Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
21. Perasaan sama dengan orang yang sama


__ADS_3

"Itu dia, Maira. Sini, Mai!" ajak Anna dengan lambaian tangannya.


Maira melangkah memasuki ruangan tempat Anna dan Abbas berada saat ini. Maira sedikit terkejut dengan kehadiran Abbas di tempat kos Anna."Kak Abbas, kenapa ada di sini?" batin Maira.


"Hai, An? gimana kabarmu?" Maira menghampiri Anna, mereka saling memeluk, kemudian menempelkan kedua pipi kiri dan kanan bergantian.


"Hai, Mai! Kabarku Alhamdulillah baik, meskipun keadaan sedikit tak bersahabat." Anna mengarahkan pandangan pada kakinya yang berbalut perban. Maira mengikuti arah pandangan Anna. Oh iya, ini Bang Abbas. kalian sudah saling kenalkan? Apa mau kenalan lagi?" ujar Anna.


"Tidak usah, kami sudah saling mengenal!" Abbas melirik Maira, gadis itu menangkupkan kedua tangan di depan dada memberikan senyuman tanda memberikan salam kepada Abbas.


Pandangan Maira beralih kembali pada kaki Anna yang terbalut perban.


"Loh.. itu kenapa, An? ko sampai di perban begitu? Maira terkejut melihat perban yang melilit di kaki Anna.


"Ada sedikit insiden, kemarin di perkemahan! mungkin Tuhan memberi ku peringatan untuk beristirahat dari semua kegiatan," keluh Anna. Ia membayangkan harus tinggal beberapa hari di kos an tanpa kegiatan. Pasti sangat membosankan, pikirnya.


Maira duduk di samping Anna, berhadapan dengan Abbas. Ruangan santai tempat anak kos berkumpul itu terbilang minimalis. Terdapat 3 bangku panjang yang membentuk persegi di lengkapi televisi besar di depannya. Di sinilah, anak kos meluangkan waktu santai nya. Pemiliknya sangat mendisiplinkan penghuni kos di sana. Kebersihan dan kenyamanan harus di utamakan. kebersamaan saat libur dan berkumpul bersama di tempat ini, sedikit mengurangi rasa rindu terhadap keluarga dan orang tua.



"Harusnya kamu bersyukur, An! kamu masih di beri pengingat untuk beristirahat. Semua yang kita dapat yang lalu sampai hari ini, itu sudah menjadi rejeki kita. Termasuk rejeki sehat badan, An? bagaimana cara kita mengatur semua itu agar menjadi bermanfaat untuk diri kita, " ucap Maira. Ia selalu memberikan semangat dan nasihat untuk Anna. Seakan kata-kata yang selalu Maira ucapkan adalah siraman yang membuat dirinya menjadi lebih baik.


"Makasih, Maira ku sayang! kamu emang paling the best banget buat aku!" Anna merangkul Maira memberikan pelukan meski hanya sebentar. Mereka lebih terlihat seperti kakak beradik.


"Maaf, karena Maira sudah datang, saya pamit pulang!" ucap Abbas pada Anna. Ia berdiri dan menangkupkan kedua tangan di dada. "Tidak mengantarku ke depan, An! aku bisa sendiri?.


"Biar aku yang antar Kak Abbas kedepan! kamu tunggu di sini aja, An! kakimu belum sembuh betul," usul Maira ketika ia melihat Anna mencoba bangun dari duduknya.


"Apa tidak merepotkan, Mai?"


Maira menggeleng


"Terima kasih ya, Mai! maaf sudah merepotkan mu?" Anna hanya mendapatkan balasan senyum dari Maira. Bang Abbas terima kasih banget ya, udah bantuin Anna? kalau enggak ada Abang, tak tahu deh bakal gimana keadaan Anna? maaf ya, Anna ngga bisa antar Abang ke depan? ngga pa-pa kan?" ucap Anna memelas.


"Ya, ngga pa-pa. semoga cepat sembuh. Saya permisi? Assalamualaikum ," pamit Abbas.


"Waalaikumsalam"


"An, aku kedepan sebentar, ya?" Maira mengikuti langkah Abbas, mengantarkannya sampai depan kos an, tempat di mana mobilnya di parkirkan. Tepat di sebelah mobil Anna.


"Terima kasih sudah membantu teman saya, Kak?" ucap Maira.

__ADS_1


"Itu sudah kewajiban saya sebagai muslim, jadi tak perlu sungkan! kalau ada apa-apa dengan Anna bisa hubungi saya, InsyaAllah saya bantu! saya permisi, Assalamualaikum." Pamit Abbas. Ia memutar memasuki mobil, perlahan mobil itu pergi menjauh.


"Waalaikumsalam," jawab Maira pelan.


Maira hanya bisa mengantarnya tanpa banyak bertanya. Padahal dalam hatinya, ingin sekali ia mengenal lebih dekat dengan Abbas. Tetapi ada yang ia pikirkan.


Kenapa Abbas bisa bersama Anna? apa mereka sudah menjalin hubungan? aku tidak pernah melihat Dia bisa sedekat itu dengan seorang wanita selama aku mengenalnya. Apakah perasaan ini bisa bersambut? Ya Allah jika memang dia orang yang ada dalam takdir jodoh ku, dekatkanlah, dan jika bukan dia jodohku, tolong.. tutup perasaan ini untuknya.


Maira tersadar dari lamunan nya. Ia kembali ke dalam menemani Anna.


"Sudah pulang Bang Abbas, Mai?" tanya Anna ketika ia melihat Maira mendekat ke arahnya.


