Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kecelakaan


__ADS_3

...Sebelumnya author mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca yang masih setia membaca karya ini.🥰🥰...


...Mohon maaf jika update belang bentong. ...


...Selamat membaca


...


Rio langsung bergegas menuju taman yang tak jauh dari rumah Riska.


Banyaknya orang yang datang ke taman sore itu membuat Rio sedikit kesulitan mencari Riska.


Rio terus berjalan menuju tempat di mana dirinya dan Riska pernah duduk bersama. Tapi tetap saja tidak terlihat keberadaan gadis itu.


“Apa Riska ke tempat lain?” pikir Rio. Ia sempat ingin berbalik meninggalkan taman tapi sesosok wanita bergamis dusty tertangkap oleh indera penglihatannya.


Rio menemukan keberadaan Riska. Pemuda itu lebih memilih berdiri beberapa meter dan memperharikan gadis itu dari kejauhan.


Rio merasa raut kesediahan di wajah Riska.


‘Apa yang ada di pikiranmu hanya ‘lah Abbas? Bukan ‘kah seharusnya kamu senang dan bahagia, sebab keinginanmu akan menjadi kenyataan. Tapi mengapa wajahmu terlihat murung dan sedih? Apa yang sebenarnya yang kamu rasakan, Ris? Dan apa kamu tidak merasakan kesungguhan hati ini padamu, Ris? Kebersamaan meski hanya sebentar apa tidak bisa merubah keinginan hatimu?'


Batin Rio dengan pertanyaannya terhadap Riska sambil terus melihat ke arah gadis yang menatap kosong ke arah danau.


Rio tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Riska. Ia ikut tersenyum ketika Riska tersenyum dan berbicara lembut kepada anak perempuan yang berumur sekitar lima tahun. Anak perempuan itu menarik-narik gamisnya pelan.


Sepertinya anak perempuan itu meminta tolong pada Riska. Tapi si anak kecil itu tidak tahu kalau Riska tidak bisa melihat.


“Kakak, Tolong ambilkan balon udara ku!” rengek anak perempuan itu sambil terus menarik baju Riska.


“Maaf, Dek. Kaka tidak bisa melihat jadi tidak bisa mengambilkan balon udara milik kamu!” ucap Riska kemudian berjongkok sambil membelai lembut rambut anak perempuan itu.


“Yah, aku minta tolong sama siapa dong?” keluh anak perempuan itu sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang yang bisa ia mintai tolong.


"Coba minta tolong sama orang lain! Maafkan kakak yang tidak bisa membantumu, Dek!" ucap Riska penuh sesal dengan keterbatasan yang ia miliki.


Mendengar keluhan anak itu. Riska merasa tidak berguna. Wajahnya makin terlihat sedih.


Rio menelepon Bu Ratmi memberitahu kalau Riska ada di taman tak jauh dari kediaman mereka.


Bu Ratmi berucap akan segera menyusul ke sana. Mendengar itu Rio memilih pergi dari tempat itu. Sebab tugasnya sudah selesai. Esok hari hanya tinggal mempersiapkan acara pernikahan yang sangat sederhana sesuai keinginan Riska.


Sebelum pergi, Rio mengambil balon udara yang menyangkut di dahan pohon lalu meraih batu kecil dari tanah lalu digulung menggunakan plastik kemudian diikatlah balon udara tersebut agar ada beban yang membuat balon udara tidak terbang terbawa angin.


Rio melambaikan tangan ke arah anak perempuan itu. Keceriaannya langsung ditunjukkan si anak kala melihat balon udara miliknya berhasil di ambil.


"Tidak pa-pa Kak! Itu ada Kakak tampan yang sudah mengambilkan balonku!" ucap anak perempuan itu.

__ADS_1


Anak perempuan itu lekas berlari kecil menghampiri Rio. Wajahnya berseri dan senang ketika melihat balon udara yang bermotif Princess itu sudah berada di tangan orang tersebut.


“Terima kasih kakak tampan!” ucap anak perempuan itu ketika Rio memberikan balon udara miliknya.


“Sama-sama,” jawab Rio pelan kemudian mengacak rambut anak perempuan itu pelan. Tak lama anak perempuan itu berlari sambil melambaikan tangan meninggalkan Rio karena ibu anak itu memanggilnya.


Mendengar suara yang begitu ia kenal, Riska lekas menoleh ke sumber suara untuk memastikan.


Ia berdiri kemudian berjalan cepat ke arah sumber suara. Tapi sayangnya pemilik suara itu sudah tidak ada di tempatnya.


"Sepertinya aku kenal betul dengan suara itu. Ya, itu Kak Rio!" gumam Riska.


"Kak Rio," panggil Riska. Tak ada jawaban yang ia dapat. Sebab Rio sudah berlalu dari taman itu.


