
Anna harus segera memberi jawaban kepada Abbas. Karena pria itulah yang lebih dulu mengucapkan khitbah padanya. Karena bagi seorang pria yang akan mengkhitbah wanita, tidak bisa terlaksana jika wanita itu telah ada yang menjatuhkan kitbah lebih dulu, setelah ada jawaban menolak, barulah di perbolehkan untuk khitbah yang lain kepada wanita tersebut. Dan Anna akan memberikan jawaban setuju kepada Darren jika ia datang untuk mengkhitbahnya.
"Biarlah rasa sakit ini dirasakan sendiri. Maaf, Bang jika keputusan Anna membuat Abang sakit hati. Maaf, Bahagia dan kesembuhan Papa lebih penting untuk Anna." batin Anna.
Esok hari Anna dan Om Anwar akan ke pihak pengadilan untuk membayar denda dan menutupi kekurangan yang harus dipenuhi Papa Reno untuk kerugian perusahaan. Sebelumnya tentunya harus melalui kuasa hukumnya, Darren.
"Sabar, ya, An! Ini ujian untuk keluargamu. Jangan lupa terus doakan orang tuamu, meski kalian saat ini berbeda keyakinan. Tapi, doa yang baik akan terkabul dari hambanya yang berdoa dengan ikhlas dan sungguh-singguh." Om Anwar menasehati Anna.
"Iya, Om. Terima kasih sudah mau membantu Papa."
"Itu sudah kewajiban Om bantu adik sendiri. Tak perlu berterima kasih. Sekarang istirahatlah, sudah malam. Besok antar Om ke tempat Darren untuk membahas apa yang harus kita siapkan selanjutnya."
Pagi harinya Anna menghubungi Darren. Ia mengatur jadwal janji dengan kuasa hukum papanya itu melalui pesan chat.
Akhirnya Anna dan Om Anwar bisa bertemu bertepatan dengan waktu makan siang. Anna baru tau jadwal pria itu ternyata padat. Pantas saja waktu itu pertama kali bertemu dengannya di rumah sakit, Darren terlihat sangat sibuk dengan segala pekerjaan yang ia bawa ke sana.
Obrolan dan upaya agar Papa Reno terbebas dari hukuman penjara adalah mengganti rugi uang perusahaan. Itulah satu-sarunya cara agar Papa Reno tak lagi berurusan dengan pihak penggugat. Meskipun akan ada penutupan persidangan untuk menyelesaikan masalah ini.
Om Anwar mempercayakan semua kepada Darren, sejumlah uang sudah ditransferkan untuk menutupi kekurangannya. Sebenarnya Abi Bagaskara secara diam-diam akan menyelesaikan masalah ini. Dengan menutup semua kekurangannya. Tapi, Papa Reno sangat mewanti-wanti, untuk kali ini tidak ada bantuan uang lagi dari sahabat nya itu.
Mama Ami dan Papa Reno sepakat menerima bantuan dari Om Anwar. Mereka berdua berjanji akan melunasinya. Papa Reno berpikir terlalu banyak merepotkan sahabatnya itu. Abi Bagas sudah banyak membantu banyak dari dulu. Ia tidak mau makin merepotkannya. Sekarang saja, bergantian Darren putra dari sahabatnya itu membantunya menjadi kuasa hukumnya tanpa meminta imbalan padahal dia adalah kuasa hukum terkenal.
"Baiklah kalau begitu, Om percayakan semua kepadamu. Terima kasih, kamu dan Abi mu banyak membantu orang tua Anna." Om Anwar melirik Anna.
"Sama-sama, Om. Kita sesama muslim bukankah sepatutnya saling memberi bantuan?" Darren menegaskan sambil tersenyum.
Om Anwar pun membalasnya dengan senyuman.
Baru bertemu sekali, tapi Om Anwar bisa memastikan Darren adalah anak yang baik. Ia memang pernah mendengar Mama Ami membicarakan pemuda ini. Ternyata setelah bertemu, ia membenarkannya sendiri.
"Mohon maaf, Om, Anna! Bukannya saya tidak sopan menyudahi pertemuan kita kali ini. Saya tidak bisa banyak berbincang saat ini karena sudah ada janji dengan klien saya!" ucap Darren setelah melihat waktu di pergelangan tangannya. lalu ia berdiri seraya mengulurkan tangan ke hadapan Om Anwar.
Oma Anwar menerima uluran tangan itu. "Tidak masalah, Kami yang harusnya berterima kasih, kamu sudah meluangkan waktu sibuk untuk menemui Om."
__ADS_1
Darren tersenyum, lalu pamit kepada keduanya.
