Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
17. Api unggun


__ADS_3

Abbas berhenti sejenak tanpa membangunkan Anna, ia memperhatikan wajah yang begitu dekat dengannya. Wajah damai dalam tidur, ada sesuatu yang membuat hatinya begitu senang dan selalu tersenyum mengingat sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Anna. Tanpa mereka sadari, ada dua mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


Perkemahan


Anna dan Abbas tiba di perkemahan, tepat dengan masuknya waktu solat maghrib. Di setiap tenda terlihat sepi, kemungkinan para Mahasiswa/ i sedang berada di mushola tak jauh dari perkemahan tersebut. Hanya ada beberapa orang saja yang berjaga, mereka bergantian untuk menjalankan ibadah.


"An ... Bangun, sudah sampai!" Abbas membangunkan Anna pelan.


"Hmm ... sudah sampai ya Bang?" tanya Anna. ia membuka perlahan matanya yang terpejam, malas rasanya membuka mata, posisinya begitu nyaman memeluk Abbas. "Turunin Anna disini aja Bang? ngga enak kalau di lihat yang lain" bisik Anna.


Abbas menurunkan Anna dengan hati hati, agar ia bisa menapak tanah dengan pelan.


Anna yang menapakkan satu kakinya ke tanah berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh, karena ia menahan berat tubuhnya dengan kaki kanan, kaki kirinya masih terasa sakit jika di pakai untuk melangkah.


Abbas yang masih berdiri di sampingnya pun mendapati cengkraman tangan dari Anna, karena tubuh Anna hampir limbung. Abbas membantu Anna berjalan sampai ke tenda miliknya.


Serli dan kedua temannya yang kebetulan berada di tenda terkaget dengan kedatangan Anna.


"Lo kenapa, An?" Serli segera berdiri saat melihat Abbas membantu Anna masuk ke dalam tenda.


"Kena musibah gue!" Jawab Anna.


"Ekhmm ... nanti ada petuas kesehatan yang akan mengobati kamu! saya tidak bisa berlama lama, saya permisi dulu," ucap Abbas dengan sikap Dinginnya.


"Iya, makasih ya Bang," Balas Anna.


"Hm" Abbas berbalik melangkah pergi meninggalkan tenda tersebut. Abbas ingin segera membersihkan dirinya karena ia sudah tertinggal untuk melaksanakan solat Maghrib.


"Tak Lama masuk petugas kesehatan ke tenda Anna. Karena luka di dampal kaki itu lebar, ia harus mendapatkan beberapa jahitan agar lukanya tidak semakin parah. Suara rintihan sakit dari mulut Anna, terdengar oleh Dita dan Nia baru saja sampai dari mushola, mereka baru saja melaksanakan solat Maghrib berjamaah.


"Kamu kenapa, An? ko terluka begini?" tanya Nia yang baru saja datang dan langung mendekati Anna, terlihat ia begitu cemas akan kondisi Anna.


"Kena musibah Ni?" Jawabnya Anna santai.


"Sorry juga, ya An? tadi aku turun duluan, ngga nungguin kamu, jadi ngga tau kalau kami kena musibah?" Timpal Dita sedih.


"Ngga pa-pa ko! ya, namanya juga musibah mana ada yang mau kaya gini!" sahutnya.


Petugas kesehatan baru saja selesai membalut kaki Anna dengan perban.


"Selesai!... hati hati ya! jangan banyak gerak dan lukanya jangan terkena basah dulu! takutnya jahitannya lepas.


"Iya. Makasih Ka!" ucap Anna.


Nia, Dita!!.. tolong anter aku dong? belum mandi nih, dari pagi!" ajak Anna


"Ayo" Jawab Dita dan Nia kompak.


"Tapi lukamu, bagaimana?" tanya Nia.


"Bisa aku angkat ko!" ujar Anna.


Di luar tenda.


"Puas sih, gue! Anna begitu, biar tau rasa tuh, sakit kan? Tapi kenapa harus tuh cogan yang nolongin? Musibah membawa berkah itu si namanya buat si Anna" sesal Serli.


"Mana ada Ser, musibah membawa berkah?ada-ada aja lu?" Mimi menanggapi ocehan Serli.


"Ya kan, si Anna malah jadi deket kan sama cowok ganteng itu, kalau Anna terluka gitu, dia pasti nyari perhatian bebeb Ardi deh! ih... sebel...sebel.. jadi gini sih" omelnya.


"Itu kan ide lu, Ser!" Seru Tia.


"Eh ... awas lo ya jangan ada yang bilang kalau gue yang lempar sepatu Anna ke sungai? lu Tia! kalau lu, berani ngomong ember, gue ngga bakal mau bantuin lu buat bayar semester kuliah! Awas lu!." Ancam Serli.


"Iya Ser! tenang aja napa sih" sanggah Tia.


***


"Thanks ya! kalian udah bantuin aku!" Anna berkata sambil memeluk kedua temannya yang berada di sisi kiri dan kanannya.


"Sama sama,An. Kamu ini kayak sama siapa aja? kita kan Teman, jadi harus saling bantu!"


