Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kehamilan Maira


__ADS_3

...Apa kabar kalian di sini. Maafkan jika karya ini tertidur begitu lama. author hanya mau memberikan boncabe dua bab saja untuk menyelesaikan cerita di judul ini. Selebihnya insyaAllah akan dibuatkan kuil cerita untuk kalian dan Maira tapi beda judul ya....


...selamat membaca....


...🌱🌱🌱🌱...


Tidak terasa dua tahun sudah biduk rumah tangga Rayyan dan Maira berjalan. keharmonisan tidak pernah luntur dalam kehidupan rumah tangga mereka. Meskipun belum ada kehadiran sang buah hati diantara keduanya.


Sikap Rayyan yang humoris dan senang bercanda membuat kebahagiaan tersendiri buat Maira.


Ingin selamanya bahagia seperti ini. Namun, setiap rumah tangga pasti ada ujiannya.


Tiga bulan terakhir, Maira mencoba menggeluti kegiatan barunya. Ia mencoba merancang busana hijab. Senang bermain gambar rancangan di atas kertas putih. Rayyan sangat mendukung penuh kegiatan baru istrinya itu.


Saat sedang asik menggambar, terdengar nada dering dari ponsel miliknya.


Maira lekas menghentikan kegiatannya. "Mama," gumam Maira saat melihat siapa yang meneleponnya. Ia pun segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum," sapa Maira pada mama mertuanya di sebrang telepon.


"Waalaikumussalam, Sayang. Kamu ada di rumah 'kan?" Tante Melly langsung bertanya.


"Ada, Mah," jawab Maira.


"Mama sedang menuju ke sana. Mungkin sebentar lagi sampai"


"Benarkah? ya sudah kalau begitu, mama hati-hati ya," seru Maira.


"Iya, Sayang!"


Tidak sampai satu jam berlalu. Tante Melly sampai di rumah Maira. Maira yang sudah mendapat kabar kalau mertuanya akan datang sibuk menyiapkan makanan kesukaan ibu mertuanya itu.


Brownis cokelat buatan Maira menjadi makanan kesukaan Tante Melly.


"Sayang sedang apa di dapur?" tegur Tante Melly.


Mertuanya itu langsung masuk ke dalam rumah Maira saat mencium aroma kue yang menguar kuat di ruangan itu.


"Eh, mama, maaf. Aku tidak tahu kalau mama sudah sampai." Maira sedikit terkejut dengan kedatangan Tante Melly ke dapur. Maira langsung melepas celemek yang ia kenakan. "Kebetulan sekali. Mama sampai ke sini browniesnya juga matang,".


"Kamu tahu betul kesukaan Mama. Jadi makin sayang sama mantuku ini." Tante Melly mengulurkan tangannya dan memeluk Maira.


Keduanya berpeluk hangat sesaat kemudian Maira mengajak Ibu mertuanya itu ke ruangan keluarga.


"Mama datang sendiri? Tidak diantar papa?" Tanya Maira.


"Papa Anwar sedang ada urusan ke luar kota. Mama datang ke sini diantar sopir, kok! Mana mana boleh Mama bawa mobil sendiri. Ah ... Bisa nyap-nyap sekali papa mertuamu kalau tahu itu."


"Mama tunggu sebentar ya! Maira mau ambil brownies yang tadi dibuat. Sekalian mau buat minuman hangat buat mama."


"Terima kasih, Sayang! mama jadi merepotkan mu."

__ADS_1


"sama sekali tidak mah aku malah senang malah berkunjung ke sini!" Maira tersenyum manis kemudian melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Selagi Maira ke dapur. Tante Melly mengeluarkan beberapa botol jamu yang sengaja ia bawa dari rumah dari dalam paper bag yang ia bawa.


"Semoga dengan minum jamu ini lahiran bisa cepat hamil. Aku sungguh tidak sabar ingin menggendong cucu," gumam tante meli sambil memegang erat satu botol di tangannya. Wanita itu sungguh berharap Maira bisa memberikan keturunan untuknya.


Maira mengerutkan alis saat melihat beberapa botol berjajar di atas meja ia meletakkan kue yang ada di atas piring dan 2 gelas minuman hangat untuk dirinya dan ibu mertuanya.


"Ini apa, Mah?" tanya Maira. tangannya mengulur untuk meraih satu botol jamu tersebut perlahan Naira membaca label yang ada di botol itu.


Hati Maira terenyuh saat membacanya ia merasa sedih karena sampai saat ini Maira belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga suaminya. Maira menundukkan kepalanya ia tahu Tante Melly begitu berharap pada dirinya.


Tante Melly melihat perubahan sikap Maira setelah membaca label yang ada di botol itu.


"Mai, kenapa? Ko sedih?" Tanya Tante Melly.


Naira sedikit mendongak menatap Ibu mertuanya. "Maafkan Maira, Mah. sampai saat ini belum bisa memberikan keturunan Untuk Mama dan Mas Rayya. Maira merasa belum menjadi seorang istri yang sempurna," ucap Maira sedih.


"Maafkan mama, Sayang. bukan maksud Mama mau membuat kamu sedih dengan membawa jamu-jamuan ini. Kita hanya berusaha, semua yang menentukan adalah Sang Pencipta. maaf jika mama terlalu mendesak kamu tapi mama sungguh berharap kamu bisa hamil." Tante Melly meraih tangan Maira dan mengusapnya pelan Maira mengerti situasinya. Dia juga sadar diri akan kekurangannya.


