
Usai mengungkapkan keinginannya, Papa Reno meminta istrinya menghubungi Darren. Meminta pria itu melakukan sesuatu, Darren pria yang tegar dan bijaksana dalam bersikap itu pun menyanggupinya.
Ia bergegas pergi ke suatu tempat untuk sesuatu yang penting. Abi bagas dan Umi Hera segera pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari sahabat mereka.
Keduanya membawakan beberapa barang bawaan yang dibutuhkan di sana.
Siang ini ruang perawatan Papa Reno menjadi sedikit ramai oleh beberapa orang. Karena ruangan itu akan dijadikan tempat berlangsungnya akad nikah.
Sebetulnya Papa Reno ingin mengadakan pernikahan itu di ruko tempat tinggalnya saat ini. Tapi dokter masih belum mengijinkannya pulang. Pihak rumah sakit memberi ijin kepada Papa Reno untuk melangsungkan pernikahan putrinya di rumah sakit itu.
Papa Reno menjelaskan kepada Mama Ami dengan keinginannya, Mama Ami mengehela napas panjang. Ia takut ini akan berakibat pada kesehatan suaminya itu. Tapi perasaan Mama Ami perlahan lega dan tenang. Orang yang melahirkan Anna itu selalu mendukung apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Semua sudah berkumpul di ruangan perawatan Papa Reno. Hanya Anna yang ditempatkan di ruangan sebelah kamar itu, setelah ijab kabul selesai barulah Anna dikeluarkan.
Beberapa suster dan Umi Hera membantu Anna berhias. Hanya dengan make up sederhana yang Anna tampilkan saat ini. Dengan gamis putih beraksen mute mute cantik membuat penampilan sederhana Anna terkesan anggun.
"Kamu cantik sekali, Sayang!" ucap Umi Hera. "Umi senang sekali, atas pernikahan ini!"
Anna tersenyum membalasnya meski dalam senyumannya ada rasa sakit yang mendalam.
"Umi ke luar sebenar ya, Umi mau lihat Daren sudah datang apa belum. Anak itu mau melewati acara penting malah pergi sendiri!" gerutu Umi Hera
Hanya anggukan yang didapatnya dari Anna.
Kamu benar anakku, Umi lihat tak ada kebahagiaan di wajah Anna.
Kamu adalah pemenangnya,
__ADS_1
pemenang dalam membuatnya wanita ini bahagia.
Umi Hera pun keluar dari ruangan itu, dimana Anna akan dipisahkan terlebih dulu sebelum sah menjadi seorang istri.
"Mana Darren?" tanya Abi bagas kepada Umi Hera, istrinya.
"Sebentar lagi sampai!" balas Umi Hera seraya melihat waktu di pergelangan tangannya.
Wanita bergamis dengan tatapan lembut itu, memberi restu kepada Darren atas keputusan yang ia ambil. Begitu juga dengan Abi Bagas. Mereka yakin putranya pasti sudah memikirkan matang-matang akan keputusannya ini.
"Lama sekali anak itu, Pak penghulu sudah menunggunya," gerutu Abi Bagas karena dia termasuk orang yang tidak sabaran, sangat berbeda dengan Darren.
Sikap sabar menurun dari Umi nya.
"Assalamu'alaikum," ucap Darren.
Darren menyalami mereka yang ada di sana satu persatu.
"Baiklah kita mulai acaranya," ucap penghulu usai Darren menyalami semuanya.
Wali hakim yang menggantikan Papa Reno juga sudah hadir. Papa Reno tidak bisa menjadi wali Anna karena mereka berbeda agama. Menurut beberapa ulama akan tidak sah menikahkan anak dengan wali buang berbeda agama meskipun itu ayah kandungnya sendiri.
Papa Reno tidak mempunyai saudara laki-laki. Semua saudaranya perempuan dan mereka mempunyai keyakinan yang smaa dengan Papa Reno, hanya orang tua laki-laki dari Papa Reno yang beragama Islam, tapi kakeknya Anna itu telah meninggal dunia.
Atas kesepakatan yang disetujui oleh pihak Papa Reno. Wali yang akan menikahkan Anna dalah wali hakim.
Seorang suster bergegas kembali ke ruangan sebelah di mana Anna berada.
__ADS_1
"Pengantin pria nya sudah datang!" ucap Suster tersebut dengan suara pelan, memberitahu Anna.
"Pasti tampan ya?" tanya suster satu lagi yang menemani Anna dari tadi.
"Ya, tambah tampan. Tiap ke sini saja sudah tampan paripurna, apalagi memakai jas begitu, ugh... Jadi pengen cepet dinikahin kayak gini, dadakan kayak tahu bulet." celetuk suster yang beru saja datang sambil terkekeh pelan.
Anna diam saja tidak menanggapi. Hatinya kalut. Antara senang dan sedih. Sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri.
"Udah sana balik lagi, nanti kalau udah sah, kasih tau cepet-cepet." Suster yang satu memerintah.
"Sip, saya ke sana lagi ya, Mbak. Wah... si Mbak diam saja, pasti gerogi ya?"
Hanya seulas senyum balasan dari Anna. Hari ini hari terakhir baginya mengingat Abbas dan Setelah ini Anna harus mempersiapkan hatinya. Menghapus nama Abbas dan berusaha menjadi istri yang baik untuk Darren.
***
"Baiklah kita mulai saja pernikahannya. Semua saksi sudah ada, calon pengantin juga ada. Bagimana Anda siap anak muda," ucap Pak Penghulu tidak mau mengulur waktu lebih lama.
"Tunggu sebentar, Pak!"
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya....
__ADS_1