
Mama Ami, Tante Melly masih bercengkrama ramah bersama Papa Reno. Tidak ada pembahasan yang menjuurs kepada masalah yang di hadapi Pap Reno sama sekali. Suasana menjadi lebih ceria karena Tante Melly banyak membicarakan hal-hal lucu.
"Entahlah, kapan anak pertama ku akan menikah? Semua temanku di Jakarta sudah mempunyai cucu. Hanya Rayyan yang masih betah berkelana." Tante Melly begitu serius bercerita tentang Rayyan.
"Kamu sudah tidak sabar rupanya ingin dipanggil nenek." ucap Papa Reno sambik tersenyum.
Mama Ami merasa lega melihat suaminya kembali ceria, wajah lelahnya seakan sirna saat mereka datang. Tatapan Mama Ami tak lepas menatap Papa Reno.
"Haisssh... No. nenek! tapi Neda," ujar Tante Melly.
Mama Ami beralih memandang Tante Melly. "Neda?" Mama Ami bingung mendengar ucapan Tante Melly.
"Hm... Ne.. Da..., Nene muda." ungkap Tante Melly.
Tawa ceria kembali terpancar di wajah Papa Reno, Mama Ami pun ikut tertawa.
"Kamu menolak tua namanya," ledek Mama Ami masih terkekeh kecil.
"Itu sebutan modis cucu kepada neneknya di zaman sekarang, biar lebih enak di dengar." seloroh Tante Melly.
"Kalau kamu mau panggilan tren Nenek dari cucunya, berarti harus punya menantu dengan modis zaman sekarang dong? berpakaian seksi, menor, tampil di layar kaca, dengan berderet prestasi keelokan tubuhnya." Mama Ami menyindir pacar Rayyan yang pernah dikenalkan pada Tante Melly.
Tante Melly bergidik ngeri mendengarnya. "Dih, jauh-jaih deh punya menantu seperti itu. Aku maunya modisnya tuh, solehah. Pakaiannya sopan, sikapnya sabtu, baik, itu kaya temennya Anna di Bogor," Tante Melly sedikit meninggikan suaranya agar Anna mendengar.
Dan benar Anna menoleh ke arah para orang tua itu. " Apa nih, bawa-bawa nama Anna smaa temen Anna, Maira?" Anna penasaran. Ia lekas berdiri lalu menghampiri mereka bertiga. ikut bergabung dengan obrolan mereka.
"Ini, An. Tante Melly pengen dapet mantu kaya temen kamu, Maira." Mama Ami memberitahu.
"Buat jadi istri Rayyan?" pekik Anna dengan terkejut.
Tante Melly mengangguk cepat. Seakan meminta Anna agar bisa membantunya mendekatkan Rayyan dan Maira.
"Oh, No... Tante! Maira berbeda dengan pacar-pacar Mas Rayyan yang gaya pakaiannya serba kurang bahan. Satu lagi mereka suka asal nyambar bibir Mas Rayyan tanpa malu dimana mereka berada, trus Mas Rayyan juga suka legowo aja gitu." gerutu Anna.
__ADS_1
"Makanya, An. Tolongin Tante. Sebenarnya Rayyan anak yang baik, hanya pergaulan yang membuatnya seperti itu."
"Maira tuh, anak yang tertutup, Tan. Anna saja sahabat dekatnya tidak tahu siapa yang ia suka. Hanya... Anna tahu, sudah ada nama pria di dalam hatinya. Bakalan susah deh deketin Maira," ujar Anna.
"Tidak ada yang tidak mungkin, jika kita terus berusaha dan berdoa. Tante akan terus melangitkan doa untuk Rayyan supaya ia mendapatkan jodoh seperti Maira." Tante Melly tetap dengan keinginannya.
Anna menggeleng pelan mendegar ucapan Tante Melly. Anna hapal betul sikapnya Tante Melly. Kalau sudah punya keinginan, tante nya itu pasti akan rajin berdoa untuk hajat nya.
Akan selalu ada ucapan yang terlontar dari Tante Melly jika ia sudah berkeinginan.
Ia akan terus melangitkan doa untuk keinginannya. Menurutnya tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Kita tidak tahu Allah akan mengabulkan doa kita di saat seperti apa. Yang pasti janganlah lelah berdoa dan meminta hanya kepada-Nya.
