Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
24. Dukungan orang baik


__ADS_3

 


“Wah...! kebetulan sekali nih. Cocok dengan apa yang Tante bawa. Tante Anna mengeluarkan kue bolu talas Bogor dari dalam paper bag. Kita makan sama-sama!” 


Malam itu, Mereka lewatkan dengan obrolan santai di kamar berukuran sedang milik Anna. Duduk lesehan beralaskan karpet sederhana.


Om Anwar merasa tenang setelah bertemu dengan keponakan kesayangannya itu. Ia merasa terharu dengan pengakuan Anna terhadapnya. Meski tak langsung mengambil keputusan untuk berpindah keyakinan. Om Anwar selalu memberikan nasehat terbaiknya. Ia yakinkan Anna, jika niat tulus datang dari hati, akan ada kemudahan jika kita yakin dalam  menjalaninya.


Tante Melly juga memberikan support untuk Anna.


Melihat apa yang Anna pelajari dan penuturan Maira tentang Anna. Bahwa ponakannya itu sudah bisa membaca kitab Suci Al Qur’an dengan fasih, selama ini Anna pun sering ikut serta membantu menyiapkan sajian di pengajian bulanan, meski ia selalu menunggu di luar masjid saat pengajian berlangsung.


 


Ketika Anna mengungkapkan niat hatinya kepada Om Anwar, sambutan dan nasehat terbaik Anna dapatkan dari Omnya.


“Om pikir, itu itikad baik. Berkat Islam kamu bisa mendapatkan ketenangan batin. Mudah-mudahan niat baikmu akan mendapatkan Ridho Nya, An. Segala niat baik jika di segerakan dengan Bismillah, akan terucap Alhamdulillah, jika kita selalu bersyukur.” Om Anwar memberi nasehat kepada Anna.


Tante Melly mengusap lembut pundak Anna, mendengar penuturan Anna kepada suaminya. Lantas ia memberikan sentuhan lembut kepada Anna.


 


“Anna perlu membicarakan ini sama mama dan papa, Om. Anna ingin restu dari mereka. Meski bagaimanapun mereka berhak atas kehidupan Anna.”


“Ya, itu lebih bagus. Sebaiknya kamu juga sempatkan waktumu untuk pulang ke Surabaya. Tengoklah mereka! Kedua orang tuamu sangatlah bijaksana. Mereka selalu mendukung apapun yang di lakukan putrinya selama itu dalam hal kebaikan dan tulus dari hati kamu, An,” ucap Om Anwar.


 


“Iya, Om. Rencana nya selesai skripsi, Anna akan ke Surabaya. Anna khawatir dengan Mereka. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari Anna, Om? Apa Om Anwar tahu itu?” tegas Anna.


 


Om Anwar menggeleng, memberikan jawaban. Ia pun penasaran dengan keadaan adik perempuannya yang berada di Surabaya itu. Semalam ketika berbagi kabar melalui telpon dengan dirinya, Ami, mamanya Anna hanya meminta tolong kepada dirinya untuk melihat kondisi Anna. Sifatnya sama seperti Anna yang kurang terbuka jika mempunyai masalah. Ibu dan anak itu lebih suka menyimpannya sendiri.


“Maaf Om, Tante, Anna. Saya permisi mau keluar dulu.” Sela Maira.


“Loh, mau kemana, Mai? Kamu jadi nemenin aku kan di sini,” tanya Anna.


“Jadi, An. Aku mu ngabarin bunda aja ko, aku belum kasih kabar, hari ini jadi menginap di tempatmu.”


“Aku kira, kamu mau pulang, Mai,” sergah Anna. Maira hanya tersenyum menanggapi Anna kemudian melangkah keluar kamar agar obrolannya di telpon dengan bunda tak mengganggu Om dan Tante Melly.


 Setelah Maira keluar dari kamar itu. Anna baru berani berbicara kepada Om Anwar tentang mamanya. Ia merasa segan jika Maira mendengar keluhannya.


“Om ... Anna mau minta tolong sama Om?” tanya Anna ragu.

__ADS_1


“Tanya apa, An?” balas Om Anwar.


“Sudah dua bulan ini mama terlambat kirim uang bulanan untuk Anna. Dan bulan ini sewa kos an sudah harus di bayar? Tapi semua masih bisa Anna atasi, masih ada tabungan Anna untuk membayarnya. Anna hanya takut mereka dalam kesulitan keuangan di sana, tapi mereka menutupi semua dari Anna. Anna harus bagaimana ya, Om?” keluh Anna. Ucapan nya terdengar sendu saat ia mengadu kepada omnya.


“Yang sabar ya, sayang!” bisik Tante Melly menyemangati Anna.


Om Anwar bergeming mendengarkan penuturan dari Anna, perasaan seorang anak terhadap ibunya biasanya sangatlah kuat. Dia berpikir akan menemui adiknya itu ke Surabaya, akhir pekan ini.


“Akhir pekan ini, Om ada perjalanan Bisnis ke Surabaya. Om akan sempatkan untuk menemui mamamu.” Ucapan Om Anwar memberikan kelegaan di hati Anna.


Selama beberapa minggu ini, hati Anna resah, ingin sekali ia pulang ke kota kelahirannya. Tetapi persiapan jelang sidang skripsi membuatnya tak punya waktu untuk itu. Sakitnya kali ini pun, mau tak mau membuatnya harus ikut pelajaran susulan.


