Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kecemasan Anna


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Selama itu pulan Anna dan Abbas menahan rasa rindu.


Setiap harinya Abbas tidak pernah lupa bertukar kabar dengan Anna. Untuk mengisi kekosongan waktu, Anna pergi ke toko bunga milik Mama Ami.


Belajar merangkai bunga dari kedua karyawan yang berjaga di sana menjadi kegiatan yang menyenangkan buat Anna.


Sedangkan Mama Ami lebih sering berada di rumah menemani Papa Reno yang kondisinya semakin membaik.


Anna mendapat kabar dari Darren bahwa semua berkas penyerahan pengembalian barang-barang milik Papa Reno selesai. Pria itu meminta Anna hadir untuk menerima semuanya, mewakili Papa Reno yang masih belum bisa banyak beraktivitas.


Tak mau mengulur waktu begitu mendekati waktu yang dijanjikan Darren, Anna lekas pergi ke kantor penyelidik. Ternyata Darren sudah berada di sana sedang menunggunya.


“Maaf buat Mas Darren menunggu!”


“Tidak, aku juga baru sampai. Mari masuk kita sudah ditunggu di dalam.”


Anna dan Darren pun masuk ke dalam ruangan.


Anna dihadapkan oleh dua orang penyelidik dan satu orang saksi yang akan menyaksikan pengembalian barang hal milik Papa Reno.


“Apa Pa Darren sudah menjelaskan prosedurnya, nyonya?” tanya orang yang duduk di hadapan Anna.


“sudah, Pak!”


“Kalau begitu kita tinggal penyerahan saja. Untuk proses persidangan masih terus berlanjut. Sebab, Pak Darren balik melaporkan pencemaran nama baik kepada penggugat. Dan menuntut pengembalian uang penebusan yang sudah di keluarkan pihak tergugat untuk mengganti rugi. Dan memberi beberapa bukti keterlibatan seseorang dalam penyalahgunaan dana pembangunan itu,” ucap bapak penyelidik memberi penjelasan.


Anna menoleh ke arah Darren tidak mengerti apa maksud dari ucapan yang ia dengar. Anna hanya mengetahui panggilannya ke kantor ini untuk pengembalian berkas saja bukan untuk menuntut balik.

__ADS_1


“Nanti aku jelaskan!” ucap Daren pelan dan mendapat anggukan dari Anna.


Usai menerima kembali semua surat-surat kepemilikan harta benda. Anna dan Darren berbicara sebentar di kafe tak jauh dari gedung penyelidik.


Darren menjelaskan jika Abi bagas akan menggugat balik orang yang telah melaporkan kasus ini.


“Tapi apa tidak masalah nantinya, Mas? Aku tidak mau keadaan Papa memburuk karena ini. Kami sudah ikhlas menerima kerugian dan Papa tidak bekerja lagi di perusahaan Abi,” balas Anna setelah mendengar penjelasan dari Darren.


“Abi akan membicarakan dengan Om Reno, An! Ini tidak adil untuk kalian. Mereka masih enak berkeliaran dan terus bermain curang. Dengan adanya kasus ini, Abi jadi bisa mengumpulkan banyak bukti untuk menyeret mereka yang memang sudah lama menjadi duri dalam perusahaan,” Ungkap Bara.


Anna mendengarkan dengan baik rencana Dareen dan Abi Bagas. Jika memang bukti sudah cukup kuat. Anna hanya bisa ikut mendukung. Tetapi hal yang sangat ia minta kepada Dareen adalah kesehatan Papanya. Anna tidak mau masalah ini membuat kondisi kesehatan Papa Reno kembali terusik.


“Abi sudah menyiapkan semuanya. Kamu tidak perlu khawatir.” Darren meyakinkan.


Anna pun berharap semuanya selesai dengan jelas. Ia hanya meminta nama Papa Reno kembali dibersihkan dari tuduhan korupsi dana pembangunan.


“Terima kasih untuk semuanya, Mas!” Anna menangkupkan kedua tangan di depan dada.


“Sama-sama, kita keluarga. Jangan sungkan jika kalian butuh bantuan. Aku sudah menganggap kamu seperti adik sendiri, An?”


Anna tersenyum senang mendengarnya.


Mereka pun berpisah. Anna pulang dengan perasaan lega. Sesampainya di rumah, Mama Ami dan Papa Reno mengucap syukur atas semua ini.


Akhirnya semua permasalahan pun telah selesai. Hanya saja Mama Ami menyayangkan nama baik Papa Reno yang rusak akibat masalah ini. Tetapi Papa Reno meyakinkan istrinya agar tidak mempermasalahkan itu, biarkan waktu yang akan menghapus itu semua


Anna tidak memberi tahu Papa Reno soal rencana Abi baskara. Takut salah berucap, Anna memilih diam dan menunggu Abi bagas yang akan berbicara dengan Papanya.

__ADS_1


Anna kembali ke kamar, sudah tidak sabar rasanya ingin memberi tahu suaminya.


Beberapa kali sambungan teleponnya tak diangkat oleh Abbas. Anna merasa cemas tak biasanya ia seperti ini. Anna mencoba menghubungi Rio, asistennya itu pasti tahu ke mana Abbas.


“Pak Abbas sekarang tidak bersama saya, Bu! Tadi siang ketika mendapat telepon ia hanya bilangnya mau ke rumah sakit. Dan sampai saat ini belum kembali ke kantor!” ujar Rio.


Anna mengerutkan Alis mendengarnya. Tadi siang suaminya itu sama sekali tidak bicara apapun padanya.


‘Siapa yang ada di rumah sakit apa Bu Lidia?’


Pikir Anna. Lekas ia menelepon nomor Bu Lidia, alangkah terkejutnya saat Bu Lidia mengabarkan dirinya baik-baik saja. Semua anak asuh juga sehat, lalu siapa yang ada di rumah sakit. Pikiran Anna langsung tertuju kepada wanita yang pernah Abbas ceritakan kepadanya.


Riska, seorang gadis buta yang menjadi tanggung jawab Abbas. Bukankah gadis itu sudah mendapatkan donor mata untuk operasi. Kenapa Abbas tidak menghubunginya. Sebenarnya apa yang terjadi.


Anna semakin cemas. Ia menghela napas panjang, tidak mau berpikir negatif kepada suaminya. Anna yakin Abbas bisa menjaga diri untuk tidak berbuat lebih dan tidak akan pernah menyakiti nya.


‘Bagaimana kalau operasi itu gagal. Abang berjanji akan bertanggung jawab kalau sampai itu terjadi. Apa Abang akan menuruti permintaan Ayah Riska yang meminta Abbas untuk menikahi wanita itu.’


Astagfirullahhaladzim dari pada berpikir yang tidak-tidak. Anna memilih untuk membersihkan diri. Bersiap untuk salat berjamaah dengan Bi Imah saja, sebab Pak joko sedang tidak ada di rumah.


.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2