Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Maaf saya tidak bisa.


__ADS_3

"Lalu ada keperluan apa, sekarang Om dan Pak Irwan ingin bertemu Saya? bukankah selama lima tahun terakhir ini Saya sudah bertanggung jawab untuk semua pengobatan dan biaya yang di perlukan oleh Riska?" Abbas menghentikan ucapannya sejenak, kemudian kembali berkata. "Bahkan saya selalu mentrasnfer uang saat Pak Irwan selalu menteror saya dengan alasan untuk keperluan Riska!" Abbas menatap sinis ke arah Pak Irwan yang terlihat tak berkutik dengan ucapan Abbas.


"Apa benar seperti itu, Pak Irwan?" tanya Om mahmud kepada Pak Irwan. Ia tak menyangka selama ini keponakannya itu telah memberikan semua keperluan gadis itu.


"Iya, itu betul sekali Pak Mahmud. Itu semua Saya lakukan untuk biaya terapi Riska. Apa kalian tahu, selama ini Riska selalu menangis sendirian di dalam kamar. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya. Terapi psikis harus di jalani setiap bulan. Merasakan kesedihan seperti ini, hidup dalam kegelapan. Di saat teman seumurannya sudah menikah dan mendapat kebahagiaan. untuk sekolah pun Ia memilih home schooling!"


"Saat usianya tiga tahun, dia harus kehilangan penglihatannya karena kelalaian ayahmu. Keceriaannya seakan sirna begitu saja, ketika kondisi yang tak bisa melihat sudah merenggut senyum di wajahnya selama ini, Riska sudah di tinggal ibunya sejak ia lahir. Kalian tidak akan pernah merasakan semua kesedihannya. Sehancur apa perasaan saya sebagai ayahnya melihat kondisi Riska yang seperti ini."


Abbas, Om Mahmud dan Rio masih diam tak bersuara membiarkan Pak Irwan mengeluarkan isi hati dan kemarahannya selama ini.


"Terakhir ayahmu menemui ku dua puluh tahun lalu saat di rumah sakit Meilia Jakarta. Ia menjanjikan pernikahan kepada Riska yang usianya masih sangat kecil. Usiamu saat itu sekitar delapan tahun." Pak Irwan memandang ke arah Abbas. Kemudian kembali berkata. "Jika sampai usia Riska memasuki dua puluh dua tahun masih dalam kondisi buta. Beliau akan menikahkannya denganmu."


"Iya itu betul, Om ada di sana waktu ayahmu berucap seperti itu," sambung Om Mahmud.


Abbas menggelengkan kepalanya. Merasa semua tak adil untuknya. "Kalian tidak bisa mengatur kehidupanku hanya karena sebuah kesepakatan, Aku berhak memilih kehidupanku," jawab Abbas kecewa.


"Saya tahu itu, tapi apakah kamu tidak punya hati sedikit saja untuk anak saya. Saya sudah berbaik hati kepada ayahmu tidak menuntutnya waktu itu. Beliau memohon kepada saya untuk memaafkannya, melihat kamu dan ibumu yang baru saja datang dari kampung saat itu," balas Pak Irwan dengan nada emosi.


Suasana di restoran itu semakin terasa panas. Rio hanya bisa mendengarkan ucapan demi ucapan yang terucap dari mereka. Tanpa memberi solusi karena ia merasa tak berhak ikut bersuara saat ini.


"Saya berterima kasih untuk itu, Pak Irwan. tapi saya meminta maaf tidak bisa mengikuti perjanjian Anda dengan ayah saya. Saya akan bertanggung jawab atas semua keperluan Riska, bahkan saya akan mencari pengobatan dan cara lain agar dia bisa melihat lagi." Abbas berucap yakin.


"Sampai kapan? Sampai Riska kehilangan nyawanya kembali! Saya merasa tak berguna jadi seorang ayah. Pernah saya coba menjodohkannya dengan anak rekan kerja saya, tapi mereka membatalkan secara sepihak saat melihat kondisi Riska. Itu yang membuat semangat hidup anak saya semakin menurun, sampai beberapa kali mencoba bunuh diri. Dan sekarang ... Kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan ayahmu! Kamu dengar ...!" Pak Irwan berdiri dari duduknya ia semakin terbawa emosi saat itu, sampai menunjuk kearah Abbas dengan wajah memerah menahan emosi.


Om Mahmud dan Rio ikut berdiri untuk menenangkan Pak Irwan. kejadian ini membuat mereka jadi bahan perhatian pengunjung yang berada di sana.


"Tenang, Pak Irwan! kita duduk dulu, kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Om Mahmud menepuk pelan pundak Pak Irwan seraya menenangkannya.


