
Malam pengantin yang indah bagi Abbas dan Anna meskipun bukan honeymoon di luar negeri ataupun di tempat mewah tapi bagi mereka berdua bisa bersama adalah sebuah keistimewaan.
Hari berikutnya Anna dan Abbas menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling di kebun teh. Menikmati keindahan puncak gunung dengan suasana yang sejuk dan dingin.
Anna terlihat begitu senang ketika berada di puncak gunung. Semua pemandangan bisa terlihat dari sana.
“Sejuk sekali, Bang!” Anna merentangkan tangannya kemudian memejamkan mata sambil menghirup udara sejuk pegunungan pagi ini.
Abbas memeluk Anna dari belakang. Meletakkan dagu di bahu Anna.
“Maaf ... Belum bisa ngajak kamu bulan madu ke tempat yang kamu inginkan! Bahkan di tempat ini saja kita hanya dua hari,” Abbas sedikit mengeluh.
Anna menoleh ke samping.
“Memang Abang tau, aku maunya ke mana?”
Abbas menggelengkan kepala pelan sambil menarik sudut bibirnya.
“Nanti setelah proyek besar selesai, Abang janji akan ikut kemana pun kamu mau pergi!” Abbs mencium dalam bahu Anna membuat istrinya sedikit geli dan malu.
“Bang! Jangan seperti ini malu ih di lihat orang!” tegur Anna.
Tapi Abbas tak peduli. Toh di sana hanya ada beberapa orang dan mereka pun terlihat asyik dengan pasangannya sendiri.
Abbas malah mengeratkan pelukannya. Seakan mencari kehangatan dalam tubuh Anna sebab pagi ini kabut masih terlihat menutupi kebun teh tersebut.
“Aku mau menuju jannah-Nya bersama Abang!” ucap Anna pelan yang mulai merasakan kehangatan pelukan Abbas. Ia ikut mengeratkan pelukan Abbas dengan menumpu tangannya di atas tangan Abbas yang melingkar di pinggangnya.
Mereka memandangi keindahan bawah puncak gunung yang berselimut kabut. Padahal matahari mulai beranjak naik, tapi udara masih terasa dingin di sana.
Mendekati waktu duduk Anna dan Abbas baru kembali dari petualangan mereka. Anna sampai harus di gendong di punggung Abbas karena merasa tidak nyaman saat berjalan. Ada rasa sakit dan bengkak di bagian intinya.
Abbas ‘lah pelaku utama yang menyebabkan Anna seperti itu. Malam tadi memang Anna yang memegang kendali tapi di permainan berikutnya Abbas merasa ingin lagi dan lagi hingga membuat Anna harus mau memenuhi keinginan sang suami. Apalagi udara malam tadi begitu dingin. Tak perlu ada AC ruang pengantin itu sudah terasa sejuk dengan udara alami yang terasa dari luar kamar hotel.
“Kenapa semakin berat saja?” ucap Abbas saat Anna masih berada di atas punggungnya.
Anna mengaitkan kedua tangannya ke leher Abbas takut terjatuh.
“Abang cape?”
__ADS_1
Abbas menggelengkan kepala dan terus fokus ke jalan semak-semak di antara kebun teh.
Jarak hotel mereka dengan tempatnya saat ini lumayan jauh. Tidak terasa tadi pagi setelah subuh. Abbas dan Anna jalan pagi dan berakhir di atas puncak gunung. Sarapan pun mereka lakukan di sana.
“Akun turun aja, Bang! Malu di lihatin sama mereka.” Anna menyembunyikan wajahnya di balik punggung Abbas.
Ada beberapa orang yang sedang bekerja memetik teh di sana.
Mereka tersenyum saat melihat Anna dan Abbas melewatinya. Bahkan ada beberapa yang menyapa.
“Eta kunaon, si Neng na?” tanya salah satu dari mereka.
Anna mencubit Abbas agar segera menurunkannya. Tapi sama sekali tidak dilakukan oleh Abbas. Suaminya itu malah berhenti sejenak demi menjawab sapaan orang yang menyapanya
“Teu tiasa mapah jauh, Bu, saurna nyareuri sareng cape! Maklum nya penganten baru!” sahut Abbas.
(Gak bisa jalan jauh, Bu! Katanya sakit sama cape ! Maklum pengantin baru)
“Abang!” bisik Anna. Ia tahu maksud dari ucapan Abbas.
Abbas hanya tersenyum saat menoleh sesaat ke arah Anna kemudian kembali menatap pada pekerja yang bertanya kepadanya.
Dua orang yang berada di dekat orang yang bertanya terkekeh mendengar ucapan Abbas. Meski tanpa mengungkapkan secara langsung tapi mereka paham arti dari ucapan Abbas.
(Oh... Pantas saja, silakan di lanjutkan atuh. Istirahat supaya nanti malam bisa lembur lagi)
Wajah Anna merona mendengarnya sungguh malu sekali dibuatnya.
“Nya, Bu! Punten permios, bade ka penginapan deui!” Abbas pamit kemudian berjalan meninggalkan para pekerja itu.
(Iya, Bu! Permisi mau ke penginapan lagi)
Anna tak hentinya mencubit bahu Abbas bahkan telinga Abbas pun jadi sasarannya.
“Abang! Ih... Nyebelin. Kenapa bicara seperti itu. Aku malu!” cerocos Anna yang terus berontak minta di turunkan.
“Memangnya kamu paham apa yang Abang ucapkan?”
Abbas menurunkan Anna tepat di bangku kayu yang ada di taman tak jauh dari hotel.
__ADS_1
“Aku ngerti Abang bicara apa sama mereka!” cebik Anna seraya melipat tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut, tanda bahwa Anna sedang merasa kesal.
Abbas tertawa renyah, ia salah mengira. Ternyata istrinya itu paham ucapan bahasa Sunda yang Abbas ucapkan.
“Abang kita kamu gak ngerti!”
Abbas ikut duduk di samping Anna, tapi istrinya itu menggeser tubuhnya cepat, masih merasa kesal dengan Abbas.
“Dek!” panggil Abbas.
“Hmm...”
“Masuk, yuk!”
“Abang duluan, aja!” Balas Anna ketus.
“Sudah masuk waktu zuhur, solat dulu, abis itu Abang pengen tidur, ngantuk banget, dek!” rayu Abbas.
Anna hanya melirik sesaat. Ia juga mendengar samar suara azan dari arah perkampungan tak jauh dari hotel itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Abbas, Anna berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Abbas yang menepuk jidatnya sendiri.
“Ah... Aku kira dia tidak paham apa yang kuucapkan!” Abbas berdiri lesu.
Alamat harus merayu supaya bisa dapat jatah lembur malam ini. Tak peduli akibat ulahnya Anna sampai merasa sakit saat berjalan.
.
.
.
Selamat berjuang Abang Abbas.
.
.
.
__ADS_1
Sambil nunggu kisah Anna dan Abbas. mampir ke karya Author yang lain yuk.