Abi sampai di cuekin. Biarkanlah, mungkin dia galau sepupunya akan segera di lamar orang!" Abi Khaliq langsung duduk di kursi santai. Duduk sejenak sebelum tamu penting datang.
"Bun, tolong buatkan Abi kopi!" pintanya, Bunda Ima segera membuatkan kopi sesuai permintaan Abi Khaliq.
Maira melangkah malas ke dalam kamar. Hari ini seharusnya ia bahagia karena sepupunya Nisa akan segera bertemu calon suaminya.
Khairunnisa Awaliyah, gadis yatim piatu. Ayah dan ibunya telah meninggal saat kecelakaan pesawat tahun lalu. Gadis cantik yang biasa di panggil Nisa itu kuliah di Surabaya dengan jalur beasiswa tahun lalu.
Gadis yang pandai membawa diri itu lebih memilih menerima CV taaruf yang ditawarkan Ajengan Nur, suami dari guru ngajinya di Surabaya. Usai lulus kuliah satu tahun lalu dari salah satu fakultas terbaik di Surabaya. Nisa langsung bekerja di salah satu perusahaan yang ada di sana. Nisa memutuskan ingin menikah karena tidak mau menjadi bahan godaan para pria yang ada di kantornya. Ia tidak mau ada fitnah, Tapi Nisa bingung dengan siapa dia akan menikah karena selama ini dirinya tidak dekat dengan pria manapun.
Gayung pun bersambut. Ajengan Nur juga mempunyai seorang pemuda yang sedng mencari calon istri yang siap menerima pinangannya saat CV taaruf nya diterima. Dia adalah Darren. Prinsip yang sama dengan Nisa membuat Darren memutuskan ingin langsung meminang saat kabar taaruf di sampaikan oleh Ajengan Nur.
Nisa sangat percaya dengan pilihan gurunya. Maira sempat memberi saran kepada Nisa, jika dia bisa mencari dan mengenal pria lain dari pada harus menerima taaruf dengan pria yang baru ia kenal. Tapi Nisa menolak, gadis itu tidak ingin berpacaran. Ia akan menerima segala kekurangan dan kelebihan calon suaminya nanti. Akan lebih mengurangi dosa pikiran dan dosa hati karena selama ini memang Nisa sulit dekat dengan lelaki dan belum pernah berpacaran.
Beda dengan Maira. Meskipun ia mempunyai prinsip sama dengan Nisa untuk tidak berpacaran setidaknya Maira tahu dan kenal siapa calon suaminya nanti jauh sebelum mereka menikah.
"Kenapa mukanya cemberut gitu," tanya Nisa saat Maira baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Tak ada jawaban dari Maira. Entah mengapa perasaannya lebih sedih ketimbang dulu. Saat tahu Anna memiliki perasaan kepada Abbas pria yang sudah lama ia kagumi. Bahkan saat mendegar pernikahan dadakan Anna pun perasaannya tidak sesedih ini.
Maira malah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Galau?" desak Nisa yang ikut duduk di sisi tempat tidur. Maira lekas bangun dari tiduran singkatnya.
"Entahlah, tapi hati ini merasa sedih saat dia acuh!" Maira akhirnya mau mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Dia siapa?"
"Atasanku."
"Oh, yang kamu bilang pria yang suka ikut naik bus kota kalau kamu tidak dijemput?"
Maira mengangguk pelan. "Mungkin aku bukan seleranya, Mbak. Dia hanya memberi harapan palsu saja. Aku kira dia dekat denganku karena ada perasaan. Tapi---,"
"Jangan su'udzon dulu. bisa saja dia sedang ada masalah. Kamu sudah bertanya kepadanya?"
Maira menggelengkan kepalanya pelan. Nisa tersenyum melihatnya. Baru kali ini Nisa melihat Maira galau karena seorang pria.
.
.
Bersambung.
Nah akhirnya terbongkar 'kan sama siapa yang sedang taaruf dan langsung lamaran.
Gak jadi sedih kan. Tapi masih aja salah paham jadi galau deh dua-duanya.
ikuti kelanjutannya ya..
Senin ceria Vote hadir....
yang punya vote kirim sini yak!
Like hadiah dan komen yang banyak juga...
Promo deui... promo deui..
mampir ke karya teman otor.
ceritanya seru punya. Nih covernya 👇
__ADS_1
Mampir yak!!