
Selama perjalanan dari tempat kos ke rumah Tante Melly, Anna terus menghubungi Abbas. pesan yang ia kirimkan juga hanya centang satu. waktu online aplikasi chatnya tercantum waktu tadi sore. Itu makin membuat Anna khawatir kepadanya.
"Apa Bang Abbas marah, sama aku?" ucapnya dalam hati. Takut jika Rayyan yang ada di sampingnya akan mencemoohnya.
"Dek, lo kenapa sih? gue liat lo beda banget abis pulang dari tempat Maira, ada apa?" tanya Rayyan dengan nada lembut tak seperti biasanya yang selalu ngegas dan sedikit nyeleneh jika berbicara dengannya.
Anna menoleh ke samping kanan dimana Rayyan serius mengemudikan mobilnya. Senyum dipaksakan Anna perlihatkan kepada Rayyan. Tanpa ada niat mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan tentang Abbas dan Maira.
"Lo bisa cerita sama gue, Dek! kali aja kalau lo cerita, perasaan lo lega," tuturnya.
Anna menarik napas dalam lalu membuangnya kasar.
"Anna bingung, Mas!"
"Kalau bingung yang pegangan biar gak oleng," celetuk Rayyan.
Anna menoleh cepat ke arah Rayyan. Tatapan tajam Anna lemparkan, kepadanya.
"Hehe... " Rayyan memperlihatkan gigi putihnya, padahal sore ini ia belum sempat gosok gigi karena terlalu bersemangat ingin bertemu Maira,tapi gagal. "Sorry ... Ok... ok... Kali ini, Mas serius. Emang nya kenapa? Bukannya harusnya lo senang, Om Reno sudah bebas dari tuntutan, Lo juga bakaln nikah bentar lagi. Secara bos paket akan meminta lo secara resmi 'kan?" ujar Rayyan. Pria itu kembali fokus ke jalanan.
Anna kembali mengecek ponselnya. chat nya dengan Abbas masih centang satu. Berarti nomer yang ia tujuan masih belum aktif.
"Aku akan menolak khitbah dari Bang Abbas, Anna memilih menerima perjodohan Papa, Mas!" ungkap Anna lirih.Tak sadar, reflek s Rayyan mengerem secara mendadak. membait Anna terjedot pada dashboard mobil.
Dug ....
"Aww ... " jerit Anna sambil memegangi jidatnya. "Mas, bisa bawa mobil yang benar gak sih?" omel Anna.
"Maaf, Dek. Lo serius bakalan ngelepasin cowok yang lo suka. kalian saling cinta, deh sedikit lagi halalan toyiban buat berduaan." cerocos Rayyan tanpa filter.
"Ada saatnya kita mengalah demi kebaikan, merelakan keinginan hati demi kebahagiaan orang lain." cetus Anna, gadis itu berusaha tegar menutup kerisauan hati yang ia rasakan.
Memang sulit untuk melepaskan tapi semakin ia memaksa ingin bersama, perasaan orang lain akan tersakiti olehnya.
Tak terasa perjalanan menuju rumah Tante Melly pun tiba. Rayyan memanggil satpam yang berjaga di rumahnya untuk membantunya menurunkan barang-barang milik Anna. Sedangkan si pemilik barang sudah melesat pergi ke dalam rumah.
***
"Assalamu'alaikum ...," ucap Maira saat memasuki rumahnya. Rumah yang tidak di kunci saat itu. Di susul Abi Khaliq di belakangnya.
Waalaikumusalam ...," jawab seseorang dari dalam rumah. " Tumben banget sih, Nak, Lama!" Bunda Ima mendekati Maira lalu menerima uluran tangan dari putrinya. diciumi tangannya dengan takzim oleh Maira
Maira lekas ke dapur mengambil piring untuk kerak telur yang ia beli bersama Abi Khaliq yang membuat perjalanan mereka terkena macet dan harus memutar arah.
Bunda Ima berganti menyalami suaminya.
Satu tangan Bunda Ima memegangi satu gelas berisi air untuk suaminya. Segera Bunda Ima menyerahkan kepada Abi Khaliq. ia akan selalu membawakan segelas air putih saat Abi Khaliq tiba dari luar dan hendak keluar rumah. Ada doa dan pahala di setiap tegukan air yang diminum suaminya itu.
