
Satu jam setengah perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta. Di jemput oleh sepupu tampannya Rayyan. Kini, Anna tiba di rumah Tante Melly.
"Mas ... Tolong sekalian bawain tas-ku ke atas ya," ucap Anna saat hendak keluar dari dalam mobil sebelumnya ia menatap Rayyan sambil menyengir memperlihatkan deretan giginya putihnya sambik memohon.
"Songong, banget nih bocah, di kasih hati minta jantung, gue bela belain jemput lu tau gak, padahal kerjaan gue numpuk!" omel Rayyan ikut keluar mobilnya lalu memutari mobil berjalan mendekati Anna hendak menjepit lehernya seperti biasa. Tapi Anna segera berlari ke arah teras sambil berteriak.
"Eh- gak boleh deket, bukan mahram." Anna menjulurkan lidahnnya mengejek Rayyan. Ia berlari menaiki tangga menuju teras lalu mengejek sepupunya itu. "Mas Rayyan! Beneran tolongin Anna, angkatan koper itu. Anna mau mandi, buru-buru banget mau ke tempat Maira. Please ... "Anna menangkupkan kedua tangannya kembali memohon.
Mendengar nama gadis pujaannya disebut, membuat Rayyan terkejut. Senyum mengembang di wajah yang tadinya kesal itu. Sebuah ide pun muncul di benaknya.
"Gue angkatin ke kamar loe, tapi nanti gue yang anterin loe ke rumah Maira. Ok," teriak Rayyan dari garasi mobil sambil menaikkan satu alisnya.
"Ok Banget, Terima kasih, Mas, jadi kelihatan gantengnya kalau baik begitu sama Anna." celetuk Anna.
"Gue emang dari dulu ganteng!" Rayyan menimpali sambil berteriak dari garasi mobil.
"Ada apa sih berisik banget kalian ini. Baru juga sampe?" Tante Melly keluar dari kamarnya merasa heran dengan tingkah keponakan dan anak pertamanya. Kalau bersama begini kaya tom and jerry. Sangat berbeda dengan Risma.
Adik kandung dari Rayyan malah terbikang cuek dan diam kepada kakaknya itu. Sehingga Rayyan kadang merasa segan untuk menjahili dan bercanda dengannya.
"Assalamu'alaikum ... Tante." sapa Anna berjalan mendekati Tante Melly lalu menciun tangannya dengan takzim tak lupa mencium pipi kanan dan kiri tante kesayangannya itu.
"Waalaikumussalam ... An, baru sampai?" tanya Tante Melly.
Anna mengangguk. "Iya Tan."
"Mandi dulu sana, terus makan, baru habis itu kamu istirahat! Tante akan siapkan makanannya dulu." Tante Melly menepuk pelan pipi putih Anna dengan sayang. Meski hanya keponakan tapi perhatiannya tidak pernah dibedakan dengan anak-anak kandungnya.
"Tidak usah repot - repot, Tan! habis mandi Anna mau langsung ke rumah Maira, terus mau barang di kos an." ujar Anna.
"Tidak mau ng kos di sana lagi?" tanya Tanye Melly.
__ADS_1
Anna menggelengkan kepala. "Anna mau balik lagi ke Surabaya, Sekalian Anna kemari juga ada hal yang harus Anna selesaikan dengan--, " Anna menggantung ucapannya.
"Abbas," Tante Melly melanjutkan.
Anna mengangguk pun mengangguk pelan.
"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusanmu? mama mu sudah memberitahu Tante tentang keputusan yang akan kamu berikan pada Abbas." Tante Melly menangkup wajah Anna. Terlihat kesedihan di sana. "Kamu mencintai Abbas?"
Anna tidak menjawab, hanya mata yang berkaca-kaca yang ditunjukkannya.
"Apakah arti cinta jika tidak bisa membuat Papa bahagia, Tan! Anna mau keinginan Papa yang menginginkan Anna bersama Mas Darren terwujud. Anna ingin Papa bahagia. itu permintaan Papa pada Anna." lirih Anna sedih.
"Tapi cobalah bicarakan tentang perasaanmu kepada Papamu. Tante yakin, beliau sngat bijak untuk memilih keinginannya atau kebahagiaan putrinya."
"Tidak, Tan. kondisi Papa yang tidak memungkinkan untuk Anna membantah. Anna tidak mau terjadi sesuatu kepadanya. bukankah cinta juga akan tumbuh karena terbiasa. Begitu juga dengan Anna dan Mas Darren. Anna ikhlas jika harus mengorbankan perasaan Anna terhadap Abbas, Tan." akunya.
