Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Keberanian Rayyan


__ADS_3

Rayyan sungguh tidak menyangka di saat akan menemui mamanya yang terlihat sedang tertawa bersama Maira dan Anna. Dia malah di hadang oleh Abi Khaliq. Jantung rasanya berdebar dan tidak karuan berhadapan dengan ayah dari wanita pujaan hatinya.


Abi Khaliq mengajak Rayyan duduk bersama. Pria paruh baya itu beralasan ingin ditemani mengobrol. Rayyan pun tidak bisa menolak ajakannya.


"Kamu tahu menatap lebih dari lima detik lawan jenismu itu sudah haram hukumnya. Saya melihat pandangan kamu terhadap Maira lain. Kamu bisa menjelaskannya pada saya." Abi Khaliq berucap tegas mengawali obrolan mereka, perkataan halus, tegas, menyudutkan namun tepat di hati Rayyan.


Bingung dan gugup itu yang Rayyan rasakan saat ini. Ia sadar apa yang dilakukannya itu salah.


"Maaf, telah lancang memandangi putri Abi seperti tadi. Jujur saya menyukai pada Maira." Akhirnya Rayyan bisa mengungkapkan isi hatinya dan langsung kepada Abi Khaliq, ayahnya Maira.


Abi Khaliq tersenyum simpul kemudian melipat tangannya di depan dada sambil bersandar di sandaran sofa. "Saya tidak melarang siapapun untuk menyukai Maira. Tapi saya tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan hatinya. Saya akan memilih calon suami yang baik untuk putri saya." Abi Khaliq menatap serius pada Rayyan.


Ucapan dan tatapan Abi Khaliq padanya membuat Rayyan sedikit gugup dan takut. Sebab ia sadar dirinya tidaklah baik dan sempurna untuk Maira.


Rayyan menundukkan pandangan merasa tidak percaya diri di hadapan Abi Khaliq.


"Apa yang kamu punya untuk membahagiakan Maira?" tanya Abi Khaliq tegas.


Jleb...


Pertanyaan yang sungguh diluar dugaan Rayyan. Ia terdiam sesaat memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Abi Khaliq.


Melihat putranya sedang berbicara serius dengan ayahnya Maira. Om Anwar ikut bergabung begitu juga dengan Abbas, Papa Reno dan Andre tak terlewatkan juga oleh Dareen. Pengantin pria itu juga tak mau ketinggalan dengan apa yang sedang dibicarakan saat ini.


Anisa bersama Mila berada dikamar untuk berganti pakaian. Sebab Nisa lebih nyaman memakai gamis daripada kebaya.


Sebagian keluarga yang lain telah undur diri dari kediaman Maira. Sebab acara hari ini hanya akad nikah saja tak ada resepsi utnuk merayakannya.Tapi Umi Hera berucap tetap akan mengadakan resepsi pernikahan di Surabaya nanti. Nisa pun tidak bisa menolaknya.


Melihat papanya serta yang lain ikut bergabung duduk bersama dengan Rayyan dan Abi Khaliq. Saat itulah keberanian Rayyan muncul. Ia ingat ucapan Darren padanya tadi.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf kepada Abi dan Bunda." Rayyan menoleh kepada Bunda Ima yang juga ikut mendekati bersama Maira dan Anna. Sedangkan Tante Melly dan Mama Ami sudah lebih dulu duduk bersama dengan yang lain.


Kemudian sedikit mengulas senyum pada Maira. Gadis itu hanya bisa tertunduk malu membalasnya.


Rayyan kembali melanjutkan ucapannya. "Aku sadar diri aku bukanlah pria yang berilmu agama tinggi. Tapi aku banyak belajar menjadi pria bertanggung jawab dari Papa." Rayyan menoleh kepada Om Anwar dan mendapat anggukan dari pria itu. Kemudian Rayyan kembali melanjutkan ucapannya. "Saya hanya punya hati yang tulus dan rasa tanggung jawab untuk Maira. Dan saat ini di depan orang tua Maira dan kedua orang tuaku. Saya Rayyan Al Kahfi ingin dengan membaca bismillahirohmanirohim berniat meminang Khumaira untuk menjadi Istri saya," ucap rayyan tegas tanpa keraguan.


Semua yang mendengar itu terkejut dengan keberanian Rayyan saat ini. Tante Mely menutup mulutnya sendiri. Benar-benar tidak percaya jika Rayyan gentle man seperti ini. Bukan hanya mereka. Maira wanita yang namanya disebut oleh Rayyan ikut terpaku mendengarnya. Merasa tidak percaya Rayyan mampu meminta restu kepada Abinya secara langsung.


Seulas senyum tersungging di wajah Abi Khaliq. Ia melihat ada tangis haru bahagia di wajah putrinya.


"Mengapa kamu begitu yakin jika Maira mau menerima lamaran kamu?" Abi Khaliq mencoba menguji Rayyan. "Bagaimana jika dia menolakmu?"


"Aku akan menerima semua keputusan dari Maira. Jika memang dia menolak berarti kita tidak berjodoh. Dan Allah memberikan teguran untukku untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, hingga aku mampu mendapatkan gadis baik seperti putri Abi nantinya."


Maira menggelengkan kepala mendengarnya seakan tidak rela jika Rayyan bersama wanita lain. Abi Khaliq menoleh ke arah Maira saat Rayyan berbicara. Pria paruh baya itu sudah bisa menebak isi hati putrinya. Senyum lega pun terukir di Wajah tuanya.


Sikap sopan ditunjukkan oleh Maira. Perasaan menjadi canggung saat ini.


"Kamu dengar ucapan Rayyan tadi?" tanya abi Khaliq.


Maira mengangguk pelan. "Dengar Abi."


"Lalu apa keputusanmu?"


Maira langsung menoleh menatap abinya.


"Maksud Abi?"


"Rayyan men khitbah mu menjadi istrinya apa kamu bersedia?" Ucap Abi Khaliq singkat.

__ADS_1


"Apa aku harus menjawabnya sekarang, Bi?"


"Harus! Abi tidak mau putri Abi semakin bermaksiat dalam hati dan pikirannya. Beberapa hari ini pikiranmu pasti tidak tenang karena seseorang," ujarnya tegas. "Sekarang Abi minta kejujuranmu. Jika memang kamu tidak menjawabnya sekarang keputusan Abi sama seperti sebelumnya dengan kesepakatan kita. Menjodohkan mu melalui Ta'aruf seperti Darren.


" Jangan"


"Jangan, Bi!" Ucap Maira dan Rayyan bersamaan.


Semua tertawa lepas mendengar reaksi Rayyan. Keduanya saling pandang, Maira lebih dulu menundukkan pandangan.


***


Akhirnya sebuah keputusan telah Maira berikan untuk Rayyan. Acara pernikahan Darren kali ini dijadikan moment yang pas bagi Rayya untuk mempersunting Maira menjadi istrinya.


.


.


Bersambung


seperti biasa promosi lagi


karya karya terbaik dari para author.


seru deh kisahnya. yuk baca!



Mampir yak!

__ADS_1


__ADS_2