Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Suami Pilihamu


__ADS_3

Semua yang berada di sana tertawa kecil melihat kelakuan Rayyan dan Anna.


“Risma tidak ikut kemari?” tanya Papa Reno mengawali obrolan mereka di ruang tamu.


“Anak itu sedang ada tugas, padahal ingin sekali dia ikut!” jawab Tante Melly.


“Bagaiman kondisimu saat ini? Apa lebih baik?” Om Anwar ikut bertanya.


“Sudah lebih baik dari sebelumnya.”


“Syukurlah, aku merasa lega mendengarnya,” ujar Om Anwar kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Abbas. “Selamat atas pernikahan mu dengan Anna, maaf kami tidak bis menyaksikan dan menghadirinya!” lanjutnya kepada Abbas.


“Terima kasih, Om! Eum... pernikahan saya dan Anna mendadak jadi saya mengerti akan ketidakhadiran Om dan Tante.


“Selanjutnya ... Apa akan ada resepsi pernikahan?” tanya Tante Melly.


“InsyaAllah ... saya akan adakan di Jakarta, Tante! Tapi menunggu keadaan Papa Reno membaik dulu.” Balas Abbas tanpa ragu.


Abbas akan mempersiapkan semuanya. Ia memahami keinginan Anna yang tanpa resepsi pernikahan, tapi Abbas lebih memahami perasaan orang tua Anna. Mama Ami dan Papa Reno memang menyerahkan semuanya kepada Anna.


Sebagai orang tua pasti ingin membuatkan pesta pernikahan untuk anaknya. Apalagi Anna adalah anak satu-satunya mereka. Dan Abbas sangat memahami itu.


Obrolan berlanjut dengan bahasaan lain. Banyak yang Om Anwar bicarakan dengan Abbas. Ia tidak menyangka kalau perusahaannya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan pengiriman Abbas.

__ADS_1


Anna kembali dengan beberapa gelas minuman yang ia buat.


Seperti biasa, kopi jahe hangat untuk Papa nya dan Om Anwar. Teh hangat jahe untuknya, Mama Ami dan Tante Melly.


Untuk Abbas, Anna membuatkan kopi jahe yang di campur susu.


“Terima kasih, pengantin baru!” goda Tante Melly. “Maaf ya, pagi-pagi begini jadi merepotkanmu!” lanjutnya.


“Sama sekali tidak, Tante! Anna malah senang banget kalian datang ke sini. Tapi Tante sama Om kok bisa tau kita udah ada rumah lagi?” tanya Anna heran.


Tante Melly melirik Mama Ami sebagai jawabannya.


“Kamu ini gimana sih An, tadi ‘kan mama sudah bilang kalau tante dan om mu mau ke sini! Kamu lupa ya?” sela Mama Ami.


“Anna ke atas dulu, mau antarkan susu jahe sama obat pusing buat Mas Rayyan,” ucap Anna pamit dan mendapat anggukan dari mereka semua termasuk dari Abbas suaminya.


“Anakmu itu, Mi! Meskipun sering adu mulut dan tengkar sama Rayyan, mereka saling menyayangi. Lihat saja perhatiannya sama kakak sepupunya itu,” tutur Tante Melly.


Mama Ami membenarkan itu. Tak lama Anna kembali setelah mengantarkan susu jahe dan obat untuk Rayyan. Kakak sepupunya itu sudah terlelap.


“Tumben cepet, gak ada perang dunia dulu?” ejek Mama Ami yang salah menduga. Wanita itu mengira Anna akan membalas perkataan Rayyan tadi, biasanya akan ada sedikit pertengkaran yang terjadi.


“Mas Rayyan udah tidur, kayaknya dia beneran cape banget ya, Tan?” tanya Anna seraya duduk di sofa bersebelahan dengan Tante Melly.

__ADS_1


Para wanita dan lelaki itu berbeda obrolan. Jika Mama Ami, Tante Melly membahas rencana pernikahan Anna.


Berbeda dengan Papa reno, Abbas dan Om Anwar asik mengobrol masalah bisnis. Abbas juga menjawab banyak pertanyaan dari Om Anwar. Sepertinya Om Anwar sengaja, ia ingin tahu bagaimana perjalanan hidup Abbas, suami dari keponakannya itu.


Om Anwar juga ingin lebih mengenal sikap dan sifat seorang Abbas dari caranya berbicara dan menjelaskan, apakah ada kebohongan dalam ceritanya. Dan ternyata Om Anwar begitu kagum dengan kejujuran dan cara bicara Abbas.


“Saya terlahir dari keluarga sedehana, Om ... Pah! Jadi tidak ada yang bisa saya banggakan tapi saya menjamin kebahagiaan Anna,” ucapnya sungguh-sungguh.


Ada kebanggaan saat mendengar Abbas bercerita tantang kehidupannya, perjalanan yang ditempuh menantunya itu benar-benar dari nol.


Papa Reno juga baru mengetahui bahwa wanita yang kemarin datang ke rumah sakit hanyalah ibu angkatnya. Tapi sangat terlihat kalau Abbas begitu memuliakannya.


Dan keberhasilanya saat ini merupakan usahanya sendiri. Abbas tidak pamer akan prestasi dan kekayaan dan kedudukannya tapi mendengar nama perusahaan pengiriman miliknya. Papa Reno dan Om Anwar bukanlah orang baru dalam dunia bisnis. Mereka sangat tahu dengan suksesnya perusahaan pengiriman yang Abbas kelola, perusahaan itu pun berhasil membuat banyak anak cabang di berbagai daerah dan provinsi.


Papa bersyukur senang, meskipun tidak jadi menikah dengan Darren tapi Papa bangga melihat sikap dan pembawaan Abbas begitu tegas dan bijaksana. Suami pilihanmu, anakku. Semoga rumah tangga kalian di berkahi kebahagiaam dan keberkahan, anakku. Papa merasa tenang melihat kamu bersanding dengan orang yang tepat.


Papa Reno menyunggingkan senyum kelegaan seraya memandang menantunya yang sedang berbicara dengan tutur bahasa yang sopan dan merendah tak berlebihan dengan penjiwaan yang tenang.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2