
Terima kasih buat kalian yang sudah lanjut untuk bacaan selanjutnya
.
.
"Ha..ha...ha " Serli menertawakan Anna, ia membayangkan Anna turun dari gunung tanpa Alas kaki. Pasti sulit menurutnya, jalanan licin dengan jalan berbatu. Dari kemarin niatnya untuk mengerjai Anna, Baru sekarang bisa di lakukan.
...***...
Anna terus berjalan tanpa alas kaki, langkahnya terhenti tatkala melihat sepatu miliknya tersangkut di salah satu bebatuan di tengah aliran air. Ia ingin memanggil teman laki laki yang lebih dulu berjalan turun untuk meminta bantuannya, tapi sayang jarak mereka sudah terlampau jauh. Ia pun berusaha sendiri untuk mengambil sepatu tersebut.
Sebelum menuruni aliran air yg cukup deras, Anna terlebih dahulu meletakkan kamera dan tas ransel nya agar tidak terjatuh ke dalam air. Ia berhati hati melewati batu demi batu untuk menggapai sepatunya.
"Akhirnya!.. dapet juga ni sepatu, ya meski basah ngga apa apa deh daripada jalan nyeker men," he..he.. Anna menertawakan dirinya sendiri. Baru beberapa langkah ia melewati batu, Ia terpeleset dan jatuh kedalam air.
"Byuuurrrrrr"
" Awwww... tolong!!.. tubuh Anna limbung dan terjatuh kedalam air. Dengan segenap tenaga ia berusaha keluar dari air, air tersebut tak begitu dalam tapi karena aliran air yang cukup deras membuat Anna sedikit kesulitan untuk berdiri.
Perlahan ia terus mencoba berjalan sampai ke pinggir sungai, setelah sampai di pinggir sungai, barulah Anna merasa sedikit perih pada dampal kakinya, darah yang keluar dari kaki membuat luka itu tak begitu terlihat. Luka yang lebar itu terasa perih saat Anna memcelupkannya ke dalam air. Ternyata saat terpeleset tadilah yang menyebabkan kakinya sobek terkena batu yang tajam.
" Sssshhh... duh.. perih banget lagi! Aaakhhh!! apes banget sih hari ini, kalau tau akan begini mending ngga usah di ambil deh tuh sepatu, sama aja nganyut juga tuh sepatu." refleks ia menutup mulutnya takut apa yang ia ucapkan akan menjadi kesialan untuknya. Ia teringat akan pesan orang orang yang mengingatkan nya agar menjaga perkataannya.
"Duh.. gimana ini? Anna berpikir ia harus membalut luka nya agar ia bisa cepat turun ke kaki gunung.
Anna langsung membuka baju rajut yang ia pakai lalu mengambil tas yang berada di sampingnya, diambilnya gunting kecil dan peralatan P3K yang selalu ia bawa. Luka itu semakin terasa perih saat ia meneteskan betadin. Di guntingnya baju yang ia lepas, ia gunting menjadi panjang, di lilitkannya di kaki agar luka itu tidak menganga. Kebetulan P3K yang ia bawa hanya tersisa betadin, ia kehabisan plester dan lain kasa nya.
Saat ini ia hanya menggunakan tanktop yang membalut atas tubuhnya memperlihatkan lengan tangan yang putih mulus.
"Tolong!.. Anna kembali berteriak! berharap ada yang bisa membantunya, sepi amat si! Apa udah ngga ada orang yang mau turun lagi, Anna sedikit takut jika ia sendirian di sana. Ya sudahlah percuma teriak minta tolong," ucapnya sedih.
"Kamu harus berusaha Anna, Semangatnya pada diri sendiri."
Anna berusaha berdiri, semilir angin dan cuaca sekitar yang memang dingin membuat bulu halus di kulitnya berdiri, kedinginan pasti, karena baju yang melekat di tubuhnya dalam keadaan basah.