Perdebatan Anna dan Tante Melly berakhir, tatkala pengingat yang mengumandangkan sura adzan dari ponsel Anna terdengar berbunyi. Waktu sudah memasuki solat dzuhur.
"Nah, sudah waktunya kalian beribadah. Pergilah sana! menjalankan ibadah tepat waktu lebih baik, bukan?" Mama Ami memperingati Anna dan Tante Melly.
"Ada, Tan. Tadi Anna lihat petunjuknya ko," sahut Anna.
Tante Melly berjalan ke arah sofa. Wanita itu mengambil mukena yang selalu ada di tasnya. "Ayo, Tante mau mulai melangitkan doa, agar mendapat menantu seperti Maira." Tante Melly terlihat bersemangat sekali, membuat Mama Ami dan Papa Reno tersenyum dibuatnya.
"Iya, Tan!" Anna menimpali. Gadis berhijab itu pamit kepada Mama Ami dan Papa Reno.
"Mah... Pah..., Anna mau solat dulu, sebentar ya!" ijin Anna.
" Ya, Nak. Silakan!" jawab Papa Reno lembut.
Anna pun menyusul Tante Melly yang sudah keluar dari ruangan lebih dulu.
...***...
"Pah!" panggil Mama Ami lembut dan pelan sambil kembali menggenggam satu tangan Papa Reno yang tidak diinfus.
__ADS_1
"Mm.... " Mama Ami tampak ragu saat ingin berbicara.
"Kenapa, Mah? bicara saja, Papa siap ko mendengarnya."
"Rumah kita hari ini di sita pihak penyidik. Dan kita semua akan tinggal di ruko." Mama Ami sangat berhati-hati saat berbicara.
Wajah Papa Reno berubah sedikit murung. "Maafkan Papa, Mah!"
"Sst..." Mama Ami meletakan telunjuknya di bibir Papa Reno lalu dengan cepat menariknya kembali. "Mama tidak menyalahkan Papa. Tidak apa semua harta kita di sita, asalkan bisa menutupi semua uang yang dianggap telah digelapkan oleh Papa. Dan Papa bisa berkumpul lagi bersama Mama dan Anna. Tapi Mama yakin Papa tidak bersalah. Jadi percaya Tuhan pasti akan memberi kita jalan untuk kejujuran." ucapan Mama Ami membuat semangat Papa Reno kembali muncul.
"Kapan kalian pindah ke ruko?" tanya Papa Reno.
"Nanti sore, setelah bertemu dengan pihak penyita." sahut Mama Ami. Tapi nanti Mama dan Melly mau ke ruko dulu, Pah. Papa tidak keberatan Mama tinggal bersama Anna di sini?"
Papa Reno menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak pa-pa, Papa malah senang. Papa jadi punya waktu mendengarkan Anna cerita. Papa ingin tahu apa yang akan Anna ceritakan pada Papa kali ini." Papa Reno tersenyum mengingat Anna yang selalu meminta waktu kepadanya untuk mendengarkan Anna bercerita. Sungguh kegiatan yang sangat ia rindukan bersama putrinya itu.
"Kalau begitu Papa sekarang istirahat dulu, Jangan terlalu dipikirkan masalah yang sudah terjadi. Meskipun Mama tahu, masih banyak kekurangan uang yang harus di bayar untuk menutupi semuanya. Kita harus yakin pasti akn ada jalan keluar." Mama Ami meyakinkan.
Perlahan Papa Reno tertidur. Reaksi dari obat yang tadi ia minum sudah bekerja. Papa Reno harus banyak beristirahat. beruntung Darren sudah mengajukan penagguhan penahanan kepada Papa Reno karena kondisi nya yang sedang sakit. Setelah keputusan dari dokter yang menerangkan bahwa pasien bisa di bawa pulang, barulah penangguhan tahanan dicabut.
Mama Ami membuang napas berat, ia bingung harus memulai dari mana berbicara dengan suaminya perihal seseorang yang akan mengkhitbah Anna. ia tahu meskipun Anna belum memberikan jawaban, tapi perasaan Anna kepada orang tersebut sudah diketahui Mama Ami.
Dua hal yang begitu sulit baginya.
Kesehatan suaminya atau kebahagiaan Anna.
.
.
.
Bersambung>>>>
__ADS_1