"Sudah, An! kamu bisa bersama Kak Abbas gimana ceritanya? apa dia jadi pembina di acara kemarin?" tanya Maira. Ia langsung menanyai Anna, saking penasarannya dengan Abbas yang bisa bersama Anna.


"Aku jadi bingung, Mai? aku panggil dia Abang, kamu panggil dia Kakak? he..he..


jadi harus cerita panggil dia apa,nih?" ledek Anna.


" Aku kan biasa panggil dia Kakak dari dulu, An? jadi sudah biasa aja!


"Wah!! berarti kalian, sudah kenal lama dong?" tanya Anna terkejut dengan penuturan Maira.


"Jadi kalian jama'ah tetap di sana dong? oh, iya Mai, ajarin aku Al Qur'an lagi ya. kayanya udah lama enggak belajar baca lagi ?" tutur Anna.


"Ya, nanti kita perbaiki bacaan dan hapalanmu! mumpung kamu ngga bisa kemana-mana biar fokus belajar!" ledek Maira.


"Siap Bu guru!" Anna bersemangat.


Ceklek.. suara pintu kamar sebelah kamar Anna tepatnya, terbuka pelan.


"An!.. Anna menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Tadi sebelum kamu sampai sini, ada yang nganterin tas tuh? aku taruh di samping buffet tv," Kia menunjuk dengan dagunya. Kia adalah teman satu kos dengannya. Berbeda dengan Anna, jika Kia memilih Ng kos karena sudah bekerja sedangkan Anna masih kuliah.


"Oh, iya. Makasih Ki!"


"Sip." Kia menutup kembali pintu yang ia buka.


Ia kembali kedalam kamar karena hari ini Kia masuk kerja di malam hari.


"Keluar woyy! gabung sini, Ki! jangan ngandang terus? kapan netes?" candanya kepada Kia.


"Lagi nabung tidur aku, An! persiapan buat nanti malam! lanjut aja santai-santai ya," jawab Kia terdengar samar dari dalam kamar.

__ADS_1


"Yah! enggak asik, ah? ya wis, turu wae sok.. sok! sorry yah, kalau nanti berisik!" selosor Anna.


Anna dan Maira bersantai sejenak, Anna bercerita tentang keseruannya saat berkemah.


Ia juga menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa dirinya sampai kakinya harus berakhir seperti itu. Sudah menjadi kebiasaan Anna dan Maira saling bertukar cerita. Maira sudah seperti seorang kakak untuk Anna. Dia selalu memberi Anna nasihat dan dia lah yang membantu Anna belajar ilmu Islam. Soal perasaan pun Anna tak pernah menyembunyikannya dari Maira.


"Terima kasih ya, Mai? Kamu selalu ada buat dengerin ceritaku! salah ngga sih? aku punya perasaan suka sama Bang Abbas, Mai? sedangkan keyakinan kita berbeda!" tanya Anna.


"Perasaan cinta dan sayang itu datang dengan sendiri, An! tanpa melihat perbedaan keyakinan, usia maupun derajat seseorang. Meski berbeda keyakinan jika namamu yang tertulis dalam takdir jodohnya, semua akan terjadi atas kehendak-Nya.


Berbeda dengan Anna. Soal perasaan, Maira lebih memilih untuk menyimpannya sendiri. Tak pernah ia menceritakan soal perasaannya terhadap orang yang ia kagumi kepada orang lain. Satu tahun lebih, Maira mencurahkan apa yang ia rasakan kedalam sebuah tulisan.


Buku harian yang selalu ia simpan rapi di dalam laci lemari di kamarnya. Apalagi saat mendengar Anna menceritakan perasaannya terhadap Abbas. Maira sedikit terkejut, Ia dan Anna mempunyai perasaan yang sama terhadap orang yang sama.


Flashback on


Pertemuan pertama Maira bersama Abbas, di Kantor Pengiriman Express tepatnya di daerah Sentul. Maira kedapatan Amanah dari sang Bunda untuk mengirimkan pesanan pelanggannya lewat jasa pengiriman.


Maira baru saja turun dari Mobil Online, tepat di depan kantor jasa tersebut. Ia terlihat kesulitan saat menurunkan barang bawaannya dari dalam mobil.


Abbas yang baru saja datang ke kantor cabangnya itu berjalan melewatinya, terhenti saat melihat Maira kesulitan membawa barang. Abbas pun membantunya.


"Mau di bawa ke dalam kan, semua ini?" tanya Abbas sambil mengambil alih barang tanpa permisi!


" I-Iya Kak!" Jawab Anna terbata, saat melihat tingkah Abbas tanpa ekspresi dan begitu dingin. Tapi sikapnya menunjukan kepeduliannya.


Dari situlah awal mula perasaan Maira tumbuh untuk Abbas. Apalagi saat Ia tahu, Abbas adalah jama'ah di pengajian yang sama dengannya. Perasaan itu semakin bertambah untuknya. Setiap awal bulan Maira selalu bersemangat untuk hadir di pengajian itu. Hanya untuk melihat Abbas di kejauhan sudah membuat hatinya senang dan berbunga. Sapaan dan tegur sapa selalu Maira tunggu, usai pengajian.


...Terima kasih buat pembaca yang masih setia sampai bab ini....


...Aku cuma mau ingetin kasih dukungan buat Author...


...kasih...


...like 👍...


...komen✍️...


...tambah Favorit ❤️...


...jika menurut kalian cerita seru. Boleh lah untuk kasih hadiahnya 😀...

__ADS_1


__ADS_2