Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
hadiah untuk Anna


__ADS_3

Abbas


Jam sepuluh malam Abbas tiba di Rumah Bintang. Pak Dudung yang di beritahu Bu Lidia bahwa Abbas akan pulang malam pun menunggunya di pos jaga yang tersedia di halaman rumah.


"Terima kasih, Pak Dudung. Maaf ya, menunggu saya terlalu lama?" ucap Abbas saat Pak Dudung membukakan pintu gerbang untuknya.


"Sama-sama, itu sudah jadi tugas saya, Den!" jawab Pak Dudung sambil sedikit membungkuk.


Abbas melewati pintu gerbang menuju teras rumah Bu Lidia. Dari dalam rumah Bu Lidia sengaja menunggu Abbas pulang dari bekerja. Meski sudah mendapat kabar kalau Abbas pulang malam. Bu Lidia masih tetap menunggunya.


Saat pintu depan terbuka. Abbas terkejut melihat orang yang membukakan pintu untuknya.


"Ibu, ko belum tidur? 'kan Abang sudah bilang tak usah menunggu!" tanya Abbas saat melihat Bu Lidia membuka pintu.


"Tak apa, Bang! Ibu juga masih terjaga jadi lebih baik nunggu kamu sambil mengerjakan ini ..." Bu Lidia menunjukan rajutan dari benang wol yang di buatnya.


"Sudah malam kenapa masih terus memaksakan diri, Bu!" Abbas merangkul Bu Lidia saat melangkah memasuk ke dalam rumah.


"Ya, mau gimana lagi, Ibu benar-benar enggak bisa tidur. Bagaimana pembangunan rumahmu di Cibubur sudah rampung semua?" tanya Bu Lidia.


"Abang enggak jadi ke sana Bu, malah ketemu sama seseorang, di jalan!" Abbas memberitahu Bu Lidia tanpa menjelaskan siapa orang yang sudah ditemuinya, membuat Bu Lidia menatap Abbas curiga.


"Siapa, Bang?" tanya Bu Lidia penasaran.


"Abang mandi dulu ya, Bu? nanti Abang cerita sama ibu." Abbas mencium pipi Bu Lidia sekilas, lalu melangkah menuju lantai dua, meninggalkan Bu Lidia dengan rasa penasaran yang Abbas buat.


Bu Lidia menggelengkan kepala mendapat tingkah Abbas yang selalu memanjakannya.


Rasa sayang Abbas terhadap Bu Lidia sangatlah besar meski Ia bukanlah anak kandung dari Ibu yang sudah membesarkannya itu.


"Ibu masakin makanan buat kamu makan, ya, Bang?" ucap Bu Lidia saat Abbas berada di tengah tangga.


"Iya, Bu. Terima kasih. Abbas melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Sekitar setengah jam Abbas membersihkan diri, tak lupa ia melaksanakan solat Isya yang tertunda. Di perjalanan menuju Bogor tadi, Abbas terjebak macet di arah pintu tol keluar Baranangsiang menuju rumahnya.


"Bu ..." Panggil Abbas saat menghampiri Bu Lidia yang sedang berkutat di dapur, menghidangkan makanan untuknya.


"Duduk dulu, Bang! sebentar lagi ibu selesai ko." perintah Bu Lidia.


"Hmm ... Wangi banget, Bu? pakai cabe yang banyak, gak?" tanya Abbas saat ia mencium aroma telur dadar kesukaannya. Selain Cumi balado, Telur dadar campur cabe iris menjadi menu makan yang di sukai Abbas.


"Pakai, nih, mumpung masih anget! Bu Lidia membawa sepiring telur dadar penuh dengan irisan cabai dan bawang telur jadi campurannya.

__ADS_1



menu makanan simpel yang Abbas suka saat ia pulang kerja malam begini.


"Ibu ini, emang the best banget deh kalau masak!" Abbas segera mengambil satu potongan telur dadar yang sudah di potong sebelumnya oleh Bu Lidia.


Abbas menambahkan sedikit nasi ke dalam piringnya. Makan telur dadar dengan nasi hangat saat pulang bekerja malam sepeti ini menjadi andalannya.


"Padahal, tadi sore Abang sudah makan Bu, sama Anna!" ucap Abbas sambil menyuap sedikit demi sedikit nasi bercampur telur menggunakan tangannya. Menu makan seperti ini sangat nikmat di makan menggunakan tangan.


"Kamu sama Anna? kapan? bukannya Abang tadi lagi di Jakarta." Bu Lidia terkejut mendengarnya.


Abbas masih bergelut dengan nasi dan dadar telur di piringnya. suapan semi suapan di habiskannya seraya berbicara kepada Bu Lidia.


"Iya, pas mau masuk pintu Tol, Abang lihat dia sedang berteduh. Tadi hujan deras di sana Bu, Abang coba aja dekati, takut salah. Eh ternyata betul, Anna yang berdiri di depan toko." Abbas menceritakan kejadian tadi sore.


Makanan yang tersedia untuknya tadi tinggal beberapa kali suapan lagi.


"Sedang apa Anna di sana?" tanya Bu Lidia penuh selidik.


Abbas pun menceritakan dirinya yang mengantarkan Anna ke rumah Om Anwar. Bertemu Mama Ami dan banyak mengobrol dengannya. Abbas juga membahas perihal niatan Anna menjadi seorang mualaf esok hari. Bu Lidia sangat bersyukur dan senang mendengarnya.


