
Tibalah saat waktu bebas untuk para peserta.
Mereka mendapatkan waktu bebas sampai sore menjelang petang, karena malam hari akan ada Acara terakhir yaitu acara renungan malam dan Api unggun.
Para peserta mempunyai kegiatan masing masing di acara bebas ini, meski bebas mereka tetap di wajibkan agar berhati hati dan saling bantu dengan yang lain.
Kebanyakan dari para peserta memilih pergi ke tempat air terjun yang jaraknya tak begitu jauh, cuman perjalanan menuju ke air terjun tersebut menanjak dan memutar, beruntung jalan ke air terjun pertama sudah di perbaiki oleh warga sekitar. karena sering di kunjungi para pemburu wisata dan pendaki, tetapi hanya sampai ke Curug pertama untuk Curug berikutnya jalannya masih berbatu dan menanjak.
Anna sudah siap untuk berangkat mengikuti peserta yang lain. Mereka di beritahu panitia agar kumpul kembali ke perkemahan sebelum Maghrib.
Tak banyak yang di bawa Anna, ransel kecil dan tak lupa kamera yang wajib ia bawa pun sudah siap.
Sebelum berangkat Anna memeriksa kembali kamera yang ia bawa.
Anna memakai baju rajut lengan pendek, celana jeans dan sepatu hiking berwana Abu abu. penampilan nya terlihat cocok untuknya.
"Ayo! semua yang mau ikut lihat pemandangan air terjun kita berangkat dari sekarang," Seru Anto yang mengajak teman teman yang lain untuk bersiap.
"Siap!" jawab mereka kompak.
"Nia, Dita, kalian ikut kan?" tanya Anna menghampiri keduanya di salah satu tenda, Nia dan Dita sedang mengobrol dengan teman satu fakultasnya.
"Aku ngga ikut An! Dita yang akan ikut, aku di sini aja ah sama yang lain. Enggak sanggup buat ikut mendaki! maunya langsung nyampe aja sih," he..he..Nia menyengir.
"Yah ngga asik kalo cuma disini aja! kan sayang jauh jauh ke sini ngga kita manfaatin buat lihat pemandangan air terjun, Ni?" sambung Dita, terlihat ia sedang mengikat tali sepatunya.
"Bener banget tuh,Dit! Yuk ah nanti malah ketinggalan sama yang lain," ajak Anna seraya berjalan menyusul yang lain.
Anna dan Dita pun meninggalkan Nia di tenda bersama teman satu fakultas yang lain.
"Ngga apa apa lah, banyak juga yang tinggal di sini. Aku denger ceritanya aja dari kalian ya, hati hati ya," teriak Nia agar Anna dan Dita mendengarnya. Hanya lambaian tangan dari Anna dari kejauhan membalas teriakannya.
Mereka yang berada di perkemahan pun terlihat bersantai menikmati waktu bebasnya. Ada yang tiduran saja di tenda. Ada yang memasak, bernyanyi dan banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan untuk mengisi waktu kosong nya.
Jalan setapak menanjak mereka lalui. Ada yang meneruskan perjalanan ada juga yang berhenti di warung warung yang berdiri di beberapa lokasi menuju Air terjun.
Warung yang menyajikan minuman hangat dan mie rebus, makanan dan minuman andalan di tempat dingin seperti ini. Pemandangan terpapar jelas di depan mata, keindahan pegunungan dari tempatnya berdiri saat ini, sungguh menyejukkan dengan keindahan yang jarang di temui saat berada di Kota.
"Dit ayo, semangaaat..!" teriak Anna dari kejauhan. Posisinya ada beberapa langkah dari Dita. Anna terus berjalan, sesekali ia memotret keindahan Alam di sana.
"Ih ngga sabar banget buat kasih liat ini semua sama Maira," batin Anna.
