Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Seperti ada kupu-kupu di hatiku


__ADS_3

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Om Anwar di ikuti mereka yang berada di dekat Anna.


Abbas mendekat ke arah mereka yang sedang bersiap pulang ke rumah Om Anwar.


"Siang, Om, Tante." Abbas mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Om Anwar dan Mama Ami lalu mencium tangan mereka bergantian dengan takzim. Beralih ke arah Tante Melly yang sudah menangkupkan kedua tangannya di depan dada membalas sapaan salam dari Abbas begitu juga dengan Risma dan Anna yang berdiri di samping Tante Melly.


Abbas memberikan senyum bahagianya saat bertatapan dengan Anna. Dia terpesona dengan penampilan Anna yang berbeda dari biasanya. Pakaian tertutup dengan gamis dan hijab yang melekat di tubuhnya, tatapan itu membuat Anna tertunduk malu.



ini penampilan baru Anna ya ..


Om Anwar yang tidak mengenali Abbas sempat heran dengan kedatangan Abbas ke arah mereka. Mama Ami berbisik untuk memberitahunya.


"Dia, Abbas! teman Anna yang semalam mengantarkan Anna ke rumah, Mas. Pria yang selama ini membantu Anna belajar ilmu Islam," bisik Mama Ami kepada Om Anwar.


"Oh, jadi ini, Nak Abbas yang semalam di bicarakan?" Om Anwar menoleh kepada Anna sambil tersenyum.


"Wah, jadi penasaran apa ni, yang di bicarakan tentang Saya!" sambung Abbas dan membuat mereka tertawa saat melihat Anna tersipu malu mendapat sindiran dari Om Anwar dan Abbas.


"Ih ... Aku kan cuman jawab pertanyaan Om, semalam! Aku kenal Abang di mana dan kerja Abang apa? maaf aku sudah memberitahu mereka tentang pekerjaan Abang." Anna tertunduk merasa tak enak telah lancang memberikan info tentang Abbas.


"Enggak pa-pa, An! lagi pula, pekerjaan yang aku kerjakan masih berada di jalur aman dan InsyaAllah halal," ucap Abbas menenangkan Anna.


"Maaf, Nak Abbas Om lancang menanyakan itu kepada Anna. Karena Om hanya ingin tahu siapa saja yang dekat dengan keponakan Om di sini! karena Om bertanggung jawab atas dia saat orang tuanya jauh di Surabaya. Bersyukur Mamanya Anna sudah mengenal mu lebih dulu." balas Om Anwar.


"Tak apa, Om. Saya bisa mengerti itu!" lanjut Abbas.


"Ya, sudah! Kita pulang dulu saja ke rumah. Anna harus melakukan mandi besar lebih dulu untuk melengkapi syarat wajib bermualaf. Kita bersama solat berjama'ah di rumah saja menemani ibadah pertama Anna," ajak Tante Melly kepada mereka.


"Kenapa tidak di sini aja, toilet di sini juga ada kamar mandinya, Mih!" sahut Rayyan.


"Anna tidak membawa pakaian ganti!" mari ikut kita ke rumah, Nak Abbas!" Tante Melly Kemabli mengajak Abbas untuk ikut bersama mereka.


"Maaf, Tante, Om! Saya hanya tidak bisa ikut bersama kalian. Saya harus kembali bekerja. ada pekerjaan yang tak bisa saya tinggalkan. Saya mohon maaf." Abbas menempelkan jemari tangan kanan ke dadanya lalu sedikit menunduk kepada Tante Melly, Om Anwar dan Mama Ami merasa tak enak telah menolak ajakan mereka.


"Tak apa, Nak Abbas. Kamu memang harus menyelesaikan tanggung jawab pada pekerjaan mu. Itu baru Pria sejati!" ucap Om Anwar seraya melirik Rayyan yang berada di sampingnya.


Rayyan merasa kalau Papihnya sedang menyindirnya.


"Enggak enak nih perasaan gue, kayaknya masih belum berakhir hukuman buat gue," batin Rayyan. kemudian menoleh ke arah Tante Melly. Rayyan pun mendapat tatapan tajam dari Mamihnya.

__ADS_1


Rayyan hanya bisa menelan ludah, melihatnya. Sepertinya nasehat panjang kali lebar kali tinggi masih akan di dapat dari kedua orang tua Rayyan nanti. Hanya menunggu waktu saja omelan panjang itu akan di dengarnya.


"Rasain! tunggu waktunya, Mas Rayyan akan jadi gembel!", ejek Risma sambil berbisik ke telinga Rayyan. Adiknya itu tahu kalau fasilitas yang Papih nya berikan kepada Rayyan akan di tarik jika Rayyan melakukan kesalahan atau bersikap tak wajar.


"Apa, Lu!" bentak Rayyan pelan. Risma mundur bersembunyi di belakang tubuh Tante Melly.