Di pakainya sepatu yang tidak memiliki pasangan itu, meski hanya satu yang ia pakai, lebih baik dari pada kakinya yang satu lagi kembali terluka. Saat ia berjalan ia hampir terjatuh kembali, ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Aaakh!!.. Ia kira akan terjatuh! tetapi ia merasa ada yang menahan tubuhnya sehingga tubuhnya terjaga. Ia kembali berdiri tegak tanpa melihat siapa yang telah menolongnya, Anna malah lebih khawatir dengan kameranya, karena semua dokumentasi tugas dan hasil jepretannya ada di sana.
"Kameraku.. dengan tergesa Anna memeriksa kamera yang menggantung di lehernya, Alhamdulillah, untung ngga kenapa Napa?" ucapnya sambil memutar mutar kameranya.
" Ekhmmm... apa kameranya lebih berharga dari pada tubuhmu?" tanya seseorang di samping Anna, sambil mendekap kedua tangannya. ia menggelengkan kepala, heran dengan tingkah Anna yang terlihat acuh akan keselamatan dirinya.
Anna yang langsung terhenti akan tingkahnya merasa mengenali pemilik suara tersebut, ia menoleh ke samping tepat ke arah seseorang yang menolongnya.
"ABANG!!... beneran ini Bang Abbas?" Anna memiringkan kepala dan memicingkan matanya, menegaskan apa yang ia lihat adalah benar atau salah melihat orang.
"Hmm.. iya ini, Aku! apa yang terjadi dengan mu sampai terluka seperti itu?" tanya Abbas. Pandangan matanya ia tujukan ke kaki Anna yang terbalut kain.
"Terjatuh bang! pas ambil sepatu yang hanyut. Jadi kecemplung deh! enggak kerasa kakiku malah tergores, yah.. beginilah." Anna lesu saat menjawabnya.
Abbas melihat Anna hanya berbalut tanktop dengan kaki yang terbalut kain, langsung membuka kemeja Flanel bermotif kotak warna merah yang ia pakai, menyisakan kaos putih di tubuhnya yang membuat otot Abbas terpampang jelas.
"Tak baik orang lain melihat dirimu hanya memakai itu, tutupi dengan ini!" Abbas memberikan kemeja itu kepada Anna.
"Tapi baju ku juga basah bang! Anna enggak bawa baju ganti, semuanya ada di tenda? meski berkilah Anna tetap menerima kemeja Abbas dan memakainya. Terima kasih," kilahnya.
"Lebih baik dari pada seperti tadi" sahut Abbas dengan wajah datarnya.
"Hei, An! kenapa lu? ko pada basah begitu, trus itu kaki kenapa di lilit gitu?" tanya Tino di ikuti dua orang temannya. Mereka baru saja turun dari Curug paling atas.
"Permisi Pak." Tino menundukkan badan melewati Abbas.
Sepertinya gue pernah lihat ini orang tapi dimana ya? Tino diam sambil berpikir tentang Abbas.
"Dia kan motivator yang ada di seminar kemarin." bisik Rendi salah satu teman yang baru saja bersama Tino.
__ADS_1
"Beuh.. lu bisa baca pikiran gue Ren? Hebat," ucap Tino menepuk Rendi pelan.
"Keliatan kali kalau lu, lagi mikir begitu." Sahut Rendi.
"Sstttt... ngapain si lu pada bisik bisik? kenapa baru pada turun lu? dari tadi gue minta tolong ngga ada yang nyaut!" Ucap Anna marah.
"He..he.. maaf,An! kita enggak denger? kan udah ada yang nolongin sekarang mah!" balas Tino sambil menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal. Terus itu kenapa, lu belum jawab pertanyaan gue tadi?.
"Jatoh gue! noh di sono sambil menunjuk ke sungai tempat ia terjatuh dengan dagunya," jawab Anna kesal.
"Ha..ha... ada ada aja lu An? kasian banget si lu,sampe basah kuyup gitu." timpal Rendi.
"S*****, lu!!.. eh.. tolong bawain tas gue dong, ribet nih jalan aja susah," Sambung Anna.
"Bawa yang punya tas aja mau gue, An! nyok sini gue Gendong? sambil berjongkok Tino mengarahkan Anna agar mau di di gendong olehnya. Dan mendapat pukulan tas dari Anna.
" Ekhmmm.. deheman Abbas membuat mereka diam. Mereka bercanda dan berbicara konyol di hadapan Abbas seperti menganggap Abbas tak ada.
