
Satu jam sebelumnya.
Anna baru saja mengikuti semua rangkaian wisuda yang di selenggarakan di dalam ruangan aula. Usai mendapat penghargaan sebagai mahasiswi terbaik.
Anna berjalan pelan mencari keberadaan Om Anwar dan Mamanya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut aula.
"Astagfirullahaladzim." Anna terkejut saat sebuket bunga indah menghalanginya.
Anna sempat terdiam begitu pula dengan sosok yang wajahnya tertutupi buket bunga. Gadis berbaju toga dengan segenggam kertas gulung di tangannya, sampai harus memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang ada di balik buket bunga tersebut.
"Assalamu'alaikum," sapa Abbas dari balik buket bunga lekas ia menurunkan benda tersebut yang menghalangi wajahnya, membuat Anna mengerutkan alis lalu mengembangkan senyum manisnya.
"Waalaikumusalam, Abang!"
Abbas membalas senyuman Anna lalu berjalan mendekat ke arahnya kemudian menyidorkan sebuket bunga indah kepada Anna.
"Untukmu yang berhasil meraih penghargaan sebagai mahasiswi terbaik tahun ini," puji Abbas membuat Anna tersiph malu.
"Ko, Abang tau?" Anna menerima buket bunga tersebut lalu memandanginya dengan takjub. "Cantik sekali bunganya, Bang! Terima kasih." Anna mencium aroma harum yang menguar dari bunga tersebut.
"Kamu tidak lihat keberadaanku di deretan para dosen?" Anna menggelengkan kepala menangapinya seraga terus memperhatikan riasan buket yang menurutnya cantik Untuk di lihat. "Bunga indah untuk gadis cantik pula." Abbas kembali menggoda membuat Anna mendelik ke arahnya dengan tersipu malu.
"Dih, gombal"
"Serius."
"Apaan sih." Anna mengalihkan perhatiannya memainkan pucuk bunga lalu kembali menciuminya seraya menyembunyikan wajahnya yang sudah merona. "Terima kasih, Abang sudah datang ke sini."
"Aku sampai tidak bisa tidur untuk hari ini, sudah merangkai kata romantis tapi buyar begitu saja saat berhadapan denganmu," ungkap Abbas seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Hufft." Anna membungkam mulut dengan telapak tangannya sembari tertawa geli.
"Kamu menertawakanku?"
Anna menggeleng sambil sambil terkekeh kecil. Candaan itu terhenti saat tukang foto berkeliling dan menyapa mereka berdua.
"Foto Mas, Mba? buat kenang-kenangan!" Pria paruh baya menawarkan jasa foto dadakan.
Anna dan Abbas saling pandang lalu saling melempar senyum.
"Boleh, boleh!" Abbas menyetujui tawaran tukang foto dadakan itu.
Akhirnya Anna dan Abbas berfoto berdua. Anna masih lengkap dengan pakaian toga serta buket bunga yang di pegang di depannya bersebelahan dengan Abbas di sampingnya.
Satu kali jepretan foto saat mereka menghadap ke arah kamera. Satu lagi inisiatif dari tukang foto yang memotret Abbas dan Anna saat tersenyum ketika saling memandang.
Tak lama Tante Melly dan Risma datang dari arah berlawanan.
__ADS_1
"Anna!" panggil Tante Melly yang langsung memberikan pelukan hangat dan ucapan selamat untuk Anna. "CongratulationsCongratulations ... akhirnya lulus juga. Selamat juga jadi mahasiswi dengan nilai terbaik tahun ini!"
"Terima kasih, Tan!" Anna lalu beralih kepada Risma.
Anna lalu bergantian memeluk Risma. " Selamat ya, An!" ucap Risma pelan.
"Terima Kasih, Ris! kamu kapan wisuda." Anna bertanya kepada Risma.
"Satu semester lagi, mungkin tahun depan!" jawab Risma singkat lalu melepaskan pelukannya dengan Anna.
"Assalamualaikum, Nak Abbas," Tante Melly dan Risma menangkupkan kedua tangan di depan dada, menyapa Abbas.
"Waalaikumusalam," jawab Abbas lalu membalasnya dengan menangkupkan kedua tangannya juga.
"Apa kabar?" tanya Tante Melly lagi.
"Baik, Tan!"
"Syukur Alhamdulillah, kalau baik." Tante Melly sedikit tersenyum dan di balas dengan anggukan dan senyuman pula oleh Abbas.
"Tan," panggil Anna lalu Tante Melly menoleh ke arahnya. "Apa Tante liat Om Anwar dan Mama?"
Tante Melly menggelengkan kepala. "Tidak, kita berdua dari tadi nunggu di luar bukannya mereka bersamamu di dalam ruangan?"
"Tadi sih, iya. Tapi pas rangakaian acara selesai Anna liat mereka tidak ada di tempat duduknya." Anna menjelaskan.
"Apa sudah kamu coba hubungi mereka, An?" tanya Abbas.
"Sudah, tapi tak ada respon dari mereka. Mungkin di silent soalnya tadi di dalam ruangan, pembawa acara menyuruh para orang tua untuk mensilent handphone."
