
Jarak yang ditempuh Mama Ami dan Tante Melly tak begitu lama. Antara rumah dan tokonya berjarak sekitar satu kilometer saja.
Begitu sampai di toko, keduanya di sambut pegawai toko yang bekerja di sana. Angel's Flowers, sebuah toko bunga yang sudah hampir setengah tahun berjalan. Kesukaan Mama Ami pada bunga membuat Mama dari Anna itu membuka toko bunga.
"Sore, Bu," sapa Mia salah satu pegawai wanita yang membantu Mama Ami di toko bunganya. Ia sedikit membungkuk hormat saat Mama Ami dan Tante Melly masuk ke dalam toko.
"Sore, Mia." sahut Mama Ami singkat.
Mia hendak mengambil alih barang yang di bawa Mama Ami. Tapi wanita yang biasa Di sapa Bunda Ami oleh para pelanggannya itu menolak.
"Biar saya yang bawa ini, di bagasi mobil masih ada beberapa koper lagi." ucap Mama Ami tidak ingin merepotkan pegawai tersebut. Ia membawa tasnya sendiri yang tak begitu banyak barang bawaannya.
"Oh, iya bu," seru Mia. Gadis itu lekas mendekati mobil, bagasi belakang terbuka karena masih ada beberapa barang yang belum diangkut.
"Bagaimana toko beberapa hari ini, Mia?" tanya Mama Ami sambil berjalan memasuki toko dan memegangi beberapa bunga yang rapi berjejer di atas vas beisi air, agar bunga-bunga tersebut tidak kering.
Beberapa macam bunga di jual di toko itu, dan setiap tiga hari sekali akan ada pergantian dan bunga segar yang datang dari pemasok bunga.
"Ramai, Bu. Hari ini toko kita mengeluarkan sepenuh buket bunga untuk acara wisuda. Dan lima pesanan lagi buat besok," ujar Mia. Terlihat Wrapping paper, pita serta bahan yang digunakan untuk membuat buket bunga masih berserakan di pojok ruangan dekat tempat kasir. Mia bel sempat merapikannya.
"Syukurlah, apa pemasok bunga sweat pea sudah datang, Mia?" Mama Ami mendekati pojok ruangan itu, lalu membanti merapikannya. "Dimana Leni?" tanya Mama Ami karena tak melihat keberadaan satu pegawai yang satunya.
"Leni sedang bersih-bersih di atas, Bu!" Mia menjawab sambil bulak-balik membantu membawa barang dari dalam mobil ke dalam toko.
"Leni...!" panggil Mama Ami dari bawah sambil sedikit mendongak ke arah tangga, agar suaranya terdengar oleh Leni.
"Iya ...," sahut Leni dari lantai dua tanpa sadar siapa yang memanggilnya.
"Tas nya mau dibawa ke atas atau di sini aja, Mi?" tanya Tante Melly yang baru masuk sambil membawa dua figura yang tertinggal di mobil. " Ini juga, kamu lupa membawanya masuk. "Tante Melly memperlihatkan figura foto yang dipegangnya.
"Oh, ya. Aku lupa membawanya. Biarkan tas-tasnya di sini aja, dulu. figura nya letakkan aja di atas meja sana, Mel!" Mama Ami menunjuk meja yang ada di pojok dekat tangga.
Tante Melly melakukan sesuai ucapan Mama Ami. Leni turun dari lantai dua, sambil membawa alat pel yang dipegangnya.
"Ya ampun, Ibu sudah datang! Maaf lantai dua nya baru saya bersihkan. Tadi pagi masih banyak kerjaan merangkai buket, Bu!" Leni menyandarkan alat pel yang sudah ia bersihkan sebelumnya di lantai atas ke dinding dekat tangga.
__ADS_1
Pegawainya itu hendak menyimpannya peralatan kebersihan di lantai dasar, di gudang peralatan. Lalu mendekat ke arah Tante Melly dan Mama Ami kemudian menyalami keduanya.
Leni merasa tak enak hati karena pekerjaan nya yang sedikit terlambat.
"Maaf, Bu! Leni baru sempat membersihkannya!" ucap Leni dengan bahu yang sedikit menurun di hadapan Mama Ami.
"Tak apa, Len. Lagian saya hanya sebentar saja di sini. Tak lama lagi, saya akan kembali ke rumah sakit. Kalian Anna sendiri di sana." Mama Ami menepuk pundak Leni.
"Loh, ini Ibu yang bereskan?" Mia yang baru saja masuk membawa tas terakhir bergelak saat melihat pojok ruangan yang tadi berantakan sudah terlihat rapi.