"Aku dan Mas Rayan selalu berdoa dan berusaha doakan kami, Mah."


Tante Melly kembali memeluk Maira.


"Sudah sudah jangan kebanyakan bersedih kamu itu harus banyak-banyak senang dan berpikir positif. Ok." Tante Melly memberi semangat pada Maira.


"Iya, Mah. Terima kasih sudah memberi perhatian penuh padaku selama ini."


"Wah ... wah ... Ada apa nih saling berpelukan seperti itu? Eumm ... Aku jadi curiga?" Tanya Rayyan.


"Capek, ya?" ucap Maira sambil meraih tas kerja dari tangan Rayyan dan melepaskan jas kerja yang dipakai suaminya itu.


"Meskipun cape, tapi terbayarkan saat sampai rumah melihat wajah cantik istriku ini." Rayyan mencium kening Maira tanpa peduli ada mamanya yang sedang memperhatikan mereka.


"Ekhmm... masih ada Mama loh awas kalau kalian kebablasan," tegur Tante Melly.


Rayyan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Hehehe ... Maaf, Mah. Biasa cuma berdua jadi berasa tidak ada orang di sini."


Tante Melly berdecak mendengar ucapan Rayyan.


"Ah, itu memang sudah jadi kebiasaan kamu. Perasaan tidak di rumahmu saja. Di rumah mama saja sikapmu seperti itu!" sindir Tante Melly.


Akhirnya Rayyan, Tante Melly dan Maira duduk bersama di ruang keluarga. Mereka sedikit berbincang beberapa hal. Keinginan Tante Melly pun tidak terlewati diucapkannya. Apalagi kalau bukan soal cucu.


"Mama tenang saja, Maira sedang ikut program hamil di sebuah rumah sakit dan hari ini kita sudah membuat janji dengan dokter tersebut," ucap Rayyan.


Tante Melly begitu senang mendengarnya. "Benarkah? Mama doakan biar semuanya lancar tidak ada kendala." Tante Melly terlihat begitu bersemangat.


Rayyan pamit untuk membersihkan diri sebelum pergi ke rumah sakit. Tante Melly memilih ikut bersama mereka. Ia ingin tahu bagaimana perkembangan Maira mengikuti program kehamilannya itu. Maira juga pamit pada ibu mertuanya sebentar untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Rayyan. Sekalian Maira ikut bersiap-siap.


...🌱🌱🌱...

__ADS_1


Saat ini mereka bertiga berada di rumah sakit yang terkenal dengan fasilitas dan peralatan medis yang lengkap. Tidak perlu pergi ke luar negeri demi mendapatkan perawatan terbaik. Sebab di sini semuanya sudah tersedia.


Maira tidak sabar mendengar kabar baik dari dokter untuk program kehamilannya. Beberapa bulan ini semua yang diperintah oleh dokter dijalani dengan baik oleh Maira dan Rayyan.


Kini tiba saatnya Maira melihat perkembangan rahimnya. Di dalam ruangan beraroma khas rumah sakit itu. Maira berbaring. Di sisi kanan ada Rayyan yang setia mendampinginya. Dan di sisi kiri ada Tante Melly yang begitu bersemangat melihat hasil dari program kehamilan yang telah lama dijalani oleh menantunya itu.


Sepanjang perjalanannya ke rumah sakit. Wanita itu selalu berdoa agar Sang Pencipta memberikan sebuah keajaiban.


"Wah ... Selamat Pak Rayyan. Saat ini di dalam kandungan istri Anda tertanam benih cinta kalian," ucap sang dokter yang menggerakkan alat USG ke perut Maira.


"Alhamdulillah...." seru Tante Melly.


Tak terasa Rayyan meneteskan air mata kemudian menciumi kening Maira. "Kamu hamil, Sayang!" ucap Rayyan setelah ciuman berkali-kali ia berikan pada Maira.


Tak beda dengan Rayyan. Maira ikut menangis bahagia. Penantian nya selama ini akhirnya datang juga.


Di saat sahabatnya, Anna tengah menantikan kelahiran anak kedua mereka. Maira mendapatkan kebahagian yang luar biasa.


Kabar kehamilan Maira dengan cepat diketahui oleh Anna dan keluarga besar Maira.


Semua mengucap syukur atas kehamilan Maira. Doa baik terucap untuk wanita itu.


Saat ini Maira keluar dari ruangan dokter. Wanita itu sama sekali tidak dibiarkan berjalan sendiri. Rayyan menyuruhnya untuk duduk di kursi roda.


suaminya itu tidak mau Maira kelelahan sama sekali.


Raut kebahagiaan begitu terpancar dari wajah ketiganya. Rasa syukur tak henti-hentinya Maira ucapkan sambil berdzikir. Sang Pencipta telah menghadirkan benih yang masih berusia sangat muda. Kandungannya baru berumur satu minggu. Maira harus benar-benar menjaga nya.


.


.


.


.


Jangan lupa mampir di cerita author yang lain ya....



Satu Cinta Dua Keyakinan


FAKE LOVE


Pemilik Kehormatanku


Ikhlasku Melepasmu, Mas!



intip intip ya... kasih bintang 5 dan tinggalkan komentar kalian.

__ADS_1


Salam sayang author untuk kalian semua 🥰🥰🥰😘😘



__ADS_2