
Anna merasa lebih baik setelah mendengar dan melihat sendiri keadaan Mama. Meski tak melihat papanya tapi ia sudah bersyukur bisa tahu keadaan orang tua yang beberapa Minggu ini sulit di hubungi..
Surabaya
"Anna harus tau yang sebenarnya, Mi?" tegur Om Anwar pada adik satu-satunya itu.
"Tidak sekarang, Mas! Aku dan Mas Reno masih bisa mengatasi masalah kami. Setidaknya Sampai Anna menyelesaikan skripsi dan wisudanya. Aku tidak mau Anna terlalu banyak berpikir." ucap Mama Ami.
"Ya, Mas akan memberitahunya setelah wisuda nanti. Lalu bagaimana kasus yang menimpa suamimu? apakah sudah ada titik terang?" selidik Om Anwar.
Mama Ami menggelengkan kepala."Entahlah, Mas. suamiku masih mendapat senggang waktu untuk mengembalikan kerugian perusahaan. jika tidak ada bukti untuk menyangkal tuduhan itu, semua aset milik kami akan di ambil alih untuk menutupi kerugian."
"Mas, tidak bisa membantu banyak untuk hal ini. karena mas tidak tahu duduk perkaranya, Mi! Tapi Mas bisa menyewa pengacara terbaik untuk membantu suamimu, Mi!" Om Anwar memberikan bantuan.
"Tidak usah, Mas. Sudah ada yang membantu suamiku. Dia pengacara muda terbaik yang kami kenal. Dia sangat kenal dan tahu betul bagaimana cara kerja Mas Reno, jadi dia akan terus membantu perkembangan kasus ini Sampai tuntas."
"Syukurlah kalau begitu. Tenangkan dirimu, kamu juga harus banyak beristirahat. ingat kesehatanmu, Mi!"
"Iya, Mas terima kasih. Mas ... Ami mohon tolong jaga Anna. Doakan urusan kami di sini bisa cepat selesai." Mama Ami berbicara sendu, wajahnya terlihat muram dan lesu. Kejadian yang menimpa suaminya beberapa minggu ini, membuatnya akhir-akhir ini kurang istirahat dengan tenang, banyak yang dipikirkan olehnya.
"Mas akan selalu mendoakan mu. Jangan pernah takut jika kita tak berbuat salah. kebenaran pasti akan menang meski harus bersusah payah menunjukannya. Kamu harus bersabar." ucap Om Anwar.
Suasana hening terasa sesaat. Mama Ami dan Om Anwar sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Apa kamu bisa datang di acara wisuda Anna nanti, Mi? Anna pasti sangat mengharapkan kehadiran kalian." tanya Om Anwar.
"Pasti, Mas. aku usahakan untuk datang ke acara wisuda nya. Tak mungkin aku lewatkan hari paling berarti untuk anakku."
"Kabari Mas, kalau mau ke Bogor, biar Mas jemput. untuk sekarang, Mas tidak bisa lebih lama di sini. Mas harus kembali ke Jakarta masih banyak pekerjaan yang harus mas selesai kan di sana."
"Tak apa, Mas. Ami ngerti ko, Mas Anwar sudah meluangkan waktu kemari saja, Ami sudah senang sekali. Salam untuk Mbak Melly dan Rayyan."
"Ya, nanti aku sampaikan."
Om Anwar dan Mama Ami berdiri melangkah menuju teras rumah. tapi Mama Ami menghentikan langkahnya sesat.
"Bi .. Bi Imah," panggil Mama Ami kepada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Ada apa?" Bi Imah datang menghampirinya dari arah dapur.
"Tolong bawakan kemari, kardus yang di belakang tadi, ya!" perintah Mama Ami.
"Baik, Bu." Bi Imah pun segera berbalik ke arah dapur. lekas ia mengambil apa yang disuruh majikannya.
"Aku mau titip sedikit oleh-oleh untuk Anna ya, Mas. biasanya aku kirim lewat jasa pengiriman. tapi kebetulan Mas Anwar kemari, jadi sekalian aku titipkan saja." ucap Mama Ami.
"Ya. Nanti aku berikan."
Bi Imah kembali ke ruangan depan dengan Pa Joko. orang yang sering membantu membersihkan halaman rumah Mama Ami.
"Bu, yang ini juga di bawa kan?" Bi Imah menunjukan Paper bag yang dipegang nya sedangkan Pa Joko memanggul kardus kecil berisikan oleh-oleh khas Surabaya untuk Anna.
