Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Penangkapan Papa reno


__ADS_3

Abbas pun berjanji akan terus membantu semua kebutuhan Riska.


Riska yang awalnya terlihat berseri langsung berubah sedih. Hati kecilnya membenci, teringat perkataan ayahnya, bahwa kecerobohan ayah Abbas lah yang sudah membuatnya tak bisa melihat selama ini.


Riska diam tak bersuara saat duduk di samping Pak Irwan. Abbas pun seperti sedang meneliti wajah Riska. Selama lima tahun sering membantunya. Tak pernah satu kali pun, dia bertemu dengan gadis itu.


“Dia ‘kan gadis yang pernah aku bantu di rumah sakit,”batin Abbas.


“Nak ... Tolong! Pikirkan lagi permintaan Saya. Dan tolong penuhi janji ayahmu pada kami,” ucap Pak Irwan Abbas melihat Abbas tengah memperhatikan anaknya.


“Anda tidak bisa memaksa Saya, Pak! Anda tenang saja, saya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. Saya tetap akan membantu pengobatan Riska sampai dia bisa melihat,” Abbas tetap teguh dengan pendirian nya.


Riska merasa tak asing dengan suara yang Abbas. Ia menajamkan pendengarannya saat mendengar Abbas berbicara.


“Suara ini, suara orang yang membantuku di rumah sakit. Dia kah laki-laki itu? Orang yang sudah membaut hati ini tenang dengan nasihatnya,” batin Riska.


“Baiklah, Om, Pak Irwan. Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi. Saya pamit, ada pekerjaan harus saya selesaikan hari ini! Kalaupun ada keperluan yang menyangkut Riska tolong hubungi asisten saya segera.” Abbas menoleh ke arah Rio.


Rio pun mengangguk ke arah Pak Irwan. Selama ini, semua urusan Abbas langsung di tangani oleh Rio. Kecuali untuk urusan pribadi Abbas. Jarang sekali ada orang yang tau nomer telponnya, kecuali Anna dan keluarganya.


Abbas menyalimi Om Mahmud dan Pak Irwan dengan Takzim. Lalu berucap kepada Riska.


“Mohon, maaf Riska! saya tidak bisa menerima kesepakatan antara orang tua kita. Saya yakin Kamu gadis yang tahu akan peraturan Allah bahwa jodoh, maut dan rejeki sudah diatur oleh Nya. Jangan pernah berkecil hati dan semangatlah seperti apa yang pernah Saya ucapkan padamu di rumah sakit.” ucap Abbas tegas ke arah Riska.


Riska sedikit mengangkat kepalanya. Merasa terkejut mendengar Abbas berbicara kepadanya, ternyata memang dia lah, pria yang menasehati dan membantu Riska saat mencegah dirinya melakukan percobaan bunuh diri di lantai atas gedung rumah sakit. Ia bisa mengenali seseorang hanya dengan mendengar suaranya.


Beberapa kali bertemu dengan berbicara dengan Abbas membuat hati Riska tenang. Saat itu Abbas harus beberapa kali ke rumah sakit untuk menemani Aldi adik angkatnya yang harus di rawat selama seminggu di rumah sakit yang sama dengan Riska, bahkan ruangan mereka pun bersebelahan. Sejak saat itulah Riska selalu berharap bisa bertemu lagi dengannya. Riska mengira Abbas yang di rumah sakit bukanlah Abbas yang selama ini membantu pengobatannya.


“Saya permisi! ...Abbas meninggalkan mereka di restoran itu, tanpa ikut menikmati hidangan yang baru saja dihidangkan di sana.


“Saya juga permisi, Om, Pak Irwan, Riska. Silahkan di nikmati makan siangnya. Kalau ada apa-apa Pak Irwan bisa langsung hubungi Saya.” Rio ikut undur diri dari sana. Dia lekas mengerjar Abbas yang lebih dulu sudah keluar dari restoran itu.


Riska, Pak Irwan, Om Mahmud serta asisten yang membantu Riska melanjutkan makan siang yang sudah tersedia rapi di atas meja.


mereka makan dalam diam.


“Bas ... tunggu!,” panggil Rio ketika melihat Abbas masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya.