Om Anwar berada di Surabaya hanya satu hari itu saja. Setelah bertemu Darren, Om Anwar bergegas menemui adiknya Mama Meli dan Papa Reno di rumah sakit.
...***...
Di dalam kantor, seorang pemuda bulak balik seperti setrikaan sambil menghubungi seseorang. Sudah dia hari ini Anna sulit di hubungi, Bukan sulit lebih tepatnya menghindar. Anna hanya membalas pesan chat dari Abbas tanpa mau mengangkat teleponnya.
Abbas merasa ada yang berbeda dari Anna. Apa mungkin Anna marah karena Abbas masih belum bisa meluangkan waktu untuk ke Surabaya sesuai janjinya.
"Sudahlah, Bas! pusing gue liat lo dari tadi mundur mandir gak jelas."
"Anna seperti menghindari gue, Boy!
"Yakin, lo?"
Abbas mengangkat bahu pelan, merasa tak yakin tapi itulah keadaannya. Jawaban chatnya pun singkat tak seperti biasanya.
Anna yang selalu membalas dengan kata-kata cerianya.
"Kalau gue sih bisa saja, tapi sekertaris lo, si Naina. Pa lo enggak kasian sama dia udah atur jadwal susah payah. Ya elah, Bas cuman tiga hari lagi ke Surabaya. Sabar dikit, kenapa!" Sahabatnya, Boy menasehati.
Entah kali ini Abbas merasakan perasaan yang tidak biasanya. Rasa gelisah ia rasakan.
"Arrgghh..." Abbas menyisir rambutnya dengan jemari tangannya dengan kasar. Lekas ia duduk di sofa bersama Boy, asistennya yang sedang memeriksa file yang baru saja Abbas tanda tangani usai meeting bersama rekan bisnisnya.
...***...
Dua hari telah berlalu, setelah pertemuannya dengan Om Anwar juga dirinya. Anna makin sering bertemu dengan Darren, mereka membahas masalah Papa Reno. Anna banyak bertanya apa yang bisa ia bantu untuk masalah Papanya.
"Do'akan saja agar semuanya berjalan sesuai rencana. Kami akan menjebak salah satu dari mereka untuk membuka mulut. dan Abi bagas yang akan memancing orang itu mengakuinya. Meski ada resiko setelahnya. Yang penting sekarang Papa Reno bisa terbebas dari jeratan hukum terlebih dulu." Darren menjelaskan.
Anna dan Darren berada dalam ruangan yang sama, Tapi mereka tidak berdua saja. Ada Rio, Seksrtaris Darren yang biasa membantu pekerjaanya. Pria itu sedang duduk di sofa mengecek beberapa file yang akan masuk persidangan.
__ADS_1
Dio sengaja diperintahkan berada bersama mereka. Darren tidak mau berada dalam satu ruangan dengan seseorang yang bukan muhrimnya.
"An... " panggilan Darren pelan kepada Anna saat mereka duduk berhadapan di meja kerja Darren.
"Kenapa, Mas?"
"Apa kamu yakin dengan perjodohan ini?"
Anna begeming sesaat. kemudian mengangguk pelan. "InsyaAllah, Anna yakin. Papa sangat berhadap pada perjodohan ini. Tapi, Anna minta waktu sama Mas Darren untuk menyelesaikan satu masalah Anna. Tidak akan lama, Anna janji." pinta Anna.
Darren mengangguk sambil berpikir, masalah apa yang sedang Anna hadapi saat ini, mau bertanya tapi ia masih belum punya hak.
Drttt.... drrrrtt....
Getaran ponsel dari dalam tas, dirogohnya ponsel tersebut lalu di lihatnya siapa yang menghubunginya saat ini.
"Abang" ucap Anna dalam hati saat melihat nama seseorang yang menelponnya. Bukannya menjawab Anna malah menggeser tombol merah untuk menolak panggilan tersebut.
Anna melirik kepada Darren. Pria itu sedang memerika berkas yang ada di hadapannya. Kemudian kembali menunduk, mulai sibuk menggerakan jemarinya. Terlihat sedang mengetik kata untuk membalas panggilan Abbas.
Darren memperhatikan Anna. Wajah gadis di hadapannya sangat serius dengan ponselnya, seperti bingung dan panik. Pria itu berpura-pura menyibukkan diri dengan file nya saat Anna tiba-tiba mendongak menatapnya. Saat Anna kembali menunduk Darren kembali memperhatikan Anna.
"Sepertinya ada yang Anna sembunyikan, Apa aku harus bertanya kepadanya?" gumam Darren.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
..
..