Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Tidak Suka Abang Menikah!


__ADS_3

Semua berjalan sesuai rencana. Hari ini Abbas, Anna dan keluarganya sampai di Jakarta. Tadinya Abbas ingin mereka tinggal di rumah baru Abbas. Tapi mereka menolak. Papa Reno memilih tinggal di rumah Tante Melly.


Dua hari lagi resepsi pernikahan Abbas akan dilaksanakan. Tak banyak yang ia undang hanya rekan bisnis dan orang terdekat saja.


Semua persiapan sudah selesai. Bu Lidia begitu cekatan mempersiapkan semuanya. Wanita yang sudah menganggap Abbas seperti anaknya sendiri itu merasa sangat bahagia dan antusias mempersiapkan semuanya. Ia sudah tidak sabar menyambut menantunya yang tak lama lagi akan tiba di Rumah Bintang.


Abbas mengabarkan kepada Bu Lidia kalau mereka akan ke Jakarta lebih dulu untuk mengantarkan mertuanya.


“Kenapa tidak kamu ajak kemari sekalian. Ibu sudah masak banyak loh!” ucap Bu Lidia dari seberang telepon.


“Sudah Bu! Mungkin tidak sekarang, lain kali Papa dan Mama akan mampir ke Bogor. Mereka masih lelah. Maklum kondisi Papa masih dalam pemulihan,” balas Abbas.


“Oh, ya! Ya sudah tidak pa-pa, lain kali saja. Sampaikan salam Ibu kepada mereka. Ibu tunggu kelahiran mereka di sini. Kamu dan Anna jangan terlalu malam ke sininya. Kasian anak-anak dari tadi nungguin kalian.”


“Baik, Bu.”


Setelah beberapa menit berbicara dengan Bu Lidia. Abbas menutup teleponnya.


Ia bersyukur bisa mendapat perhatian dan perlakuan seperti anak kandung dari Bu Lidia.


Abbas melirik ke arah istrinya yang sedang berkumpul dengan tawa canda mereka.


“Dek,” panggil Abbas. Anna lekas berdiri menghampirinya.


“Kenapa, Bang?” tanya Anna.


“Kita ke Rumah Bintang sekarang! Ibu telepon, beliau sudah menunggu kita.” ucapnya lalu mendapat anggukan dari Anna.


“Ayo... Tapi pamit dulu sama Papa dan Mama!” ajak Anna balik.


Keduanya pun berpamitan. Abbas meminta maaf tidak bisa ikut bergabung lebih lama. Abbas juga sempat berbicara dengan Om Anwar. Memberi tahu beliau kalau resepsi di tempat Abbas dua hari lagi akan terlaksana. Ia mengharapkan kedatangan keluarga Om Anwar di sana.


“Kami pamit ke rumah Ibu dulu, Pah... Mah...,” ucap Anna kepada kedua orang tuanya.


“Iya, Sayang! Sampaikan permintaan maaf Mama dan Papa kepada beliau. Maaf tidak bisa memenuhi undangan makan malamnya kali ini. Mungkin jika waktunya senggang kami akan berkunjung ke sana,” ucap Mama Ami.


“Pasti Anna sampaikan, Mah!” Anna menyalami keduanya kemudian beralih kepada Tante Melly dan Om Anwar. “Om... tante... Anna pamit.” Anna juga mengalami mereka begitu juga dengan Abbas.


“Iya ... Kalian hati-hati jangan ngebut di jalan,” ucap Tante Melly seraya melirik Abbas.


Barusan selagi Abbas menelepon Bu Lidia. Anna menceritakan kedatangan Abbas malam itu, Anna juga bercerita soal Abbas yang melakukan balapan dengan waktu agar sampai di Bandara dengan cepat.


Pria yang mendapat lirikan dan sindiran itu hanya mengerutkan alisnya tidak mengerti. Anna tersenyum geli menanggapinya.


“Kita pergi dulu! Assalamualaikum,” ucap Anna seraya menarik Abbas.


“Waalaikumsalam,” jawab mereka kompak.

__ADS_1


Anna dan Abbas kemudian berlalu dan pergi menuju Rumah Bintang. Beruntung tidak ada Rayyan di sana. Kalau tidak sudah dipastikan kakak sepupunya itu pasti banyak bertanya soal Maira. Sahabatnya yang pernah mengabarinya kalau Rayyan sempat menemuinya di ruang divisi tempat Maira bekerja.


Perjalanan Jakarta – Bogor tidak memakan waktu lama. Dua jam perjalanan cukup mereka tempuh.


