
Serli langsung terdiam mendengar penuturan Ardi. Ia tak mau apa yang ia korbankan dengan pergi ke gunung jauh dari keseharian hanya untuk mendapatkan nilai bagus, harus gugur begitu saja. Ia tak mau sang ayah malu dan marah akan perbuatannya. Serli merupakan anak ketua yayasan di kampusnya. Dengan menghentakkan kakinya, Serli berjalan mendahului Ardi,menyusul kedua temannya yang sudah sampai terlebih dulu.
Anna, Nia, Dita beserta yang lain sudah jauh melangkah. Mereka berhenti sejenak, Anna merasakan perih di kakinya. Dita mengajak Anna untuk duduk sebentar di pos ronda. Sedangkan Nia dan yang lain ijin berjalan lebih dulu.
"Perih ya, An? Dita memperhatikan perban di kaki Anna. Loh An, itu perbannya rembes! Darahnya keluar lagi!" Seru Dita panik melihat darah sedikit merembes kain yang membalut luka Anna.
"Ngga pa-pa, Dit. Kalau banyak gerak ya gitu, paling kebuka dikit lukanya. Tenang aja, aku ngga apa-apa kok!" Jawab Anna santai,ia tak mau membuat temannya semakin khawatir, sudah cukup merepotkan mereka yang mau menemani Anna jalan pelan.
Ketika Anna dan Dita masih beristirahat, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka. Terdengar suara anak kecil yang memanggilnya, kepalanya menyembul di sela jendela mobil yang terbuka.
"Kak Anna" lambaian tangan mengarah kepada Anna.
Tak lama, anak itu membuka pintu dan berlari kecil menghampirinya.
"Kak Anna ... Apa kabar?" Tanya Meisya yang berjalan menghampiri Anna dan Dita, kemudian mengulurkan tangan untuk mencium tangan Anna dan Dita, dibelakangnya terlihat Abbas yang berjalan mendekati mereka.
"Hei ... Meisya!" Anna langsung memeluk Meisya yang datang menghampirinya. Kabar Kakak baik sayang! Kamu sendiri gimana? Kakak dengar, kamu sedang berlibur di rumah Kakek sama Nenek ya?" tanya Anna sekilas melirik Abbas yang sudah berada di hadapannya.
"Meisya baik, Kak. Iya, Meisya udah kangen banget sama Kakek dan Nenek!" jawabnya masih memeluk Anna.
"Meisya, minta bertemu kamu. Setelah aku cerita, kamu sedang berkemah di sini. Kita sudah ke perkemahan, tapi di sana sudah sepi, jadi ia tetap memaksa ingin menyusul mu." ucap Abbas sambil memakaikan topi hitam ke atas kepalanya.
"Wah... yang bener, ni?" Anna mengacak gemas rambut Meisya.
"Abisnya ka Anna jarang main ke Rumah Bintang lagi, kita di sana kan kangen sama Kak Anna." Meisya menunduk, ia melihat kaki Anna terbalut kain kasa.
"Loh ka Anna kakinya kenapa? Ko berdarah?" tanya Meisya panik. Abbas yang mendengar ucapan Meisya langsung berjongkok melihatnya.
"Kakimu terbuka lagi?" Abbas memegang ujung kaki yang terbalut kain itu. Anna menggunakan sendal jepit yang ia beli di warung milik warga. Sepatunya ia buang di bukit. Menurutnya untuk buang sial.
"E-eh.. Bang, ngga pa-pa ko! itu mungkin terbuka sedikit soalnya di bawa jalan pelan dari atas." Anna menarik kaki yang hendak di pegang Abbas. Anna merasa tak enak melihat Abbas berjongkok di depannya. Ia berdiri untuk menghindar dari Abbas.
"Kamu ... pulang dengan saya! lebih aman dan leluasa, kita akan mampir ke klinik di dekat sini untuk mengganti perbanmu" tawar Abbas. Ia melihat kondisi kaki Anna dengan wajah Anna pun sedikit pucat.
"Tapi Bang ... Aku belum ijin sama pem--
Ucapannya menggantung begitu saja.
"Biar aku yang ijin sama mereka. Kamu tunggu di sini! Meisya, tunggu dulu ya, temani ka Anna," ucap Abbas. Meisya mengangguk. Abbas berlalu pergi melangkah ke parkiran Mobil Bus. Dimana para mahasiswa/i sudah memasuki kendaraan satu persatu, sambil menunggu mereka yang masih berjalan untuk berkumpul.
"An ... menurutku kamu bareng aja sama dia, biar lukamu diobati lagi" Usul Dita.
"Tapi Tasku gimana, Dit?"
"Biar aku yang ambil, nanti aku antar ke kosan mu, An."
"Terima kasih ya, Dit! Maaf selalu menyusahkanmu dari kemarin," ucap Anna sendu.
"Santai aja, An. Dari kemarin terima kasih terus. Minta Kasihnya kapan?" Timpal Dita dengan candaannya.
"Wihh... Udah bisa guyon ni!" Ledek Anna.
