
Malam itu menjadi malam yang melelahkan untuk Abbas dan Rio. Mereka berdua tidur di kamar yang sama dengan tempat tidur pisah. Abbas pun sama sekali tidak mengecek ponselnya karena saking lelahnya.
Jakarta
"Kenapa nomer Bang Abbas masih tidak aktif ya?" ucap Anna pelan lalu kembali terdiam setelah mencoba menghubungi Abbas beberapa kali.
Rasanya ingin segera menyelesaikan masalahnya. Anna tahu dia egois telah mempermainkan perasaan Abbas. Tapi ia lebih egois dan tidak berperasaan jika masih menuruti keinginannya.
Hidup bersama bersama Abbas menjalani mahligai rumah tangga bersama pria itu adalah harapannya, itu awalnya. Tapi keinginan Sang Papa dan terungkapnya perasaan sahabatnya makin membuatnya dilema.
Anna melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Maira. Dari tadi ia tahu Maira sudah menghubungi nya. Tapi nyalinya menciut. Bingung harus berbicara apa kepada sahabatnya itu
Kembali perasaan bersalah itu muncul. Anna membuang napas berat. Pandangannya kembali fokus pada pesan chat dari Maira yang belum dibacanya.
📩 Anna tolong balas pesanku setelah kamu membaca chat ini. Anna, maaf ... Aku tahu kamu pasti baca tulisanku dalam buku itu, tolong jangan salah paham. Kamu belum tuntas membacanya. Kita bicarakan ini baik-baik besok. Tapi, maaf mungkin aku bisa bertemu denganmu sore hari, setelah pulang bekerja. Karena aku masih magang di perusahan tempatku bekerja saat ini. Jangan ada salah paham di antara kita, Anna. Percayalah ini hanya kisah awalku. kamu belum selesai membaca semuanya.
Tulisan panjang lebar, penjelasan dari Maira Anna baca. Sayangnya pengirim pesan itu sudah terlelap karena saking lelahnya.
Anna kembali termenung. Banyak hal yang menyita pikirannya saat ini. Setelah membaca buku harian Maira, Anna merasa berkecil hati. Meskipun ia memilih Abbas, apakah ia yang baru berhijrah dan masih minim ilmu agama pantas bersanding dengan Abbas. Jelas tidak, Mairalah yang pantas untuk mendampingi Abbas. Ilmu dan pengetahuan agamanya bisa sepadan dengan pria yang sama-sama mereka cintai.
Saat Anna merasa lelah dengan semua yang membebanknya secara bersamaan. Anna duduk di sisi tempat tidur. Memegangi cincin perak yang melingkar di jari manisnya. Esok hari benda itu akan kembali kepada pemiliknya.
Surabaya
"Jam berapa pengacara itu bisa diajak bertemu?" tanya Abbas seraya memasangkan dasi nya sendiri.
Jas dan celana dengan warna senada melekat pas di tubuh kekar Abbas. Pengusaha muda yang sukses.
"Jam sembilan, tapi kita cuma punya waktu setengah jam saja untuk bertemu hari ini bersamanya!" ujar Rio menjelaskan.
Abbas menajamkan pendengaran nya. "Sesibuk apa dia? sampai memberi waktu begitu singkat kepada kita?"
"Dia pengacara muda terkenal dan berbakat. Dia pasti sibuk sekali, Bas! Aku dengar juga dia memenangkan kasus penyalahgunaan uang yang di lakukan seseorang di salah satu perusahaan terkenal di Surabaya ini. Dia menjadi pembela kepada tersangka, sekarang tersangka itu bebas karena sudah membayar semua ganti rugi perusahaan tersebut." ungkap Rio sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya. "Sudah siap...," ucap Rio merasa lega. Semua bahan proposal serta persyaratan yang harus ia bawa untuk di serahkan kepada Darren sudah lengkap.
"Kita harus sampai lebih dulu di restoran itu, aku juga tidak punya banyak waktu untuk membahas banyak pekerjaan dengan pengacara itu." Abbas berucap tegas kepada Rio, lalu berjalan ke arah pintu segera Rio mengikuti bosnya itu.
Saatnya kembali bekerja, mode bawahan dengan bos di mulai kembali.
Saat diluar pekerjaan Rio dan Abbas lebih santai dalam berbicara layaknya seorang temanmu. Tapi saat bekerja sikap profesional harus mereka jalankan.
Lima belas menit waktu yang Abbas butuhkan untuk sampai di tempat pertemuan bersama Darren, pengacara muda asal kota Surabaya.
Abbas memesan tempat privat di pojok restoran. Dengan tempat duduk dan sofa panjang yang membuat pengunjung lebih leluasa dan nyaman.
Pria itu tersenyum hangat saat pertama kali layar laptopnya menyala. Ada foto dirinya dan Anna yang terpampang jelas di sana.
