Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
kebersamaan di Gazebo


__ADS_3

Abbas mendongak menatap Anna, tanpa berbicara. Mata mereka bertemu“ Aku tahu dari Ibu, katanya ini masakan kesukaan Abang.” Anna mengalihkan pandangannya. Ia kembali duduk, siap menyantap makanan yang sudah siap santap di piringnya.


“Ekhm ...” Bu Lidia mendehem membuat Anna dan Abbas salah tingkah di buatnya.


“Makanlah dulu, An!  Dari tadi kamu sudah bantuin ibu menyiapkan ini loh. Anna mengangguk. Ayo ... Siapa yang pimpin doa hari ini?” tanya Bu Lidia kepada anak-anak.


“Aku, Bu.” Tino mengacungkan telunjuknya.


“Mari kita berdoa bersyukur kepada sang pencipta atas nikmat dan rejeki yang kita dapat hari ini.


“Ayo, Tino,” suruh Bu Lidia.


“Iya bu, Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”  Tino memimpin berdoa dengan khitmat.


“Aamiin” jawab mereka kompak.


Suasana di meja makan itu hening tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang terdengar beradu dengan piring seakan berlomba menghabiskan makanan yang tersaji di piring milik mereka.


Bu lidia memang mendisplinkan anak-anak asuhnya untuk makan dengan hikmat tanpa berbicara. Menurutnya itu adalah tanda syukur kita terhadap Sang Pemberi Rejeki agar lebih menikmatinya. Sesekali terdengar permintaan nambah lauk dan sayur dari anak-anak.


Usai acara makan bersama selesai. Anna dan anak-anak membantu membawa piring kotor untuk di bersihkan. Ada Bi Suti yang membersihkan piring kotor di dapur. Abbas pamit kepada Bu Lidia untuk pergi ke halaman belakang menuju gazebo, Tino dan Aldi ikut menemaninya.



“Sudah! Kalian ke gazebo saja sana, susul Bang Abbas!” Bu Lidia menyuruh Vira dan Meisya untuk ikut menyusul Abbas.


“Terima kasih ya, Bu. Untuk makan bersamanya. Anna seneng banget, hari ini!” Anna begitu sumringah kepada Bu Lidia, ia pindahkan piring-piring yang sudah di lap oleh Laras ke dalam rak piring di sampingnya.


“Sudah selesai, Ras?” tanya Anna saat piring yang akan di pindahkan sudah kosong.


“Sudah, Kak!” Laras membersihkan tangannya di wastafel dan pamit menyusul anak-anak yang lain di gazebo.


Bu Lidia tersenyum, kemudian berdiri, merangkul Anna yang melangkah mendekatinya.


”Sama-sama, An. Kamu ini seperti sama siapa aja. Masih merasa sungkan begitu. Kamu sudah seperti anak Ibu!” Bu Lidia mengelus pelan tangan Anna.


 “Bi Suti terima kasih ya, sudah membantu, Bibi bisa istirahat dulu, biar nanti anak-anak yang teruskan.” Perintah Bu Lidia kepada Bi Suti.


“Iya, Bu. Sama-sama. Kalau perlu Bibi, panggil di belakang aja ya, Bu.” Sahut Bi Suti.


“InsyaAllah, tidak Bi, sudah waktunya Bibi istirahat.” Ucap Bu Lidia lembut penuh perhatian terhadap Asisten rumah tangganya.

__ADS_1


“Saya permisi, Bu.” Ucap Bi Suti sambil berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya untuk beristirahat. Bu Lidia mengangguk.


Di Rumah Bintang ada dua orang yang selalu membantu Bu Lidia untuk mengurusi kebutuhan dan bersih-bersih di sana. Abbas memperkerjakan nya agar Bu Lidia tidak kelelahan. Sungguh perlakuan yang baik terhadap Ibu yang sudah membesarkannya. Meski ada asisten yang mengurusi kebutuhan semua penghuni Rumah Bintang, tak lantas membuat anak-anak asuhnya bermanja diri. Setiap anak tetap di wajibkan ikut bertanggung jawab dan membantu membersihkan rumah.


Bi Suti biasanya bekerja membersihkan rumah dan membantu menyiapkan makanan, sedangkan Bi Warni bekerja untuk mencuci baju dan menyetrikanya. Hanya Bi Suti yang ikut tinggal dengan Bu Lidia di Rumah Bintang, sedangkan Bu Warni setiap hari datang di pagi hari sampai sore hari, ia baru bisa pulang setelah pekerjaan selesai. Ada juga Pak Dudung yang datang setiap dua hari sekali untuk membersihkan halaman dan taman.


Semenjak usaha dan Bisnis yang di rintis Abbas berkembang pesat Bu Lidia tak di ijinkan untuk terlalu bekerja keras. Sudah cukup menurut Abas dengan mengurus dan membesarkannya. Di masa tuanya Abbas ingin membalas apa yang sudah Ia dapat dari Bu Lidia. Ia juga ingin berbagi dengan anak-anak yang kehilangan orang tua sepertinya. Dengan mengajaknya ke Rumah Bintang dan membiayai semua pendidikan adik-adik asuhnya.