"Iyalah ... bisa dari siapa coba, kan dari kamu, An. Aku kebawah ya, biar aku bareng sama Nia di bus. Kamu di sini, ada Meisya ini kan yang nemenin. Titip Kak Anna ya, Dek! Tenang aja dia sudah jinak ko!" ucap Dita sambil tertawa melihat Anna yang siap membalas candaannya.
"Aku gigit kamu, Dit! Aku belum jinak tau masih buas!" teriak Anna yang mendapat lambaian tangan dari Dita, tanpa menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Hihihi... Kak Anna sama temennya itu lucu," ucap Meisya sambil membungkam mulutnya. Ia menertawakan tingkah Anna.
"Kamu berani ya, ngetawain Kakak," pipi Meisya di cubit gemas oleh Anna.
Sebenarnya tinggal beberapa meter lagi mereka sampai parkiran. Karena jalanan yang menikung membuat keberadaan bus tertutup pepohonan. Abbas menghampiri panitia dan pembina yang ia kenali untuk memberi tahu, kalau Anna akan pulang bersamanya. Luka Anna terbuka lagi jadi harus di obati kembali. Kak Bisma sebagai penanggung jawab memberikan ijinnya kepada Abbas.
Penampilan Afkar yang sungguh berbeda membuat para mahasiswi itu terperangah melihatnya, mereka saling berbisik dan berebut melihat Abbas dari jendela bus.
Penampilan Abbas yang memakai kaos polo putih berkerah lengan pendek di padukan celana berkantung kanan kiri selutut, dilengkapi sepatu snakers putih menambah penampilannya semakin berbeda.
"Gila ...! ganteng bener tuh cogan!" Celetuk Mimi.
"Iya, beda banget tuh penampilannya BAMOT kalau gini, meleleh banget gue!" Timpal Rita yang ngomong suka asal jeplak.
"Apaan tuh BAMOT? Lu kalau ngomong yang bener napa, Rita Sugiarto?" Ucap Rendi yang mengikuti pandangan cewek-cewek di dalam Bus.
"Idih... gitu aja ngga tau! BAPAK MOTIVATOR, nyot!" Rita menekankan kalimat terakhirnya agar lebih jelas.
"Nyot ... nyot ...! gue kenyot juga tuh bibir! Kalau ngomong asal aja," hardik Rendi merasa aneh dengan ucapan Rita.
"Serah gue, mulut - mulut gue, lu yang repot." Balas Rita.
Dita yang baru saja sampai di Bus langsung merebahkan tubuhnya, di bangku kosong tepat di belakang supir. Nia yang berada di sampingnya pun terkejut akan kehadiran nya.
"Loh... Anna mana, Dit? Ko ngga ikut bareng sama kamu? Tanya Nia sambil melirik pintu tak melihat keberadaan Anna.
"Dia ngga ikut pulang bareng kita. Dia bareng Bang Abbas! Kasian lukanya berdarah lagi." jawab Dita.
"What ...! Bareng Bapak cogan itu?! enak amat tuh bocah, musibah tapi berkah. Bisa Deket, satu mobil lagi sama cogan." Ucap Serli menyerobot saat mendengar Dita bicara, karena posisi duduknya berada tepat di belakang Dita.
"Eh.. lu kira enak, terluka gitu! kalau mau, sini gue lukain dulu kaki lu! Tapi gue pikir, apa ada yang mau bantuin lu? Yang ada kalau lu terluka orang pada bersyukur, lu kan sering bikin orang sengsara." timpal Dita.
"Maksud lu..?" Hardik Dita dan Nia bersamaan. Mereka merasa ada yang aneh dengan ucapan Serli.
"Eh, lu ya, yang ngerjain Anna kemarin?" hardik Dita.
"Au, ah ..." ucap Serli sambil berlalu pergi.
"Ternyata lu pilih-pilih dalam memilih lelaki, An. lu mau di deketin orang itu, sedangkan sama gue lu nghindar. "ucap Ardi. Ia mendengarkan percakapan Dita dan Nia!.
Abbas kembali ke tempat dimana Anna dan Meisya menunggu nya. Terlihat Meisya sedang tertawa saat bercanda dengan Anna. Anna mengabaikan rasa perih di kakinya, hanya sesekali meringis karena luka basah itu.
"Kita antar Meisya dulu ke rumah Kakek, baru kita lanjut pulang."ucap Abbas yang datang tiba-tiba membuat Anna dan Meisya berhenti tertawa.
"Loh.. Meisya ngga ikut pulang Bang? Tanya Anna sedikit kebingungan.
"Hari Jum'at nanti, dia saya jemput lagi. Ia mau liburan bersama kakek dan neneknya," jawab Abbas singkat kemudian mengajak Meisya untuk kembali ke dalam mobil. Abbas akan mengantarkan nya kembali ke rumah Kakek dan Neneknya.
"Kak Anna ... ayo Meisya bantu?" ajak meisya. Ia membantu Anna berdiri dan berjalan pelan lalu membukakan pintu belakang mobil Abbas.