Gadis manis pujaan hatinya. Rasanya Ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Anna.
Abbas lekas merogoh ponsel di kantong celananya Ia baru ingat ponselny sejak semalam ia nonaktifkan.
"Ya ampun... Anna beberapa kali menghubungiku!" gumam Abbas. Ia hendak melakukan panggilan telepon kepada Anna. Tapi lekas ia batalkan. Abbas berpikir akan memberi kejutan kepadanya.
Mumpung saat ini Abbas sedang berada di surabaya. Alamat rumah dan toko sudah ia kantongi dari Anna. Mereka sempat memberi kabar setelah Anna tiba di Surabaya. Anna juga memberikan alamat kemana Abbas harus menemuinya di Surabaya. Karena Abbas berjanji akan menyusulnya untuk melanjutkan rencana khitbah nya kepada Anna.
"Rio..." panggil Abbas membuat Pria yang tengah sibuk memisahkan beberapa proposal di atas meja menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Ya, bos!"
"Setelah pertemuan ini, tolong carikan saya sebuket bunga lily putih, Rio!" titah Abbas tanpa menoleh kepada orang yang ja perintah.
"Siap, bos! Rio langsung meraih ponselnya, mencari toko bunga terdekat dengan tempatnya berada saat ini! melalui Internet."
"Angel's Flowers cari nama toko itu. Disana menjual berbagai jenis bunga dan buket yang indah!" ucap seseorang di belakang Rio.
"Ok ... Saya coba cari nama itu..." Rio langsung menghentikan gerakan tangan pada ponselnya. Lalu menoleh ke belakang segera ia berdiri saat melihat siapa orang yang berbicara tadi.
"Pak Darren! Maaf saya tidak tahu ke datangnya Anda!" ucap Rio juga membuat Abbas terkejut.
Abbas juga lekas berdiri menyambut kedatangan Darren.
Mata Darren sempat melirik ke arah laptop yang menyala. Meski gambarnya sedikit samar, tapi Darren melihat jelas foto yang di jadikan wallpaper pada layar laptop tersebut.
Darren membiarkanya, nanti jika ada kesempatan ia akan bertanya tentang gambar tersebut. Ia sedikit memutari sofa, berjalan mendekati Abbas dan Rio.
"Selamat pagi, Pak Darren Mubarok. Senang sekali bisa bertemu dengan orang sesibuk Anda!" sambut Abbas sambil mengulurkan tangannya ke arah Darren.
"Selamat pagi juga Pak Abbas, saya juga sangat senang bertemu dengan pengusaha muda yang sukses seperti Anda!" Darren menyambut uluran tangan. Kemudian mereka berjabatan tangan.
Bergantian dengan Rio yang paling akhir.
"Silakan duduk, Pak Darren." Abbas mempersilalan Darren untuk duduk di hadapannya.
"Terima kasih...," Darren pun segera duduk di hadapan Abbas. "Maaf sudah membuat Anda menunggu, Pak Abbas!" ucap Darren mengawali pembicaraan.
"Kami yang terlalu semangat datang ke sini." Abbas melihat jam di pergelangan tangannya. "Sesuai dengan ucapan Anda tadi malam, Anda datang tepat waktu, Pak Darren! Tepat jam 9 pagi, sesuai waktu yang telah di sepakati." Abbas mengulas senyum mengingat peringatan yang dilontarkan Darren kepada Rio semalam. Meskipun matanya terpejam tapi pendengaran nya masih mendengar mereka berbicara semalam.
Rio dengan cepat mengeluarkan semua berkas yang di minta Darren.
Ketiganya kini terlihat pembahasan yang menarik mengenai bisnis yang akan Abbas bangun di kota Surabaya itu.
Sangat menarik menurut Darren karena pengusaha muda seperti Abbas akan membuka lowongan pekerjaan untuk para pengangguran yang minim pendidikan. Jujur dan amanah itulah kunci dari lapangan pekerjanya.
***
Di kota lain, Anna berada di depan halaman rumah dengan gerbang besi berlapis kayu. Tempat yang dulu sering Anna kunjungi saat berada di Bogor. Rumah Bintang, tempat tinggal Abbas beserta Bu Lidia dna beberapa adik asuhnya.
Anna ragu untuk memencet bel di hadapannya. Gadis itu masih terdiam di sana. Hatinya masih belum siap untuk melepaskan Abbas. Dalam hati Anna masih sangat besar perasaannya untuk pria itu. Anna menarik napas berat, mengumpulkan keberanian untuk tetap berada pada keputusannya. Walaupun saat ini dialah yang harus menemui Abbas.
Anna terkejut saat pintu gerbang sedikit terbuka, seorang pria paruh baya keluar dari sana.
