
“Saya terima nikah dan kawinnya, Riska Permataputri binti Bapak Irawan Garcia dengan mas kawin seperangkat alat solat di bayar tunai,” ucap Rio lantang dan jelas.
“Bagaimana, saksi, sah?” tanya Pak Penghulu tegas.
“Sah,” jawab semaunya kompak.
“Alhamdulillah,” lanjut Pak Penghulu sambil menengadahkan tangan kemudian melanjutkan dengan membaca doa.
Semua orang terlihat dengan khitmat membaca doa untuk kedua pasangan pengantin itu.
Pernikahan sangat sederhana langsung di laksanakan di rumah sakit hari itu juga. Rio mantap dan siap menikahi Riska setelah meminta restu kepada kedua orang tua gadis itu.
Rio sendiri tidak mempunyai keluarga. Dia hidup sebatang kara, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Rio ikut dengan Abbas dari dulu sampai sekarang, bisa dibilang Rio adalah kawan seperjuangan dalam membangun perusahaan yang saat ini telah berkembang pesat hingga bisa sukses seperti sekarang ini
Rio tidak menyangka perasaan yang ia kira tidak berbalas nyatanya bersambut.
Setelah meminta doa restu kepada semua yang menyaksikan pernikahannya. Rio lekas mendekati Riska.
Pasangan pengantin baru itu saling menatap penuh rasa bahagia.
Riska lekas meraih tangan Rio untuk menyalaminya.
“Maafkan, jika aku tidak bisa menjadi istri yang berguna untuk Kak Rio saat ini!” ucap Riska. Ia merasakan sentuhan hangat dari ciuman sayang Rio di keningnya.
“Aku lebih meminta maaf, jika pernikahan yang aku berikan saat ini hanya sebatas ijab kabul semata,” balas Rio setelah melepas ciuman singkatnya.
Rasa hari dan bahagia di rasakan kedua orang tua Riska. Mereka tidak menyangka jika putrinya sudah menikah saat ini. Senyuman bahagia begitu jelas terpancar di wajah cantik Riska.
Bu Ratmi merangkul tubuh suaminya.
“Aku bahagia melihat senyum putriku, Mas!” ucap Bu Ratmi kepada suaminya.
“Kita do’akan rumah tangga mereka dipenuhi kebahagiaan, Bu! Ayah juga merasa lega, Rio mau menerima kekurangan putri kita!” balas Pak Irwan sembari membalas pelukan Bu Ratmi.
Tak hanya kedua orang tua Riska yang merasa lega dan bahagia. Tante Melly dan Om Anwar juga ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari kedua pengantin itu.
Terlebih Anna dan Abbas. Beberapa bulan berperang hati dan pikiran mengenai masalah ini. Hari ini Allah gantikan kesabaran itu dengan buah manis. Keutuhan rumah tangga mereka terselamatkan oleh pernikahan Rio dan Riska.
Anna menatap Abbas dengan derai air mata yang membasahi pipinya.
Tak ada yang tidak mungkin ketika meminta dan terus berdo'a kepada Sang Pencipta.
Anna menerima semua yang Allah berikan untuknya. Doa yang selalu ia panjatkan untuk kesembuhan Riska. Tak ada yang lain. Terus berusaha sabar dan ikhlas.
Dan saat ini Allah mengabulkan do'a yang selalu Anna panjatkan di sepertiga malamnya.
__ADS_1
Kesabaran dan keikhlasan yang Anna jalani berbuah manis. Allah mengabulkan kesembuhan untuk Riska secara otomatis tanggung jawab Abbas berakhir sampai di situ.
“Terima kasih atas semua do’amu Sayang!” ucap Abbas sambil mengecup lembut kening Anna.
Anna membalas dengan senyuman.
Usai memberikan selamat kepada kedua pengantin. Pak Irwan dan Bu Ratmi kembali berbicara serius dengan Abbas dan juga Anna di saksikan oleh Tante Melly dan Juga Om Anwar.
Masih di ruangan perawatan. Mereka duduk berkumpul di sofa tunggu yang ada dalam ruangan tersebut, sebab ruangan yang dipakai Riska adalah ruangan VVIP.
“Bapak minta maaf atas penekanan sikap bapak kepada Nak Abbas!” ucap Pak Irwan.
“Tidak perlu minta maaf, Pak! Saya mengerti posisi Anda. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Saya hanya bisa meyakinkan Pak Irwan bahwa Rio adalah pria baik dan bertanggung jawab. Saya sangat mengenal dia!” balas Abbas sambil menatap Rio yang sedang menyuapi Riska.
Pak Irwan pun ikut menatap putrinya. “Bapak bersyukur kedekatan mereka menjadi jalan jodoh untuk keduanya. Kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada kamu dan Anna, kalian sudah berbaik hati dan berlapang dada dengan masalah ini. Iya, ‘kan, Bu?” Pak Irwan menatap istrinya, Bu Ratmi.
“Benar sekali. Kami hanya bisa mendo'akan kebahagiaan akan selalu menyertai rumah tangga kalian. Sekali lagi maafkan kesalahan kami.” Bu Ratmi menundukkan kepalanya.
Tante Melly yang duduk di samping Anna mengusap lembut tangan keponakannya. Tante Melly merasa lega, pernikahan kedua Abbas tidak terjadi. Ia tidak bisa membayangkan jikaitu terjadi. Bagaimana perasaan kedua orang tua Anna. Mereka pasti sangat sedih. Pernikahan yang baru berumur tiga bulan itu sudah ada poligami di dalamnya.
