
"Saya rasa pertemuan kita kali ini tidak bisa lama, Pak Abbas. Saya ada urusan lain setelah ini. Maaf...!" ucap Darren mengakhiri obrolannya.
Darren sama sekali tidak membahas Anna dalam obrolannya, setelah kembalinya Abbas.
"Oh, ya, Pak Darren. Saya harap surat pengalihan nama atas lahan yang saya belum segera beres. Agar pembangunan segera di mulai," ujar Abbas tegas.
"Saya kira tidak akan lama, Pak Abbas. Saya usahakan secepatnya!" balas Darren.
"Kabari saya atau Rio jika sudah selesai. Agar kami bisa cepat menjalankan prosedur pekerjaannya," ucap Abbas lalu mendapat anggukan dari Darren.
Darren berdiri di ikuti Abbas dan Rio. Mereka bertiga saling pandang dan melempar senyum keramahan.
"Terima kasih untuk waktu anda, Pak pengacara." Abbas mengulurkan tangannya kepada Abbas.
Dengan ramah Darren tersenyum lalu menyambut uluran tangan Abbas kemudian mereka saling berjabat tangan.
"Sama-sama, Pak Abbas. Saya permisi, senang bisa kenal dengan Anda." Darren melepas jabatan tanganya kemudian sedikit menundukkan kepada.
"Saya juga senang bisa kenal dengan pengacara hebat seperti Anda, Pak Darren. Saya harap lain kali kita punya waktu lebih untuk banyak mengobrol," balas Abbas.
"InsyaAllah, Pak Abbas. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum," ucap Darren sopan
"Wa'alaikumussalam," jawab Abbas dan Rio bersamaan.
Darren undur diri setelah mendapatkan jawaban salam dari Abbas dan Rio.
Setelah kepergian Darren. Abbas langsung merogoh ponsel di saku celananya. Ia harus segera menghubungi Anna. Apa benar kata Bu Lidia kalau Anna berada di Bogor.
Rio yang tadinya mau bercerita perihal Darren yang mengenal Anna, ia urungkan. Saat melihat Abbas begitu serius dengan ponsel di tangannya. Rio menunggu saat yang tepat untuk berbicara dengan Abbas.
Beberapa kali Abbas menghubungi Anna. Belum ada jawaban dari gadis itu. Saat Abbas menyerah dan meletakkan ponselnya di atas meja, benda pipih itu berdering.
Abbas tersenyum melihat namanya yang terpampang di layar ponsel miliknya.
Begitu bersemangat Abbas dengan cepat menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum," ucap Abbas begitu bersemangat saat ponsel itu ia tempelkan di telinganya.
"Wa'alaikumussalam, Bang!" balas Anna dari seberang telepon.
"Dek, lega sekali rasanya mendengar suaramu!" Abbas mengawali pembicaraan.
Ada perasaan senang di hati Anna mendengar sapaan dari Abbas. Rasanya sudah lama mereka tidak saling berbincang. Semenjak mengetahui keinginan papanya yang berharap pada pernikahannya dan Darren. Anna memang menghindar dari Abbas.
__ADS_1
Anna tersenyum berat, menyadari cintanya kepada Abbas tidak akan berujung pada harapan mereka berdua.
"Dek...!" tegur Abbas karena tidak mendapat jawaban dari Anna.
"E-eh... Iya Bang!" Anna menjawab kikuk. "Apa benar Bang Abbas ada di Surabaya?" tanya Anna ragu.
"Iya, benar. Aku ada di sini sekarang. Tapi orang yang ku cari malah berada di Bogor, he..." Abbas tertawa kecil membalas Anna.
Anna juga ikut tertawa pelan. "Anna juga mencari Abang ke sini, yang Anna cari malah tidak ada."
Keduanya saling tersenyum tanpa saling pandang. Bisa mendengar suara nya saja, rasa rindu sudah terobati.
"Kita sama-sama saling mencari, Allah sedang menguji rasa rindu ini. Mungkin Allah belum mengijinkan kita bertemu sebelum kata sah di antara kita, Dek!" ucap Abbas menggoda Anna. "Maaf, semalam Abang tidak tahu kalau kamu menelpon. Sampai di Surabaya cukup larut, ponsel di nonaktifkan sampai pagi."
Mendengar ucapan Abbas membuat Anna sedih. Apa jadinya jika Anna memberikan jawaban khitbahnya saat ini. Anna tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya Abbas.
Rasa nyeri dan perasaan bersalah seakan terus menghujam hati Anna. Hati gadis itu semakin dilema oleh keputusannya sendiri. kuatkan ia mengatakannya kepada Abbas.
Air mata tak terasa terjatuh dari sudut matanya, hatinya perih membayangkan saat ia berucap kata melepas cintanya.
