
"Anna!.. tungguin!" teriak Nia sembari berlari menyusul Anna yang sudah jauh melangkah.
Anna yang sudah berjalan dengan Dita bergerak melambat menunggu mereka yang tertinggal di belakang.
"Woy! tungguin dong! ngga kompak banget ninggalin gitu aja," teriak serli agar Anna bisa mendengar teriakannya.
"Ya.. santai aja kali, gue tunggu di bawah pohon sana ya!" sahut Anna tak menghentikan langkahnya.
"Awas lu kalau ninggalin! nih, bawain buku gue! jangan lupa bawa air minum gue!" suruhnya kepada Mimi dan Tia. Mereka bertiga bergegas menyusul Anna yang sudah menunggu di bawah pohon untuk berdiskusi.
"An! kamu jangan ninggalin aku ya, jangan jauh-jauh, aku takut kalau nanti di kerjain Serli." Nia yang masih ketakutan akan ancaman dari serli masih tak mau jauh jauh dari Anna, karena menurut Nia hanya Anna yang bisa melindunginya. Anna hanya menggelengkan kepala mendapati sikap Nia terhadap serli.
"Buat semua, karena kita sudah mendapat narasumber untuk tugas kita, Nia bantu aku memotret kegiatan kita ya, nanti bergantian denganku, semua harus punya catatan sendiri mengenai hasilnya. Nanti catatan besarnya, aku yang akan buat untuk laporan kepada pembina. Untuk Serli, Tia, Mimi dan Dita tolong kerjasamanya, ya?" Ucap Anna memberi pengarahan kepada anggota kelompok nya.
"Kita saling kerjasama ya! jangan sampai kita tertinggal dari kelompok yang lain, dan lu Ser! jangan macem-macem kalo lu mau punya nilai bagus! waktu kita ngga banyak. Ok!."
"Ok siap," jawab Nia dan Dita.
"Sip." Mimi dan Tia menimpali.
"Iya bawel." Serli pun ikut menyahuti.
lihat aja nanti kalo semua sudah selesai, di situ gue baru kerjain Lu, heh seringai licik serli.
Mereka pun bergegas pergi ke pemukiman warga.
...***...
Di peternakan sapi milik salah satu warga kampung namanya Pak Subki, mereka berada.
Peternakan sapi ini memiliki puluhan sapi, Pak Subki menyampaikan bahwa sapi F1 Nelore asal Amerika-Brasil ini produksi susunya jauh lebih banyak jika dibandingkan F3 yang dimiliki peternak sapi perah di Desa tersebut. oleh sebab itu hasil susu perah ini di kirim ke koperasi yang ada di desa tersebut untuk di salurkan ke pabrik pembuatan susu murni dan ke tempat yang membutuhkan bahan makanan dari bentuk sapi murni.
Pak Subki pengelola dan pemilik peternakan menerangkan dan memberi pengarahan kepada mereka agar mereka mengerti dalam pemerasan susu sapi. sebenarnya saat ini sudah terdapat beberapa alat untuk memeras susu sapi, tak perlu manual lagi. tetapi di karenakan tujuan kelompok Anna yang sebelumnya sudah meminta ijin dan berbicara kedatangannya untuk tugas kuliah, pa subki mengijinkan dan menjelaskan terlebih dahulu tata cara pemerasan susu sapi manual dengan tangan. Anna mencatat apa yang di sampaikan oleh pa subki, Anna pun memotret beberapa tempat di peternakan sapi tersebut. mereka yang akan ikut memeras susu sapi di ajak untuk membersihkan diri dan di pinjami sepatu boot agar tidak licin saat masuk kandang.
Mereka sudah bersiap masuk ke kandang sapi, tetapi hanya Serli yang tidak bersedia masuk kandang, melewati kandang kotor saja dia sudah pusing dan mual dan muntah. Ia memilih duduk di bangku depan jaraknya jauh dari kandang.
Hal pertama yang Pa Subki terangkan kepada Mereka adalah permulaan dalam pemerasan susu sapi, sebelum memerah susu sapi, peternak perlu memastikan kandang sapi, alat, dan tangan harus bersih.
__ADS_1
Susu pertama yang dihasilkan dari pemerahan pertama perlu dibuang karena biasanya mengandung banyak bakteri. Susu ini tidak akan memenuhi syarat sebagai susu berkualitas di MCP ( Milk Collection Point ).
Setelah proses pemerahan dilakukan, peternak sapi perah akan membawa susu langsung ke MCP ( Milk Collection Point ) untuk diukur kuantitas dan kualitasnya.
Masing masing anggota sudah mencoba untuk melakukan pemerasan susu. mereka di ajarkan cara memerah sapi dengan lembut dan memijat pay*d*r* sapi dengan pelan bergantian satu p*t**g susu dan yang lainnya. hingga susu sapi keluar beriringan dan di tampung oleh ember di bawahnya. pemerasan harus di lakukan perlahan agar sapi merasa nyaman dan rileks.
Setelah semua anggota selesai bergantian memeras susu sapi, Nia dan Anna pun bergantian untuk melakukan pengabadian gambar kegiatan tersebut. Sekarang giliran Serli yang paling akhir untuk menyelesaikan tugas mereka.
Serli di susul oleh Anna agar mau masuk ke dalam kandang, mau tak mau ia harus menuruti Anna. Ia menjapit hidung dengan kedua jarinya, melewati kandang kotor dan memasuki kandang tempat pemerasan susu sapi.
"Woek.. woek..." Suara serli terdengar ingin muntah ketika memasuki kandang sapi perah, sekarang giliran dirinya yang akan memerah sapi untuk diambil susunya. Memang dari tadi ia tak lekas masuk kedalam bersama yang lain, bau khas kandang sapi yang membuatnya enggan masuk kandang. Padahal tempat memeras susu sapi di pisahkan dengan kandang makan agar terjaga kebersihannya.
