Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Menyumbang Pembalut


__ADS_3

Like+komentar+hadiah jangan lupa 😘


Kasih 🌟🌟🌟🌟🌟


Juga untuk karya ini.


Anna melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Ia terkekeh kecil sudah menjahili suaminya tapi ia lekas terdiam ketika mengingat raut wajah suaminya yang begitu mendamba padanya.


‘Apakah aku berdosa tidak membantunya?’


Batinnya Anna, ia memilih berdiri menunggu Abbas selesai mandi.


Tak lama suara kran air dari dalam kamar mandi tidak lagi terdengar. Menandakan orang yang sedang ada di dalamnya selesai dengan kegiatannya.


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka. Abbas terlihat segar dengan aroma shampo dari rambutnya. Sangat menyegarkan melihatnya.


“Loh, kamu nungguin Abang?” tanya Abbas seraya menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil di tangannya.


Anna mengangguk pelan. “Iya,” Jawa Anna sambil tertunduk. “Abang, apa Anna berdosa saat tidak menuruti apa yang Abang inginkan saat ini seperti hubungan badan!” tanya Anna sambil tertunduk. Ia langsung bertanya kepada Abbas soal apa yang mengganjal di hatinya.


Abbas tersenyum mendengar pertanyaan Anna.


“Abang akan jawab pertanyaan kamu, nanti! Abang salat asar dulu. Kamu juga lebih baik membersihkan diri, lagi haid ‘kan?”


Anna mengangguk pelan. “Abang sudah wudu?”


Abbas membalas dengan anggukan dan senyuman.


“Biar Anna siapkan buat solat!” Anna hendak melangkah tapi tangan merentangkan tangannya untuk mencegah.


Lekas Anna mundur cepat sebab tahu kalau Abbas punya wudu.


“Tidak perlu, biar Abang siapkan sendiri!”


“Benar, tidak pa-pa?”


“Iya, Sayang!”


“Maaf, ya, Bang!”


Abbas menggangguk dengan senyum ingin rasanya ia mengacak pucuk kepala istrinya itu jika sudah memasang wajah seperti saat ini di hadapannya.


Anna pun masuk ke kamar mandi. Tak lama setelah selesai membersihkan diri ada sesuatu yang ia lupa bawa ke kamar mandi. Anna lupa tidak membawa pembalut dan baju ganti. Tadi ia langsung masuk saja tanpa memikirkan membawa baju ganti ke kamar mandi.


Perlahan Anna membuka pintu kamar mandi, mengintip apa suaminya masih melaksanakan ibadahnya atau sudah selesai.


Kebetulan Abbas berdiri dan melipat sajadahnya. Anna lekas meminta tolong.


“Abang!” panggil Anna.


Abbas menoleh ke sumber suara.


“Kenapa?” tanya Abbas sambil membuka peci hitamnya kemudian menaruh sajadah dan peci di atas nakas.

__ADS_1


Abbas berjalan mendekati Anna yang hanya memunculkan kepalanya saja dari balik pintu.


“Aku bisa minta tolong? Ambilkan baju ganti sama eum... I-itu.” Anna terlihat ragu untuk berbicara.


“Apa, Sayang?” Abbas malah semakin dekat melangkah ke arah Anna.


“Abang, Ih... Jangan mendekat! Anna gak pakai baju! Anna lupa bawa handuk dan pakaian!” ucap Anna dan mendapat kekehan dari Abbas.


“Jangan ketawa!” omel Anna.


Abbas langsung membalikkan tubuh menuju lemari pakaian. Mengambil pakaian yang Anna butuhkan. Setelah mendapatkannya, Abbas segera memberikannya.


“Dek, ini!”


“Terima kasih, Bang!”


“Sama-sama.”


“Abang!” panggil Anna lagi.


Abbas menoleh. “Aku boleh minta tolong lagi?”


“Apa sih yang enggak buat kamu, Dek?”


“Beneran?”


“Iya sayangnya, Abbas El Amin!”


Anna tersenyum lebar mendengarnya. Suaminya ini sungguh bisa membuat suasana tak enak hati Anna mencair.


Abbas sedikit menanamkan pendengarannya.


“Pembalut apa?” Abbas tidak mengerti apa maksud istrinya.


Abbas mengerti Anna sedang menstruasi saat ini tapi ia tidak mengerti soal pembalut.


“Pembalut buat menstruasi!” Anna menjelaskan.


“Oh... Belinya di mana, Dek!” tanya Abbas polos.


