Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Vitamin C pagi ini


__ADS_3

Entah mengapa perasaan Anna terasa sedih mendengarnya. Anna dan Abbas akan berpisah jarak. Haruskan Anna ikut dengan Abbas atau tetap tinggal di Surabaya sebab permasalahan Papa Reno belum sepenuhnya selesai.


Anna terlihat murung setelah mendengar Abbas membenarkan ucapan Papanya kalau hari ini suaminya itu memang akan pulang ke Jakarta.


Apalagi Om Anwar dan Tante Melly malah ikut pulang juga.


Risma menjadi alasan Tante Melly dan Rayyan menjadi alasan Om Anwar.


“Risma itu anaknya pendiam dan mandiri. Tapi kalau urusan makan, Tante harus mengawasinya. Dia sering telat makan, jadi penyakit magh-nya sering kambuh,” Ungkap Tante Melly di sela obrolan mereka saat sarapan pagi.


Mereka melanjutkan sarapan dengan obrolan santai pagi ini. Hingga Abbas menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Ia harus segera ke tempat pembangunan kantor cabangnya pagi ini. Setelah itu barulah bergegas kembali ke Jakarta.


“Kenapa Abang tidak bilang kalau hari ini mau pulang ke Jakarta,” tanya Anna dengan wajah murung sambil menyiapkan pakaian suaminya ke dalam koper.


Abbas tersenyum simpul kemudian mendekati Anna yang masih memasang wajah cemberutnya.


“Maaf... Semalam Abang mau bilang, tapi rasanya tidak tega sama kamu, Dek! Minggu depan Abang ke sini lagi, Abang juga sudah minta Darren untuk mempercepat proses pengembalian barang lain yang tersita,” ucap Abbas seraya memeluk Anna dari belakang. Kemudian membalikkan tubuh Anna agar menghadap dirinya.


“Abang mana sanggup harus lama berpisah sama kamu! Sabar ya!” pinta Abbas dan mendapat anggukan pelan dari Anna.


Pelukan hangat dan ciuman mesra Abbas daratkan di kening Anna. Lama sangat lama, seakan ingin menghentikan waktu saat itu juga. Tidak ingin berpisah meski hanya sementara waktu.


Tetapi tanggung jawab masih harus di jalankan. Abbas ingin egois menghabiskan masa indah pengantin baru bersama Anna. Tapi ia sadar, kejutan kebahagiaan yang ia dapat saat ini bukan hanya miliknya.


Anna mulai belajar memahami segala sisi dari Abbas. Pria yang kini menjadi suaminya itu memang bersikap bijaksana. Meskipun menjadi pimpinan di perusahaan miliknya bukan serta merta Abbas bebas tidak melakukan tanggung jawabnya pada pekerjaan. Banyak yang bergantung padanya.


“Abang pergi ke proyek dulu, kamu mau ikut?” ajak Abbas.


“Memang boleh?”

__ADS_1


“Buat istri presdir apa yang tidak!” goda Abbas yang langsung membungkam bibir Anna tanpa ijin. Menarik tubuh istrinya agar semakin merapat ke tubuhnya.


Vitamin C pagi yang berlangsung lumayan lama membuat Abbas makin bersemangat tapi membuat resah juga sebab seminggu ke depan pria harus menahan diri dari rasa rindu terhadap istrinya itu. Sudah dipastikan kerinduannya akan semakin membuncah sebab Anna telah menjadi candu untuknya.


Anna dan Abbas turun dari lantai dua. Mama Ami dan Tante Melly sempat bingung melihat Anna yang sudah berganti pakaian.


“Sudah rapi, mau ke mana?” tanya Tante Melly penasaran.


“Ikut sama Abang!”


“Cie ... cie... Yang gak mau pisah!”


“Apa sih, Tan. Anna cuman pengen lihat kerjaan Abang ajaaja! Kayak gimana?,” elak Anna.


“Kerjaan Abbas ya cuman tunjuk sama nyuruh aja, ini kurang, itu kurang cocok, gitu! Secara ‘kan pemimpin perusahaan. Tante dulu juga gitu pas lihat Om mu di kantor,” ujar Tante Melly.


“Berarti Papa nyesel pernah ngajak Mama ke kantor?” Tante Melly menatap Om Anwar kecewa.


Om Anwar menggeleng. “Nggak!”


“Bohong”


“Nggaklah, beruntung Mama banyak bertanya keganjalan yang Mama lihat di saat Papa sedang tanda tangan persetujuan.”


Tante Melly sedikit lupa dengan kejadian itu.


Om Anwar mengingatkan kembali ingatan istrinya. “Itu loh Mah, kertas kosong yang ada tanda tangan Papa di dalamnya, Mama memprotes waktu itu kenapa ada kertas kosong di dalamnya, Papa sendiri malah tidak teliti. Dan ternyata benar mereka melakukan sedikit kecurangan,” tutur Om Anwar.


“Tuh, ‘Kan berarti ada keuntungan membawa istri ke tempat kerja. Jadi berkah, mencegah kecurangan terjadi.” Ucap Tante Melly bangga.

__ADS_1


Oma Amwar mengantuk setuju. "Memang insting seorang istri itu tajam, seperti Mama waktu itu yang kurang percaya dengan rekan bisnis Papa waktu itu." Tante Melly lekas mendekati dan merangkuk Om Anwar merasa bersyukur saat itu telah menyelamatkan kecurangan yang di lakukan rekan bisnis suaminya.


Papa Reno, Mama Ami, Ana dan Abbas tertawa kecil mendengar perseteruan pasangan suami istri yang berujung harmonis.


Anna berharap kehidupan rumah tangganya seperti mereka. selalu bersikap lembut, perhatian dan saling membutuhkan seperti orang tuanya. Juga seperti hubungan Tante Melly dan Om Anwar sering berdebat, banyak argumen tapi tetap bersatu saat penyelesaian.


Anna dan Abbas saling pandang, Abbas mengajak Anna untuk segera pergi, ia tidak mau terlambat datang dari waktu yang sudah di tentukan.


“Maaf... Semuanya! Aku dan Anna pergi dulu!” Abbas menyela perdebatan Om dan tantenya Anna itu.


“Oh, iya. Hati-hati, tapi kamu jadi ke bandara bareng sama Tante dan Om!” tanya Tante Melly.


“InsyaAllah, waktu keberangkatannya sama ‘kan. Aku hanya ke proyek sebentar saja, kok. Om... Tante, habis itu langsung pulang lagi!”


Anna lekas pamit kepada orang tua, Om dan Tantenya. Begitu juga Abbas.


Anna berusaha memanfaatkan waktunya bersama suaminya pagi ini. Sama seperti Abbas Anna harus bisa menahan rasa rindu satu minggu ini.


Sepanjang perjalanan Abbas sama sekali tidak melepas genggaman tangannya pada Anna. Bahkan sesekali mencium tangannya. Sungguh Anna merasa diperlakukan bak seorang ratu. Ratu di hati Abbas.


.


.


.


...Bersambung


...

__ADS_1


__ADS_2