"Gila!.. gue ngga sanggup deh, An! bau banget!" ucap Serli kepada Anna. Mereka saling bergantian untuk memotret dan memeras susu sapi murni langsung dari sapinya. Itupun di dampingi oleh ahlinya. Pak Subki membantu dan mengawasi mereka selama proses pemerasan susu agar tak terjadi kesalahan sehingga berakibat fatal pada sapi dan susu yang akan di perah.
Ketika memasuki kandang serli yang langsung duduk berjongkok berhadapan dengan ember hendak memerah susu sapi.
"Nia, cepetan deh lo ambil foto gue.!" teriak serli kepada Nia.
Nia yang saat itu baru selesai mencuci tangannya langsung mengambil kamera nya untuk memotret Serli. Ketika Nia mengambil gambar, baru satu kali jepretan dan hendak memotret untuk kedua kalinya, Serli hendak memeras susu sapi terkaget karena sapi yang akan ia peras susunya meronta seakan tak nyaman pu***g susu nya langsung di tarik oleh Serli.
"Pelan-pelan neng, jangan kasar, jangan terlalu terburu-buru!" ucap Pak Subki menegur Serli. Karena tadi, ia tak mengikuti apa yang di ajarkan Pada Subki, ia berada di luar kandang mungkin tak tahan akan bau kotoran sapi.
" Mooo... moooo." suara sapi ketika pay*d*r* sapi itu di remas oleh Serli. Ia memegang dan memerasnya dengan kasar dan terburu-buru. Apa mungkin terkena kuku jarinya yang panjang dan lentik mengenai bagian sensitif sapi.
Nia, Dita dan yang lain menahan tawa karena melihat serli yang ketakutan.
Serli yang melihat teman-teman menertawakannya langsung berdiri dan berjalan melewati mereka. Saking kesalnya ia menabrak Anna yang baru kembali usai membersihkan tangan dan mengembalikan sepatu boot kepada penjaga peternakan.
"Aww, sakit tau!" lirih Anna kepada serli yang berjalan melewatinya.
"Apa sih lu? Serli berkacak pinggang membalas perkataan Anna. lu ngga bisa ya cari narasumber lain selain di sini! udah kotor, bau, pengap tau!" ucapnya sambil mengibas ngibaskan bajunya, terus berjalan keluar kandang.
"Ini udah hampir selesai Loh, Ser! masa iya kita harus mulai lagi dari awal" Anna menimpali.
"Bodo amat deh, yang penting udah ada potret gue kan tadi! selanjutnya terserah lu deh mau pada ngapain juga. Tia, Mimi, Lo mau ikut gue apa masih mau di sini bareng mereka!" sembur serli ke arah Tia dan Mimi.
Tia dan Mimi yang selalu membuntuti serli langsung berjalan menyusul serli.
"Sorry ya, kita duluan!" ucap Tia.
__ADS_1
Anna mengangguk.
Pak Subki yang melihat sapi peliharaannya tak nyaman langsung mengelus ngelus tubuh sapi tersebut.
Anna menghampiri Pak Subki ke kandang.
"Maaf ya pak, atas tingkah teman saya?" Anna menundukkan kepala kepada Pak Subki tanda meminta maaf atas tingkah Serli.
"Ngga apa apa neng! memang kalo yang belum terbiasa dengan kondisi kandang pasti seperti itu," balas Pak Subki memahami situasinya.
Nia, Dita membantu membawa ember berisikan susu sapi untuk di bawa ke tempat penyimpanan susu steril. yang sudah di beritahu sebelumnya oleh Pak Subki.
Setelah membawa susu hasil produksinya ke MCP ( Milk Collection Point )., sistem digital pada MCP( Milk Collection Point ). akan menghitung TPC ( Total plate count ). Semakin rendah angka TPC ( Total plate count ) semakin tinggi kualitas susu segar dan susu akan dihargai lebih tinggi.
Sedangkan Anna membantu membereskan dan membersihkan kandang tempat memeras susu.
"Main pergi aja tuh mereka! harusnya kan bantuin kita dulu di sini." gerutu Nia ketika kembali dari tempat penyimpanan susu.
"Sudahlah, Ni! kita jangan sama nya dengan mereka, yang penting kan tugas kita hari ini selesai, tinggal kita susun aja, apa yang tadi kita catat." Anna menasehatinya.
Anna, Nia dan Dita pun akhirnya berpamitan kepada pa subki dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dan ijinnya sudah di perbolehkan melakukan kegiatan.
"Terimakasih banyak ya, Pak? maaf kami merepotkan," ucap Anna sopan dan sedikit membungkukkan badan, di ikuti Nia dan Dita.
"Sama-sama neng, mudah-mudahan apa yang Bapak sampaikan bisa membantu dan bermanfaat buat kalian."
Tak lama istri dari Pa Subki keluar dari arah pintu tepat berada di samping Pak Subki. Istri dari Pa Subki membawa susu yang sudah di kemas dalam botol, dan susu tersebut masih hangat tanda kalau susu tersebut belum lama di hangat kan. Agar lebih nikmat saat di minum dalam kondisi dingin.
"Pak!.. Ini ada sedikit susu yang bisa di bawa untuk si Neng nu gareulis iyeu ( buat si neng yang cantik ini).
...Terima kasih sudah sampai di bab ini....
...author sangat lebih berterima kasih untuk kalian yang mau memberikan...
...like 👍...
...komen ✍️...
...klik favorit ❤️...
__ADS_1
jika berkenan berikan juga hadiah buat Author.
...Salam hangat dari Author Mayya_zha**...