Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Semoga Kita Bertemu Lagi, Bang


__ADS_3

Anna mematung, tubuhnya kaku, hatinya berguncang hebat saat ia mendengar semua penuturan Mama Ami.


Niat hati ingin memberi kejutan kepada sang mama akan kedatangan dan prestasi yang ia raih, namun justru ia sendiri yang mendapat kejutan tentang kondisi Papa Reno.


"An," ucap Abbas pelan. Ia merasa khawatir dengan Anna karena Abbas juga mendengar semua penuturan Mama Ami.


Anna menggeleng pelan beralih menatap Abbas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"It's okay!" Anna kembali menatap Mama Ami dengan jarak tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Abbas tak bisa berbuat apa. Ia membiarkan Anna mendengar apa yang ingin ia ketahui.


"Kenapa Mama menutupi semuanya dari Anna?" lirih Anna pelan tetapi ucapannya terdengar oleh dua orang yang tengah duduk mengungkapkan kebenaran tentang Papa Reno dan masalah yang terjadi saat ini.


Oma Anwar dan Mama Ami terkejut mendengarnya. Suara itu sangat mereka kenali.


"Anna," Mama Ami sontak berdiri lalu berjalan mendekati Anna.


Om Anwar pun terdiam melihat reaksi Anna, ia akan memberi kesempatan untuk Mama Ami menjelaskan yang terjadi sebenarnya kepada Anna karena keponakannya itu berhak tahu tentang kondisi keluarganya saat ini.


"Kenapa mama menutupi semuanya dari Anna selama ini?" ucap Anna dengan suara yang tercekat. Gadis itu tak bisa lagi menahan kesedihannya. Air matanya mengirim begitu saja.


"Maafkan Mama, An! Mama tidak mau mengganggu skripsi terakhirmu. Mama dan Papa ingin kamu fokus dengan kuliah akhirmu." Mama Ami menjelaskan dengan lembut seraya meraih penghargaan yang Anna pegang."Kamu mendapat penghargaan apa?" Mama Ami berusaha menghilangkan kesedihan Anna.


"Rasanya percuma penghargaan ini Anna dapat, Mah! Anna serasa tidak berguna untuk kalian." Mama Ami langsung memeluk Anna erat.


"Maafkan, Mama!"


Rasanya bagi Anna tak ada artinya penghargaan yang ia dapat. jika melihat kedua orang tuanya mendapat masalah dirinya tida tahu apa apa.


Tante Melly dan Risma yang baru saja tiba setelah mencari Om Anwar dan Mama Ami ke beberapa sudut ruangan langsung menghampiri suaminya.


"Mas," panggil Tante Melly lalu merangkul tubuh suaminya.


Mereka menyaksikan kepiluan hati Anna.


Om Anwar lekas mendekati keduanya.


"Sudahlah lebih baik kita bicarakan ini di rumah, tidak enak dilihat yang lain," ajak Oma Anwar yang mendekati Mama Ami dan Anna.


Tante Melly pun mendekati Anna dan Mama Ami. Ia memberi sentuhan lembut kepada Anna untuk menenangkannya. "Benar kata Om mu, kita bicarakan ini di rumah."


Anna pun mengangguk mengiyakan. "Anna mau pulang ke Surabaya, Om! Anna ingin bertemu Papa!"


"Kita pulang ke tempat Om dulu, nanti akan Om pesanan tiket untuk penerbangan kalian."

__ADS_1


Anna berjalan dirangkul oleh Tante Melly. Diikuti Mama Ami, Om Anwar juga Risma.


Tak jauh mereka berjalan. Langkah Anna terhenti karena mengingat Abbas.


"Abang," Anna membalikkan badannya lalu menatap Abbas.


Om Anwar yang mengerti situasinya berbisik kepada Mama Ami.


"Biarkan mereka berbicara dulu, kita tunggu mereka sambil berjalan perlahan."


Om Anwar, Mama Ami, Tante Melly serta Risma meninggalkan Anna bersama Abbas. Om Anwar menepuk lembut pundak Anna. "Kami tunggu di depan." lalu melanjutkan langkahnya.


Risma mengambil alih buket bunga yang Anna pegang, memberikan keleluasaan untuk Anna. lalu ikut melanjutkan langkahnya.


"Bang!" ucap Anna lirih.


Anna memandang Abbas dengan wajah yang sendu. Kesedihan begitu terlihat di wajah cantiknya. "Maaf, Abang harus mendengar semua permasalahan keluarga ku. Tapi aku yakin Papa bukan orang seperti itu. Semua pasti ada yang salah." Anna berkata dengan yakin.


"Tidak perlu meminta maaf, semua orang pasti punya masalah. Kita harus bersabar dan berusaha memperbaikinya," sahut Abbas seraya terus memandang wajah Anna.