"E-eh... si Neng! Bapak kira siapa? Beda banget penampilannya, tambah cantik saja kalau berhijab begini! Alhamdulillah ya sekarang kita jadi saudara seiman," sapa Pak Dudung sopan, pria paruh baya itu pangling melihat penampilan baru Anna. Ia tahu Anna berbeda agama denganya. Ia juga sudah mengetahui Anna sudah berpindah keyakinan dari Abbas. Tapi belum sempat bertemu lagi dengan gadis itu. Karena Anna memang belum sempat berkunjung ke Rumah Bintang lagi.
"Terima kasih, Pak Dudung. Alhamdulillah...." balas Anna.
"Kok nggak langsung masuk saja, Neng?"
"Enggak, Pak! Anna cuman mau mampir, tapi tidak jadi lain kali saja. Ini barusan Anna ada urusan mendadak. Jadi, mau balik lagi!" elak Anna mengalihkan tujuannya.
"Lagian Bu Lidia sama Dengan Abbas jiga nggak ada di rumah, Neng! Anak-anak juga masih berada di sekolah, palingan cuma ada Bik warni dan Bik Surti saja di dalam!" Ucap Pak Dudung.
"Bang Abbas dan Bu Lidia, Kemana, Pak?" tanya Anna penasaran.
__ADS_1
"Loh, emang Neng Anna tidak tau?"
Anna menggelengkan kepalanya, makin penasaran kemana perginya Abbas. Hati Anna berdebar, ada ketakutan dalam hatinya. Takut Abbas menyusulnya ke Surabaya bersama Bu Lidia. Anna takut Abbas memenuhi janjinya untuk berbicara langsung dengan Papanya.
"Den Abbas ke Surabaya, kalau Bu Lidia sedang pergi ke rumah saudaranya yang ada di daerah Bekasi," tutur Pak Dudung.
"Den Abbas juga mendadak sekali perginya, Neng! kemarin sih bilang sama Bapak, Urusan jual beli sebidang tanah di daerah sana harus segera diselesaikan, soalnya sudah mendekati proses pembangunan."
Ada rasa lega Anna mendengar penuturan Pak Dudung, kalau Abbas datang ke Surabaya untuk urusan pekerjaan bukan untuk menemuinya. Tapi bukan tidak mungkin setelah urusan pekerjaan selesai, Abbas akan meminta untuk bertemu. Untuk membahas rencana yang sudah ia janjikan kepada Anna.
Tanpa banyak bicara, Anna pamit kepada Pak Dudung.
"Kalau begitu, Anna permisi pamit saja, ya Pak Dudung! Salamkan salam Anna kepada mereka."
"Buru-buru sekali, Neng! istirahat dulu, minum dulu gitu, di dalam," ajak Pak Dudung sopan.
"Terima kasih, Pak! Anna ada urusan lain kali deh ke sini lagi."
Anna menyudahi obrolannya dengan Pak Dudung. Anna memberhentikan mobil taksi yang kebetulan terlihat tak jauh dari sana.
"Anna pamit, Ya, Pak! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam," jawab Pak Dudung.
Setelah mobil taksi yang Anna naiki melaju, Pak Dudung kembali masuk ke dalam halaman Rumah Bintang.
Baru saja beberpa langkah, memasuki halaman rumah. Pak Dudung haria kembali membuka pintu gerbang. Kali ini Bu Lidia terlihat berada dalam mobil tersebut.
Ia di antarkan oleh salah seorang karyawan Abbas.
"Pak... buka pintunya!" titah Bu Lidia sopan tanpa turun dari mobilnya.
Segera di bukakan pintu gerbang berlapis kayu itu. Setelah mobil masuk, Pak Dudung kembali menutup gerbangnya. Lalu ia berjalan menghampiri Bu Lidia.
"Maaf, Bu! Barusan Neng Anna dari sini!ingin hanya selang berapa menit sebelum Ibu masuk ke sini!" Pak Dudung memberi tahu.
"Anna?"
"Ya, Neng Anna!" tegas Pak Dudung.
Bu Lidia mengerutkan alis, merasa ada sesuatu yang ganjal. "Bukankah Anna di Surabaya? Abbas kan sedang menyusul nya ke sana! kenapa dia malah di sini!" pikir Bu Lidia.
"Terimakasih, Pak Dudung! Maaf... Tolong sekalian bawa masuk barang- barang ke dalam, ya, Pak!" titah Bu Lidia dengan sopan, karena umur Pak Dudung lebih tua dari nya.
Jadi meskipun bekerja dengannya di Rumah Bintang ini, adab kesopanan masih tetap diberlakukan meskipun kepada pekerja di rumahnya.
Bu Lidia berjalan lebih dulu, ke dalam rumah. Ia ingin menelpon Abbas. Ingin memastikan kepada anaknya mengenai keberadaan Anna.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca kelanjutan ceritanya ya...