Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Meminta Restu Mama Ami


__ADS_3

Jarak antara tempat meeting nya saat ini dengan Bandara Soekarno-Hatta begitu dekat, hingga Abbas hanya memerlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk tiba di Bandara tersebut.


Setibanya di bandara tersebut. Abbas lekas turun dari mobil. Pria yang tengah di kejar waktu itu meminta security yang berada di sana untuk memarkirkan mobilnya. Dengan setengah berlari Ia menuju ruang tunggu di mana para penumpang pesawat selesai melakukan boarding pass.


"Aku harap bisa bertemu denganmu sebelum kamu pergi, An!" gumam Abbas.


Pria yang masih gagah dengan jas kerja itu terus mencari keberadaan Anna sambil menghubungi gadis itu. Pandangannya ia edarkan ke setiap sudut bandara. Berharap Anna masih ada di sana.


Situasi di bandara sore ini cukup ramai dikarenakan esok hari merupakan hari libur di akhir bulan. Banyak para penumpang pesawat yang akan berlibur.


Abbas melihat di layar pengumuman yang memberitakan keberangkatan rute Surabaya harus delay selama tiga puluh menit karena suatu alasan pihak penerbangan. pria tampan itu bersyukur ia masih mempunyai waktu untuk mencari Anna.


"Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif mohon tunggu beberapa saat lagi." Hanya suara operator yang dari tadi menjawab panggilannya.


"Ya Allah ... di mana kamu, An! ponselnya sudah tidak aktif!" keluh Abbas, tapi ia tidak menyerah hanya karena Anna sulit dihubungi. Pria tampan itu dengan ha


...***...


"Bagaimana dengan Abbas, Nak? apa kamu sudah memberikan jawaban atas niatnya kepadamu?" tanya Mama Ami setelah ia baru saja menghabiskan makananan yang ada di piringnya.


Beberapa saat lalu setelah mendapat pengumuman bahwa pesawatnya harus delay selama setengah jam.


Anna, Mama Ami, serta Tante Melly memanfaatkan waktu itu untuk mencari makan di kantin bandara.


Anna mengeleng pelan. "Aku belum memberikan jawaban, Ma! pikiranku saat ini hanya tertuju sama Papa, bagimana kondisinya?" Anna menghentikan gerakan makannya. Di letakkan sendok dan garpu yang ia pegang, dari tadi makanan yang ada di hadapannya itu hanya di aduk saja. Terhitung hanya beberapa suap ia makan.


Tatapan gadis itu menerawang jauh, berbagai pikiran kini ada di benaknya saat ini.


Anna terdiam sesaat. Hatinya berkecambuk, berbagai perasaan kini menguasai hati, niatnya ingin membuat bangga kedua orang tuanya akan prestasi yang sudah di dapat setelah beberapa bulan berjuang untuk mendapatkannya. Sampai Anna rela tidak bertemu dengan Mama dan Papanya karena tugas kuliah akhirnya.


Perasaan itu kini berganti dengan rasa bersalah yang membebani dirinya.


Ternyata papa tersayangnya selama ini mengalami masalah yang ia tidak tahu sama sekali. Anna berpikir ia terlalu egois karena mengira mereka baik baik saja selama ini. Kedua orang tuanya itu begitu pintar menutupi semuanya sampai akhirnya Anna merasakan ada yang mengganjal akhir-akhir ini dari orang tuanya.


Di sisi lain, Abbas juga menjadi salah satu yang menghinggapi pikirannya saat ini. Keinginannya dulu adalah ingin menjalani masa pacaran setelah menikah.


Selama ini kedekatan Anna dan Abbas tanpa ada status. Tetapi mereka memahami perasaan masing-masing. Keinginan mereka pun sama, pacaran setelah menikah.


Mama Ami menumpu jemarinya diatas lengan Anna, membuyarkan lamunan putri cantiknya itu.

__ADS_1


"An," panggil Mama Ami lirih.


Anna menoleh ke arah Mama Ami dengan wajah sedihnya.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Kita pasti kuat, An. Kamu adalah satu-satunya alasan kami menutupi masalah ini. Mama sama Papa tahu lambat laun kamu pasti tau, tapi setidaknya Mama bersyukur. Kamu tahu masalah ini setelah lulus kuliah, jadi tidak menggangu konsentrasi kamu dalam belajar. Dan buktinya sekarang kamu bisa membuktikan kalau kamu memang kebanggaan Mama dan Papa!" tutur Mama Ami, sontak membuat gadis berhijab pashmina berwarna nude itu meneteakan air matanya perlahan.


"E-eh ... ponakan Tante kenapa nangis? sudahlah, yang sudah terjadi jadikan pelajaran. Kamu adalah semangat orang tuamu, An! Kamu harus kuat jangan tunjukan kesedihan mu di hadapan Papa Reno. Tunjukan kebahagiaanmu di depannya. Semoga dengan hadirnya dirimu di sana, membuat Papamu semangat lagi." Tante Melly mengusap air mata yang melewati pipi putih Anna.