Malam ini adalah malam terakhir mereka di perkemahan. Acara Api unggun pun akan segera dimulai. Para peserta berkumpul mengelilingi tumpukan kayu yang di susun rapi yang beberapa saat lagi akan di nyalakan.


Anna, Dita, Nia sudah berada di barisan ke dua, mereka membuat 2 barisan yang mengelilingi Api unggun.


Ketua panitia mengawali pembukaan acara tersebut. Kata sambutan dan ucapan dari beberapa dosen telah selesai di sampaikan, Perwakilan dari mahasiswa/i untuk ucapan terima kasih kepada para panitia dan pembina pun sedah di sampaikan.


Kaka pembina pun melanjutkan ke inti acara.


"Terima kasih untuk semua yang membantu acara ini, semoga kegiatan ini bermanfaat untuk kita semua dan menambah kedekatan, saling bahu membahu, dan saling menolong antar sesama."


"Malam ini pun tak kita duga, kedatangan tamu yang spesial, orang sukses yang beberapa waktu lalu jadi motivator di kampus kita, Bapak Abbas El Amin, kebetulan beliau sedang ada urusan di sekitar sini.


"Terima kasih, Bapak sudah bersedia hadir malam ini," ucap Kakak pembina sambil membungkukkan badannya, tanda memberi hormat kepada Abbas. "Kenapa tidak dari kemarin ya Pak, bergabung nya?" tanya pembina sambil tersenyum kearah Abbas. Abbas pun membalas sapaan pembina dengan senyum.

__ADS_1


Dan tibalah acara yang paling di tunggu, renungan malam di depan *A*pi unggun. Ada beberapa orang yang menyanyikan lagu Ibu, sedangkan pembina membacakan puisi dan syair tentang ibu.


Banyak peserta yang mendengarkan lantunan puisi meneteskan air mata, sedih, haru. para peserta di arahkan untuk menunduk. Merenungkan kesalahan kepada orang tua kita, terutama ibu.


Ibu....


Maafkan anak mu


yang tak berbakti ini


Maafkan kami yang selalu membantah perintah mu


selalu meminta tanpa henti kepadamu


membiarkan dirimu sibuk dalam mengurus kami


Dari pertama kami bisa melihat dunia


sampai saat kami bisa melangkah dan memilih apa kami inginkan


Dirimu selalu mendoakan kami


ibu...


malam ini


kami rindu kepadamu


rindu sambutan dan pelukan hangat darimu


ibu...


doakan kami


menjadi orang yang sukses dalam berkarya


agar kelak bisa melihatmu tersenyum bangga terhadap anakmu ini..ibu..


lantunan yang di iringi lagu ibu itupun terdengar begitu sendu dan memilukan, sang pembina pun membacakannya sambil terisak menahan sedih.



Keheningan menemani kami beberapa saat, meredakan rasa sedih. meredakan tangis para peserta.


"Sudah ya? nangisnya, sedih-sedihnya?" ucap pembawa acara membuyarkan kesedihan yang masih terasa. Kita berdoa semoga kedua orang tua kita selalu di berikan kesehatan dan lindungan oleh Allah SWT.


"Kami dari panitia meminta maaf kepada kalian jika dalam pembelajaran dua hari ini, membuat kalian harus bekerja ekstra.


"Dan Acara ini kami tutup, semoga apa yang kita pelajari bisa bermanfaat agar kita menjadi orang yang sukses!"


"Terima kasih semuanya, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu," Ucap pembawa acara dan mempersilahkan semua peserta melakukan kegiatan malam santai bersama.


"Gila!... mewek banget, njir! Kerasa banget gue sampe ke ulu hati yang paling dalem denger Ka Bisma baca puisi," ucap Tino kepada teman nya yang sedang berkumpul.


"Banyak dosa kali lu, sama nyokap?" sindir Rendi sambil memukul pundak Tino.


"Sepertinya sih?" akunya.


"Bukan sepertinya? emang bener tuh, makanya insyaf Lu, maling Kundang!" timpal Doyok.


"Ha..ha..ha.." mereka semua tertawa.


Malam terakhir di perkemahan pun menjadi ramai dengan canda tawa para mahasiswa/i yang berkumpul bersama dan keseruan bernyanyi.


Sama halnya dengan yang lain, Anna yang selama masa kuliahnya di Bogor pun, merasakan kesedihan saat renungan malam tadi. Ia merasakan kerinduan kepada orang tuanya. Anna langsung mengambil ponsel di saku celana. Ia segera menghubungi sang mama.


Tak lama panggilan pun terhubung


"[ Hallo, Mah ... ]"Anna.


"[ Hallo juga, sayang? apa kabar, putri mama yang cantik ini?]" Mama.


"[ Kabar baik, Mah! Mama sama Papa gimana? sehat?]" Anna.


"[ Sehat sayang, ada apa kamu hubungi malam-malam begini?]" Mama.


"[ Anna kangen sama kalian?]" Anna.


"[ Mama juga kangen sama kamu sayang.. An..Anna.. kenapa suaranya putus-putus?]" mama


"[ Iya Mah.. Anna lagi ada di Bukit sedang acara berkemah dari kampus, jaringannya susah? besok aja Anna telpon kalau sudah sampai kos an, ya, Mah!]" Anna.