Abbas membuka kacamobil perlahan. “Yo, tolong gantikan pertemuan dengan perusahaan Karya persada hari ini. Pusing banget gue, lagi enggak fokus.” Bebas menyisir rambut ke belakang menggunakan jemarinya. Pusing memikirkan masalah yang baru diketahuinya.


“Kasian banget sih lu, Bas. Baru aja bahagia dapet jalan menuju halal dengan pujaan hati, eh malah bersimpangan dengan amanah Almarhum Ayah lu!” Rio berempati kepada Abbas.


“Tau deh. Pusing gue, Yo! Gue mau ke rumah yang di Cibubur dulu, deh. Kayaknya gue pulang dulu ke sana. pengen nenangin pikiran."


“Ok, deh. Sini file yang mau ditunjukin sama mereka. Masih di tempat yang sama sesuai jadwal ‘kan?” tanya Rio.

__ADS_1


Abbas mengangguk lalu meraih file yang berada di bangku sebelahnya.


“Nih, sekalian tolong kabari Naina, gue gak balik lagi ke kantor!” titah Abbas kemudian bersiap untuk pergi dari sana.


Rio menerima file yang disodorkan Abbas kepadanya.” Hati-hati, Bas,” ucap Rio seraya menjauh sedikit dari mobil Abbas mempersilahkan mobil itu melaju membelah kota Jakarta.


Di restauran


“Kamu pernah bertemu Abbas, Nak!” tanya Pak Irwan penasaran dengan ucapan Ababa kepada anak gadisnya itu.


“Dia adalah pria yang memberiku semangat selama di ruang sakit waktu itu, Yah! Dia lah orangnya. Pria yang membuat hati Riska tenang dan nyaman.” Wajah Riska seketika berubah senang, saat mengetahui orang yang selama ini diharapkannya adalah orang yang akan dinikahkan dengannya. Meski Abbas menolak kesepakatan itu. Tapi Riska berharap keputusannya bisa berubah.


“Benarkah?” Pak Irwan terlihat senang melihat perubahan raut wajah anaknya.


“Ayah ...! apakah Aku boleh bersikap egois? menginginkan kesepakatan antara Ayah dan orang tua Kak Abbas terjadi!” ucap Riska sambil tertunduk.


Awalnya memang Riska tak menghiraukan kesepakatan antara Almarhum orang tua Abbas dan Ayahnya. Malah rasa sesal selalu ada saat ingat kebutaan yang dialaminya, tapi mengetahui Abbas adalah orang yang sama dengan pria di rumah sakit itu. Hati Riska meminta lebih. Dia menginginkan Abbas menjadi jodohnya.


“Ayah akan lakukan apapun untuk kebahagiaanmu, Nak! Kamu tenang saja.” Pak Irwan menenangkan Riska. Lalu menolah ke arah Om Mahmud meminta bantuannya.


“Tolong bantu Saya, Pak!” Pak Irwan berucap pelan kepada paman dari Abbas.


Om Mahmud menggeleng pelan. “Saya tidak yakin bisa membantu Anda Pak Irwan. Saya hapal betul sikap keras Abbas. Kalaupun mereka berjodoh pasti Allah akan menyatukan mereka berdua.” Om Anwar mengingatkan.


Riska semakin tertunduk mendengar ucapan Om Anwar. Hatinya kembali bersedih. Harapan menginginkan orang yang di sampaikan hatinya takkan terwujud. Padahal Abbas adalah satu-satunya pria yang sudah membuat Riska bersemangat menjalani hidup kembali.


Bi Imah terkejut saat beberapa orang datang bertamu dengan pakaian seragam lengkap di teras rumah kediaman Papa Reno dan Mama Ami.


“Permisi Bu! Apa tuan Reno Anggara berada di rumah?” tanya salah seorang berseragam polisi lengkap kepada Bi Imah.


“A-ada, P-pak! Ada keperluan apa, Ya?” Bi Imah balik bertanya.


“Kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan untuk Pak Reno Anggara.” Polisi itu berucap tegas seraya menunjukan surat penangkapan yang dibawanya.


"Sebentar saya panggilkan!” jawab Bi Imah gugup. Karena takut melihat para petugas kepolisian yang berjaga di depan rumah Papa Reno.


Bu Imah mempersilahkan para petugas kepolisian untuk menunggu sebentar.


