Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Mengerjai Rayyan


__ADS_3

Tante Melly merasa lega mendengar pengakuan Maira. Ternyata Rayyan sudah salah paham di sini. Tante Melly tersenyum jahil, ia ingin mengerjai putranya yang sedang galau karena ditinggal nikah.


Tak lama acara sakral yang dinanti akan segera dilaksanakan. Darren berhadapan dengan Abi Khaliq selaku wali dari Nisa Khairunnisa Awaliyah.


Pengantin pria, wali dan saksi sudah hadir. Tinggal menunggu kehadiran pengantin wanitanya datang ke tengah ruangan.


Darren begitu terpukau melihat penampilan Nisa yang sangat berbeda dari kemarin. Sungguh cantik, itu yang terucap dalam hati Darren. Tak lama Darren mengagumi kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Nisa dibantu oleh Maira dan Mila keluar berjalan pelan menuju meja akad. Dimana ia sudah ditunggu kehadirannya.


Salam dan doa pembuka sudah dibacakan. Sebelum akad nikah berlangsung, Nisa diperkenankan meminta ijin terlebih dulu kepada Abi Khaliq selaku wali nikah dari Nisa.


"Kepada Neng Nisa ikuti ucapan bapak, ya!" ucap Pak penghulu dan mendapat anggukan dari Nisa. "Manggil Pak Khaliq apa?" tanyanya kemudian pada Nisa.


"Uwa," jawab Nisa pelan sambil tertunduk.


"Bismilahirohmanirohim." Pak penghulu mengawali ucapanya dengan basmallah. Dan ucapan selanjutnya, setiap kata yang terucap dari bibir Pak penghulu diulang oleh Nisa.


"Uwa, hari ini tepat tanggal 29 November 2022. Saya Khairunisa Awaliyah, keponakan Uwa meminta ijin kepada uwa untuk menikahkan Nisa dengan Mas Darren Mubarok selaku calon suami, Nisa!" ucap Nisa dengan suara terbata menahan sedih. Tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipi Nisa saat ia meminta ijin pada Abi khaliq. Ia merasakan kesedihan yang amat dalam. Sebab di hari kebahagiaannya ini, Nisa tidak didampingi orang tua kandungnya. Bunda Ima menyodorkan tissu kepada Nisa untuk mengusap air matanya.


Semua tamu yang hadir ikut sedih mendengar permintaan ijin Nisa kepada Abi Khaliq. Ucapan Nisa, gadis yatim piatu itu mampu membuat semua orang yang mendengarnya merasakan kesedihan yang dalam dari diri Nisa.


Nisa kembali melajutkan ucapannya. "Uwa, terima kasih sudah merawat dan menggantikan orang tua Nisa dalam mendidik dan membesarkan Nisa sampai saat ini. Terima kasih Uwa, setelah menikah tanggung jawab Uwa akan berpindah pada suami Nisa. Nisa minta doa restu Uwa dan keikhlasan Uwa menjadi wali nikahnya Nisa." Berderai sudah air mata Nisa begitu juga dengan Abi Khaliq. Sedih, haru, dan bahagia bercampur jadi satu saat itu.


"Apa Pak Khaliq memberi ijin dan bersedia menjadi wali nikah Nisa?" tanya Pak penghulu dan hanya mendapat anggukan dari pria paruh baya itu. Abi Khaliq tak kuasa menahan rasa sedih mengingat ayah Nisa yang merupakan adik kandungnya itu sudah meninggal dunia.


Umi Hera yang berada tepat di samping Nisa mengelus pelan pundak gadis itu memberikan ketenangan padanya.


"Sabar, Sayang! Ada Umi, Nisa gak usah sedih lagi," ucap Umi Hera pelan.


Nisa sedikit menoleh. "Terima kasih Umi," balas Nisa dengan isak tangis yang masih tersisa.


Pak penghulu kembali melanjutkan acara.


Suasana tegang begitu terasa dalam ruangan itu saat Darren berjabat tangan dengan Abi Khaliq.


"Saya nikahkan dan kawinkan keponakan saya, Khairunisa Awaliyah binti Abdul Khadir dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang senilai 29.112.022 rupiah di bayar tunai," ucap Abi Khaliq dengan lantang dan tegas sambil mengeratkan tangannya saat berjabat tangan dengan Dareen.

__ADS_1


Uang tunai yang sengaja Darren siapkan untuk Nisa sesuai tanggal pernikahan mereka.


"Saya terima nikah dan kawinnya adinda Khairunisa Awaliyah binti Abdul Khadir dengan mas kawin tersebut, TUNAI!" Balas Darren tak kalah pantang dan tegas.


"Alhamdulillah." Terdengar ucapan syukur dari orang-orang yang menyaksikan akad nikah tersebut.


