Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kayak Pinguin


__ADS_3

Anna sedikit meringis saat gerakannya terlalu banyak bergerak. Ia lupa kalau bagian bawah tubuhnya masih bengkak dan terasa linu. Gaya jalan Anna aja terlihat sedikit berbeda.


“Om... Tante...,!” teriak seseorang dari arah pintu.


Krekk....


Pintu depan terdengar terbuka.


“Woi... pengantin baru, mana nih. Gue datang kagak di sambut!” teriak Rayyan yang langsung mendapat jitakkan dari Mamanya.


“Masuk ke rumah orang tuh, ucapin salam bukan teriak gak jelas gitu!” Tegur Tante Melly pada anaknya.


Rayyan mengelus kepalanya yang terkena jitakkan.


“Maaf, Mah!”


“Kebiasaan, kelakuan kayak gitu berharap mendapatkan sahabat Anna, Mama sih gak yakin ya, kalau dia mau sama kamu!” celetuk Tante Melly.


“Orang itu do’ain yang terbaik buat anaknya, Mah.” Rayyan kembali membalas Tante Melly.


“Kamu ini selalu saja membantah mama. Ya Allah kalau bukan anak sendiri udah pengen ngutuk aja deh!” Tante Melly terlihat gemas dan kesal


Mendengar ada keramaian di ruang tengah. Mama Ami, Anna dan Abbas menuju ke sana.


“Mas Rayyan, “ pekik Anna saat melihat Rayyan yang langsung duduk rebahan di sofa ruang tamu.


Lekas Anna mendekati Om Anwar dan Tante melly untuk menyalami keduanya. Begitu juga dengan Abbas, Ia menghampiri Om Anwar yang masuk ke dalam rumah dengan menarik koper. Memberi salam kepada kakak dari mama mertuanya itu.


“Sini saya bantu, Om!” ucap Abbas.


“Terima kasih!” balas Om Anwar, koper itu pun beralih ke tangan Abbas.


“Tolong letakkan di kamar itu saja, Nak Abbas!” pinta Tante Melly seraya menunjuk satu kamar dekat tangga, Kamar yang biasa di tempati Tante Melly dan Om Anwar ketika mereka menginap di Surabaya.

__ADS_1


“Iya, Tante!” Abbas lekas menarik koper yang sudah beralih ke tangannya, membawanya ke dalam kamar yang Tante Melly tunjuk.


Anna berjalan cepat mendekati Rayyan. Satu cubitan telak Anna berikan untuk Rayyan..


“Aww ...,” pekik Rayyan kesakitan di bahunya, sebab Anna mencubit gemas lengan kakak sepupunya itu.


“Rasain, lagian anak durhakan kaya Mas tuh harusnya di pukul pake pentungan bukan cuman di cubit doang,” gerutu Anna. Ia merasa gemas dengan kakak sepupunya itu karena membiarkan Om Anwar membawa kopernya sendiri.


“Mas pusing banget, Dek! Tengah malam baru pulang kerja! Eh ... Mama sama papa malah langsung ngajak ke Surabaya. Gimana gak puyeng coba,” keluh Rayyan kemudian kembali merebahkan badannya.


Mama Ami berjalan pelan ber-iringan dengan suaminya. Mama Ami menggelengkan kepala melihat interaksi Anna dan Rayyan.


“Mereka memang seperti itu, kamu jangan kaget nantinya!” bisik Mama Ami kepada Abbas.


Abbas hanya tersenyum membalasnya.


Masih banyak yang belum Abbas ketahui dari Anna. Abbas pernah bertemu dengan Rayyan tapi belum sempat banyak mengobrol dengannya.


“Apa kabar, Mel, Mas!” Mama Ami menyapa keduanya tak lupa berpeluk singkat dengan Tante Melly dan menyalami Om Anwar karena dia adalah satu-satunya kakak kandungnya.


Mama Ami merasa lega mendengarnya. Ia beralih menatap Rayyan yang terlihat sangat mengantuk. “Kamu lebih baik istirahat dulu di atas, Rayyan. Dari pada nantinya makin pusing,” ucap Mama Ami yang langsung di raih tangannya oleh Rayyan, tak lupa di ciumnya dengan takzim tangan tersebut.


“Memang anak dan mama sangat berbeda, Anaknya menyambut dengan cubitan. Mana sakit, perih lagi. Beda dengan Tante Ami, malah nyuruh aku yang langsung istirahat, emang Tante kesayangan banget!” Rayyan langsung berdiri dan mencium pipi Mama Ami sekilas kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Anna.


“Dih, emang ***** aja kamunya, Mas!” sahut Anna sambil mengerucutkan bibirnya. Anna segera berjalan melewati Rayyan yang hendak ke lantai dua untuk beristirahat.


Anna hendak membuatkan minuman untuk tamunya yang baru datang. Sempat berpapasan dengan Abbas.


“Abang mau dibuatkan minuman apa?” tanya Anna pelan kepada Abbas yang msih terdengar oleh Rayyan yang baru saja beberapa langkah menaiki anak tangga.


Sepupu nya itu menghentikan langakhnya, niatnya sih hendak meminta sekalian dibuatkan minuman hangat.


“Kopi susu, ada?” pinta Abbas.

__ADS_1


Anna diam sesaat untuk berpikir. “Ada nggak ya kopinya?” gumam Anna.


“Kalau gak ada, apa saja yang ada deh,” ucap Abbas mengerti kebingungan Anna.


“Beneran ya, apa saja?”


Abbas mengangguk pelan.


“Di sini biasanya sih adanya kopi jahe, Bang! Papa biasa minum kopi yang sudah ada campuran jahenya, jadi kopi hitam biasa kayaknya kosong.”


“Kopi jahe juga boleh.”


“Aku susu jahe aja, Dek! Sekalian kamu buat!” teriak Rayyan sambil mentap ke arah Anna.


Anna menatap Rayyan dengan tatapan sebal.


“Malas buat saja, sendiri!,” balas Anna yang langsung membalikkan badannya berjalan ke arah dapur.


Abbas lagi-lagi hanya bisatersenyum melihat keduanya.


Rayyan melihat ada yang berbeda dari cara berjalan Anna.


Senyum jahil terukir di wajah tampannya.


“Kalau udah jadi, panggil aja, Dek! Mas kasian lihat kamu jalan. Kayaknya bobol gawangnya mantep banget. Sampai tuh jalan kaya penguin!” Rayyan kembali teriak ke arah Anna dengan tawa rneyahnh


Anna membulatkan bola matanya, saat mendengar ucapan Rayyan, ia segera berbalik.


“Tante ..., Mas Rayan mulutnya gak bisa di filter itu loh! Biarin gak Anna buatkan susu jahenya, bikin aja sendiri,” balas Anna sedikit berteriak seraya menggertakan kakinya merasa kesal dan malu dengan perkataan Rayyan yang begitu kencang.


.


.

__ADS_1


Baca kelanjutan ceritanya.


Rayyan memang gak pernah di filter kalau ngomong, gitu sih biasanya kalau buaya darat. 🤣🤣🤣 modelan begini pengen dapet jodoh kayak Maira?????


__ADS_2