
📩 (Assalamualaikum ... Maaf Bang, Anna sedang ada urusan, jadi tidak bisa angkat telepon dari Abang, nanti Anna hubungi kalau sudah selesai).
Anna mengirim pesan kepada Abbas. centang biru langsung muncul di sana. Tanda bahwa pesannya sudah terbaca.
📩(Waalaikumussalam .. Maaf Abang sudah menganggumu, Abang hanya khawatir. Ya sudah, abang tunggu telepon baliknya)
Anna menghela napas lega. Ia tidak lagi membalas pesan chat yang ia mulai. Raganya sedang bersama dengan Darren tapi pikirannya entah kemana. Anna seperti memikirkan sesuatu. Dan itu terlihat jelas oleh tingkahnya.
"Apa ada masalah serius?" tanya Darren membuyarkan lamunan Anna.
"Ah, tidak, Mas!" Anna tersigap menjawabnya. Anna kembali terdiam.
"Kalau ada masalah, kamu bisa bercerita sama Mas!" Darren memulai kembali obrolannya.
Dio yang berada di antara mereka hanya tersenyum. Baru kali ini ia mendengar Darren berbicara lembut kepada seorang wanita. Bahkan sesekali Dio melihat Darren yang mencuri pandang kepada Anna. Hal yang tak pernah di lakukannya.
Anna hanya tersenyum menanggapinya. Berbeda dengan dulu, saat Anna belum menjadi wanita muslimah. Anna akan banyak bertanya dan berbicara pada Darren. Banyak hal yang ia tanyakan kepada pemuda itu. Tapi setelah Anna berhijrah, ia lebih bisa mengendalikan sikapnya. Terutama kepada laki-laki yang bukan muhrimmya.
Seperti saat ini, jika bukan karena masalah Papa nya Anna canggung untuk bersama dengan Darren. Entah mengapa ada rasa bersalah dalam hatinya saat bersama Darren, meskipun mereka tak berdua kali ini. Abbas selalu ada dalam pikirannya.
"An ...." tegur Darren lagi.
"Sepertinya Anna harus pulang, Mas! Maaf sudah menganggu waktu kerja Mas Darren. Tolong beritahu Anna jika ada perkembangan kasus Papa!" Anna lekas berdiri dari duduknya, gadis itu juga pamit kepada Dio yang terlihat sibuk di depan laptopnya.
"Mas Dio, Anna pulang dulu," Dio yang di tegur pun tersigap menghentikan pekerjaannya.
"Ko, cepet banget?" Dio melihat waktu pada jan dinding yang menempel di ruangan itu, padahal ia sendiri menggunakan jam tangan. "Sebentar lagi waktunya makan siang apa tidak sekalian saja makan dulu." tawar Dio. Anna mengeleng pelan menjawabnya.
"Tidak perlu repot-repot, Mas. Anna harus kembali ke Bogor, ada hal yang harus Anna selesaikan di sana!"
"Ya sudah! Biar Mas antar?" Darren menawarkan diri.
"Tidak perlu, Mas Darren. Biar Anna pulang sendiri. Sekali lagi, Anna sangat berterima kasih kepada Mas Darren, sudah mau membantu Papa sampai sejauh ini. Untuk permintaan Papa yang menginginkan perjodohan kita, Anna meminta waktu sama Mas Darren untuk menyelesaikan masalah Anna dulu, setelah itu silahkan Mas dan Papa melanjutkannya," ucap Anna kemudian menangkupkan kedua tangan di dada. "Anna permisi, Assalamualaikum," ucap Anna sedikit membungkukan badannya lalu beranjak dari ruangan Darren.
"Waalaikumussalam," jawab Dareen dan Dio kompak. Darren hanya diam melihat kepergian Anna.
Anna pun keluar dari ruangan Darren.
"Anter sono, bro! Heran deh, jadi lemot gini pengacara gue ngadepin tuh cewek."
"Oh, iya." Dareen menggaruk tengkuk lehernya tanpa permisi ia pun keluar menyusul Anna, mengantar gadis itu sampai lobi.
Dio menggelengkan kepala melihat tingkah Darren. Sungguh cinta bisa membuat seorang Darren yang terkenal bijaksana, pintar dan berwibawa mendadak bodoh diam seperti itu.
"An ...." panggil Darren sambil sedikit berlari menyusul Anna.
"Kenapa Mas?" tanya Anna heran melihat Darren menyusulnya.
"Tidak, Mas hanya mau mengantar kamu sampai lobi saja." Darren berjalan beriringan dengan Anna.
Tak ada pembicaraan selama mereka berjalan. Hingga sampai di lobi, Anna yang pamit kepada Darren.
"Anna pamit Mas," Anna kembali menangkupkan kedua tangan di dada dengan sedikit membungkuk.
"Hati-hati, An!"
Anna membalas dengan senyuman lalu berjalan menuju parkiran. Darren pun kembali keruangannya.
__ADS_1
Anna tetap menolak saat Darren menawarkannya untuk di antar pulang karena Anna membawa mobil sendiri saat datang ke sana.
