Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Om mahmud


__ADS_3

"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang, An! mungkin ini terlalu cepat bagimu. Aku yakin tanpa harus mengungkapkannya kamu tau perasaanku yang sebenarnya kepadamu." Abbas melirik ke arah parkiran mobil, merasa tak enak hati harus membuat mereka menunggu.


Anna terlihat bingung harus membalas apa. Hanya sesekali merapihkan hijabnya yang tertutup angin.


"Tak perlu menjawabnya sekarang, yang penting bagiku, perasaan yang aku miliki untukmu berbalas dengan perasaan yang sama! ini ada titipan dari Ibu. Beliau sangat senang mendengar berita tentangmu. Anak-anak juga nitip salam sama Kamu, Ibu dan mereka menunggumu berkunjung ke Rumah Bintang." Abbas menyerahkan Paper bag titipan dari Bu Lidia seraya tersenyum hangat dengan sorotan mata yang terlihat berbeda dari biasanya.


Anna menerima paper bag itu, kedua netra mereka bertemu. Pancaran bahagia dan cinta tergambar di sana, senyum manis terukir di bibir keduanya. seakan mata dan senyum itu telah mewakili perasaan mereka. Anna pamit untuk pulang.


"Sampaikan terima kasih Anna sama Ibu, Bang!" ucap Anna pelan.


"Ya, Aku pasti sampaikan. Mari ku antar ke mobil! sekalian aku juga mau pamit sama mereka."


Anna mengangguk dan melangkah lebih dulu ke arah parkiran di mana Mama Ami, dan keluarga Om Anwar sudah menunggunya di dalam mobil.


Om Anwar memperhatikan Anna dan Abbas yang berjalan ke arahnya. Terlihat dari jauh wajah Anna yang terpancar kebahagiaan bersama pria yang jalan bersamanya, begitu juga dengan Abbas. Seakan mereka baru bertemu setelah sekian lama tak berjumpa. Begitulah perasaan kedua insan yang sedang tumbuh dalam perasaan cintanya.


"Saya kagum sama Abbas. Masih muda sudah sukses dengan kerja kerasnya sendiri. Jasa pengirimannya juga bekerja sama dengan kantor kita. Benarkan Ray?" ucap Om Anwar lalu menoleh ke arah Rayyan di bangku kemudi, Rayyan hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Papihnya itu.


"Ya, harusnya yang seperti itu patut di contoh olehmu, Rayyan Al khafi! bukan bermain wanita yang kamu bisa. Kamu tidak berpikir adik dan Mamihmu adalah seorang wanita! bagaimana jika kami berdua di permainkan seperti itu oleh laki-laki, Ray? Ck ... Mamih tidak habis pikir kelakuan mu itu makin menjadi-jadi saja," sambung Tante Melly dengan nada marah.


Mama Ami yang duduk di samping Tante Melly mengingatkannya agar menjaga emosinya.


"Sabar, Mel! kendalikan dirimu. ingat nanti darah tinggi lagi," Mama Ami terus mengelus tangan Tante Melly memberi ketenangan agar menahan emosinya.


"Aku tak tahu lagi harus bilang apa sama anak sontoloyo ini! pusing deh! harusnya di usianya saat ini, dia sudah menikah. Ini masih aja main-main. Pakai ilmu yang kamu dapat di pesantren, Ray! percuma jadinya kalau kelakuanmu sepeti itu, Ray? ih ...." Tante Melly masih terbawa emosi kepada Rayyan, dicubitnya tangan atas sebelah kiri dengan cubitan memutar meninggalkan rasa sakit dan nyeri di tangan Rayyan.


"Adududu ... Mih, ampun! sakit, Mih? Rayyan minta maaf, enggak lagi-lagi deh. Beneran, sumpah," ucap Rayyan seraya mengangkat tangan lalu menunjukkan jari tengah dan telunjuknya sebagai kode perdamaian laku mengelus tangan yang terlepas dari cubitan Mamihnya.


"Sudah, sudah! Rayyan, Kamu sudah besar loh. Sudah harus berpikir mempersiapkan diri untuk menjadi seorang imam dalam rumah tangga. Ingat orang baik pasti akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Apa Kamu mau mendapatkan calon Istri yang berprilaku kurang baik untuk anak-anakmu kelak!" Mama Ami memberikan sedikit nasihat kepada Rayyan.


Rayyan mengedikkan bahu mendengarnya.


"Jangan dong, Tan! doain Rayyan mendapat jodoh yang baik juga," ucap Rayyan seraya mengelus kembali tangan yang terasa nyeri akibat cubitan kecil dari Mamih itu.


"Duh, perih juga cubitan Mamih, kalau udah gemes atau kesal gini nih! suka menganiaya," Rayyan berucap pelan tapi perkataannya bisa terdengar oleh Mamihnya.


Tante Melly hendak mencubit kembali Rayyan tapi anak lelakinya itu sudah lebih cepat menghindar.


"He ... enggak kena, piss mih! sudah cukup ya, ampun deh, beneran."


"Sudah, Mih! jangan terlalu dipikirkan kelakuan anakmu ini! biar Papih yang turun tangan mendidiknya." Om Anwar mengeluarkan suaranya. sedari tadi ia hanya terdiam melihat perdebatan antara ibu dan anak ini.

__ADS_1


Risma anak perempuan mereka memilih diam dan cuek. sesekali ia hanya memberi ejekan kepada Rayyan.