Pak Irwan kembali duduk di bangkunya. Rio memberikan air minum yang ada di atas meja itu kepada pria paruh baya yang masih terlihat menahan emosi, nafasnya naik turun karena berteriak tadi.

__ADS_1


"Maaf, saya terbawa emosi!" ucap Pak Irwan setelah amarahnya mereda.


"Tidak pa-pa, Pak Irwan saya bisa mengerti perasaan Anda," ucap Om Mahmud.


Rio yang posisinya berada di dekat Pak Irwan menyodorkan minum kembali ke arahnya tapi di tolak halus oleh Pria paruh baya itu.


"Terimakasih, Nak! sudah cukup." Pak Irwan mengangkat satu tangan sebagai penolakan kepada Rio.


"Oh ya." Rio kembali meletakkan minuman itu di atas meja.


Abbas terus diam tak bersuara. Di saat dirinya di tunjuk oleh Pak Irwan pun, tak di balasnya dengan amarah. Hanya mata yang memerah dan emosi ditahannya.


"Astaghfirullahaladzim", ucap Abbas pelan. Tubuhnya bersandar di sandaran bangku seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing memikirkan masalah ini.


Perasaanya tak menentu saat ini. Baru saja ia merasakan kebahagiaan bisa mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini dipendam untuk gadis yang dicintainya. Mendengar kabar ini, hatinya menjadi dilema antara kisah cinta nya dengan Anna atau tanggung jawab yang harus di terimanya karena kesalahan Almarhum ayahnya.


"Abbas, Om harap kamu pikirkan baik-baik masalah ini, Om tau perasaanmu. Kamu anak yang berbakti kepada mereka yang sudah tiada. Tapi tolong pikirkan nasib anak Pak Irwan, Nak!" Om Mahmud menasehati Abbas kemudian menepuk pelan pundak keponakannya itu.


"Maaf Om, Pak Irwan. Seperti yang saya ucapkan sebelumnya. Untuk menikahi Riska sepertinya tidak bisa, tapi untuk membantu semua keperluan dan menyemangatinya, akan saya usahakan," ucap Abbas seraya menunduk setelah memandang Pak Irwan.


"Kamu bisa mengenal dekat dengan Riska lebih dulu, Kamu akan merasakan kelembutan hatinya. Meskipun tak bisa melihat tapi ia pandai membaca Al Qur'an dan bersolawat. Saya mohon, Saya tidak mau kehilangan dia seperti ibunya yang telah meninggalkan kami berdua di dunia ini." Pak Irwan berbicara sendu. Tak terasa suasana di sana malah berubah menjadi sedih.


"Sekali lagi,saya minta maaf, Pak! Saya sudah mempunyai seorang wanita yang akan di khitbah. Saya yakin Putri Anda akan mendapat jodoh yang terbaik tetapi bukan Saya. Anda harus yakin jodoh, maut, rejeki semua ada di tangan Allah SWT.


"Ayah ...," panggil gadis muda ke arah mereka. Dia berjalan pelan seraya memegangi tangan wanita yang usianya tak jauh dari Pak Irwan, membantunya berjalan agar tak terbentur oleh benda yang ada di hadapannya.


Gadis muda yang datang dengan penampilan anggunnya. Hijab warna peach dan gamis dengan warna yang senada membuat penampilannya bertambah manis. Hanya sayang satu kekurangannya membuat dirinya tak bisa melihat kecantikan wajahnya sendiri.


"Ya, kenapa, Nak! sini ... duduk di samping Ayah!" Pak Irwan berdiri kemudian menyiapkan bangku agar bisa di duduki Riska.

__ADS_1


"Terima kasih, Yah!" Riska duduk dibantu sang ayah setelah lepas dari genggaman Bi Warni, asisten rumah tangga yang selama ini membantu Riska.


"Sama-sama, Nak! Ris ... di sini ada Abbas, orang yang selama ini membantu semua biaya pengobatanmu!" ucap Pak Irwan membuat hati Riska kembali membenci.


Riska memang merasakan kebaikan dari Abbas karena telah bertanggung jawab atas dirinya itupun baru lima tahun terakhir ini. Karena Abbas baru mengetahui kondisi Riska dari Om Mahmud.


Abbas pun berjanji akan terus membantu semua kebutuhan Riska saat itu.


Riska yang awalnya terlihat berseri langsung berubah sedih. Hati kecilnya membenci, teringat perkataan ayahnya, bahwa kecerobohan ayah Abbas lah yang sudah membuatnya tak bisa melihat selama ini.


.


.


.


Haii.... makin memanas nih....


Abbas komitmen enggak ya sama perasaannya.


Dukung terus Doubel A'A ya .


ikuti kisah nya .


jangan lupa Like komen dan vote untuk karya ini.


Rekomendasi karya untukmu, dari Ka Dian Ratna.


__ADS_1


__ADS_2