Dita dan Nia akan membantunya untuk mencatat ulang mata kuliah yang tertinggal. Anna pun harus lapor Absensi ke dosen yang mengajar saat ia tak  bisa hadir dalam mata kuliah yang di pelajari. Ia tak mau menunda sidang kelulusannya. Ia ingin membuat bangga kedua orang tuanya.


Malam semakin larut. Usai mendapat ijin dari bunda, Maira mematikan smbungan telponnya. Ia kembali bergabung bersama Om Anwar dan Tante Melly di kamar Anna.


Kamar Kos Anna terbilang besar untuk ukuran anak kos. Dulu awal kedatangannya ke Bogor untuk menempuh pendidikan, Mama dan Papa Anna memang mencarikan tempat kos yang nyaman untuk Anna. Mereka tak mempermasalahkan tentang biayanya, yang terpenting putrinya merasa nyaman dan tak perlu berdesak-desakan dengan kamar sempit. Entah mengapa Anna memilih fakultas yang jauh dari kedua orang tuanya.


Padahal banyak Fakultas ternama di Surabaya tetapi ia memilih kota Bogor untuknya menempuh pendidikannya. Anna pun di beri di fasilitasi kendaraan roda empat oleh orang tuanya. Tetapi kendaraan itu lebih betah bertengger di garasi kos an. Anna lebih sering menggunakan ojek online untuknya berpergian.


“Sudah malam. Tante dan Om, pulang dulu, ya, An,” pamit Tante Melly. Ia hendak berdiri untuk membereskan cangkir dan kue yang masih tersisa di atas piring, tapi di cegah oleh Maira.


“Biar saya aja, Tan.”Maira mengambil alih nampan yang hendak di bawa Tante Melly.


“Tante terlalu memuji, aku tak terlau pandai dalam pengetahuan agama, di sini aku juga masih belajar, Tan,” ucap Maira merendah.


“Tante berharap Rayyan, anak tante bisa mendapat pendamping hidup sepertimu.”


“Dia mah susah,Tan. Selama aku kenal dia belum pernah tau kalau Maira suka sama lawan jenis,” ledek Anna.


Maira hanya tersenyum mendengar ledekan dari Anna. Ia melanjutkan membawa nampan berisi cangkir kosong ke dapur rumah kos itu.


Tante Melly dan Om Anwar terlihat keluar dari kamar Anna. Di ikuti Anna di belakangnya dengan langkah pincang. Anna mencium tangan keduanya dengan takzim. Maira yang mendekatinya, ikut bersalaman seperti apa yang Anna lakukan.


“Terima kasih ya, Om. Anna sedekit lega, kalau om benar mau menemui mama.”


“Tak usah berterima kasih, An. Mamamu itu adiknya, Om juga. Itu sudah kewaiban seorang kakak terhadap adiknya. Om, lega kamu di sini bersama orang-orang baik.” Om Anwar melirik Maira. Maira membalas senyum sambil tertunduk.


“Kami pamit ya, sayang. Cepet sehat lagi. Tante Melly memeluk Anna, di ciumnya pipi kiri dan kanan bergantian. Begitu juga dengan Maira. Nanti kalau kita ketemu lagi, Tante mau kenalin kamu sama anak Tante, ya?” ucap Tante Melly. Ia masih kekeuh ingin Rayyan kenal dengan Maira.


“Cie ... cie ... Belum kenal anaknya, sudah dapat restu dari mamanya, nih?” Anna menyenggol bahu Maira pelan.


“Apaan si, An.” elak Maira. Di wajahnya terpancar semburat merah menahan malu.


“Tidak pa-pa, Mai. Jodoh tak ada yang tau jatuh pada siapa,”sambung Tante Melly. Jaga dirimu baik-baik ya, An!”

__ADS_1


“Iya, Tante. Terima kasih ya Om, Tante sudah menyempatkan datang ke sini. Nanti Anna main deh ke Jakarta, sama Maira. Biar Rayyan kenal cewek Muslimah ini, jangan cewek yang pakai baju kekurangan bahan terus,” kekeh Anna.


“An ...” Maira merajuk.


“piss” Anna menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah Maira.


Om Anwar dan Tante Melly tersenyum melihat keakraban Maira dan Anna.


“Aku antar mereka kedepan ya, An!” usul Maira.


Anna mengangguk. “Tan ..! Maafin Anna ya, Cuma bisa antar sampai sini. Kaki Anna masih linu.” Ucap Anna.


 “Tidak pa-pa, sayang” Tante Maira membelai lembut pipi Anna.


“Kami pamit ya, An. Assalamualaikum,” ucap Om Anwar.


“Waalaikumsalam,” jawab Anna dan Maira.


Anna kembali ke kamarnya, sedangkan Maira mengantarkan Om dan Tante sampai kedepan pintu garasi, di mana mobil Om Anwar terparkir.


.


.


.


**Alhamdulillah bisa up untuk hari ini.


semoga semua pembaca dalam keadaan sehat semua ya.


Terima kasih sudah sampai di Bab. ini


author cuma mau ingatkan untuk dukung terus karya author


👍like


✍️komen


❤️ favorit jadi ngga ketinggalan info jika author up bab baru.


jika menurut kalian karya ini pantas untuk mendapat hadiah dan vote. silahkan. author terima dengan senang hati.


salam hangat dariku author recehan yang terus berkarya. Mayya_zha


~komen yang banyak agar author semangat up bab baru** ~

__ADS_1


__ADS_2