Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kejujuran Membuat Tenang


__ADS_3

Abbas terdiam, hatinya ragu untuk berkata jujur. Tapi ia harus menanamkan kejujuran dalam rumah tangganya, sebab kejujuran adalah pondasi rumah tangga.


“Dek!”


“Hm.” Anna menanggapi panggilan Abbas dengan senyum. Berusaha bersikap setenang mungkin agar Abbas ikut terbawa suasana.


Anna merangkul tangan Abbas lalu menuntunnya untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Abbas mengikuti saja ajakan istrinya itu.


“Bukankah Abang yang mengajari aku agar kita selalu terbuka dalam hal apapun, saat kita sudah berada dalam tali pernikahan. Baik buruknya pasangan kita di masa lalu ataupun masa nanti, kita harus menerimanya dengan iklhas,” ucap Anna membuat Abbas tersenyum mendengarnya. Ingatan istrinya masih sangat bagus dengan semua ucapan yang pernah Abbas katakan padanya.


“Abang pernah menceritakan masalah ini kepadamu sebelumnya. Tapi Abang tidak melanjutkannya.”


Kening Anna sedikit mengkerut ambil berpikir masalah apa yang pernah Abbas ceritakan kepadanya.


“Soal Riska?” tebak Anna. Tatapan matanya seakan meminta penjelasan banyak kepada Abbas.


Abbas mengangguk pelan.


“Bukankah dia sudah mendapat pendonor?” tanya Anna. Ia ingat betul dengan apa yang pernah Abbas ceritakan soal Riska.


“Ya, keluarga pendonor yang sukarela menyumbangkan kornea mata anaknya akan segera mencabut semua alat medis pada putri mereka. Sebab sudah sebulan ini Amira, gadis yang akan mendonorkan matanya itu hidup hanya dengan alat medis. Mereka sudah mengikhlaskan putri mereka jadi operasi donor mata bisa segera di laksanakan.”


“Jadi pendonor mata itu dari orang yang sudah meninggal?” tanya Anna.


Abbas mengangguk pelan.”Ya dan itu akan sangat langka terlebih kornea yang dimiliki pendonor harus sehat dan tidak ada penyakit infeksius pada kornea matanya. Tapi harus segera di laksanakan minimal enam jam setelah pendonor meninggal dunia.”


“Lalu apa yang membuat Riska menunda operasinya? harusnya dia bersyukur, ada orang tua yang merelakan salah satu organ tubuh putrinya untuk disumbangkan!” Anna terlihat kesal dengan keputusan Riska yang belum menyetujuinya.


“Apa ada yang membuatnya ragu, Bang?” Anna kembali bertanya.


“Riska ingin Abang menikahinya jika operasi itu gagal. Meskipun peluang sukses bagi penerima donor mata sampai mampu melihat lagi setelah menerima cangkok mata bisa mencapai 90 persen. Tapi ia masih takut semua gagal. Ia ingin kembali pada kesepakatan antara ayahnya dan almarhum orang tua, Abang.”

__ADS_1


Anna terdiam sesaat setelah mendengarkan penjelasan dari Abbas.


“Dek!” tegur Abbas. Ia takut istrinya itu kepikiran karen ucapannya.


“Lalu apa yang akan Abang lakukan?”


Saat anna melontarkan pertanyaan seperti itu membuat Abbas tidak bisa menjawab apapun. Abbas hanya menggelengkan kepalanya pelan.


“Apa hal ini yang Abang takutkan?”


Abbas mengangguk. “Kamu benar, Dek!”


Anna langsung tersenyum ke arah Abbas.


“Abang lupa dengan kekuatan do’a. Berdoalah agar apa yang kita pinta terkabul. Apalagi ini, kita mendoakan agar Riska bisa melihat lagi!” tutur Anna.


“Kita berdoa sama-sama, Bang. Agar kedua orang tua Abang juga merasa tenang.”


“Jangan pernah mendahului sesuatu yang kita tidak tahu hasilnya,” ucap Anna.


Abbas merasa lebih lega sekarang, ternyata benar kejujuran akan membawa kita pada ketenangan. Melihat sikap Anna yang begitu bijaksana mendengarkan keluhannya, Abbas berjanji tidak akan menyakiti dan mengecewakannya. Sebisa mungkin ia akan terus memperjuangkan keutuhan rumah tangganya agar tidak terusik orang ketiga. Sebab akan jadi berbeda meskipun Abbas tidak cinta kepada Riska jika pernikahan itu terjadi.


Abbas harus tetap memberikan nafkah lahir maupun batin untuk Riska dan itu tidak sanggup ia lakukan.


“Bantu Abang melangitkan doa untuk Riska!” ucap Abbas dan mendapat angggukan dari Anna.


Abbas langsung menarik Anna dalam pelukannya.


“Semoga apa yang Abang takutkan tidak akan pernah terjadi.” Anna mengelus pelan punggung Abbas membuat suaminya itu merasa nyaman.


“Besok mau temani Abang ke rumah Riska?” tanya Abbas seraya meregangkan pelukan mereka.

__ADS_1


“Ya, aku mau!” sahut Anna.


Usai perbincangan itu Abbas lekas bersiap untuk salat magrib. Berhubung musola jauh dari kamarnya. Abbas memilih untuk salat sendiri, sebab istrinya sedang halangan beribadah.


Anna menunggu suaminya di tempat tidur sambil membaca beberapa buku yang Abbas berikan untuk ia pelajari. Anna paham ilmu agamanya masih terbilang dangkal. Ia senang suaminya tahu dengan hobinya yang suka membaca. Sehingga saat ia berada di hotel buku bacaan tentang pelajaran agama islam dihadiahkan Abbas untuknya.


Sambil membaca buku bacaan. Anna merasa tenang saat mendengar Abbas yang langsung mengaji usai salatnya.


“Abang mau makan dulu?” tanya Anna saat Abbas menjeda ngajinya.


“Nanti saja! Kita makan di luar! Abang masih punya wudu jadi habis ngaji nunggu azan isya, salat dulu! Jadi keluar pun tenang,” ucap Abbas.


“Ya, sudah kalau begitu!” Ia tidak mau bertanya lebih banyak. Sebab tidak mau mengganggu suaminya mengaji.


Lantunan ayat suci Al-Quran dari Abbas mampu membuat Anna merasa nyaman dan tenang.


Sampai Anna memejamkan mata mendengarnya. Buku yang sedang Anna baca pun tergeletak di atas dadanya.


.


.


Bersambung--


Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.


kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.


Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.


Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2