Setelah obrolan selesai dari kedua pihak Abbas dan Pak Irwan saling memaafkan dan menerima, Abbas berniat pamit kepada mereka. Tante Melly dan Om Anwar masih berada di sana karena ada sesuatu yang akan mereka bicarakan dengan Orang tua Riska.
“Sayang, wajah kamu pucat sekali? Kita periksa dulu ya, kita pamit pada mereka!” ucap Abbas pelan kepada Anna.
“Iya, An! Tante setuju dengan Abbas. Sekarang masalah kalian sudah selesai. Waktunya kamu mengistirahatkan hati dan pikiranmu. Tante tahu kamu pasti lelah memikirkan masalah ini ‘kan?” tanya Tante Melly penuh kekhawatiran pada Anna.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Riska. Abbas dan Anna juga berpamitan kepada Rio dan Riska.
“Kak Abbas, Kak Anna, maafkan aku yang sudah mempermainkan perasaan kalian! Pasti masalah ini telah menjadi beban dan pikiran buat kalian berdua. Aku minta maaf!” ucap Riska sambil tertunduk.
Anna mendekati Riska lalu meraih jemari gadis itu. “Dengan adanya masalah ini, aku merasa bersyukur, Ris. Aku mendapat pelajaran berharga. Bagaimana mengendalikan diri, belajar ikhlas dan pasrah kepada Sang Pencipta. Banyak hal yang aku pelajari dari masalah ini!” ujar Anna sambil mengembangkan senyum. “Selamat atas pernikahan kalian, semoga ke depannya kebahagiaan akan selalu menyertai rumah tangga kalian.” Anna dengan tulus mendo'akan.
“Aku harap Kak Anna dan Kaka Abbas juga bahagia setelah ini!” sahut Riska.
Anna dan Abbas keluar dari ruang perawatan Riska sambil bergandengan tangan. Keduanya saling melempar senyum. Wajah pucat Anna tidak juga membaik. Abbas terus mendesak Anna agar mau diperiksa ke dokter.
Merasa tubuhnya memang butuh penanganan akhirnya Anna pun mengikuti ajakan suaminya.
“Kenapa baru di periksa?” tanya Dokter wanita yang baru saja memeriksa kondisi Anna.
“Istri saya selalu menolak, Dok! Dia bilang hanya masuk angin tapi saya khawatir karena dia hari ini dia semakin lemah dan pucat,” ujar Abbas.
Dokter Rahma mengulas senyum hangat kepada pasangan muda itu. “Kalian pengantin baru?” tanya Dokter Rahma.
“Baru tiga bulan, Dok!” Abbas kembali menjawab. Sedangkan Anna hanya bisa diam. Entah mengapa tubuhnya merasa sangat lelah.
__ADS_1
“Keadaan istri Anda saat lemah, tekanan darahnya sangat rendah. Tapi saya harus melakukan pemeriksaan kepada istri Anda,” ujar Dokter Rahma melanjutkan.
Ucapan dokter itu membuat Abbas merasa khawatir. “Apa terjadi sesuatu yang buruk sama istri saya, Dok!”
“Kita tunggu hasil pemeriksaan ya!” Dokter Rahma meraih gagang telepon lalu menghubungi seseorang agar masuk ke dalam ruangannya.
“Bang,” panggil Anna pelan.
Abbas menggenggam jemari Anna. “Apa, Dek?”
“Aku takut!” Anna menatap suaminya dengan penuh kecemasan.
“Ada Abang! Kamu tidak perlu takut!” Abbas menenangkan Anna.
Dari dulu Anna memang sulit untuk diajak berobat, ia takut dengan yang namanya jarum suntik. Dan Abbas Belum mengetahui hal itu. Anna takut Dokter Rahma akan memberikan suntikan kepadanya.
Tak lama seorang perawat datang membawa sebotol gel ultrasonic.
“Terima kasih, suster! Sekalian tolong bantu saya memeriksa ibu ini,” ucap Dokter Rahma kepada suster yang menyodorkan benda itu kepadanya.
“Kita periksa dulu, ya!” Dokter Rahma menutup bagian tubuh bawah Anna dengan selimut, “Abang tolong bantu, istrinya ya!” ucap Dokter Rahma sambil tersenyum. Dokter itu memanggil Abbas dengan sebutan Abang karena mendengar panggilan Anna kepada suaminya tadi ketika Dokter Rahma sedang menghubungi suster.
“Tunggu, Dok!” cegah Anna.
Dokter Rahma menghentikan gerakannya.
“Apa saya mau disuntik?” tanya Anna.
“Tidak, saya hanya mengoleskan gel ini ke perut kamu. Kita periksa apa ada hasil cocok tanam di dalam sini? Kita USG sebentar, ya!” Dokter Rahma menunjuk perut Anna dengan jari telunjuknya sambil tersenyum geli.
Suster yang membantu Dokter Rahma pun ikut tersenyum. Ternyata pasien yang sedang berbaring ini takut dengan jarum suntik.
Abbas hanya terdiam. Pria itu tidak mengerti karena ini adalah pengalaman pertamanya begitu juga Anna.
Dari dulu Anna selalu menolak jika berurusan dengan rumah sakit serta apapun itu yang berbau medis alasannya karena wanita itu takut dengan jarum suntik. Tapi beda dengan suntikan Abbas ya, untuk hal itu bukan takut tapi Anna minta nambah 😁
Bersambung....
Hai.... hampura pisan para pembaca setiaku otor kemarin gak up.
Otor harap kalian masih setia baca cerita ini. Jangan lupa dukungan kalian nih.
Senin ceria....
Vote buat karya ini....
__ADS_1
Kasih bunga setangkai juga...
Thangkyuh buat semua.. 😘😘😘