
Sampai di kamar hotel Anna masih diam tak mau bersuara. Tapi kewajibannya menyiapkan baju koko untuk Abbas tetap dilaksanakan. Kemudian Anna menggelar sajadah untuk salat bersama.
Usai salat, tak lama petugas hotel mengantarkan makanan yang Anna pesan sebelumnya. Kemudian Anna menyiapkan semuanya di meja makan.
Abbas menjadi serba salah dengan sikap istrinya itu. Tidak biasanya, Anna yang ia kenal tidak akan mudah tersinggung untuk hal semacam itu. Tapi perasaan Abbas saat ini Anna begitu sensitif.
Segala praduga mulai mengganggu pemikirannya.
“Abang kira kamu mau makan di luar lagi? Kita makan sate maranggi yang kamu inginkan!” ujar Abbas.
Anna menggelengkan kepalanya pelan. Rasa malas sudah menguasai diri wanita itu. Rasanya ingin tiduran saja.
“Ya sudah, ini juga tidak masalah sih, buat Abang!” Abbas mulai memakan makanan yang sudah Anna siapkan.
Sesekali Abbas melirik Anna yang makan dengan santai dan tetap tanpa bicara.
Abbas menjadi merasa bersalah karena sikapnya tadi di kebun teh.
“Dek!” panggil Abbas.
“Hm...” jawab akan seraya menoleh sesaat kemudian kembali lagi fokus dengan makanannya.
“Kamu masih marah?”
Anna menggelengkan kepala pelan.
“Maaf jika Abang salah,” ucap Abbas sungguh-sungguh.
Anna menarik kedua sudut bibirnya sambil menatap Abbas.
“Anna sudah memaafkan Abang!” tuturnya.
Jawaban dan senyuman lebih dari istrinya membuat Abbas merasa lega. Ia semakin bersemangat untuk menghabiskan makanan.
Usai makan, Abbas yang gesit merapikan meja makan. Meletakkan piring kotor ke atas troli makanan agar nanti bisa di ambil lagi oleh petugas hotel.
__ADS_1
Anna diam saja melihat gerakan Abbas. Ia lebih memilih duduk di sisi tempat tidur perlahan Anna merebahkan tubuhnya, bersandar di hearboad kasur.
Abbas yang melihat istrinya diam dan sedikit pucat sangat khawatir.
“Kenapa Dek?” tanya Abbas yang berjalan ke arah Anna.
Anna sedikit menggeser posisinya agar Abbas bisa duduk di sampingnya.
“Perutku tidak nyaman!”
“Kamu sakit?” Serobot Abbas, tangannya langsung bergerak menyentuh kening Anna. “Tidak panas!” gumamnya.
“Apaan sih, Abang! Yang sakit perutku bukan kepalaku,” cerutu Anna membuat Abbas malu.
Pria itu nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ko bisa sakit perut? Apa salah makan? Tapi tadi pagi kamu sarapan yang sama dengan Abang ‘kan?”
Anna mengangguk pelan seraya merebahkan tubuhnya. Abbas membantu meletakkan bantal untuk mengganjal kepala Anna.
“Istirahat saja dulu, mau Abang panggilkan dokter?”
Abbas semakin bingung. Ia mengiyakan permintaan Anna.
“Tunggu, Abang hubungi dapur hotel dulu!”
Anna mengangguk pelan kemudian memejamkan matanya.
Abbas berlalu meninggalkan Anna, ia melihat jelas wajah istrinya yang sedikit pucat dan berkeringat dingin. Kemudian segera menghubungi pihak hotel memesankan minuman yang Anna minta.
Abbas memilih keluar menuju balkon, ia memberikan waktu untuk Anna agar bisa beristirahat.
Abbas pun merasa matanya berat ingin sekali memejamkan mata. Sebab semalam Ia dan Anna bercocok tanam sampai pagi.
‘Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?’
__ADS_1
Abbas semakin di buat resah. Sepintas kejadian indah semalam diingatnya.
'Apa aku terlalu membuatnya kelelahan semalam. Tapi kami berdua saling bekerja sama, bahkan sangat menikmatinya. Apa jarak pengulangan permainan terlalu dekat sampai istriku begitu kesakitan dan berakibat sakit pada perutnya.’
Berbagai pemikiran pun bermunculan. Abbas takut terjadi sesuatu kepada Anna.
Saat ini Abbas duduk santai di balkon hotel. Embusan angin pegunungan menerpa tubuh Abbas membuat pria itu perlahan memejamkan matanya. Tapi Abbas kembali siaga mengingat Anna yang sedikit meringis sambil memegangi perutnya.
“Dokter Cory, ya dia. Apa aku harus bertanya soal ini kepadanya?” gumam Abbas.
Dokter Cory adalah dokter perempuan yang terbiasa menangani anak-anak asuh jika mereka sakit.
Meskipun malu tapi Abbas tetap melakukannya. Ia itu tidak mau Anna kenapa-napa.
Beberapa kali sambungan teleponnya tidak terangkat tapi di derik berikutnya Abbas merasa lega mendengar sapaan dari seberang teleponnya.
“Assalamu’alaikum, selamat siang Pak Abbas. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Dokter Cory dari seberang telepon
“Wa’alaikumussalam, Dok! Maaf, Saya menganggu! Boleh saya bertanya soal sesuatu?” ucap Abbas ragu.
“Silakan, Pak Abbas! Jika saya tahu pasti akan saya jawab. Soal Apa?” Dokter Cory balik bertanya.
“Istri saya mengalami sakit di bagian perutnya. Apa itu akibat dari... Eum...” Abbas menjeda ucapannya.
“Akibat apa, Pak Abbas?”
“Akibat kegiatan yang kami lakukan semalam, apa berakibat sakit perut seperti yang istri saya alami saat ini. Kami sempat beberapa kali melakukannya?” Abbas menekankan kata terakhirnya.
Malu... Tapi ia harus mencari tahu apa yang terjadi pada Anna. Sebab Abbas mengerti jika sedang sakit seperti ini, istrinya akan diam dan menutupinya.
Dokter Cory tersenyum mendengarnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Oh... Abbas... Kamu tuh pinter dan ahli dalam berbisnis kenapa masalah wanita jadi melempem begini....😁😁😁