"Kalau begitu, Kamu bisa ngobrol sebentar dengan Nak Abbas, sayang! Mama, Om dan Tante mu, kalian juga," lirik Mama Ami kepada Rayyan dan Risma lalu kembali berkata. " Kita tunggu di mobil saja, bukannya ibadah harus segera di lakukan. Jangan menunda ibadah kalian!" Mama Ami mengajak mereka yang belum melakukan ibadah agar segera melaksanakannya.


"Ya, kita segera pulang. Sebenarnya lebih bagus mengerjakannya di Masjid ini, karena Anna belum melakukan mandi wajibnya, kalian para wanita temani Anna untuk ibadah pertamanya."


"Kami tunggu di mobil jangan terlalu lama ya, An. Tak baik menunda-nunda ibadah. Nak Abbas kami tunggu kehadiran mu di rumah?" ucap Om Anwar berucap kepada Anna kemudian mengundang Abbas untuk hadir kembali ke rumahnya.


"Iya, Om. InsyaAllah nanti saya berkunjung lagi ke sana!" sahut Abbas.


Om Anwar, Tante Melly, Mama Ami, Rayyan dan Risma meninggalkan Anna dan Abbas di halaman masjid. Memberikan waktu meski hanya sebentar kepada mereka berdua untuk berbicara.


"Ayo! cepetan Rayyan jangan coba-coba menghindar dari Mamih!" ucap Tante Melly ketus kepada Rayyan.


"Iya, Mamih cantik, galak banget sih! jadi majel loh kalau galak begitu." sela Rayyan.


"Apa tuh, majel?" tanya Tante Melly penasaran.


Bukk


"Aww ... sakit, Mih!" keluh Rayyan seraya memegangi kepalanya


"Biarin, balasan buat anak yang berani ngatain Mamihnya jelek." Tante Melly menjitak kepala Rayyan dengan kepalan tangannya.


"Pih ..." Rayyan mengadu


Om Anwar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istri kepada anak lelakinya itu.


Rayyan dan Tante Melly sering berdebat Karena sikap Rayyan yang menjengkelkan. Dia melangkah ke arah parkiran mobil lebih dulu bersama Mama Ami, meninggalkan Rayyan dan istrinya yang masih berdebat. Sudah menjadi hal biasa menurutnya.


Di balik sikap Rayyan yang menjengkelkan, terdapat sifat istimewa yang jarang ia tunjukan kepada orang lain.


Rayyan akan berubah sikap ketika menerima tanggung jawab jika berhubungan dengan kantor. Pemahaman agama yang di dapatnya di pesantren dulu tak pernah diumbarnya, tapi ia tak pernah melewati setiap malam dengan membaca Al- Quran sebelum tidur dan Tante Melly mengetahui itu.


Tante Melly sangat menyayangkan sikap Rayyan yang berani mendekati bahkan menjalani hubungan dengan wanita yang bukan muhrim dilakukannya. Entah apa yang terjadi kepadanya, sehingga Rayyan sering di sebut Playboy oleh beberapa wanita.


Anna dan Abbas tersenyum melihat tingkah Tante Melly dan Rayyan.

__ADS_1


Anna berbalik badan menghadap Abbas, berterima kasih karena sudah menyempatkan hadir di sana.


"Terima kasih, Bang sudah menyempatkan waktunya ke sini! pasti sibuk banget ya?" tanya Anna ragu dan malu.


Abbas tersenyum ke arah Anna.


"Aku sudah berjanji padamu. Pantang bagiku untuk mengingkarinya. Dari tadi, Aku juga menyaksikan bagaimana Kamu mengucap syahadat dengan tulus. Hatiku tersentuh mendengarnya, An! Alhamdulillah, kamu sudah menjadi saudara seiman bagiku, tapi-


"Tapi kenapa, bang?" tanya Anna saat ucapan Abbas tak berlanjut.


"Ijinkan aku berharap, agar menjadikanmu lebih dari sekedar saudara seiman untukku, dan ijinkan perasaan yang selalu kutunjukan dengan sikap selama ini bisa ku ucapakan dalam ijab." Abbas berkata tegas dan yakin kepada Anna.


Anna terkejut mendengarnya. Bibirnya kelu untuk menjawab, tapi hatinya senang seakan banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya.


.


.


.


.


Yeayyyy.... Akhirnya... Abang bisa juga ngegombal.... lampu hijau sudah di depan mata... ,😊😊😊


ikuti kisah selanjutnya pasti makin seru! Jangan senang dulu, menuju akad pejalanan cinta mereka tak semulus paha ayam, eh ko paha ayam sih? enak dong itu mah 😁


pokonya tungguin aja deh kisahnya.


jangan lupa like pake 👍 komen yang banyak 👍


kasih 🌷 bunga atau ☕ buat teteh biar makin semangat..


hatur nuhun untuk yang masih setia di sini.


salam hangat dari teteh Mayya_zha😘😘


rekomendasi karya untukmu ni.


karya punya ka Yayuk.


__ADS_1


__ADS_2