Berjalan menuju parkiran, Anna berpapasan dengan mobil mewah yang berhenti tepat di depannya saat Anna hendak melewatinya. Mobil itu menghalangi jalannya. Anna mundur beberapa langkah saat pintu mobil belakang terbuka, sampai seorang pria paruh baya keluar dari sana. Seseorang yang sangat Anna kenal. Tuan Bagaskara, ayah dari Darren.
Pria paruh baya itu keluar dan tersenyum ke arah Anna. Banyak perubahan yang Anna lihat darinya. Rambut yang memutih terlihat jelas menandakan umurnya sudah tidak lagi muda. Mobil yang tadi ditumpanginya melaju menuju parkiran. Meninggalkan Tuan Bagaskara bersama dengan Anna.
"Abi Bagas!" ucap Anna saat Tuan Bagaskara mendekatinya. "Assalamu'alaikum, Abi!" sapa Anna seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Tuan Bagaskara tersenyum melihat perubahan yang begitu menyejukkan mata di hadapannya. Putri dari sahabatnya itu berhijrah. Cantik dalam balutan hijab dan baju yang menutupi auratnya. Padahal dulu, ketika bertemu dengannya Anna langsung memeluk tubuhnya. Anna sudah seperti putrinya sendiri. Tapi kali ini berbeda gadis cantik di depannya ini berbeda ia paham dengan batasannya dengan orang yang bukan mahramnya.
"Wa'alaikumussalam, Anna! Abi sampai pangling melihatmu. Jujur tadi sempat tidak mengenalimu." ujar Tuan Bagaskara sambil menangkupkan tangannya juga. "Alhamdulillah, hidayah sudah datang padamu, An," sambungnya lagi.
"Alhamdulillah, Abi. Tapi Anna masih banyak belajar untuk menjadi muslimah yang baik," Anna tersenyum.
"Perlahan dengan niat dan sungguh-sunguh, Abi yakin kamu pasti bisa belajar dengan baik, An. Eh, ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini? Sudah bertemu DarrenDarren," tanya Tuan Bagaskara.
"Sudah, Abi! tadi Anna menemui Mas Darren menanyakan beberapa hal mengenai kasus Papa." Anna sedikit menunduk saat berbicara.
"Apa kamu mau mengobrol sebentar sama Abi?" pinta Tuan Bagaskara. Pria tua itu melihat Anna yang sedikit bingung. "Kalau tidak ada waktu, lain kali saja kita lanjutkan!"
"Anna mau, Abi tapi tidak bisa lama. Anna harus kembali ke Bogor, ada beberapa urusan yang harus Anna selesaikan di sana."
.
.
.
Cafetaria yang letaknya tak jauh dari kantor hukum Darren kini jadi pilihan Tuan Bagaskara. Sangat kebetulan sekali Tuan Bagaskara bertemu Anna, ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan pada putri dari sahabat nya itu.
"Kamu pasti sudah mendengar sebagian ceritanya dari mamamu ataupun Darren." Anna mengangguk.
"Bukankah Abi pemilik perusahaan itu, harusnya Abi yang paling berkuasa di sana?" Suara Anna sedikit meninggi. "Maaf, Abi." Anna menyesali nada biacaranya.
"Abi sangat mengerti perasaanmu, tapi Abi pastikan semua akan kembali seperti semula. Abi harap kalian bersabar. Karena ini tidak mudah. Jika Abi langsung melaporkannya balik. Ia akan menarik semua sahamnya dari perusahaan. Ini sudah Abi diskusikan dengan Papa mu, dia yang menyuruh Abi melakukan ini, karena ia tidak mau ribuan karyawan harus kehilangan pekerjaannya dan Abi harus cepat menyelesaikan ini." Tuan Bagaskara menjeda ucapannya. Lalu kembali melajutkannya. "Ayah mu sudah berkorban sejauh ini, Abi tidak mau semuanya sia-sia." ucapnya kemudian.
obrolan berlangsung melebihi waktu yang Anna sediakan. Banyak yang Tuan Bagaskara bicarakan dengan Anna. Anna tidak perduli lagi dengan jadwal keberangkatannya ke Bogor. Ia ingin tahun lebih jelas dari Abinya Darren. Karena dengan Mama nya dan Darren ada saja yang mereka sembunyikan.
"Satu lagi, An. Abi sudah berbicara dengan Papamu. Mengenai ... Perjodohan kalian."
"Soal itu, Anna minta waktu Abi. Setelah Anna kembali dari Bogor, Anna akan berikan jawabannya."
Tuan Bagaskara mengangguk pelan.
"Abi, terima kasih sebelumnya, sudah membantu keluarga Anna selama ini. Anna pamit, Assalamu'alaikum." pamit Anna sambil menunduk sopan kemudian berlalu meninggalkan Tuan Bagaskara.
"Anna ..., Abi sanagt senang jika kamu menerima perjodohan ini. Abi terutama Umi sudah menganggapmu sebagai anak kami." gumam Tuan Bagaskara melihat kepergian Anna.