"Iya, Tan. Aku harus kuat demi Mama dan Papa. Aku yakin kalau Papa tidak bersalah. Dan Aku yakin Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuannya. Papa, Mama, dan Aku pasi bisa melewati ini semua," ucap Anna yakin pada Tuhannya saat ini, lalu beralih menatap Mama Ami.


Mama Ami tersenyum seraya mengangguk pelan, tangannya terulur menepuk pelan dan lembut pipi Anna.


"Kita akan berjuang bersama, Sayang. Harta tidak ada artinya buat Mama dan Papa tapi kebahagiaanmu sangatlah berharga buat kami, Nak! perihal Abbas, Mama akan merestui kalian, Mama lihat dia pria baik dan bertanggung jawab dan pasti bisa membimbing kamu jadi muslimah yang taat" ucap Mama Ami lembut dan menenangkan.


"Alhamdulillah... jadikan itu pemacu untuk dirimu, An!" Tante Melly menyemangati.


Mama Ami mengangguk lalu tersenyum ke arah Anna.


Pemberitahuan dari pengeras suara yang menyuarakan penerbangan dengan rute Jakarta-Surabaya akan segera lepas landas. Para penumpang pesawat di harapkan berada di luar pintu masuk pesawat sekitar sepuluh menit sebelum keberangkatan.


Mereka bertiga bergegas menuju pintu keberangkatan.


Anna berjalan sendiri di belakangnya. Baru saja ia mau merogoh ponsel di dalam tasnya karena teringat dengan sahabat nya Maira. Ia lupa belum mengabari sahabatnya itu, tentang dirinya saat ini.


"Anna ..." panggil seseorang.


Pria itu berlari saat melihat sosok gadis yang ia cari telah ia temukan. lekas ia berjalan cepat mendekatinya.


Suara itu sangat ia kenali. Anna lantas menghentikan langkahnya dengan cepat ia menoleh dan memutar tubuhnya menghadap Abbas.


"Abang ..." ucap Anna pelan.


Dirinya diam mematung. Ia tak menyangka pria yang menjadi salah satu hal yang ia pikirkan itu, kini ada di hadapannya.


Mama Ami dan Tante Melly pun ikut menghentikan langkahnya. Beberapa penumpang yang satu penerbangan dengannya melewati mereka. Tinggal satu tahapan lagi yaitu boarding gate untuk menuju pesawat yang akan di tumpangi.


Sebelum menemui Anna yang berada di dalam pembatas yang memisahkan para penumpang yang akan memasuki pintu penerbangan, Abbas harus meminta ijin petugas yang berjaga di sana.


Setelah mendapat ijin, Abbas berjalan pelan dengan mengatur napas perlahan sehabis berlari. Abbas mendekati Anna, begitu pula dangan Anna, tanpa sadar ia ikut melangkah medekati Abbas.

__ADS_1


Saat berhadapan Abbas menatap Anna lekat ia lemaparkan senyum kepada gadis di hadapannya itu. Anna menunduk malu karenanya.


"Syukurlah, Abang masih bisa bertemu kamu, dek!" panggilan baru untuk Anna membuat gadis itu mendongak menatap kembali Abbas.


Panggilan sayang untuk Anna dari abang berdarah Aceh.


"Maaf, Abang baru baca pesan darimu!kebetulan Abang meeting tak jauh dari sini, jadi langsung kemari."


"Nak Abbas," sapa Mama Ami yang datang mendekat ke arahnya.


Abbas lekas menyalami Mama Ami dan menangkupkan tangan di depan dada memberi salam untuk Tante Melly.


"Maaf! menganggu perjalanan kalian." Abbas membungkukan badannya.


"Tidak apa, ada apa Nak Abbas sampai menyusul kemari?" tanya Mama Ami. Ia ingin mengetahui niat Abbas samapi sejauh ini menemui Anna.


Abbas menatap Anna, Anna yang tidak tahu maksud dari Abbas lalu menundukkan kepalanya.


Pria tampan itu tersenyum kecil melihatnya. Ia memberanikan diri mengutarakan niat hatinya kepada mamanya Anna.


"Saya meminta restu untuk mendekati putri Tante, dengan niat saya ingin mengkhitbah nya terlebih dulu." ungkap Abbas membuat Anna membulatkan matanya terkejut. Ia gadis itu terkejut untuk kedua kalinya karena Abbas berani mengutarakan niatnya langsung di hadapan sang Mama.


.


.


.


.


.


**Ngebet banget Bang.... sabar Woi. takut Akan di curi start Sam orang ya. 😅😅💪


Semoga niatan nya berjalan mulus ya...


semangat Babang Abbas. 😍😍😍


Baca juga karya dari teman Author ya. seru loh kisahnya. gak nyesel deh**.

__ADS_1



__ADS_2