Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Keputusan Mutlak Anna


__ADS_3

"Papa akan terus bersama dengan Anna dan Mama, Papa akan sehat, kita akan kumpul bersama lagi, Pah!" ucap Anna tak terima dengan perkataan Papa Reno.


Papa Reno sedikit tersenyum, lalu membelai wajah Anna dengan lembut. "Iya, kita akan sama-sama lagi."


Sesaat suasana menjadi hening. Anna tertunduk, kedua tangannya saling bertaut, merasa bingung harus berkata apa. Anna sedang berpikir tentang keinginan Papa Reno.


"An, kenapa diam? bagaimana permintaan Papa?" Papa Reno kembali bertanya. "Apa putri Papa ini sudah mempunyai seseorang yang spesial di hatinya?"


Anna tersenyum membalasnya. Gadis itu meraih kedua tangan Papanya lalu menggegamnya lembut. "Apa Papa bahagia kalau Anna bersama dengan Mas Darren?"


"Tentu, Papa akan sangat merasa bahagia, Papa tahu kamu sudah mengenal dia sejak kecil, apa ada perlakuan atau perbuatanya yang tidak baik?" Anna menggeleng kepala pelan. "Jika kamu ada pilihan lain, Papa tidak bisa memaksa. Tapi ijinkan Papa untuk ikut campur untuk hidupmu yang satu ini. Memilihkan jodoh yang baik untukmu."


Anna masih diam mendengarkan setiap ucapan dari Papa Reno.


"Kamu tahu, di situasi seperti ini hanya mereka yang peduli sama Papa. Mungkin Anna sudah mendengar masalah yang Papa hadapi saat ini. Kita sudah tidak punya apapun lagi, semua harta yang Papa miliki dijadikan jaminan untuk menebus kesalahan Papa."


"Tapi Anna yakin itu bukan salah Papa." Anna menyela ucapan Papa Reno.


"Untuk sekarang Papa, Darren dan Abi bagas sedang berusaha menutupi kerugian perusahaan yang dituduhkan kepada Papa. Tapi setelah bukti dan beberapa saksi cukup kuat untuk diangkat di pengadilan, semua kan kembali kepada kita. Untuk saat ini, Anna dn Mama harus hidup seadanya dulu, ya?" Papa Reno membelai wajah cantik Anna.


"Anna tidak masalah jika harus hidup seadanya, Pah. Asalkan tetap bersama kalian." Wajah Anna sudah berubah sedih.


"Papa merasa tidak akan lama lagi hidup bersama dengan kalian, makanya Papa mohon ijinkan Papa melihat kalian bersama orang yang tepat untuk menjaga dan mendampingi kamu, An. Memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang sudah banyak membantu Papa selama ini!"


Anna meraih jemari Papa Reno, menempelkannya di pipi Anna. "Jangan selalu berbicara seakan Papa akan meninggalkan Anna. Papa belum melihat Anna sukses, Papa mau melihat Anna menikah bukan? Papa harus sehat!" Anna menekankan ucapan terakhirnya.


"Jika Papa menginginkan Anna menikah dengan Mas Darren, Papa harus sehat." celetuk Anna secara tidak langsung ia menyetujui permintaan papanya.


"Kamu setuju dengan permintaan Papa?" tanya Papa Reno dengan suara yang semakin melemah.


Anna mengangguk pelan. "Apapun keinginan Papa kali ini, InsyaAllah akan Anna jalani dengan ikhlas."


Papa Reno tersenyum bahagia. Terpancar sebuah kebahagiaan di sana, dan Anna melihatnya.

__ADS_1


"Jika dengan menerima Mas Darren bisa membuat hati dan pikiran Papa tenang dan bahagia. Anna akan lakukan itu, Pah. Ini adalah bakti pertama Anna kepada Papa." batin Anna.


"Papa yakin meski kalian belum saling cinta tapi cinta itu akan tumbuh karena terbiasa, kalian sudah saling kenal dan dekat dari dulu. Papa ingin menyampaikan ini kepada Abi Bagas." Suara itu terdengar bersemangat. Anna bisa merasakan itu, meski hatinya terasa teriris.


Anna harus merelakan rasa cinta nya terhadap Abbas. ia akan memberi keoutusan kepada Abbas segera. ia tidak mau mengulur waktu, akan tidak adil bagi Abbas yang sudah menyimpan harapan besar pada Anna.