Perbedaan sifat dan sikap yang bertolak belakang antara Rayyan Dan Risma.


Jika Rayyan menuruni sikap dari Mamihnya, karena itu mereka selalu berdebat dan tak ada yang mau mengalah. Sedangkan Risma lebih dominan mengikuti sifat Om Anwar diam, cuek tapi tegas dan cepat saat bertindak.


"Permisi Om, Tante," sapa Abbas kepada mereka yang berada di dalam mobil.


"Mohon maaf Saya membuat kalian menunggu lama." Abbas menangkupkan kedua tangan di depan dada, melihat ke arah Om Awar yang duduk di depan kursi penumpang serta Mama Ami dan Tante Melly di kursi tengah mobil mewah bermerk Alphard putih itu.


"Tak apa, Nak! Oh, ya mampirlah kerumah kami nanti malam. Akan ada syukuran di sana!"ucap Tante Melly kepada Abbas.


"InsyaAllah, Tan," Jawab Abbas sopan.


Anna pun ikut berpamitan kepada Abbas.


"Sekali lagi, terima kasih ya, Bang. Anna pamit pulang dulu." Anna membungkukkan sedikit badannya dengan kedua tangan tangan yang memegang paper bag pemberian Abbas.


Abbas membantu membuka pintu mobil. Tante Melly harus turun dulu agar mempermudah melipat kursi tengah.


Anna terlihat kesulitan melipat kursi tersebut. Abbas kembali membantunya, kemudian Anna masuk ke dalam mobil agar bisa duduk di kursi belakang.


"Terima kasih, Nak Abbas!" ucap Tante Melly. Lalu Abbas menutup pelan pintu mobil tersebut.


"Sama-sama, Tante Mel," balas Abbas.


"Hati-hati di jalan, Tante sampai berjumpa lagi?" ucap Abbas mengarah kepada Mama Ami.


"Terima kasih, Nak! semoga kita diberikan umur panjang untuk itu," balas Mama Ami mengangguk dan berdoa menurut keyakinannya.


Mobil putih itu pergi meninggalkan area parkir di Masjid Al barokah siang itu. Abbas terdiam di sana hingga mobil itu tak lagi terlihat kemudian dia melangkah menuju kendaraan miliknya yang terparkir tak jauh dari Anna.


Anna sempat meminta maaf kepada Abbas karena tak bisa memakai pakaian pemberiannya waktu itu. Dia pun tak mempermasalahkannya. Kapanpun pakaian itu bisa dipakai oleh Anna nanti.


Abbas pun meninggalkan halaman Masjid untuk melanjutkan pekerjaan yang sengaja di tundanya.


Di sudut meja terlihat seorang pria muda dan dua pria setengah baya yang sudah satu jam menunggu kedatangan Abbas.


Setibanya di restoran yang ditujunya di daerah Kemang, Jakarta. Abbas melihat pamannya, Kakak dari Almarhum ibunya berada di sana bersama seorang pria yang usianya sama dengan usia Almarhum ayahnya.


Abbas langsung menuju ke arah mereka, kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan kedua pria paruh baya itu.

__ADS_1


Rio adalah asisten Abbas yang bekerja menggantikan posisi Abbas dan membantu pekerjaan Abbas mengenai usaha jasa pengiriman miliknya. Jika di perusahaan dirinya bersikap layaknya atasan dan bawahan. Namun saat di luar pekerjaan ya mereka bersikap layaknya sahabat.


"Apa kabar kamu, Bas?" sapa Om Mahmud saat mengulurkan tangannya kepada Abbas. Dan di sambut oleh Abbas lalu di ciumnya tangan itu dengan takzim.


"Kabar baik, Om!"


"Ada apa ya, Om? mendadak ingin bertemu dengan Saya?" tanya Abbas penasaran. Lagi-lagi ia harus menunda mengecek pekerjaan di kantor cabang Jakarta. Karena Om Mahmud ingin segera bertemu, ada berita penting yang harus di sampaikan olehnya perihal amanah kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal karena kecelakaan dua puluh tahun lalu.


Abbas mengernyitkan alis mendengar ucapan Om Mahmud. Tak mengerti arah pembicaraan yang akan diucapkannya.


"Beliau adalah Pak Mardi, orang tua dari Riska. Gadis yang di tabrak Almarhum ayahmu beberapa bulan sebelum kecelakaan terjadi kepada kedua orang tuamu. Kecelakaan itu membuat Riska tak bisa melihat selama dua puluh tahun ini." Om Mahmud menjeda ucapannya. kemudian kembali lagi berkata,. "Saat itu siang hari sebelum kalian mengalami kecelakaan. Om, Pak Mardi serta ayah ibumu membuat kesepakatan bersama di depan Riska yang saat itu mengalami kondisi koma karena kecelakaan yang menimpanya.


Abbas diam tak bersuara. Dia dengan serius mendengarkan Om Mahmud berbicara. Suasana di sana semakin menegang.


.


.


.


.


.


Setegang Aku yang bingung mau melanjutkan apa ya pada kisah mereka...


ikuti kisah selanjutnya ya ...


Jangan lupa biar teteh tambah semangat baut up bab baru.. kasih like 👍 komen✍️


tab love❤️


kirim 🌷🌷 atau ☕☕☕ biar teteh Author semangat ....


salam hangat dari Teteh Mayya_zha


ehhhhh...


ada rekomendasi karya lagi ni yang teteh bawa. dari Ka Erma_roviko.


__ADS_1


__ADS_2