Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kekecewaan Maira


__ADS_3

"Kamu harus lanjut membaca catatan ini. Maaf... Memang aku pernah mempunyai perasan kepada Kak Abbas. Tapi itu dulu, Anna. Aku sadar perasaan dan cinta seseorang tidak bisa dipaksakan. Dan Allah juga sudah mengatur kepada siapa saja perasaan itu berlabuh." Maira terus berbicara. Anna cukup mendengarkan tanpa ingin mencelah ucapan Maira.


"Cintaku bertepuk sebelah tangan kepadanya. Dan Aku merasa bahagia karena sahabatku lah yang beruntung mendapatkan cinta dari seorang Abbas El Amin," lanjut Maira.


"Ya aku memang sangat beruntung. Meski begitu, aku telah melukai perasaanmu. Kenapa tidak pernah cerita kalau orang yang kamu suka adalah Abbas, setidaknya curhatan ku kepadamu tentang Abbas tidak aku ceritakan. Pasti sakit ya, mendengar seseorang yang kita cintai. mendekati wanita lain dan itu adalah aku. Aku begitu tega kepadamu, Mai!" ucap Anna kepad Maira.


Maira menggelengkan kepala nya pelan. Berusaha meyakinkan Anna kalau dia sama sekali tidak bersalah tentang hal ini.


"Jangan berbicara seperti itu, An! Satu hal yang pasti yang harus kamu tahu. Saat ini perasaanku terhadap Kak Abbas sudah tidak lagi ada. Dan aku baru menyadari perasaan ini hanya sebatas kagum bukan cinta. Karena cinta Kak Abbas hanya untukmu." Maira berusaha meyakinkan Anna.


"Tapi kamulah yang pantas untuk Bang Abbas, Mai! Hanya kamu yang pantas bersama dan mendampinginya. Aku bertemu kamu di sini, hanya ingin memberi tahu kalau aku akan menerima perjodoahan yang Papa ku inginkan. Kamu tahu, siapa pria itu?"


Maira menggelengkan kepala nya lagi.


"Mas Darren, pria yang aku anggap sebagai Kakak ku sendiri di Surabaya."


"Darren yang kamu bilang pria masa kecil mu?"


Anna menganguk pelan. "Papa sangat menginginkan aku menikah dengannya. Dan ... Aku akan mengabulkannya." lirih Anna.


"Tapi, An. Bagaimana dengan Kak Abbas, bukankah ia sudah mengkhitbah kamu?"


"Aku akan memberi jawaban kepadanya, dan ..." Anna tersenyum perih mengingat dimana Abbas sekarang. "Bang Abbas berada di Surabaya untuk bertemu orang tuaku. Sebelum dia bertemu Papa, Aku akan memberi jawaban khitbah nya terhadapku." Anna menarik napas panjang lalu membuangnya berat.


"Syukurlah kalian akan segera bersama aku senang mendengarnya, An!" Maira merasa lega mendengarnya.


Anna menggeleng kepala pelan. "Aku tidak pantas untuk Bang Abbas, Mai. Aku hanya ingin memberitahu, kalau keputusan yang ku ambil adalah menerima perjodohan Papa, Aku percaya kamu masih ada perasaan untuk Bang Abbas. Tolong jangan menyerah untuk mendapatkannnya. Kamu lebih pantas bersama dia."


"Kamu yakin dengan keputusanmu, An. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Kak Abbas saat kamu memberikan jawaban untuknya." Maira menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Anna.


"Kamu tega."


"Makanya... aku mohon sama kamu. Mai! kamu, sahabatku yang tulus. Tolong dekati Bang Abbas," pinta Anna.

__ADS_1


"Heh... Apa kamu kira aku bisa memaksakan perasaan Kak Abbas kepadaku, An! Lama aku mengenalnya, aku tahu dia bukan orang yang mudah berpaling dan dekat dengan seorang wanita. Selama aku kenal dia pun, tak pernah dia memandangku. Karena hatinya memang terpaut padamu!" Maira berbicara dengan nada yang sedikit tinggi, ia merasa geram dengan keputusan Anna.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa." Anna berucap sedih.


"An... berjuanglah! Pertahankan cintamu, bicaralah pelan dengan papamu, dia pasti mengerti." Maira meraih tangan Anna lalu menggenggamnya erat. Seakan memberi kekuatan apda sahabatnya.