"Ya ... bawa kemari bi!" perintahnya.
Bu Imah memberikan Paper bag di tangannya kepada Mama Ami.
"Terima kasih Bi, Pa Joko tolong bawa kardus itu ke depan ya, biar nanti di bawa ke Bogor!"
"Siap Bu." Pa Joko memanggul kembali kardus untuk di bawa ke depan teras tepat dimana mobil Om Anwar terparkir.
Om Anwar menerima bingkisan itu perlahan. "Kamu, ini kebiasaan. tak perlu repot-repot untuk menyiapkan ini untuk kami. tadi Mas, juga sudah beli beberapa buah tangan untuk di bawa pulang. Mas, malah merepotkan mu."
"Hanya sedikit, Mas. tidak merepotkan ko. malah Ami yang sering merepotkan Mas." sahut Mama Ami.
Om Anwar dan Mama Ami saling memberikan pelukan hangat. pelukan yang di berikan seorang kakak kepada adik satu-satunya untuk memberikan kekuatan akan masalah yang di hadapinya.
"Kamu harus percaya dan yakin jika kebenaran pasti akan terungkap. Salam untuk Suamimu."
"Ya. hati-hati di jalan Mas."
"Mas mu pulang dulu. Bi Imah! Pa Joko!" panggil Om Anwar.
"Iya Den," jawab mereka kompak.
"Tolong bantu saya Jaga Bu Ami. Kasih Kabar ke saya jika terjadi apa-apa?" perintahnya lagi kepada asisten rumah tangga yang menemani adiknya di Surabaya.
__ADS_1
"Jangan terlalu berlebihan, Mas. Ami baik-baik saja ko. tak perlu di khawatir kan!"
"Itu sudah kewajiban Mas sebagai kakak mu, Mi! Mas pinta, jangan pernah tutupin apapun masalahmu. setidaknya berbagi cerita membuat mu merasa lega." bujuk Om Anwar.
"Terima Kasih, Mas"
"Sama-sama, jaga dirimu Baik-baik." Om Anwar meninggalkan adiknya yang mengantar kepergian nya di teras rumah.
Lambaian tangan dari Mama Ami mengantarkan kepergian mobil yang di kendarai Om Anwar perlahan menghilang di ujung jalan. Mama Ami pun merasa lega dan bebannya sedikit berkurang setelah menceritakan semuanya kepada Kakak yang jauh dari sisinya. Semoga semua masalah bisa di atasi karena kebenaran yang terjadi bukan karena manipulasi.
...***...
Maira
Satu Minggu semenjak batalnya rencana makan bakso bersama Anna. Maira lebih banyak di sibukkan dengan segudang kegiatan untuk menghadapi sidang skripsi. Sidang kelulusan yang akan di gelar bersamaan dengan sahabatnya itu.
Berbeda jurusan membuat mereka sulit bertemu.
hanya pesan chat yang tiap hari Anna kirim membuat keakraban mereka tetap utuh.
Anna tak mengetahui sedikit pun tentang perasaan Maira kepada Abbas, meski sering kali Anna mencecarnya dengan seribu pertanyaan tentang siapa yang Maira suka tetap saja tak membuatnya membuka suara. menurut Maira jika Allah merestui suatu saat pasti akan di dekatkan dengan pilihan hatinya itu.
Kini, nama yang tersemat di hati Maira harus di hapuskan perlahan. agar nama itu perlahan memudar menyisakan kenangan yang ia rasakan sendiri. sebelum si pemilik nama di hatinya mengetahui keberadaanya, ia lebih memilih mundur. Meski kecewa dan perih. melihat sahabat nya bersama lelaki yang ia suka tapi ia mencoba ikhlas. Tak mau mengganggu perasaan kedua insan yang saling mencintai dalam diam.
Maira tak mau bersikap egois dengan terus mempertahankan nya. Entah cinta atau rasa kagum yang ia rasa saat ini. Maira masih merabanya. Ia hanya berpasrah kepada sang pemilik kehidupannya memadamkan cinta yang layu sebelum berkembang.
.
.
.
ikuti kisah selanjutnya.
kapan Anna ni perjuangan Anna muncul? sabar ya. semua akan aku rangkum dari yang kecil dulu..
jangan lupa like komen dan vote untu karyaku ini.
__ADS_1
salam hangat dari Author Mayya_zha