"Bagaimana, saksi, Sah?" tanya Pak penghulu pada saksi nikah yang di wakili oleh Abbas dan Om Anwar.


"Sah..." jawab keduanya bersamaan.


"Alhamdulillahirobilallamin." Semua orang berucap syukur kembali.


Doa penutup dan doa setelah menikah kembali dibacakan. Rangkaian acara kembali dilanjutkan.


Di luar ruangan. Seorang pria terlihat kecewa dan sedih.Tak terasa ia meneteskan air mata, mendengar kata Sah yang begitu lantang. Rayyan sengaja mendengarkan musik memakai headset agar tidak mendengar nama Maira disebut. Tapi sayang, hatinya menjerit saat kata sah yang terdengar tepat dengan dirinya menarik headset dari telinganya. Itu artinya pengantin wanita telah sah menjadi istri dari Darren.


"Rayyan," panggil Tante Melly.


"Sudah selesai, Ma? Ayo, Kita pulang sekarang!" ajak Rayyan lesu rak bersemangat. Ia menyembunyikan wajahnya karena malu jika dirinya ketahuan habis menangis.


"Mah, tolong jangan paksa Rayyan! Mama seneng banget sih lihat anak sendiri sakit hati!" gerutunya.


"Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus ke dalam. Kasih selamat sama mereka. Ingat Rayyan kalau jodoh tidak akan kemana, bersedih boleh tapi kamu harus menerima semua yang terjadi. Jangan membuat Mama dan Papamu malu di sini!" gertak Tante Melly membuat Rayyan mau tidak mau keluar dari mobil.


Rayyan berjalan gontai ke dalam ruangan mengikuti Tante Melly. Begitu jelas terlihat kesedihan di wajah Rayyan. Wajah putus asa karena ditinggal nikah. Padahal mereka bukan pacar, tapi kenapa perasaan itu sungguh sangat menyakitkan.


Rayyan melihat pengantin wanita sedang bersalaman dengan keluarga yang lain. Rayyan tidak bisa melihat wajah pengantin wanita itu. Tapi di sisi lain ia mendengar suara Maira sedang tertawa bersama Anna, sepupunya.


Rayyan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara. Tapi sayang wujud dari suara itu tidak ada. Rayyan mengira itu hanya halusinasi nya saja.


"Gue harus cepat pergi dari sini kalau gak gue bisa gila!" ucapnya pelan.


"Rayyan, cepat masuk!" Tante Melly kembali memanggil Rayyan.


Rasanya ingin tertawa melihat wajah putranya itu. Begitu menyedihkan, benar-benar sifat jahilnya Rayyan turun dari sang mama. Dan keseriusan Om Anwar turun pada Risma. Tante Melly berusaha menahannya tawanya. Tapi ia tidak kuasa, Tante Melly bersembunyi di belakang tubuh suaminya, Om Anwar untuk melepas sedikit tawanya.

__ADS_1


Tante Melly terkekeh pelan di balik punggung Om Anwar. "Mama pengen ketawa banget, Pah. Udah ngerjain Rayyan," bisik Rante Melly sambil membungkam mulutnya takut Rayyan menyadari kejahilan mamanya.


"Mama, anak lagi sedih begitu bukannya dihibur terus kasih tau biar semangat. Ini Malah dipanas-panasin!" balas Om Anwar sambil sedikit menoleh ke belakang tubuhnya.


"Biarin Pah, biar Rayyan tahu rasanya kehilangan saat lagi sayang. Selama ini dia gampang banget tuh ninggalin cewek."


"Emang mama mau Rayyan menikah dari salah satu mantan-mantannya?"


"Dih, gak mau! Mereka baik tapi senang mengumbar aurat beda sama Maira, Mama senang banget kalau bukan Maira yang nikah sekarang. Berarti ada kesempatan buat Rayyan!" Tante Melly kembali bersikap biasa saat melihat Rayyan menatap ke arahnya.


Tante Melly mengibaskan tangan memberi kode pada Rayyan agar terus maju mendekati kedua pengantin yang membelakanginya.


"Gile, nyokap gue gak punya perasaan banget sama gue. Anaknya lagi patah hati gini, malah disuruh ngasih selamat sama pujaan hati yang jadi bini orang! Mama durjana emang nyokap gue," oceh Rayyan. Ia menguatkan hatinya saat akan memanggil Maira.


"Ehm ... Maira!" panggil Rayyan pelan sambil berusaha menguatkan hatinya.


Saat kedua pengantin itu menoleh Rayyan membulatkan matanya melihat siapa yang ada di hadapannya dan wanita yang tiba-tiba keluar dari ruangan samping.


.


.


Bersambung.....


Hahaha... gimana reaksi Rayyan ya....


promosi lagi....


karya karya terbaik dari penulis...


mampir ya.... dijamin seru ceritanya



Mampir yak!!!

__ADS_1


__ADS_2