Anna teringat sahabatnya yang tidak ingin ikut dalam kegiatan. Padahal Anna sudah merayu dan membujuknya agar ia mau ikut, tapi tetap saja sahabatnya Maira itu orang yang anti dengan keramaian, Anna pun tak mau memaksa lagi.
Inginnya si video call buat kasih liat pemandangan yang luar biasa ini, cuman jaringan di sini jelek jadi agak susah buat menghubungi nya.
"Cape An!" Dita membungkuk, memegang lututnya, dengan napas yang terengah engah, Dita berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. Ia berusaha menyusul Anna dengan langkah pelan, menaiki anak tangga.
"Semangat Dita!.. Ayo kamu pasti bisa!... Aku tunggu di atas y," teriak Anna.
Dita menunjukan jari telunjuk dan ibu jari yang di satukan membentuk lingkaran, tanda ia menyetujui nya.
Anna yang meneruskan perjalanan nya sendiri sangat bersemangat karena sebentar lagi perjalanan berakhir dengan keindahan air terjun yang indah. Suara Air terjun pun sudah terdengar dari kejauhan. Suara tumpahan Air yang memancar dari atas pegunungan terdengar bergemuruh memekakkan telinga orang yang berada di sana.
"Akhirnya!! woww.. keren.. bagus banget air terjunnya! Anna tampak takjub dengan pemandangan yang berada di depan matanya. Ia langsung mengarahkan kamera nya ke arah Air terjun tersebut. Mengambil gambar dalam beberapa sudut.
Ternyata tidak cuman satu air terjun di sini. Ada 2 lagi air terjun yang lebih tinggi, orang yang ingin ke sana harus mendaki lagi agar tiba di air terjun berikutnya. Setiap orang yang mendaki ke sana pun di harapkan berhati hati dengan ucapan yang mereka lontarkan, konon kata orang sekitar setiap orang yang hendak menuju air terjun yang lebih tinggi harus berjaga sikap dan perkataannya, jika tidak, ia akan tertimpa kesialan. Meski hanya mitos orang orang yang akan ke sana pun berusaha mengikuti karena tak ingin hak buruk terjadi kepada mereka.
Sambil menunggu Dita sampai, Anna duduk di warung kecil. Ia menikmati teh hangat yang ia pesan dan menunggu makanan pesanannya matang, Anna memesan Mie rebus pake telor campur cabe rawit, tak lupa ia juga memesankan makanan dan minuman dulu untuk Dita, agar pas Dita sampai di atas, ia tinggal menikmati.
Kepulan Asap yang berasal dari Mie rebus pesanan Anna menandakan betapa panasnya makanan tersebut. Meski panas dari makanan itu terlihat, berbeda ketika memakannya, tidak terasa Panas karena udara yang dingin membuat makanan itu cepat dingin, udara dingin itu pun menerpa kulit padahal matahari sudah terlihat menyinari pepohonan sekitarnya.
"Wihh!.. mantap banget, An! cocok banget tuh makanan buat yang abis tenaga kaya aku?" Dita yabg baru saja sampai langsung menjatuhkan dirinya di bangku panjang yang terbuat dari bambu. Melemaskan kaki yang terasa kebas dan berat usai menanjak.
"Udah di pesenin ko buat kamu, Dit! tapi ngga pakai cabe rawit, takutnya kamu ngga suka.
"Terima kasih Ann, baik banget sih kamu." balas Dita sumringah.
Tak lama pesanan untuk Dita pun datang. Satu gelas teh hangat manis dan mie rebus pake telor yang masih mengepul. Makanan instan yang paling sering ditemui di tempat dingin. Ini menjadi makanan favorite di sini.
"Makasih ya, Bu," ucap Anna dan Dita kompak.
"Iya, neng! sama sama, eh iya kalau mau pedes pake saus aja neng! ini sausnya," Ucap ibu pemilik warung Seraya memberikan saus kepada Dita.
__ADS_1
"Iya Bu, terima kasih," jawab Dita.
Anna dan Dita pun menikmati makanan mie instannya di temani pemandangan air terjun yang jaraknya tak begitu jauh dengan posisinya saat ini.