...
Tante Melly dan Om Anwar sudah kembali ke Jakarta setelah bertemu dengn Darren tempo hari. Papa pun sudah terbebas dari jeratan pidana, karena sudah membayar penuh kerugian perusahaan. Tapi pihak Papa Reno meminta banding, saat terakhir kali menunjukkan bukti yang membela Papa Reno. Sidang pun akan berlanjut satu bulan kemudian, bukti harus di periksa lebih lanjut dan harus berdasarkan sesuai dengan laporan.
"Ma... Pah..., Anna harus kembali ke Bogor untuk beberapa hari. Anna berat meninggalkan kalian," ucap Anna saat dirinya sudah rapi untuk pergi.
Anna beralih duduk di tepi ranjang pasien. Sedangkan Mama Ami duduk di bangku dekat Papa Reno yang sedang di suapin buah apel olehnya.
"Papa akan baik-baik saja, Nak! Pergilah! Ada Mama yang menemani Papa di sini, kamu tidak perlu khawatir." Papa Reno menatap Mama Ami. Anggukan kecil di dapat dari istrinya itu.
__ADS_1
"Tenang saja, kami akan baik-baik saja. Setelah keputusan bebas dari penahanan. Mama merasa lega, yang penting bisa bersama dan menemani Papa." ungkap Mama Ami.
Anna tersenyum kemudian berdiri lalu mendekati Mama nya memberika pelukan dan kecupan singkat di kening Papa nya.
"Maaf, Mama tidak bisa mengantarmu ke bandara." ucap Mama Ami saat mengantar Anna keluar dari rumah sakit.
"Tidak pa-pa, Mah! Anna sudah besar ko, tidak perlu di antar." Anna terkekeh kecil.
"Ya, kamu sudah besar, dan sebentar lagi juga akan di lamar orang." Keduanya kemudian terdiam sampai akhirnya tiba di lobi rumah sakit.
Mama Ami menemani Anna sampai mobil online yang ia pesan datang. Karnea Anna meninggalkan mobilnya di ruko. "Bagaimana dengan Abbas?" tanya Mama Ami, Ia tahu perasaan Anna. Ingin menanyakan masalah ini, tapi Mama Ami tidak banyak ruang untuk berbicara berdua. Mama Ami selalu menemani Papa Reno karena tak ada lagi yang menemaninya.
"Anna sudah ambil keputusan, Mah. Anna menolak khitbahnya Bang Abbas. Akan Anna sampaikan jawaban itu saat tiba di Bogor nanti."
Mama Ami langsung menoleh kepada Anna. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalian saling mencintai, Nak! Kita bicarakan ini baik-baik sama Papa," Mama Ami meraih tangan Anna, membujuknya agar memikirkan keputusannya terlebih dulu.
"Anna ingin mewujudkan keinginan Papa, Mah. Lagian orang yang dipilihkan Papa satu iman dengan Anna, Anna akan banyak belajar agama yang saat ini Anna anut kepadanya."
"Dengan mengorbankan perasaan kamu?"
Anna menyunggingkan senyum miris. "Cinta akan terbiasa setelah menikah. Doakan kebahagiaan atas keputusan Anna, Mah!"
Mama Ami memeluk erat putrinya.
"Semoga pengorbanan baktimu berbuah kebahagiaan."
"Aamin... " Jawab Anna. Pelukan mereka lepas perlahan saat supir mobil online mendekat menanyakan Anna.
"Permisi... Dengan saudari Anna?" tanya Pak Supir.
"Ya, Saya Pak! tunggu sebentar ya!" Pak supir mengangguk pelan lalu kembali ke mobilnya.
Anna beralih lagi kepada Mamanya.
"Anna pergi dulu, mungkin sekitar dua sampai tiga hari di Bogor. Mau ambil barang di kos an, juga. Mau Anna titipkan di tempat Om Anwar, dulu." Mama Ami mengangguk paham lalu menarik putrinya ke dalam pelukan.
"Hati-hati di jalan. Kabari Mama sesampainya di sana. Semoga setiap langkahku selalu di lindungi Sang Pencipta Keselamatan," ucap Mama Ami di sela pelukannya.
"Amin... Terima kasih, Mah. Anna pamit, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
Mama Ami menjawab salam Anna. Meskipun saat ini mereka berbeda keyakinan tapi saat ada yang mengucapkan salam. Mama Ami selalu menjawabnya.
Anna berjalan mendekati mobil online yang sudah menunggunya. Saatnya ia harus menghadapi perjuangan hatinya. Anna tidak mau terus menunda. Akan semakin menyakiti perasaan orang yang setia menunggunya.
"Abang, Maafkan Anna. Semoga Abang mengerti dan menerima keputusan Anna." Anna memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.
Cincin pemberian Abbas, peninggalan dari Almarhumah ibunya. Anna akan mengembalikannya kepada pemilik barang yang sebenarnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Adakah yang rindu dengan kelanjutan Anna dan Abbas...