"E-eh Bapak motivator!.. maaf Pak kalau ngomong sama Anna emang suka gini bikin lupa sama sekitar. He..he..
"Panggil saya Bang Abbas saja! saya tidak begitu tua untuk di panggil Bapak. Kalian duluan saja, biar Anna saya yang membantu." Ucap Abbas dengan nada tegas dengan sikapnya yang dingin.
Mereka saling berpandangan, kemudian melirik kearah Anna. " Sorry ya, An! kita duluan, sudah ada Abang senior yang membantu, kita ngga berani membantah. Gue bantu bawa tas lu aja, biar Lu ngga repot. He.. bisik Tino kemudian pamit kepada Anna dan Abbas.
"Kalau begitu, kami duluan ya, Pak? ehh maaf Bang. Mari Bang! ayo Ren, Doy." Ucap Tino yang diikuti oleh kedua temannya.
"Thanks ya, No." Ucap Anna. Dan mendapat acungan jempol dari Tino.
"Kamu masih mau di sini atau kembali ke perkemahan?" tanya Abbas kepada Anna, yang di tanya malah terdiam.
" Hei,," Abbas melambaikan tangannya ke wajah Anna.
"Eh, iya Bang kembali ke perkemahan lah, Anna pun berusaha untuk berjalan. Tapi sayang luka nya semakin terasa sakit dan perih, terlihat juga darahnya rembes di baju yang tadi Anna sobek.
"Aww... Sshhh.. langkah pincangnya berhenti saat kakinya terasa sakit dan perih.
Anna mengangguk
"Iya lah bang, sakit, perih, dingin juga! Aku pengen cepet sampai perkemahan."
"Bawa tasku, masukan kameramu kedalamnya". Abbas dan menyodorkan tasnya ke hadapan Anna, Anna yang menurut saja dengan apa yang Abbas perintahkan.
Abbas berjongkok di hadapan Anna, ia akan menggendong Anna sampai ke perkemahan.
"Ayo cepat naik ke punggungku, apa kamu mau bermalam di sini."
Anna agak ragu dengan apa yang Abbas lakukan, ia canggung harus berdekatan dengan laki laki. Tapi Anna tak ada jalan lain, kaki dan tubuhnya sudah mulai tak bertenaga.
"Tapi baju Anna basah Bang, apa tidak apa apa ji--
ucapanya menggantung yang langsung mendapat sahutan dari lawan bicaranya.
"Aku bisa mengganti bajuku nanti, yang penting kita harus sampai di perkemahan sebelum gelap menemani kita di sini.
Anna yang tadinya ragu pun langsung mendaratkan tubuhnya dengan hati hati di punggung Abbas, ini pertama kali ia bersentuhan begitu dekat dengan laki laki, begitu juga dengan Abbas jika tak terdesak seperti ini ia akan bersikap dingin terhadap wanita.
Setelah Anna berada di pundaknya Abbas berdiri dan memegang kedua kaki dan mengaitkan dengan kedua tangannya. Beberapa saat mereka hanya terdiam.
" Bang."
"Hmm"
"Bang Abbas ko, bisa di sini? apa Abang ikut dalam susunan panitia? Kalau iya, kenapa baru terlihat hari ini, kemarin ngga ikut kegiatan? Cecar Anna dengan pertanyaannya, membuka percakapan di antara keheningan.
"Aku harus jawab yang mana dulu,"
"Ya terserah Abang, mau yang mana juga."
__ADS_1
"Aku kesini tak ada urusannya dengan kampus, ibarat kata, sekali mendayung dua pulau terlewati. Mengantar Meisya ke rumahnya karena sedang liburan sekolah, sedangkan aku selalu datang ke tempat ini, Suasana tenang dengan air terjun dan udara yang membuat nyaman dan tenang pikiran, melepas lelah lebih tepatnya. Dan di sinilah awal bertemu dengan Meisya.
Anna yang terkejut dengan ucapan Abbas memiringkan kepala dan mendekatkan wajahnya agar dekat dengan telinga Abbas.
" Apa Meisya adalah cucu dari kakek Uyo dan nenek Pijah Bang?" Tanya Anna.