"[ Ya sudah ... hati-hati. Semoga Tuhan melindungimu]" Mama.


"[ Amin.. bye Mah.. Love u.. Mama]" Anna

__ADS_1


"[ Love u too... Baby ]" Mama.


Anna pun mengakhiri sambungan teleponnya. Jaringan di perkemahan tak cukup bagus untuk berkomunikasi.


"Gimana, masih sakit kakinya? " Tanya Abbas yang tiba tiba datang menghampiri Anna.


seusai mematikan telponnya, Anna melangkah pincang untuk mengambil Air hangat di meja panitia.


"Eh, Abang... ngagetin aja!" Ucap Anna ketika tubuhnya berbalik menghadap Abbas. Mendingan Bang, cuma agak linu aja kalau mau menapakkan kaki ke tanah! jadi harus pake ini 'tongkat kayu', untuk nahan biar seimbang jalannya, sambil mengangkat sedikit tongkat kayu di tangan kanan nya. He.." Anna nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya.


Abbas pun tersenyum melihat tingkah Anna, Ia mengambil Air panas, membuat kopi untuknya sendiri.


Anna sedang berjalan di bantu tongkat kayu menuju bangku yang jauh dari Api unggun. Ia terlihat kesulitan saat berjalan, Anna harus memegang tongkat kayu sedangkan satu tangannya memegang gelas berisi air hangat. Abbas yang melihat itu, meraih gelas yang di pegang Anna.


"Biar Saya yang bawa!" Abbas langsung mengambil gelas tanpa permisi.


Anna sempat terdiam sesaat, kemudian mengikuti langkah Abbas dengan perlahan. Mereka duduk berhadapan dengan Api unggun memberikan hangat pada tubuh di tengah dinginnya suasana pegunungan di malam hari.


"Abang ngga tidur di rumah Kakek Uyo?" tanya Anna sambil menyeruput air hangat dari gelas yang ia genggam. Ia memulai obrolan yang sedari tadi tak ada suara.


"Tidak! tadi siang hanya mampir sebentar untuk mengantar Meisya, Biasanya juga seperti itu! Saya lebih memilih untuk berkemah di bukit, lebih tenang bersatu dengan alam," jawab Abbas sambil menyeruput kopi panasnya.


"Wahhh... Abang berani, tidur di tenda sendiri? di atas gunung itu?" Tanya Anna kaget dengan jawaban Abbas.


"Lebih baik sendiri, lebih tenang"


"Kenapa sekarang Abang di sini, ko ngga pergi kemah, di atas?" tanya Anna penasaran.


"Harusnya!!.. tapi saya terpaksa turun, demi kemanusiaan, saya harus membantu orang yang membutuhkan bantuan."


"Dih.. Dia mah gitu, ngga ikhlas apa bantuin aku! kayak yang terpaksa gitu?." Sindir Anna malas.


Abbas tersenyum. Ia meminum kembali kopi yang masih panas itu.


"Ikhlas. Tapi sayang, saya ngga jadi menyendiri."


"Eh... jangan salah Bang! lebih enak tuh ada yang nemenin, bisa di ajak ngobrol, sharing, becanda bareng, banyak lagi deh." ucap Anna bersemangat.


"Saya lebih suka sendiri."


"Hah.." Anna kembali terkaget akan jawaban Abbas.


"Ih... Aneh banget si! orang tuh senang kalau ramai, lah ini malah asik menyendiri, lebih seneng di temenin makhluk halus kali ya" celoteh Anna.


"Ya, kamu betul. Seperti sekarang ini, saya sendiri tetapi ada yang menemani saya di sini!" ucap Abbas.Ia melirik Anna sambil tersenyum.


"Ngapain senyum-senyum. E-eh.. maksudnya apa ya?" Anna terdiam sesaat, ia baru tersadar dengan ucapan Abbas.


"Ya, kamu makhluk ha--


"Bukk... Anna memukul pundak Abbas dengan tangannya! maksud Abang, aku makhluk halusnya? ih...nyebelin." Anna manyun dengan candaan Abbas.


"Ha..ha.."


Malam ini pun mereka lewati dengan obrolan, tawa dan keasyikan kebersamaan di temani kehangatan dari Api unggun tersebut. Karena esok pagi, mereka harus bersiap untuk pulang, dengan pamit terlebih dahulu kepada warga sekitar.


.


.


.


.


.


Saya terus ucapkan terima kasih


buat yang sudah mampir ke karya saya ini.


Mohon maaf mungkin karya "Your husband My husband" mau saya tunda dulu. saya mau fokus buat menyelesaikan karya ini terlebih dahulu. biar satu satu tamatnya.


yang suka dengan karya saya


like👍


komen✍️


Favorit❤️ juga ya


yang berbaik hati kasih vote atau hadiah juga boleh..😘😘 boleh banget malah.. hatur nuhun pisan.


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan dan rejeki berlimpah... Amin..😘😘


**Salam hangat dari Author Mayya_zha

__ADS_1


~komen yang banyak, biar author semangat buat Up**~


__ADS_2