Anna lemas mendengarnya.


“Di matrial, Abang...!” hardik Anna langsung menutup pintu kamar mandi.


Suaminya itu paham soal menstruasi pada istrinya dan akan memberikan penjelasan soal kewajiban istri saat haid tapi ia tidak tahu soal pembalut. Sungguh Anna merasa kesal. Apalagi saat ini di tambah mood yang jelek, Anna semakin sebal mendengarnya. Dosa deh kesel sama suami.


Anna lebih baik kembali membersihkan diri, ia merasakan sesuatu yang keluar perlahan dari inti tubuhnya. Ia makin tidak nyaman dibuatnya.


“Memangnya di matrial ada pembalut?” Abbas sedikit berpikir sesaat kemudian ia tersenyum dengan kebodohannya sendiri.


Abbas paham Anna merasa kesal padanya. Pria tampan itu lekas keluar kamar hotel beruntung tak jauh dari tempat menginapnya ada minimarket. Tanpa bertanya pada pelayan minimarket Abbas mengambil beberapa pembalut yang ada di rak pajangan. Masing-masing ia ambil1bungkus untuk setiap merk dan ukuran.


Saat berada di kasir, pelayan wanita yang berjaga tersenyum melihat barang yang Abbas beli.


“Banyak banget beli pembalutnya, Kak?” tanya pelayan kasir yang berjaga.

__ADS_1


“Ya, buat istri saya!” jawabnya singkat.


Pelayan wanita yang lain yang ikut membantu memasukkan belanjaan juga ikut tersenyum.


“Ini banyak banget loh, Kak! Bisa buat setahun!” ungkap si kasir toko. “Memangnya istrinya habis lahiran?” tanyanya lagi sambil terus menscan setiap pembalut yang Abbas ambil dari rak pajangan.


“Memangnya biasanya habis berapa untuk satu kali pakai?” tanya Abbas dengan suara pelan. Beruntung tak ada pembeli lain yang ikut mengantri.


“Satu bulan bisa habis 2 pak saja, Kak! Bisa kurang bisa lebih tergantung banyak atau tidaknya darah haid yang keluar.” Pelayan kasir menjelaskan. “Totalnya dia juta lima ratus!” lanjutnya.


Abbas membayar semua belanjaannya. Ada hampir lima kantong yang ia beli.


“Banyak sekali,” pikir Abbas setelah melihat barang belanjaannya.


Ia melirik ke pelayan kasir tadi. “Boleh saya minta kantong kecil?”


“Boleh, Kak!” Pelayan kasir memberikan satu kantong berukuran sedang kepada Abbas.


“Kira-kira, pembalut mana yang biasa dipakai pada awal datang bulan?” Akhirnya Abbas bertanya kepada pelayan wanita yang tadi membantu memasukkan belanjaannya ke dalam tas bertuliskan Go Green itu.


“Yang ini, Kak! Biasanya awal datang bulan pasti banyak darah haid yang keluar. Jadi lebih nyaman pakai ini. Dan yang kecil ini di pakai setelah beberapa hari karena darah haid sudah mulai sedikit.” Pelayan wanita itu menjelaskan dengan teliti.


“Ok. Terima kasih!” Abbas lekas memasukkan dia bungkus pembalut sesuai contoh yang diberikan pelayan wanita tadi kepadanya.


“Sisanya tidak saya bawa. Buat kalian saja, kalian pasti menstruasi ‘kan tiap bulan?”


Kedua pelayan toko itu mengangguk bersamaan.


“Maaf! Saya merepotkan kalian,” ucap Abbas lalu bergegas keluar dari minimarket itu. Anna pasti sudah menunggu di kamar hotel.


Kedua pelayan toko itu bengong melihat kepergian Abbas.


“Aduh, kakak ganteng kenapa dikasihnya pembalut sih, aku 'kan butuh kamu buat membalut hati ini yang berdarah!” ocehan pelayan kasir itu.


“Lebay banget sih, Loh! Mau kagak nih pembalut, lumayan buat stok kita setahun. Dapat pembalut gratis!” sahut pelayan toko yang tadi membantu Abbas.


.


.


...Bersambung...


***


Makanya Abbas bertanya dulu sebelum ngambil barang. Jadinya begini deh, beli pembalut sebanyak itu.


jadi sumbang menyumbang pembalut nih!


Bersambung--


Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.


kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.


Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.

__ADS_1


Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘


__ADS_2