
Hal yang paling baik dilakukan saat hati dan pikiran sedang gundah memang lebih baik mengadu kepada Sang Pencipta.
Sama dengan yang Anna lakukan saat ini. Kegundahan hati saat sang suami tidak menerima teleponnya membuat Anna pasrah dan berdoa. Memohon di beri ketenangan hati dan rasa percaya.
Bik Imah paham dengan apa yang Anna alami saat ini.
“Jangan biarkan pikiran buruk terhadap suami terkabulkan oleh Sang Pemilik Kehidupan kita. Banyak-banyak beristigfar saat perasaan sedang berkecamuk.” Bi Imah memberi nasehat agar Anna selalu berpikiran baik. Apalagi pengantin baru itu tidak bersama. Jarak yang memisahkan mereka.
Anna mendengarkan dengan baik semua nasehat itu.
Di Jakarta.
“Aku mau melakukan operasi jika Kak Abbas mau menepati janji kakak,” ucap Riska pada Abbas.
Saat ini mereka sedang duduk berjarak di sebuah kursi kayu di bawah pohon rindang tepat di samping rumah Riska.
“Kamu ragu operasi ini akan berhasil,” tanya Abbas tanpa melihat lawan bicaranya.
Tak ada jawaban dari Riska.
“Maaf.. sebisa mungkin saya akan bertanggung jawab atas dirimu. Tapi mohon maaf, jika untuk menikahimu, rasanya saya tidak bisa. Kamu pasti sudah tau kabar pernikahanku. Sangat tidak mungkin kalau saya akan berpoligami,” ucap Abbas tegas.
“Agama kita tidak memperbolehkan untuk berpoligami, Kak! Aku tidak masalah jika harus jadi yang kedua.” Riska bersikukuh ingin Abbas menikahinya.
Abbas menggelengkan kepala sembari tersenyum miris. Betapa keras kepalanya Riska.
“Kita lihat saja nanti, kalau kamu tetap tidak mau melakukan operasi jangan harap aku akan bertanggung jawab lagi atas dirimu!” ketus Abbas kemudian pria tampan dan gagah itu lekas berdiri. Berjalan meninggalkan Riska begitu saja. Ada rasa kesal saat pendirian hidupnya terusik.
“Bagaimana kalau istri Kakak mengizinkan kamu untuk memenuhi janji orang tuamu, Kak! Tidak ada salahnya kalau Kak Abbas berbicara dulu kepadanya,” ucap Riska yang sadar kalau Abbas telah beranjak dari duduknya.
Tak ada balasan dari pria itu.
__ADS_1
Sembari berjalan pelan menuju mobil kemudian tancap gas
pergi dari rumah Riska. Abbas memijat keningnya pelan. Pusing harus berbuat apa. Ia sadar kalau amanah almarhum ayahnya harus terlaksana. Tapi, ia tidak mau mengambil keputusan untuk mendua. Pernikahannya saja baru berumur seminggu lebih.
Sebisa mungkin Abbas akan memikirkan cara lain untuk menebus kesalahan orang tuanya yang terjadi dulu.
Bertanggung jawab tidak harus dengan menikahinya. Satu jalan operasi saja belum terlaksana. Mereka tidak akan pernah tahu hasilnya kalau tidak mencoba. Bukan untuk coba-coba, tapi berharap hasil bisa melegakan hati.
Tak terasa mobil yang ia kendarai sampai di parkiran kantornya. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan ponselnya. Sebab mode silent ia gunakan saat ini.
Berjalan pelan menuju ruangan hingga ia tak sadar beberapa karyawan sudah tidak ada di tempat kerjanya masing-masing.
“Kenapa sepi sekali?” gumam Abbas sembari masuk ke dalam ruangannya. “Astagfirullah... Aku lupa jam berapa ini?” Abbas melihat jam di pergelangan tangannya. Ternyata benar saat ia melihat waktu, ini sudah jam orang pulang bekerja. Saking pusingnya memikirkan jalan terbaik untuk masalahnya ia sampai lupa keadaan sekitar.
“Rio...,” panggil Abbas ketika melihat asistennya tertidur di sofa.
“Hm...” Rio membalas pelan kemudian bangun dari tidurnya yang malas membuka mata.
“Kenapa masih berada di kantor?” Abbas langsung duduk di sofa.
“Kenapa kamu tidak menghubungi ku?”
“Sudah, tapi tidak di angkat! Oh, ya istri Anda tadi telepon sama saya, dia menanyakan An---,” ucapannya terputus begitu saja.
Abbas langsung berdiri kemudian merogoh ponsel di sakit celananya.
Ternyata benar puluhan kali Anna menelepon bahkan beberapa chat ia dapat. Abbas sampai lupa mengabari istrinya. Ia hanya bertukar kabar tadi pagi saja.
Abbas langsung menekan tombol hijau menghubungi nama Zawjatiku yang ada di ponselnya.
‘Kenapa permasalahan, aku sampai melupakan Anna. Maafkan Abang, Dek!’
__ADS_1
Batinnya sebuah menunggu teleponnya tersambung dengan Anna.
Beberapa kali juga Abbas menghubungi istrinya, tapi tidak tersambung. Sama seperti Anna tadi saat ini Abbas juga khawatir teleponnya tak terjawab.
‘Kamu ke mana, Dek? Kenapa telepon Abang gak di angkat?”
Abbas terlihat gusar sambil berjalan mandar mandir. Ia berpikir untuk menghubungi Mama Ami.
“Mungkin Anna sedang berada di Musola sama Bi Imah, Nak! Biasanya Anna akan kembali abis salat isa,” ujar Mama Ami sedikit menenangkan Abbas.
“Syukurlah kalau Anna ada, Mah! Aku khawatir saja. Tolong sampakan kalau aku tadi mengunjungi. Maaf, sudah mengganggu waktu istirahat, Mama!” ucap Abbas dari seberang teleponnya.
“Tidak apa, Nak! Mama lagi santai kok! Ya, nanti Mama sampaikan kalau Anna kembali dari musola.”
“Terima kasih, Mah.”
“Sama-sama.”
Sambungan telepon pun terputus setelah Abbas mengucapkan salam.
“Sayang!” panggil Mama Ami saat Anna masuk ke dalam rumah melewati pintu samping. Kebetulan Mama Ami memang sengaja menyusul Anna, takut ada keperluan penting yang mau Abbas sampaikan kepada Anna.
“ya, Mah!” sahut Anna kemudian menyalami wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Suamimu barusan telepon Mama, nanyain kamu!”
“Beneran?” tanya Anna tak percaya.
Mama Ami mengangguk pelan.
“Anna langsung ke kamar ya, Mah!” pamit Anna yang terlihat bersemangat mendengar berita itu.
__ADS_1
Perasaan Anna begitu senang dan lega. Dengan langkah cepat Anna menaiki anak tangga, ingin segera memberi kabar juga kalau urusan penyerahan semua berkas harta milik Papa Reno sudah selesai. Itu berarti waktu kebersamaan Anna dan Abbas akan segera terlaksana. Mereka tidak akan terpisah lagi. Tanpa Anna tahu, rumah tangganya akan di uji oleh masa lalu orang tua Abbas.
...Bersambung...