Langkah cepat dan tergesa Bibi Imah seraya memanggil Papa Reno di meja kerjanya membuat si tuan rumah itu terkaget.


“Tuan ... Tuan ...,” panggil Bi Imah langsung masuk ke ruang kerja, kebetulan pintu ruang kerja Papa Reno terbuka lebar.


“Ada apa, Bik? Ko kelihatan gugup begitu?” tanya Papa Reno ke arah Bi Imah yang terlihat panik.


“Itu, Tuan! Ada banyak polisi di depan rumah, mereka bilang membawa surat penangkapan untuk tuan!” Bi Imah berbicara gugup dan takut.

__ADS_1


“Ya, saya akan keluar menemui mereka. Bi ... tolong jangan beritahu Ibu dan Anna tentang penangkapan Saya. Biar Saya yang akan menghubungi mereka. Bibi dan Pak Joko tetap berada di rumah ini,” titah Papa Reno seraya melangkah keluar dari ruang kerjanya. Di raihnya ponsel yang tergeletak di atas meja.


Papa Reno menghubungi Daren terlebih dulu sebelum menemui polisi di depan rumahnya, memberitahu penangkapan yang terjadi padanya. Meminta agar Dia bisa menemui Papa Reno di Polres Surabaya. Setelah itu mencoba menghubungi sahabat baik nya yang merupakan ayah dari Daren.


Waktu yang sudah di berikan perusahaan sudah terlewat untuk segera mengganti rugi dana perusahaan. Bukti-bukti perihal penyangkalan pun masih belum terkumpul. Papa Reno mengikhlaskan jika hari ini ia di tahan oleh kepolisian karena memang dirinya telah lalai dalam memeriksa dokumen yang di tanda tanganinya, sehingga merugikan dirinya sendiri dan keluarganya.


“Maafkan Papa, Maafkan jika kalian akan ikut kena dampak dari kecerobohan Papa?” Papa Reno mengusap Fofo figura yang ada di atas meja. Wajah kedua orang yang sangat ia sayangi.


“Tuan ... ,” panggilan Bi Imah menghentikan pandangannya terhadap pigura foto itu.


“Jaga rumah baik-baik, Bi! Doakan kebenaran akan segera terungkap!” titahnya kepada asisten rumah tangga dan Pak Joko yang baru saja datang dengan tergesa dari pintu samping rumah itu.


“Iya, Tuan!” Bi Imah dan Pak Joko menjawabnya kompak.


Papa Reno melangkah sampai di teras rumah. Para polisi yang berjaga pun bersiap, takut Papa Reno akan mengelak dari penangkapan.


“Selamat siang, Pak Reno Anggara. Saya membawa surat penangkapan untuk Anda. Mohon agar anda mengikuti prosedur untuk ikut kami dan tidak memberontak.” Salah satu dari ke empat polisi itu memberi hormat kemudian angkat bicara.


“Baik, Pak. Mari. Tapi tidak perlu memborgol Saya! Saya akan ikuti prosedur yang berlaku!” ucap Papa Reno tenang tapa rasa takut.


“Siap.. terima kasih, Pak! Mari silahkan ikut dengan kami,” polisi itu mempersilahkan Papa Reno masuk ke dalam mobil polisi.


“Hati-hati Tuan,” ucap Bu Imah. Air matanya mengalir begitu saja melepas kepergian Tuannya.


“Kasian, Pak Reno!” ucap Pak Joko melihat mobil kepolisian keluar dari kediaman mewah Papa Reno dan Mama Ami.


“Iya, padahal sore ini Beliau mau terbang ke Jakarta untuk menyusul Ibu! Besok Neng Anna, mau wisuda. Kasian sekali jika Ibu dan Neng Anna dengar berita ini!” ucap Bu Imah sedih.


.


.


.


.


Hai ... kakak pembaca yang setia..


mohon maaf, baru up lagi.. cuaca lagi tak menentu, kalian harus pintar jaga kesehatan.


Jangan lupa like komen vote dan rating bintang untuk karyaku.


mampir juga ya ke karya teteh yang ikut event. FAKE LOVE judulnya.


salam hangat dari teteh Mayya_zha

__ADS_1


rekomendasi lagi ni buat kalian



__ADS_2