" Kamu kenal dengan mereka," seketika Abbas menoleh ke arah yang bersamaan dengan wajah Anna tepat di samping telinganya. Sontak pandangan dan hidung mereka beradu. Kecanggungan kembali terjadi diantara mereka.
Anna refleks memundurkan wajahnya, sedangkan Abbas kembali fokus ke jalan yang menurun, dengan hati hati Abbas menuruni tiap anak tangga yang sudah di bagus karena perbaikan warga.
Anna merasakan detak jantung yang berpacu kencang di dalam dirinya. Ia melonggarkan sedikit jarak antara Abbas dengannya, membuat Abbas merasakan pergerakannya.
" Jangan banyak bergerak kalau tidak mau kita jatuh."
" Maaf "
" Kamu belum menjawab pertanyaan ku, dimana kamu mengenal kakek dan nenek Meisya."tanya Abbas.
" Oh iya, sampai lupa! Kemarin di ladang. Kami berbicara banyak tentang Meisya, tentang orang tuanya dan musibah yang dia alami, enggak nyangka pemuda tampan dan dermawan itu ternyata Abang" jujur Anna.
Abbas sedikit tersenyum karena Anna menyebutnya tampan. Sikapnya pun mulai mencair kepada Anna tak sedingin dan sedatar biasanya. Ternyata Anna membuat seorang Abbas ibarat seperti es batu mencair dengan kehangatan sikapnya.
Perjalanan yang lambat karena matahari sudah mulai menyembunyikan keberadaan nya, membuat suasana sekitar terlihat samar.
Abbas harus berhati hati dan sesekali mengistirahatkan tubuhnya, karena menggendong Anna.
"Minum Bang," Anna memberikan air mineral yang tersangkut di tasnya Abbas.
"Terima kasih"
"Lelah ya Bang, Maaf ya jadi merepotkan Abang, pasti berat ya gendong Anna." Tanya Anna sendu.
"Lelah banget, bayangin aja gendong beras sekarung yang beratnya 60 kilo!"
"Bukk"
"Aduh" Abbas mengelus pundaknya yang tak terasa sakit.
"Jahat banget si, nyamain aku sama karung beras." Anna manyun seraya memukul Abbas dengan botol air kosong ke ke pundaknya Abbas.
" Ha..ha..ha.. ya hampir sama kan beratnya bedanya yang aku gendong itu makhluk hidup yang bisa bergerak, ngga bisa diem lagi saat di gendong" ledek Abbas.
"Abanggg!... ih.. nyebelin. Ternyata bukan cuma dingin dan cuek, abang itu rese juga. Kalau aku ngga sakit begini udah aku tinggalin abang di sini" ucap Anna masih manyun.
"Yang bener itu, aku yang tinggalin kamu di sini. bener enggak?" Abbas mengangkat satu alisnya untuk meledek Anna.
"Iya.. iya.. bener deh, bener banget! lanjut lagi ah, udah mulai gelap ini bang? Mana baju ku kering di badan lagi" Anna merajuk.
Abbas dan Anna kembali melanjutkan perjalanan nya. Anna yang banyak bicara sudah merasa tak canggung lagi terhadap Abbas, Abbas hanya tersenyum sesekali tertawa dengan apa yang Anna ceritakan.
Anna semakin mempererat pegangannya di leher Abbas, hingga suara Anna semakin pelan tak terdengar, ternyata ia tertidur di pundak Abbas. Lelah dengan kegiatan dan musibah yang ia alami.
Abbas berhenti sejenak tanpa membangunkan Anna, ia memperhatikan wajah yang begitu dekat dengannya. Wajah damai dalam tidur. ada sesuatu yang membuat hatinya begitu senang dan selalu tersenyum mengingat sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Anna.
.
.
.
.
.
...Terima kasih yang masih setia dengan karyaku....
...Jangan lupa like, komen, pencet 💝 buat kalian yang baru gabung dalam tulisanku. baca juga karyaku yang lain masih di si biru ini judul karya " Your husband My Husband". minta dukungan dan like ya para pembaca yang baik dan Budiman....
__ADS_1