Saat sedang bersantai menikmati makanannya, Anna merasa ada yang mendekatinya.
" Hai, Ann? aku gabung di sini ya!" Sapa Ardi yang langsung duduk di samping Anna.
"Kalau aku bilang ngga boleh! Apa kamu yang sudah duduk, mau berdiri lagi?" tegur Anna. Ia masih menyantap makanan setelah menoleh kepada sumber suara yang menyapanya adalah Ardi.
"Jangan gitu dong An, kita kan sudah baikan." keluh Ardi.
"Santai aja. Aku ngga masalah ko, kita sama sama aja gabungan di sini. Lebih rame malah," jawab Anna yang baru saja menghabiskan makanannya.
Terlihat wajah Anna yang berkeringat karena pedasnya mie instan pesanannya. Ia pun langsung minum Air hangat di depannya, berharap meredakan rasa pedas yang terasa di lidah.
"Ar!.. ko ninggalin sih! cape banget sayang? pegel!" Serli yang baru saja sampai terlihat langsung menggelayut di tangan Ardi.
Anna yang melihatnya pun memutar matanya malas melihat adegan manja dari Serli.
"Sepertinya ada yang CLBK ya," sahut Anna.
"Bukan CLBK kali, tapi CLMB," timpal Serli.
"Ih.. apaan si Ser," Sergah Ardi sambil melepaskan gelayutan manja dari serli.
"Kenapa si sayang? bener kan, kita itu CINTA LAMA MASIH BERSEMI, buka CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI. Serli tersenyum dan memegang erat tangan Ardi.
"Kita udah putus ya Ser, jangan lupa itu! Kita sudah tidak ada hubungan lagi" jelas Ardi.
"Tapi aku belum nerima putusan dari kamu, Ar!" Serli tak terima ucapan Ardi, ia sedikit meninggikan suaranya.
Anna berpindah posisi duduk, ia mendekati Dita yang masih menyantap makanan nya.
"Dit. kamu mau ikut ngga, lanjut ke Curug yang di atas sana?" tanya Anna sambil berbisik di telinga Dita. Anna mencondongkan sedikit badannya akar Dita mendengar ucapan nya.
"Ngga mau ah! cape banget tau, kakiku pegel!" jawab Dita yang kembali menyeruput mie instannya.
"Ish... kamu ini! gimana sih, katanya mau lihat air mancur?" Kesal Anna kembali menegakkan badannya sambil mendekap tangan di dadanya.
"Ngga asik, ah Dit!" Males harus liat orang yang sedang CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI, seraya berdiri kemudian mengambil kamera dan tas ransel nya. Anna pun menghampiri ibu pemilik warung, membayar pesanan yang ia makan.
"Bu ni saya bayar pesanan yang tadi ya." Anna menyodorkan satu lembar uang seratus ribu kepada si ibu pemilik warung.
"Kembaliannya masih ada ni neng!" jawab ibu pemilik warung.
"Buat ibu saja! " permisi Bu.
"Makasih ya neng."
"Sama-sama Bu."
Dita yang melihat Anna hendak pergi pun langsung berdiri dan menghampirinya.
"Kamu beneran mau ke atas, An? sama siapa? kalau aku ngga ikut gimana?" Cecar Dita kepada Anna. Anna yang belum jauh melangkah, terhenti dan berbalik menghadap Dita, menggelengkan kepala akan tingkah Dita.
"Aku harus jawab yang mana dulu, Dit!" Anna mendekap tangan di dadanya.
" He..he.. maaf ya, An! abisnya aku ngga enak sama kamu, kasian , khawatir juga! takut kamu kenapa napa, kalau pergi sendiri!" keluh Dita.
"Ngga apa apa, Dit! santai aja.