"Tidak apa, Bang! Anna tau Bang Abbas pasti lelah dan sibuk. Ada yang ingin Anna bicarakan sama Abang, tapi tidak bisa lewat telepon. Kita harus bertemu!"
"InsyaAllah, aku akan selalu ada waktu buatmu, Dek! Sesibuk apapun pekerjaan ku. Bagaimana kita bisa bertemu? Apa Abang harus kembali ke Bogor saat ini juga untuk menyusul mu lagi, Dek?" Abbas terlihat sedang berpikir.
Ada rasa lega yang di rasakan Abbas. Pasalnya kepergian Abbas dan Rio saat ini saja harus ada sedikit paksaan untuk merubah jadwal kerja pada Naina, sekertaris Abbas. Bahkan, Abbas harus rela melepas pertemuan bisnisnya di Jakarta hanya untuk memajukan jadwal kerja di Surabaya.
Selain ingin memulai pekerjaannya di Surabaya, Abbas juga ingin sekalian bertemu dengan Anna dan keluarga gadis itu.
"Baiklah, kabari aku kalau kamu tiba di Surabaya. Hati-hati di jalan, Dek! tolong kabari Abang terjadi sesuatu.
"Iya, Bang. Sampai bertemu nanti! Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam ... Dek...!" panggil Abbas mencegah Anna menutup sambungan.
"Kenapa, Bang?"
"Uhibbuka fillah ... Prescillia Annette Nurcahyani," ucap Abbas lembut membuat hati Anna berdesir mendengarnya.
Saat ini, bahagia yang Anna rasakan. Rasanya ingin waktu berhenti sejenak dari semua sengekta rasa yang Anna rasakan saat ini. Cinta kepada Papa Reno, Cinta sayangnya kepada sahabat dan Cinta nya kepada Abbas.
"Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu... Bang!" balas Anna pelan tapi masih terdengar oleh Abbas.
Senyum merekah terpancar di wajah Abbas. Tapi malah rasa sedih main Anna rasakan.
__ADS_1
"Hati-hati, Dek!
" Terima kasih, bang!"
Sambungan telepon pun berakhir. Senyuman terus mengembang di wajah Abbas, usai berbicara dengan Anna. Seakan ia mendapat vitamin untuk aktivitasnya hari ini.
Di kota lain, tepatnya di Bogor. Di sudut restoran, tempat Anna dan Maira bertemu. Anna memejamkan mata menelisik hatinya yang makin terasa pedih.
Kenapa semakin berat untuk melepasnya. Ya Allah, bantu aku untuk lepas dari rasa ini. Ijinkan aku menjalankan bakti ku kepada orang tuaku. Menerima imam terbaik yang di pilihannya untukku. Bang Abbas... Maafkan Anna..
Anna membuka matanya lalu mengusap sudut mata yang tak terasa mengeluarkan air mata. Ia tidak mau menunjukkan wajah sedihnya di hadapan Maira. Sudah cukup selama ini Maira mendengarkan keluh kesah nya. Kali Anna ingin berusaha sendiri menyelesaikan masalahnya.
"Assalamu'alaikum, An!" sapa Maira yang datang dari arah belakang Anna.
Gadis cantik yang memakai stelan kerja longgar tapi tetap membuat Maira terlihat anggun lengkap dengan hijabnya datang dengan sikap dewasa dan sikap ramahnya.
Anna yang tengah duduk refleks menjawab sapaan Maira. "Waalaikumussalam," Anna menoleh lalu mendongak saat Maira berada di hadapannya.
"Apa kabar, sahabat bawelku!" Maira tersenyum lalu berjabat tangan dengan Anna, menempelkan pipi kiri dan kanannya sambil saling memeluk singkat.
"Kabar baik, kakak terbaikku!" ucap Anna setelah pelukan mereka terlepas.
Maira lekas duduk di hadapan Anna. Ia tersenyum saat minuman kesukaannya sudah tersaji di atas meja. Ternyata Anna sudah memesankan minuman untuknya.
"MasyaAllah... Cantik saja, sahabat ku," puji Maira saat memandang Anna.
"Aku 'kan memang sudah cantik dari dulu!" akunya membuat keduanya tertawa ringan.
"Ya, memang sahabatku memang selalu tampil cantik bahkan saat ini lebih terlihat sangat cantik setelah berhijab."
Anna tersenyum. "Alhamdulillah, Terima kasih, Maira!"
Setelah bertegur sapa, keduanya terdiam sesaat.
"An... soal buku catatan itu, emm ... Aku mau menjelaskan sesuatu!" ucap Maira terbata.
Anna tersenyum, Ia hanya mengangguk pelan. Ingin mendengar semua perasaan yang akan Maira ungkapkan kepadanya.
.
.
.
__ADS_1
Baca terus kelanjutan ceritanya ya....