"Papa tidak bisa mendengar hal yang membuatnya terkejut Mai, kondisinya sedang tidak baik. Aku tidak mau Papa kenapa-napa. Beliau sedang dalam masa pemulihan, Aku bersyukur Papa sudah terbebas dari tuntutan penahanan atas dirinya. Ya, meskipun kehidupan kami sekarang tidak mudah untuk kedepannya." lanjut Anna.


"Kamu tega sama Kak Abbas, An!" lirih Maira yang langsung menarik tangannya dari Anna. Ia merasa kecewa dengan sahabatnya itu. Tidak ingin banyak mengeluarkan kekecewaan kepada Anna, Maira beralasan harus segera balik lagi ke kantor, padahal ia sudah meminta ijin keluar dua jam kepada atasannya.


Maira sengaja melakukannya karena banyak yang ingin ia ungkapkan kepada Anna.


Mendengar Anna sudah mengambil keputusan untuk menolak Abbas. Maira merasa kecewa. Ia sudah menerima kenyataan kalau Abbas memang tidak ada perasaan kepadanya. Tapi Maira tidak bisa menikmati orang yang masih ada nama di hatinya itu kecewa karena keputusan sahabatnya.


"Maaf, An! Aku harus segera kembali ke kantor. Semoga keputusan yang kamu ambil membuat mu senang." Maira hendak berdiri dari duduknya.


"Apa kamu marah kepadaku, Mai?" tanya Anna membuat Maira terdiam sesaat.


Maira tahu Anna sedang dalam kebimbangan.


"An...,"


"Heh..." jawab Anna refleks menatap Maira.


"Bagaimana?" Maira menuntut jawaban.


Anna tersenyum lalu berkata, "Aku ikhlas jika memang kamulah orangnya, Mai! Aku yakin cinta yang kamu punya tulis untuk Bang Abbas. Aku titip dia, lanjutkan perjuangan cintamu yang sempat kamu kubur karena berkorban untuk perasaanku."


Maira kembali menggelengkan kepalanya. Tergambar jelas keraguan dalam diri Anna, tapi Anna berusaha menutupinya.


"Baiklah, doakan agar perasaan ini kembali datang. Dan perasaan pria yang kamu cintai bisa berpaling kepadaku!"


Deg.

__ADS_1


Kenapa perasaan ini resah, bagaimana jika Bang Abbas membenciku. Tapi memang harus seperti ini, agar Bang Abbas bisa berpaling kepada Maira. Ya... Benar, dengan ini Maira bisa mendapatkan cinta terpendamnya. Aku bisa mewujudkan keinginan Papa. Dan Bang Abbas mendapatkan wanita sholehah seperti Maira. mungkin ini lebih baik.


Anna tersenyum simpul membalas ucapan Maira. Kedua sahabat itu saling berpelukan singkat kalau berpisah.


.


.


"Kenapa harus cepat-cepat kembali ke Surabaya sih, An!" tanya Risma, adik Rayyan yang kebetulan ada di rumah siang ini.


"Urusan di sini sudah selesai, aku mau di Surabaya saja, nemenin Mama sama Papa di sana!" balas Anna sambil memasukkan beberapa barang penting bagi Anna.


"Tau deh, yang mau jadi nikah muda. Tinggal nunggu dilamar cowok lo kan?" ledek Risma kepada Anna. Gadis itu tahu kedekatan Anna dengan Abbas, dia juga tahu soal khitbah nya Abbas. Tapi tidak tahu dengan akhir keputusan Anna.


Hanya seulas senyum balasan dari Anna kepada Risma.


Dan sore ini, Anna kembali melakukan penerbangannya ke Surabaya diantar oleh Tante Melly dan Risma karena Rayyan masih sibuk bekerja. Anna juga hanya berpamitan dengan Om Anwar melalui sambungan telepon saja.


"An... Maaf... Om tidak bisa mengantarmu," ucap Om Anwar melalui sambungan teleponnya.


"Tidak pa-pa, Om! Anna pamit kembali ke Surabaya." balas Anna.


"Ya, Hati-hati... Sampaikan salam kepada kedua orang tuamu!"


"Iya, Om. Pasti Anna sampaikan. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumusalam."


Sambungan telepon pun berakhir. Anna memilih menonaktifkan ponselnya lalu bersiap menunggu panggilan untuk naik ke dalam pesawat.


Baca kelanjutan ceritanya ya.


Mohon maaf buat Abbas dan Anna rada sedikit lama up nya. tapi author sangat tidak rela ini berakhir. jadi nikmati saja ya. ☺

__ADS_1


__ADS_2