Abbas mengangguk paham akan aturan itu. "Sudah di cari ke semua sudut ruangan? mungkin sedang di toilet?" sambung Abbas.
Anna menggelengkan kepala.
"Kita cari mereka, akan sulit jika mencarinya bersama. Kita harua berpencar! akan sulit karena saat ini semua mahasiswa dan orang tua sudah keluar dari ruangan," usul Abbas.
"Benar sekali, Bas! kalau begitu Tante dan Risma akan cari mereka ke arah toilet. Kalian berdua ke arah sana ya!" titah Tante Melly lalu mendapat anggukan dari Anna dan Abbas. "Duh ada ada aja deh, segala pake ngilang si Papa," gerutu Tante Melly sembari berjalan beriringan dengan Risma untuk mencarinya.
"Mama ih, berisik. Di carinya pake mata bukan pake mulut!" tegur Risma saat ikut berjalan dengan Tante Melly yang berjalan sambil terus mengerutu.
"Habisnya papamu dan Bibi Ami, kemana coba, pake ngilang segala."
"Ssstt," Risma menempelkan jari telunjuk di bibirnya seraya membulatkan mata ke arah Tante Melly membuat wanita berkerudung syari itu seketika diam sambil mengerucutkan bibirnya.
Anna dan Abbas yang melihatnya saling pandang dan Tersenyum.
"Tante mu, lucu, An!" ucap Abbas.
"Emangnya badut? ko di bilang lucu!"
__ADS_1
"Lucunya kalau lagi manyun itu kayak kamu!"
Anna mendelik ke arah Abbas lalu memanyunkan bibirnya sambil terus berjalan.
"Nah seperti ini, lucu kalau lagi manyun."
"Abang, ih... nyebelin!" Anna memukul lengan Abbas dengan gulungan kertas yang ia pegang lalu berjalan cepat meninggalkan Abbas.
Abbas terkekeh pelan melihat tingkah Anna. dengan langkah panjang, ia menyusul Anna yang sudah jauh melangkah meninggalkannya.
Tanpa banyak bicara Abbas mensejajarkan langkahnya. Masih dengan seulas senyum dan lirikan, lelaki itu terus mengoda Anna.
Seiring mereka berjalan Abbas mencoba mengalihkannya ke obrolan yang berarag serius.
"Bagaimana ajakanku tempo hari, apakah sudah ada jawaban pasti untukku, An?" Abbas kembali menanyakan perihal niatan baiknya yang masih belum mendapat jawaban dari Anna.
Beberapa hari ini Abbas mengerti kesibukan Anna mempersiapkan acara untuk hari ini. Tapi alangkah baiknya niat baik cepat terlaksana dan ada kejelasan dari orang yang dicintai kejelasannya.
Mendadak Anna menghentikan langkahnya. Tidak di sangka Abbas akan menanyakan pertanyaan ith kembali. Anna memang sudah mencoba berpisah kepada Allah dan beristikharah seperti yang di sarankan Tante Melly, Gadis itu menceritakan niat Abbas kepada Mama dan Tante Melly usai Anna menjalankan shalat pertamanya sebagai muslim.
Mama Ami selalu mendukung keputusan yang di ambil putrinya. Bahkan beliau memuji Abbas yang berucap akan meminta ijin langsung kepada Papa Reno, jika Anna menyetujuinya.
Abbas ikut terhenti saat melihat Abna sedikit berpikir. " Aku tidak akan memaksamu, ikuti kata hatimu, An. Maaf, jika semua terlalu cepat. Tapi aku hanya ingin kita merasakan indahnya masa pacaran setelah menikah. itu akan lebih menjaga kita dari dosa. Karena Selama ini aku terlalu sering berbuat dosa telah memandang dan terlalu menginginkan mu.Kalupun kamu menolak, itu sudah jalan takdirku." ucap Abbas seraya menatap tajam Anna yang kini tengah menunduk.
Seketika Anna mendongak menatap Abbas.
"Aku merasa belum pantas untuk mendampingi Abang!"
"Apa itu artinya kamu menolakku?"
Anna kembali menunduk sambil menggeleng cepat. "Tidak!"
"Lalu"
"Masih banyak hal yang perlu aku pelajari tentang islam. Aku harap Abang lebih banyak bersabar dengan segala kekuranganku, akan lebih banyak mengajari karena ilmu agama yang Aku punya saat ini belumlah sempurna untuk menjadi muslim dan istri yang baik untuk Abang." Anna semakin tertunduk malu saat berucap.
Suasana ramai di sekeliling tak mengganggu obrolan serius yang mereka bicarakan.
"Aku akan segera menemui papamu," ucap Abbas membuat Anna kembali mendongak dan menatap sekilas Abbas lalu menunduk malu seraya tersenyum simpul kearahnya. Abbas menyimpulkan jawaban Anna untuk keputusannya.
.
.
.
bersambung>>>>
😗😗 lampu hijau nih... semangat Abbas.
__ADS_1