"Jadi hanya Aku dan Dia di mobil? berdua doang?" Ucap Anna pelan tapi terdengar oleh Abbas. Tadi, sekalian aja Dita ikut bareng? Ngga enak banget harus berdua doang sama Bang Abbas," gerutu Anna.
"Saya tidak akan berbuat macam-macam. Saya paham batasan antara laki-laki dan perempuan, kamu tidak usah khawatir," ucap Abbas. Pandangannya lurus tanpa ada ekspresi yang ditunjukan. Abbas terus melaju mengantarkan Meisya terlebih dahulu setelah keinginannya bertemu dengan Anna, serta pamit pulang kepada Kakek Uyo dan Nenek Pijah.
"Eh.. mm.. " Anna membungkam mulutnya dengan tangannya. Merasa malu dengan apa yang ia ucapkan sampai terdengar boleh Abbas.
__ADS_1
Setelah mampir sejenak di rumah Kakek uyo dan Nenek pijah. Anna yang sebelumnya sudah mengenal mereka di ladang, berbincang sebentar tentang apa yang menimpanya. Tak lama perbincangan itu berakhir. Abbas mengatakan harus mencari klinik terdekat untuk mengganti perban di kaki Anna. Mereka pun pamit.
Kakek Uyo , Nene Pijah dan Meisya mengantarkan mereka sampai ke depan rumah.
"Da... dah... Kak Anna, Abang. Jangan lupa, jemput Meisya lagi ya Bang!" teriak Meisya saat mobil yang dikendarai Abbas berlalu dari sana.
...***...
Abbas menghentikan mobilnya di sebuah bangunan putih. Ada beberapa orang yang terlihat duduk mengantri untuk mendapat giliran. Lain hal dengan Anna, ia langsung mendapat penanganan cepat, Dokter yang ada di Puskesmas mempersilahkan nya masuk duluan, agar luka di kaki Anna cepat di tangani.
"Jangan terlalu banyak di gerakkan kakinya. Lukanya masih sangat basah, ini terbuka lagi lukanya. Saya jahit sedikit lukanya, ya! biar cepat menyatu lukanya, cukup dalam robekannya" Ucap Bu dokter. Dengan cekatan dokter menjahit luka di kaki Anna, kemudian membalutnya kembali.
"Ssshh.. aww.." Anna sedikit meringis ketika jarum jahit bekerja menutup lukanya. Anna berpaling tak berani melihat kaki yang sedang di jahit oleh Dokter.
"Sudah selesai, tidak perlu takut. Jangan terkena air dulu ya, untuk bagian yang di balut. Nanti setelah satu Minggu bisa kontrol ke dokter untuk lihat lukanya, sudah mengering apa belum. Dan ini obat pereda rasa nyeri, demam dan vitamin. lebih baik langsung minum sepulangnya dari sini, biar cepat pulih."Ucap Bu Dokter.
"Terima kasih, Dok. Kami permisi" Ucap Abbas.
"Ya.. jaga istrinya baik baik!" ucap Dokter sambil tersenyum kearah mereka berdua.
"Eh.. mm. Dok, saya bu--
"Baik Dok! Terima kasih," jawab Abbas tanpa memberikan penjelasan kepada Dokter.
Baru beberapa langkah hendak keluar, tubuh Anna limbung hampir terjatuh, Abbas dengan cepat menahannya.
"Aduh, ko pandangan Anna gelap ya, Bang?"Ucap Anna sambil memejamkan mata dan memijit keningnya.
Abbas membantu Anna untuk duduk. Dokter yang melihat itu pun, menghampirinya.
"Kamu mengalami Anemia pasti kegiatannya mengganggu waktu tidurmu, dan sepertinya ini akibat dari banyaknya darah yang keluar saat terluka. Duduklah sebentar," usul Bu Dokter.
"Saya duduk diluar saja, Dok! Ngga enak sama pasien yang lain. Sudah mengantri dari tadi!" sahut anna.
Tak berselang lama setelah Anna kembali pulih. Ia berbisik kepada Abbas, mengajaknya untuk kembali melanjutkan perjalanan. Abbas pun berdiri di ikuti boleh Anna. Anna terlihat mengalami kesulitan harus berjalan menggunakan tongkat. Baru berjalan beberapa langkah, Anna merasakan tubuhnya seperti melayang.
"Aaahhh ...." Anna terkejut. Ia mengira tubuhnya terjatuh lagi.
Tiba-tiba Abbas mengangkat tubuhnya ala Bridal style. Jaraknya begitu dekat dengan Abbas membuat Anna terdiam. Anna memalingkan wajahnya yang sudah berubah seperti tomat matang.
"Duh!.... Jantungku kenapa ni? si Abang hobi banget bikin ni jantung olahraga." Anna merasakan debaran saat dirinya di tatap lekat oleh Abbas.
.
.
.
.
.
Gimana..gimana.. nih... Keluarin dong komenan kalian, mau itu kritikan ataupun saran.
Jangan lupa di👍 LIKE ya, tambah❤️ favorit juga, kalau kalian baik hati kasih hadiah juga boleh.. terima kasih buat kalian yang tersayang
__ADS_1
komen yang banyak juga buat aku.
Salam hangat dari author Mayya_zha