__ADS_1
Sambil duduk, Abi Khaliq meneguk perlahan air yang di suguhkan Bunda Ima.
"Terima kasih, Bun!" Abi kembali menyerahkan gelas kosong kepada istrinya.
"Sama-sama, Bi!"
Maira kembali dari dapur dengan dia buah piring berisi kerak telor. "Anna di atas 'kan, Bun?" tanya Maira. Satu piring ia letakkan di atas meja satu lagi akan ia bawa ke kamarnya untuk Anna.
"Anna tadi pamit pulang, katanya takut kemalaman. Maaf tidak bisa menunggu kamu, katanya!"
"Yah, gimana sih! Kita 'kan belum sempat bercerita, udah pulang aja!" keluh Maira.
"Anna kelihatan sedih banget, Bunda mau bertanya lebih kasihan juga. Kayaknya Anna juga nggak lama di Bogor. Dia bilang mau cepet balik lagi ke Surabaya. Anna Hanya nitip baju wisuda nya aja. Ada di kamar kamu, bajunya." tutur Bunda Ima. "Oh, iya, Mai. Kamu tahu Anna akan dijodohkan sama Papanya?" tanya Bunda Ima kemudian.
Maira menggelengkan kepalanya. "Anna belum cerita, Bun. Mungkin tadi dia ke sini mau cerita!"
"Bisa jadi. Kasian juga Anna, bukanya kata kamu, dia akan di khitbah sama pria yang dia suka?" Bunda IMa kembali bertanya.
Maira mengangguk pelan, lalu berpikir sejenak. "Astaghfirullahaladzim ..." ucap Maira membuat Bunda Ima dan Abi Khaliq menatapnya.
Maira bergegas menuju kamarnya. Ia teringat dengan Buku catatannya yang lupa ia simpan kembali ke dalam laci.
"Jangan-jangan Anna baca tulisanku di buku itu," batin Maira. Dengan cepat ia berjalan menaiki tangga.
"Ada apa, Nak? kenapa tergesa-gesa begitu hati-hati nanti jatuh." teriak Bunda Ima kepada Maira.
Ceklek...
"Assalamualaikum," ucap Maira pelan, saat ia memasuki kamarnya.
Maira langsung mendekati nakas, tempat di mana dirinya menyimpan buku catatannya.
Benar dugaannya. Buku catatan memilikinya terbuka sebagian. Foto Abbas pun sudah berada di luar selipan bukunya.
Maira yakin Anna pasti tidak membaca seluruhnya isi dari buku catatannya.
Segera Maira merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Menghubungi Anna dengan cepat, pasti Anna salah paham saat membaca awal kisah Maira.
"Kenapa tidak nyambung sih, panggilannya," keluh Maira karena sambungan teleponnya tidak juga tersambung.
"Anna ... kamu pasti salah paham. Kenapa tidak kami baca semua catatanku," gumam Maira seraya terus menghubungi Anna.
"Aku sudah merelakan dia untukmu, An. Aku sadar cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan. Aku hanya mengaguminya. bukan mencintainya. Kamu harus tau itu, tapi bagaimana ya, caranya bisa bertemu Anna," gumam Maira, ia terdiam sejenak.
"Oh, iya. lebih baik susul Anna ke rumah Tantenya. Ya ... betul ..." Maira segera berjalan cepat keluar kamar. Ia dengan pelan menuruni anak tangga. Hendak meminta ijin untuk keluar rumah. Tapi Maira teringat dengan jalanan Jakarta yang macetnya luar biasa saat jam sibuk. Ia kembali memutar tubuhnya masuk ke dalam kamarnya.
"Mungkin besok pagi saja, aku ke sana! Apa Abi mau nganterin?" Maira membuang napas berat. Malam ini Maira tidak bisa tidur dengan tenang. Ia juga terus menghubungi Anna tapi yang menjawab teleponnya adalah suara orang yang tidak di harapkan.
__ADS_1
"Maaf, nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif. Mohon ulangi beberapa saat lagi."