Gadis itu terus berjalan menyusuri jalan setapak keluar dari taman itu. “Aku yakin itu suara Kak Rio! Kenapa dia tidak menghampiriku? Kenapa dia menghindarimu?” lirih Riska.


“Aw ...,” desis Riska saat tubuh yang tersenggol seseorang.


“Maaf, Mbak!” seru seorang wanita yang berjalan bersama beberapa temannya.


Riska hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Ya, tidak pa-pa,” balas Riska.


Perlahan Riska melanjutkan langkahnya dibantu tongkat yang ada di tangannya agar ia tidak menabrak sesuatu saat melangkah.


“Eh, dia buta! Gue kira normal! Kasian ya, udah tau gak bisa melihat malah jalan sendiri!” ucap wanita yang menyenggol nya tadi.


Membawa hati yang sedih dan pilu, Riska memilih pulang ke rumah karena sebentar lagi mendekati waktu magrib.


Susana pun sudah sedikit menggelap sebab di langit sore itu berubah mendung.


Riska mengetahui suasana sore itu dari seorang ibu yang sedang mencari anaknya kebetulan beliau kenal dengan Riska karena mereka bertetangga, Bu Ijah namanya.


“Riska,” panggil Bu Ijah dan seketika Riska pun menoleh.


“Bu Ijah!” sahutnya.


“Iya ini ibu, Kenapa kamu di sini? Langitnya gelap kayaknya mau hujan lebat sebaiknya cepat pulang atau mau bareng sama ibu?” tanya Bu Ijah.


“Aku bisa pulang sendiri, Bu!” balas Riska.


Bu Ijah mengangguk pelan. “Kalau begitu ibu ke taman dulu. Mau nyari Farhan!” Bu Ijah pamit kemudian berlalu meninggalkan Riska.


Semilir angin disertai debu terasa menerpa tubuh. Di perkiraan malam ini akan terjadi hujan lebat beserta angin kencang.


“Ibu pasti mencariku!” Riska bergegas keluar dari taman. Saat berada di pinggir jalan. Langkahnya terhenti. Tukang parkir yang biasa ada di depan taman tidak ada di sana saat Riska mencoba memanggilnya.


Biasanya tak perlu dipanggil, tukang parkir itu langsung mendekati ketika melihat Riska hendak menyeberang jalan.

__ADS_1


Tidak mau berlama-lama takut hujan keburu turun. Dengan segenap keberanian gadis itu mencoba menyeberang jalan.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Riska dalam hati sambil merentangkan tangannya sambil melambai berharap para pengguna jalan melambatkan lajunya agar ia bisa menyebrang.


Dari kejauhan seorang pemuda yang hendak melajukan kendaraannya tiba-tiba berhenti dipinggir jalan. Ia lekas turun dari dalam mobilnya berlari kecil hendak membantu Riska.


Meskipun sedang mencoba menjauhi Riska tapi Rio tidak tega jika melihat gadis itu berjalan menyeberangi jalan seorang diri.


Tin ... Tin ...


Terdengar suara klakson mobil dari kejauhan karena cuaca yang sedikit buruk di sertai angin kencang para pengendara mobil banyak yang melaju cepat. Mungkin mereka ingin segera sampai di tempat tujuan masing-masing.


“Riska, Awas!” teriak Rio saat melihat sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan.


Refleks Riska menoleh ke sumber suara klakson mobil itu.


Brakk ....


Tanpa bisa menghindar tubuh Riska terpental ke pinggir jalan. Benturan keras yang dialami Riska membuat gadis itu seketika tak sadarkan diri. Terlambat bagi Rio untuk menyelamatkan Riska. Kecelakaan pun tak bisa dihindari.


Pemuda itu berlari kencang dirangkulnya tubuh Riska yang terbaring di pinggir jalan.


“Riska, bangun!” Rio sedikit menggoyangkan tubuh gadis yang ada dalam rangkulannya itu.


Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu lekas mengerumuni Rio dan Riska untuk melihat kondisi korban.


Mobil yang menabrak Riska langsung berhenti. Pengemudinya pun langsung menghampiri Riska. Mengecek kondisi korban yang ditabraknya. Ternyata pemilik mobil yang menabrak Riska adalah seorang wanita muda.


“Ya Allah, Mas sebaiknya kita langsung bawa ke rumah sakit,” ujarnya.


Rio menatap orang yang baru saja berbicara padanya.


“Saya akan bertanggung jawab,” wanita itu meyakinkan.


Segera Rio mengangkat tubuh Riska. Wanita muda itu memberi jalan agar Rio membawa Riska ke dalam mobilnya.


Rio pun mengikuti. Dia juga ingin wanita yang menabrak Riska bertanggung jawab atas kejadian ini.


Tetangga Riska, Bu Ijah yang melihat kejadian itu berjalan cepat menuju rumahnya. Dengan menggandeng Farhan, anaknya. Wanita itu ingin segera memberi tahu Bu Ratmi atas kejadian ini.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2