Aku ngga bakalan marah kalau seumpama kamu ngga ikut naik ke atas juga? aku kan kesana sama yang lain juga, tuh liat aja!, Banyak kan yang pada kesana!" Anna menunjuk mahasiswa/i lain yang hendak naik lagi ke atas gunung menggunakan dagunya.
"Kalau kamu masih kekeuh mau kesana, hati hati ya, An? jangan pisah sama yang lain. Soalnya handphone nya enggak ada sinyal? jadi ngga bakal bisa telpon," tanyanya khawatir.
"Siap nyonya! he..he. Udah ah, aku mau langsung aja ke atas, waktunya kan ngga lama sore ini harus bisa turun ke perkemahan kalau ngga nanti kejebak malem di atas gunung."
ketika melihat jam di tangan kirinya, Anna bergegas menyusul beberapa orang yang akan naik untuk melanjutkan ke air terjun yang paling panjang dengan keindahan yang pastinya lebih bagus dari air terjun di bawah.
"Hey.. tunggu! aku ikut ke atas," teriak Anna kepada beberapa temannya.
Melihat Anna yang pergi menjauh, Ardi yang duduk di samping Serli pun berdiri dan hendak pergi meninggalkannya.
"Minggir!" Ardi berdiri dan melepas tangan Serli yang masih bergelayut di tangannya.
__ADS_1
"Mau kemana si beb?" tanya serli marah, karena tangannya di hempaskan begitu saja oleh Ardi.
"Kemana saja, asal ngga di ikutin terus sama Lo?" Hardik Ardi, lalu beranjak pergi dari warung. Bergabung dengan temannya yang sedang berkumpul dipojokan dekat pohon besar. Entah apa yang di lakukan mereka. Beberapa di antaranya ada yang terlihat menyalakan roko dan menghisapnya. Niat hati mau mendekati Anna malah di buntuti Serli, malah membuatnya malas dan lebih memilih untuk pergi dari Serli.
Serli Marah dan kecewa karena keinginannya untuk dekat dengan orang yang ia suka tidak terwujud.
"Si****! Ini pasti gara gara Anna, awas aja lo, An! w kerjain lo! Tia, Mimi Lo harus bantuin gue. Kedua temannya hanya menunjukan ibu jarinya nya, menandakan siap untuk membantu apapun yang Serli suruh.
...***...
Jarak antara air terjun itu tak begitu jauh, hanya jalannya saja yang banyak batu batu kerikil, dan agak menanjak membuat para pendaki agak sedikit kesusahan melewatinya. Perjalanan mereka terbayar setelah tiba di tempat tujuan.
Udara dingin yang semakin menusuk kulit, membuat bulu halus di kulit ikut berdiri. Anna yang di buat takjub kedua kalinya memperhatikan keadaan sekitar dan tak lupa ia membidik gambar, tak kan ia lewatkan keindahan saat siang hari ini.
ketika membidik gambar ke arah pancaran air mancur, tak sengaja ia melihat dari kejauhan sosok lelaki yang hanya menggunakan celana pendek tanpa kaos, berdiri di depan air mancur tersebut.
Anna tak bisa melihat wajah lelaki tersebut. Karena lelaki itu membelakangi kameranya.
Ketika mengubah mode dekat di kameranya, tetap saja ia tak bisa melihat siapa lelaki tersebut. Terlihat tubuh dan celana lelaki itu basah, sepertinya ia baru saja menyeburkan dirinya kedalam kolam yang berada di bawah air mancur tersebut.
"Siapa sih tuh cowok? segala berdiri di situ lagi! ganggu aja, aah.. jadi ada penampakan tubuhnya kan! Ishh.. " kesal Anna, karena gambar yang ia potret terdapat foto tubuh seorang laki laki. Niat hatinya, ia hanya ingin mendapat gambar air terjun utuh tanpa ada siapapun di dalamnya. Ok, nanti saja deh mending lihat yang lain dulu, sambil nunggu orang itu pergi," ucapnya dalam hati.