Mama Ami tersenyum. "Aduh, Ibu, Maaf! Ibu jadi bantuin kerjaan kami." sesal Mia.
"Kalian ini, kenapa sih, masa saya tidak boleh membantu kalian di toko sendiri." Mama Ami menatap kedua pegawainya.
"Ibu 'kan baru sampai. Jadi, kami takut ibu masih lelah setelah perjalanan jauh!" tutur Mia menunduk.
"Mbak Anna nya mau ke sini kan, Bu!" sambung Leni.
Mama Ami mengangguk dan tersenyum. "Ya, nanti dia ke sini juga. Dan kalian pasti lebih lelah bekerja denganku. Pesanan juga lagi rame 'kan. Kita harus bekerja sama. Tidak pandang siapa pemilik dan pekerja. Kalau mau berhasil dan sukses." Mama Ami menegaskan. Kedua pegawainya mengangguk paham. "Saya mau ke atas dulu," pamitnya kepada kedua pegawainya.
"Mereka masih pada muda, ya, Mi?" tanya Tante Melly, lalu kembali bertanya, "Kayaknya seumuran dengan Risma apa lebih muda mereka?"
Mama Ami mengangguk pelan seraya menaiki anak tangga menuju lantai dua, Mama Ami sedikit bercerira tentang kedua pegawainya itu. "Mia, tidak melanjutkan sekolahnya, seharusnya sekarang dia kelas dua Sekolah Menengah Atas. Sedangkan Leni saat ini dia kuliah. Gadis itu ambil jadwal libur toko untuk kuliahnya." Mama Ami menjelaskan.
Melihat Tante Melly yang tertidur di atas kasur lantai di tengah ruangan lantai dua itu, Mama Ami tidak tega untuk membangunkannya. Kakak iparnya itu pasti kelelahan. Sejenak ia berpikir, dirinya juga ingin beristirahat. Mama dari Anna itu sudah merasa tenang dengan kondisi suaminya yang suda stabil saat ini apalagi ditemani Anna.
Toko bunga di lantai bawah masih beraktifitas seperti biasanya. Toko itu akan tutup pukul delapan malam. Mia dan Leni tidak mau mengganggu waktu istirahat bos, pemilik toko itu.
Di Rumah Sakit.
"Papa bangga dengan kamu Ann," ucap Papa Reno setelah mendengarkan cerita Anna.
Anna tersenyum sambil memeluk satu lengan Papa nya yang tidak tertancap selang infus.
Ada beberapa hal yang belum Anna ceritakan kepada Papa nya. Termasuk permintaan Abbas yang ingin mengkhitbahnya dam meminta restu kepada Papa Reno secara langsung.
__ADS_1
"Pah... "
"Anna... "
Keduanya sama-sama memanggil.
"Kamu mau bilang apa?" tanya Papa Reno.
"Papa saja duluan, biar Anna mendengarkan. Dari tadi Anna sudah banyak bercerita, sekarang giliran Papa," ujar Anna.
Papa Reno mengangguk pelan dengan kelopak mata yang tertutup lalu terbuka sebagai tanda menyetujui ucapan Anna.
"Kamu sudah mengenal Darren sejak lama. Dia baik, agamanya bagus apalagi sekarang kalian satu keyakinan. Keluarganya juga sangat sayang sama kamu." Anna menajamkan pendengarnya. Ia masih belum mengerti apa yang akan Papanya bicarakan.
Anna hanya mengangguk-ngangguk saja.
Papa Reno sejenak menjeda ucapannya, berusaha mengutarakan niatnya kepada Anna dengan pelan dan hati-hati.
"Papa ingin kamu bersama Darren." Anna lekas menatap Papanya yang berbaring di brankar sambil terus berbicara padanya.
"Maksud Papa, apa?" Anna belum mengerti niat Papa Reno.
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan Darren. Papa sangat ingin kamu hidup bersama dia. Papa yakin Darren adalah laki-laki yang baik untuk kamu. Kamu tahu, dia membantu Papa sampai sejauh ini tanpa pamrih. Papa juga tahu dia menyimpan rasa kepadamu, An!" ungkap Papa Reno. "Sebelum Papa meninggalkan kamu dan Mama. Hati Papa akan tenang jika melihat kamu sudah bersama orang yang tepat.
Deg.
Anna tiba-tiba diam membeku. Baru saja ia akan berbicara perihal perasaan Anna dan niatan Abbas kepadanya. Anna sudah lebih dulu mendengar keinginan Papa Reno. Gadis itu dilema.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung>>>>