Tenste Melly membuang napas pelan. "Tante doakan semoga keputusanmu berakhir bahagia. Siapapun yang akan menjadi Imam ku kelak, semoga dia adalah jodoh yang Allah tetapkan untukmu, An. Mampu membimbing mu menjadi istri yang sholehah, dan menjadi muslimah yang taat akan agama nya."
"Doakan apa yang Anna lakukan ini benar, Tan. Hanya ini yang Anna bisa lakukan sebagai bakti Anna kepada mereka. Doakan juga agar Mama dan Papa mendapat hidayah seperti Anna."
Tante Melly meregangkan pelukannya. "Aamin ... Tidak ada yang tahu kehidupan kita kedepannya. Keteguhan dan kepercayaan semua berawal dari hati nurani. Kita tidak bisa memaksakan untuk itu. tapi kalau kita sudah yakin, pada satu keputusan kita harus pegang teguh itu, karena yang menyangkut hati tidak akan bisa merubahnya, kecuali perasaan kamu." sindir Tante Melly.
Benar ucapan Tante Melly seperti dirinya yang memilih berhijrah tanpa ada paksaan orang lain. Perasaannya tidak bisa utuh, ia harus rela mengubur perasaan itu dan berharap perasan baru tumbuh untuk seseorang nantinya. Memang tidak adil untuk Abbas yang setia menunggunya tapi Anna juga bingung harus bagaimana. Ia sayang kepada keduanya. Orang tuanya dan Abbas, keduanya mempunyai tempat yang spesial di hati Anna.
krucukk... krucuk...
Suara genderang dari perut yang minta di isi tardengar oleh Tante Melly. Si pemilik perut yang berbunyi tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.
Dalam keadaan sedih, perut pun ikut bersedih, merasa dirinya harus segera di isi.
Tante Melly tertawa geli mendengarnya. "Ya sudah, sekarang mandi sana! habis itu turun lagi buat makan. Pasti kamu cape baru sampai dari Surabaya." Tante Melly mencubit pipi Anna, membuat gadis itu meringis kecil.
__ADS_1
"Tan, sakit...!" keluh Anna.
Tante Melly terkekeh pelan, merasa gemas terhadap Anna.
"Woi, Sekalian aja nih, bawa kopernya sendiri. Tanggung kan mau ke atas juga?" Pekik Rayyan saat melihat ternyata Anna masih asik dengan Mamanya, Di dekatnya Anna sambil menyerahkan koper kecil miliknya.
"Sini! Gak ikhlas banget nolongin aku. Tan, supir Tante ada di rumah gak sih? Anna mau minta anter ke rumah Mira, anterin aja doang!" Anna sedikit meninggi menyebut nama Maira sambil melirik ke arah Rayyan.
Rayyan lupa ucapannya tadi, bahwa dia yang akan mengantarkan Anna ke rumah sahabatnya itu.
"E-eh sini deh, gak jadi biar gue aja yang bawa kopernya ke atas." Koper pun beralih kembali ke tangan Rayyan.
"Dih, pengen banget ketemu sama Maira tuh!" cebik Anna.
Tante Melly menggelengkan kepala melihatnya. Mama dari Rayyan yang masih terlihat cantik dengan baju gamis rumahan itu membiarkan Anna dan Rayyan berseteru. Sudah terbiasa bagi wanita itu. Ia memilih meninggalkan mereka berdua ke dapur.
"Bukan pengen lagi, Dek. Kangen berat gue tuh. Dah lama gak ketemu calon jodoh." seloroh Rayyan yang sedang menaiki tangga menuju kamar Anna.
Anna memang mempunyai kamar sendiri di rumah Tante Melly.
"Gak salah, Mas. Calon jodoh? buat Mas Rayyan sih Alhamdulilah dapetin Maira, tapi buat Maira Astagfirullah kalau sama Mas!" ledek Anna seraya menyusul Rayyan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Rayyan mendelik ke arah Anna dengan sorot mata tajam setelah mendengar Anna berbicara. Anna menghentikan langkahnya. tak jadi gadis itu menaiki tangga. "Tante, Rayyan nih, mau jahatin aku!" teriaknya ke arah dapur agar Tante Melly mendengarnya.
.
.
.
BERSAMBUNG?>>>>>
__ADS_1
dasar Rayyan..... Berdoa yang banyak biar hilal jodohnya keliatan.... 😆😆