"Abang bisa mempertimbangkan niatan abang sama aku karena masalah ini," ucap Anna pelan sambil menunduk.


Ia berpikir Abbas akan berpikir ulang setelah tau permasalahan keluarganya.


Abbas tersenyum mendengarnya.


Anna mendongak menatap Abbas, kedua netra mereka saling bertemu.


"Kabari aku jika kamu memang pulang ke Surabaya sore ini, tunggu aku di sana! Aku janji akan menyusul mu. Aku tidak akan membiarkan cintaku pergi lama-lama dariku," gombal Abbas membuat Anna menarik kedua sudut bibirnya.


Senyuman itu membuat Abbas tenang. Pria yang menaruh perasaan terhadap Anna itu merasa lega setelah melihat senyuman kembali menghiasi wajah cantik gadis yang kini memakai hijab itu.


"Maafkan Anna, Bang! lagi-lagi Anna belum bisa memberikan jawaban untuk Abang, bukan karena Anna tidak yakin sama Bang Abbas. Tapi--, "


"Aku akan sabar menunggu jawaban dari mu, An! karena aku yakin akan perasaan kita yang sama dalam satu cinta, pergilah! mereka menungumu. Sampaikan maafku kepada mereka, maaf tidak bisa mengantarkan mu ke tampat Om Anwar! Anna menoleh ke arah Mama Ami yang tengah memandangnya lalu beralih kepada Abbas.


"Terima kasih, Abang sudah mengerti Anna. Akan Anna sampaikan nanti! Sampai bertemu lagi, Bang!" ucap Anna sambil menunduk hormat lalu mendongak kembali.


Abbas mengangguk sembari tersenyum memandang Anna. "Hati-hati, jaga dirimu, jaga juga hatimu buat Abang!"


Anna menyunggingkan senyumnya.


"Anna pamit, Assalamu'alaikum, Bang!"


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Anna melangkahkan kakinya dengan hati tenang pula meninggalkan Abbas yang tersenyum melihat kepergiannya.


"Tunggu aku menghalalkanmu, An!" gumam Abbas seraya memandang Anna yang sesekali menatap ke arahnya dengan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.


*


*


*


Sesuai keinginan Anna, sore ini gadis yang baru saja selesai wisuda itu beserta Mama Ami akan pulang ke Surabaya dengan penerbangan sore ini. Hanya diantar oleh Tante Melly karena Risma masih ada tugas sekolah yang tidak bisa di tinggalkan sedangkan Om Anwar ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan.


Sebelum penerbangannya ke Surabaya Anna mengirimkan pesan kepada Abbas sesuai janjinya.


📩 (Assalamu'alaikum, Abang. Maaf, mengganggu. Sore ini, Anna jadi pulang ke Surabaya. Setengah jam lagi pesawat yang Anna tumpangi lepas landas. Semoga kita bertemu lagi, Bang)


Pesan di kirimkan oleh Anna melalui snapchat. Anna melihat waktu online, baru sepuluh menit yang lalu Abbas membuka aplikasi tersebut. Tapi pesan yang Anna kirim tak kunjung terbaca sehingga Anna memilih untuk memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu duduk di area boarding pass untuk menunggu kelanjutan penerbangannya.


...***...


"Terima kasih untuk kerjasamanya, Pak Wirawan!" ucap Abbas pada pria yang baru saja berjabat tangan dengannya.


"Sama-sama, Pak Abbas. Senang bekerja sama dengan pengusaha muda seperti Anda!" Pak Wirawan menimpali.


Abbas tersenyum menanggapinya. Lalu menunduk hormat melepas kepergian Pak Wirawan yang pamit lebih dulu keluar dari restoran usai pertemuan bisnisnya dengan Abbas.


Abbas merogoh ponsel dikantung celananya. Saat detik terakhir persetujuan bisnisnya dengan Pak Wirawan Abbas mendengar notifikasi pesan pada ponselnya. Abbas mengabaikannya hingga perjanjian bisnis itu di sepakati.


"Anna," gumam Abbas saat melihat pesan yang muncul dari Anna.


Dengan cepat Abbas membuka pesan tersebut. Setelah membaca pesan tersebut Abbas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada setengah jam lagi." Abbas dengan cepat mengeluarkan uang cash di dalam dompetnya lalu menaruunya di atas meja yang ia tempati. Dengan jalan yang tergesa Abbas menuju mobilnya yang terparkir di luar restoran. Ia berharap masih ada waktu untuk menemui Anna di bandara karena posisinya saat ini tak jauh dari bandara.


.


.


.


Semangat Abbas... perjuangkan cintamu, perjuangan tak akan mengkhianati hasil.


Author bersyukur masih bisa up untuk Anna dan Abbas. Semoga aja masih ada yang baca..


ikuti juga karya teman Author

__ADS_1



__ADS_2