"Alhamdulillah, bertambah saudara seiman kita. Semoga di lancarkan semua urusannya." ucap Bu Lidia.


"Abang mau menemani Anna, besok?" Bu Lidia bertanya kembali seraya melihat ke arah Abbas.


"InsyaAllah, Bu." Abbas kembali duduk bersama Bu Lidia.


"Kalau kamu mau datang. Ibu mau menitipkan sesuatu untuk Anna?" ucap Bu Lidia pelan.


"Apa, Bu?" Abbas penasaran, Apakah yang akan di titipkan Bu Lidia untuk Anna.


"Tunggu di sini, sebentar ibu ambilkan." Bu Lidia berdiri lalu melanjutkan langkahnya


menu ruang jahit tempatnya membuat berbagai macam baju serta apapun yang bisa di buatnya.


Kain berwarna abu-abu dengan bahan sutra lembut telah dijahit menjadi mukena yang bagus oleh Bu Lidia.


Mukena yang baru saja selesai di jahitnya tadi sore. Mukena dengan tambahnya hiasan dan di sekeliling pinggir nya membuat kain lembut itu terlihat indah dan mewah.



Bu Lidia membuat mukena ini untuk dirinya. Tapi mendengar Abbas mengatakan Anna akan melaksanakan pengucapan dua kalimat syahadat sebagai salah ketentuan syarat masuk agama Islam. Beliau ingin sekali memberikan mukena ini sebagai hadiah untuknya. Di masukkan mukena itu ke dalam paper bag, lalu di bawa untuk di berikan kepada Abbas.

__ADS_1


"Ini, Bang tolong berikan hadiah ini untuk Anna. Mudah-mudahan dia suka dengan jahitan Ibu!" Bu Lidia memberikan paper bag itu kepada Abbas yang masih setia duduk menunggunya di meja makan.


Abbas sedikit mengintip isi dari paper bag itu. "Apapun buatan Ibu pasti bagus dan di gemari! yang jahitnya aja cantik begini" puji Abbas.


Abbas berdiri dan mengajak Bu Lidia menuju ruang keluarga. Mereka berdua duduk di sofa empuk di ruangan tersebut.


"Kamu ini, Bang. Pintar sekali menggombal akhir-akhir ini! sering gombalin siapa sih, anak ibu?" Bu Lidia sedikit tersenyum mendengar gombalan Abbas padanya. Oh, iya bang. Di masjid mana Anna akan melakukan pengucapan Syahadat nya?" tanya Bu Lidia serius.


"Di Jakarta, Bu! Tak jauh dari rumah Om Anwar. Besok setelah solat Jum'at. Ada pemuka Agama beserta istrinya yang akan dan mendampingi Anna."


"Ibu, tahu! Aku kagum dengan kebijaksanaan orang tua Anna. Mereka orang tua yang sangat baik menurutku, mensupport apapun keinginan anaknya asalkan semua bersalah dari keinginan hatinya yang tulus." ungkap Abbas.


"Bang, menjadi mualaf memang sangat mudah. Akan tetapi, untuk mendapatkan keberkahan, kebaikan hidup dari Allah SWT, kamu yang ingin memeluk islam harus berdasarkan ketulusan hati, ikhlas hanya karena Allah SWT. Dengan begitu berniat menjadi mualaf dengan ketulusan hati akan lebih baik dan besar dampaknya pada orang itu sendiri. Kita sebagai saudara seiman harus terus membantunya." tutur Bu Lidia.


"Apa hanya Mamanya Anna yang hadir? Papanya tidak ikut datang ke sini?" tanya Bu Lidia lagi.


"Masih sibuk dengan pekerjaannya. Sehari mau wisuda, barulah Papa Anna akan menyusul ke Jakarta. Itu pun aku tahu dari Mama nya Anna saat kami ngobrol tadi." Abbas berbicara santai.


"Wah, sudah kenal sama calon mertua, nih?" goda Bu Lidia.


Abbas tersenyum menanggapinya. " Abang belum ada hubungan apapun dengan Anna, Bu?" ucap Abbas lagi.


"InsyaAllah dengan hijrahnya Anna menjadi mualaf, pintu kebersamaan kalian bisa semakin terbuka. Ingat lebih baik di segerakan. Ibu sangat mengerti perasaan yang kamu tahan sejak lama terhadap Anna." Bu Lidia menyemangati Abbas.


"Amin, semoga, Bu. Sudah malam sebaiknya Ibu istirahat." Abbas melihat waktu pada jam yang menempel di dinding rumah itu.


"Kamu juga istirahat, Bang!"


"Iya, Bu." Abbas berdiri dari duduknya. mendekati Bu Lidia, lalu membungkukkan sedikit badannya. memberikan ciuman singkat di pipi yang sudah mulai menua itu. Lalu kembali berkata. "Abang tidur duluan ya, ngantuk banget. Hadiah untuk Anna akan Abang bawa besok, simpan saja dulu, di sini!"


"Ya, sudah! istirahatlah, sana!"


Bu Lidia pun ikuti berdiri. Abbas dan Bu Lidia akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Abbas melangkah naik ke lantai dua menunju kamarnya sedangkan Bu Lidia menuju kamarnya tak jauh dari ruang keluarga. Sebelumnya Bu Lidia mematikan lampu di ruang tengah terlebih dulu barulah ia masuk ke dalam kamarnya.


bersambung.


Rekomendasi karya bagus ni ka..


mampir ya ke karyanya.


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, CINTA SESUCI SALJU,


__ADS_1


__ADS_2