Mobil yang Abbas kendarai sampai di depan pintu gerbang besi berlapis kayu. Tak lama gerbang terbuka, Mang Dadang terlihat semringah menyambut kepulangan Abbas.


“Alhamdulillah, Den Abbas sama si Non udah sampai. Ibu dari tadi nungguin! Sampe bulak balik nanyain ke sini, ngingetin mamang jangan sampe telat bukain gerbang!” tutur Mang Dadang.


“Makasih Mang, udah bukain pintu,” balas Abbas yang langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah.


Pintu gerbang kembali di tutup oleh Abbas.


“Ayo, turun. Kamu dengar sendiri, Ibu sudah menunggu kita dari tadi!” Abbas lekas membuka sabuk pengaman miliknya begitu juga Anna.


Abbas membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Anna tersenyum cantik mendapat perlakuan istimewa dari Abbas.


“Aku bisa buka pintunya sendiri, Bang!” ucap Anna yang masih duduk di dalam mobil.


“Kamu penghuni baru yang Istimewa jadi harus diperlakukan bak seorang ratu,” bisik Abbas membuat Anna terkekeh geli sambil mendaratkan pukukan pelan di lengan Abbas.


“Gombal, banget!”


Abbas meringis pura-pura.


Anna yang melihat Bu Lidia berjalan ke arah mereka itu lekas keluar dari dalam mobil. Tanpa menunggu Abbas lebih dulu. Sebelum melangkah ia menatap Abbas.


“Kenapa?” tanya Abbas karena Anna menatapnya


“Abang, Anna boleh minta sekalian bawain oleh-oleh di bagasi belakang ya!” pinta Anna dengan wajah memelas.


Abbas tersenyum lalu mengacak pucuk kepala yang tertutup hijab itu.


“Iya, Nanti biar Abang yang bawa.”


Anna langsung tersenyum cerah.


“Makasih, Bang!” Anna kemudian berbalik badan dan melangkah mendekati Bu Lidia.


“Kenapa la sekali? Ibu dan anak-anak nungguin kalian.”


Anna lekas menyalaminya, setelah itu Bu Lidia lekas memeluk Anna.


“Menantu ibu, selamat datang di rumah in,” ucap Bu Lidia.


Anna terkekeh kecil mendengarnya.

__ADS_1


“Ibu, Anna kan sudah sering ke sini?” ujar Anna sambil melempar senyum.


“Kali ini berbeda. Kami datang sebagai menantu di rumah ini!” Bu Lidia merangkup kedua bahu Anna kemudian mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


“Ibu sudah masak banyak hari ini, sayang sekali orang tuamu tidak bisa ikut makan malam bersama di sini!” ucap Bu Lidia sambil berjalan ber-iringan menuju ke dalam rumah.


“Hei... Kalian meninggalkanku?” teriak Abbas sambil sibuk mengeluarkan beberapa barang bawaan dan sedikit oleh-oleh.


Anna dan Bu Lidia tertawa saat melirik ke arah Abbas.


“Biarkan saja, kita tinggalkan saja dia! Jadi seorang pria itu harus kuat dalam segala hal. Termasuk bawa barang milik istri ke dalam rumah,” celetuk Bu Lidia kemudian melanjutkan langkah mereka.


“Hah... Nasib...” gerutu Abbas.


Pria itu terlihat sibuk mengeluarkan beberapa barang bawaan. Dari dalam rumah terlihat anak-anak asuh berlarian ke luar rumah. Bala bantuan itu datang. Abbas tersenyum melihat ke dagangan mereka.


“Assalamu’alaikum, Abang!” sapa Vira yang langsung menyalami Abbas.


Di susul Aldi, Tino dan Meisya.


Abbas begitu senang di sambut oleh mereka.


“Waalaikumsalam, adik-adik!” balas Abbas. “Kalian apa kabar?” tanya Abbas.


“Baik, Bang! Bang Abbas ke mana saja, jarang pulang akhir-akhir ini. Sekalinya pulang bawa istri!” celetuk Meisya sambil cemberut.


“Hahaha.... Kejutan sekali bukan?”


Meisya menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Meisya gak suka Abang menikah!” Meisya melipat kedua tangan di depan dada sambil cemberut ke arah Abbas.


"Loh, kenapa?" tanya Abbas sambil mendekati Meisya.


"Pokoknya gak suka!" ucap Meisya dengan nada marah.


Gadis itu terlihat sedang merajuk. Abbas ingin tahu alasannya.


.


.


.


...Bersambung....


Apa Anna bakalan dapat saingan lagi. kali ini anak kecil 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2