Anna dan Bu Lidia melangkah pelan menuju gazebo di mana Abbas yang lain berkumpul. mereka berdua saling berbagi cerita.


"Bagaimana kuliahmu, An, lancar?" tanya Bu Lidia.


"Lancar, Bu! satu Minggu lagi aku sidang skripsi, doakan ya Bu, biar di mudahkan segalanya."


"Aamiin.. semoga di mudahkan semuanya, ya, An." Bu Lidia mengusap lembut tangan Anna.


Sesampainya di gazebo. Bu Lidia dan Anna duduk di sisi sedangkan Abbas dan anak-anak berada di tengahnya. Di sela waktu santai, kegiatan yang mereka lakukan di tempat ini salah satunya membuat segala macam kerajinan dari barang bekas. Di sini anak-anak bersantai sambil bercerita keluh kesah mereka kepada Bu Lidia ataupun Abbas saat menemani mereka.


Bu Lidia tidak ingin mereka merasa kesepian dan kurang perhatian. Abbas dan Bu Lidia kadang Bi Suti ikut menemani saat waktu bersantai.


Abbas ingin mereka merasakan perhatian dari orang yang dekat dengan mereka. sedikitnya bisa menggantikan kasih sayang orang tua kandungnya. Kebersamaan ini pun bisa membuat kedekatan batin antara mereka.


"Oh ... ini, Anna tersenyum. Dari Bang Abbas Bu." Anna tersipu malu. Sambil mengeluarkan buku dari dalam paper bag tersebut.


"Become Good Muslim, sejenak Bu Lidia diam setelah membaca pelan judul buku yang Anna pegang. Apa kamu akan berpindah keyakinan?" tanya Bu Lidia meyakinkan Anna.


"Anna belum memantapkan hati, Bu. niat Anna sudah kuat, tapi Anna ingin restu dari orang tua Anna. Minggu ini Om Anwar, kakak dari mama yang berada di Jakarta akan ke Surabaya akan berkunjung ke rumah setelah perjalanan bisnisnya di sana. nanti Om Anwar akan memberi tahu Mama dan Papa, sekalian mengajak mereka kesini untuk Acar Wisuda Anna nanti."


"Anna merasa tidak tenang, Bu. kepikiran mereka di sana. perasaan Anna tidak enak. ingin rasanya Anna pulang. Anna merasa ada yang mama sembunyikan dari Anna. Andai, waktu sidang masih lama, Anna pasti ikut pulang, tapi waktu sidang tinggal satu Minggu lagi kegiatan juga lagi padat banget. Susah untuk meluangkan waktu," keluh Anna.


"Tidak Apa, mereka pasti akan mengerti itu. semoga apa yang sudah Anna niatkan dalam hati, di mudahkan dan di lancarkan ya, semoga orang tua kamu juga baik-baik saja di sana." Bu Lidia menenangkan Anna.


"Aamiin, Bu".


Suara keseruan anak-anak terdengar ceria dan menyenangkan membaut Anna ingin bergabung dengan mereka.


"Anna bantuin mereka dulu ya, Bu."


"Ya." Bu Lidia ikut bergabung, melihat hasil kerjakan yang di buat oleh anak-anak asuhnya.


__ADS_1


Sore ini, mereka membuat pot bunga dari botol minuman bekas. nantinya kan di isi tanaman yang akan menambah keindahan taman di Rumah Bintang. Anna ikut berbaur menemani mereka.


Terdengar suara Abbas yang menyemangati Tino di saat yang lain asik dengan botol hiasannya. Abbas berbicara sambil membantunya.


"Kembangkan terus hobi mu, No! gambarnya bagus, ikutlah lomba untuk terus mengembangkan bakatmu. Abang akan terus dukung kamu." Abbas mengacak rambut Tino pelan, memberinya semangat agar ia merasa percaya diri.


"Iya, Bang, InsyaAllah. Terima kasih Abang sudah membantu Tino, selama ini," ucap Tino pelan.


"Beritahu Abang, jika kamu membutuhkan sesuatu." perintah Abbas.


Tino mengangguk.


Pandangan Abbas sesekali beralih kepada Anna. Ia memperhatikan senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya. senyum itu seolah menular kepadanya. Dan tingkahnya itu mendapat perhatian dari Bu Lidia yang sedang menatapnya.


Ibu mengerti perasaan mu, Bang. Meski kamu tak pernah mengatakannya. Sikap yang kamu berikan sudah mewakili perasaanmu. bersabarlah terus menyebutnya dalam do'a. kelak jika dia memang takdir jodoh mu, Allah akan menyatukan keyakinan kalian dalam sebuah ikatan." batin Bu Lidia.


Matahari sudah mencondongkan dirinya ke arah Barat. Warna langit senja pun sudah mulai mengeluarkan warnanya. Anna melihat pergerakan waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya. hari sudah semakin sore.


Ia mendekati Bu Lidia untuk pamit pulang.


.


.


Hai... bertemu lagi. mohon maaf beberapa hari tak bisa up.


semoga kalian dalam keadaan sehat.


jangan lupa untuk dukung terus Author kasih like👍✍️komen❤️ favorit komen dan vote atau hadiah ya. agar author semangat.


Terima kasih semuanya 😘😘😘😞


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2