"Maafkan Anna, Bang!"


Hatinya sedih, tapi Anna berusaha untuk terus tersenyum menanggapi Papa Reno.


...***...


Malam hari, pukul 10 malam, Om Anwar baru sampai di Surabaya. Mama Ami menggantikan Anna berjaga di rumah sakit. Di toko hanya ada Tante Melly dan Anna.


Toko bunga tersebut sudah tutup dari pukul lima sore tadi.


Anna sempat menawarkan diri untuk menjemput Om nya di Bandara. Tapi Beliau menolak, ada seseorang yang sudah menjemputnya di sana.


Bunyi bell di lantai bawah terdengar. Lekas Anna menuruni anak tangga.


"Assalamu'alaikum," sapa Om Anwar bersamaan dengan Anna yang membukakan pintu untuknya.


"Waalaikumsalam," jawab Anna yang langsung menyalami Om nya tersebut. "Masuk, Om! Maaf, sekarang keadaanya kayak gini. Tante ada di lantai atas, lagi bantu aku bongkar koper."


Anna mengunci pintu, gadis itu lekas meraih tas jinjing yang Om Anwar pegang.


"Biar Anna bawakan Om," Anna menyambar tas tersebut dari tangan Om Anwar lalu berjalan mendahuluinya.


Sebelum menaiki anak tangga. Om Anwar mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Perasaan sedih menyinggapinya saat ini. "Hanya toko ini yang tersisa, Mi! ini pun akan menjadi tempat tinggal kalian. Kamu sedikit keras kepala untuk menerima tambahan bantuan dari kakakmu ini, Mi." gumam Om Anwar.


Mama Ami menolak bantuan dari Om Anwar untuk tempat tinggal. Ia masih bisa terima, bantuan biaya untuk menutupi kekurangan kerugian yang di hadapi suaminya. Tapi Mama Ami menolak untuk dibelikan tempat tinggal.


Menurut mama dari Anna itu, tempat kosong di lantai dua masih bisa di pakai untuk tempat tinggal mereka sementara.

__ADS_1


Mama Ami berharap agar kebenarannya segera terungkap. Sehingga semua yang di sita bisa kembali kepada mereka.


Oma Anwar pun lekas menyusul Anna ke lantai dua. Bertemu dengan istrinya, Tante Melly. Om Anwar berbincang singkat dengan Anna dan istrinya itu.


Tante Melly pamit lebih dulu, masuk ke dalam kamar yang sudah dirapikan sebelumnya. Ia sudah lelah dari dari tadi membantu Anna membereskan barang bawaan Anna dan mamanya.


Anna masih bersama Oma Anwar di luar kamar. Mereka masih membahas masalah Papa Reno, Om Anwar sedikit banyak bercerita semuanya. Anna mulai mengerti titik masalahnya.


Mama Ami tidak pernah berbicara awal masalah Papa nya itu. Anna kini, paham sepelik apa masalah yang di hadapi orang tuanya. Dan orang yang paling berjasa selama ini kepada orang tuanya, adalah Abi Bagaskara.


Rasa ingin membalas kebaikan mereka muncul. ditambah keinginan Papa nya yang berbicara soal perjodohan sore tadi. Itu semua makin membuat hati Anna sesak, sebuah keputusan mutlak telah Anna putuskan. Dan ia akan segera menolak khitbah dari Abbas, agar lamaran dari Darren bisa ia terima.


Sebelumnya Anna memang berucap setuju dengan perjodohan itu, yang penting Papa Reno bisa senang. Niat baik itu sudah tersampaikan baik kepada Abi Bagas, keluarga sahabatnya itu sangat menyambut baik rencana itu. hanya mencari waktu yang baik untuk melamar Anna.


Anna benar-benar harus berbicara dengan Abbas. Gadis itu berencana pulang ke Bogor untuk mengembalikan seragam toga kepada pihak penyelenggara wisuda. Dan saat itulah ia akan memberi jawaban kepada Abbas.


Semakin mengulur waktu hati Anna akan semakin sakit dan sulit untuk melepaskan Abbas. Rasa cinta itu akan semakin tumbuh karena setiap harinya Abbas selalu menanyakan kabarnya.


Mulai saat ini, Anna akan sedikit mengindari Abbas. Agar rasa itu tidak semakin begejolak dan semakin tumbuh.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


.


.

__ADS_1


__ADS_2