"Ish ... kenapa dia terus sih yang jawab. Ngeselin!" Maira melempar ponsel nya ke atas tempat tidurnya.
Ia memilih membersihkan diri terlebih dulu. lalu bersiap-siap untuk beristirahat.
***
"Rio ... Hubungi pengacara itu, jangan sampai lupa. Lo kalau nggak di ingetin suka kelewat. Pastikan kita bertemu dengannya tepat waktu. Banyak yang akan kita bahas sama dia. Sekalian siapkan surat-surat pengalihan tanahnya. Supaya bisa cepat di buatkan IMB (ijin mendirikan bangunan) sama dia." cecar Abbas dengan banyak perintahnya setelah ia selesai membersihkan diri. Hanya dengan kaos dan celana pendek Abbas merebahkan kembali tibuhnya di atas tempat tidur.
Satu kamar hotel yang luas dengan dua tempat tidur di dalamnya.
Rasanya tubuh Abbas tak bertulang. Seharian ini ia bekerja banyak agar bisa terbang ke Surabaya dengan cepat. Rombakan jadwal yang mendadak, sempat membuat Abbas berseteru dengan Naina, sekertarisnya.
Bersyukur semua bisa di atasi oleh Abbas. Pemuda berbakat yang mempunyai jiwa bisnis dan otak yang cerdas dalam hal pekerjaan dan pengambilan keputusan.
Dukungan dan doa dari Bu Lidia membuatnya makin bersemangat bertemu dengan Anna. Ia ingin datang sendiri kepada orang tua Anna untuk melamar.
Kedatangannya ke Surabaya tidak serta merta hanya untuk melamar Anna saja. Tapi juga ada beberapa pekerjaan yang akan ia jalani di sana selama dua minggu lebih.
"Iya ... Bos! Bawel banget sih lo, sudah untung kita bisa mempercepat jadwal kerja lo di sini. Mana dadakan pula!" oceh Rio hendak masuk ke kamar mandi setelah Abbas keluar dari sana.
Terlihat Abbas sudah memejamkan matanya dalam waktu sekejap. sangat lelah sekali sepertinya. Ia sampai lupa memeriksa ponsel saking lelahnya. Abbas tidak tahu saja, ada panggilan dan chat dari Anna yang menunggu jawaban darinya.
"Dih, ***** dasar ... Bener-bener deh, nempel langsung molor, ni bos. Gila heran gue sama dia. gak ada capenya. Demi cinta, rela ngelakuin ini semua. Semoga berhasil Pak bos." ucapnya pelan sambil menatap Abbas yang sudah terlelap
Drttt... drttttt....
Getaran ponsel Rio begitu terasa, karena asistennya itu menaruh di atas nakas. Untung saja Abbas tidak terbangun kalau samapai bangun dan mengganggu istirahatnya. Bisa potong gaji dia.
Lekas Rio mengeser tombol hijau di layar ponselnya. Telepon pun tersambung.
"Assalamu'alaikum," sapa Rio kepada seseorang di seberang telepon.
"Waalaikumussalam," jawabnya sopan.
"Ada apa ya, Bapak pengacara Darren Mubarok, S.H., S.E., M.M. , waduh panjang sekali gelar yang Anda miliki Pak pengacara saya hampir saja kepeleset membacanya," canda Rio membuat Darren terkekeh di seberang telepon."
"Mohon maaf, saya mengganggu. Saya hanya ingin memastikan untuk besok. Jika saya akan bertemu dengan Bapak Abbas El Amin. Pemilik langsung dari lahan yang telah di sepakati pengalihannya, dan mohon untuk kerjasamanya agar tepat waktu," ucap Darren.
"Pasti, bos saya sendiri yang akan bertemu dengan Anda Pak! Tenang saja, dia orang yang bisa menepati waktu!" Rio meyakini.
"Terima kasih, sebelumnya. Mohon maaf sudah menganggu waktu anda beristirahat Pak Rio, Assalamu'alaikum." Darren pun menutup teleponnya.
"Sama-sama, Pak Darren. Wa'alaikumussalam," balas Rio lalu menyudahi percakapan mereka.
Bersambung.
__ADS_1