Anna masih menikmati pemandangan dari atas gunung. Ia memotret suatu desa yang letaknya di bawah gunung tersebut, rumah yang jaraknya berjauhan satu dengan yang lainnya," wah!! indah ya, jika di lihat dari sini," batinnya
Pandangan Anna kembali ke air terjun yang ada di belakangnya,
"Kemana tuh cowok, cepet banget perginya," pikir Anna. Setelah keberadaan lelaki tadi tak ada di depan air mancur.
Anna pun mendekati Air terjun tersebut, karena sepatu hikingnya membuat ia sulit berjalan di bebatuan besar dan licin. Anna membuka sepatunya dan menyimpannya di atas Batu besar yang ada di sana. Ia berhati hati melewati bebatuan licin tersebut. Gambar yang ia ambil tampak sempurna, senyumnya merekah ketika Anna berhasil mendapat foto air terjun yang begitu indah.
Cipratan Air terjun mengenai tubuh Anna, dinginnya air begitu terasa serta suara gemuruh air pun lebih tajam terdengar.
Dilihatnya teman teman sekampusnya selesai bermain air, mereka bersiap untuk kembali ke perkemahan.
"An! balik yuk! udah sore ni, nnti kemalaman sampe perkemahan." Teriak Ani dan teman yang lain.
"Duluan aja, nanti aku nyusul! sebentar lagi" sahut Anna yang masih asik bermain air, ia duduk di atas batu dan mencelupkan kakinya di dinginnya air terjun itu. "Pengen banget berenang di sini, airnya seger banget, sayang gue ngga bawa baju ganti, masa ia harus pulang ke tenda basah basahan," batin Anna.
Akhirnya Anna bersiap untuk menyusul temannya turun ke bawah, ia juga tidak mau ketinggalan yang lain, karena cuaca sudah mulai menggelap dan berkabut.
"Ih!.. Mana sepatu gue? ketika tak mendapati salah satu sepatu yang ia simpan di bebatuan." Anna melirik kanan dan kiri, mencari satu sepatunya yang hilang.
Anna merasa ada yang aneh, ia yakin sudah rapi menyimpan sepatunya. Apa mungkin tersenggol saat ada yang melewatinya.tapi posisinya berada di atas.
Dengan terpaksa, Akhirnya Anna berjalan tanpa Sepatu, menenteng salah satu sepatunya sambil melihat aliran air, ia berpikir barangkali sepatunya terjatuh dan terbawa arus, ia berjalan dengan sangat hati hati.
Serli
Awas aja tuh si Anna, kalau sampe mereka deket lagi! gue kasih pelajaran tuh bocah!" gerutu Serli.
"Tia, ,Mimi, ikut gue yuk!" ajak Serli. Mereka bertiga menyusul Anna. Dari kejauhan mereka membuntuti Anna. Ketika Sampai di atas, Serli yang melihat Anna membuka sepatunya dan menaruhnya di atas batu. Serli tunggu sampai Anna lengah. Diam-diam menjatuhkannya kedalam aliran air, agar sepatu tersebut terbawa arus.
Puas mengerjai Anna dengan menghilangkan satu sepatu hiking nya. Serli beserta kedua temannya kembali ke perkemahan. Anna yang tak menyadari keberadaan serli dan temannya terus asik dengan kameranya.
" Ha..ha...ha " Serli menertawakan Anna, ia membayangkan Anna turun dari gunung tanpa Alas kaki. Pasti sulit menurutnya, jalanan licin dengan jalan berbatu. Dari kemarin niatnya untuk mengerjai Anna, Baru sekarang bisa di lakukan.
...**Hai..semua yang sudah membaca sampai di bab ini, saya berterima kasih buat kalian....
...buat dukungannya sudah memberikan...
...like 👍...
...komentar✍️...
...favorit❤️...
...semoga kita semua dalam keadaan sehat semuanya....
...dukung terus Author agar lebih semangat dalam berkarya....
...Salam hangat dari aku. author recehan Mayya_zha**...
__ADS_1