
Pak Irwan membagi waktu dengan Bu Ratmi. Jika Bu Ratmi menemani Riska di rumah sakit, sedangkan Pak Irwan ikut mengantarkan Bu Kania dan Pak Warno ke pemakaman.
Kebetulan sekali ada Abbas dan Anna yang baru saja datang menyusul setelah mendapat kabar dari Rio kalau putri dari Bu Kania sudah wafat dan operasi pada Riska akan segera dilakukan.
“Saya turut berduka cita, Bu Kania!” ucap Abbas.
Tak kuasa menahan kesedihan, Bu Kania kembali menangis.
Anna segera mendekatinya. “Sabar, Bu! Putri ibu sudah jalan terbaik untuk putrimu,” ucap Anna sembari mengusap lembut bahu Bu Kania. “Jangan menangis lagi, putrimu sudah tenang di alam sana. Allah pasti menempatkan tempat terindah untuknya sebab dengan kornea mata yang ia donorkan membuat hidup seseorang lebih baik. Semoga operasinya juga berhasil,” lanjut Anna.
“Apa saya boleh menemui putrimu setelah operasi nanti?” tanya Bu Kania kepada Pa Irwan yang berdiri di sisi Abbas.
“Pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian, Bu Kania, Pak Warno,” balas Pak Irwan.
“Terima kasih, Pak! Dengan melihat Riska, rasa rindu kami bisa terobati nantinya!” Pak Warno ikut menimpali.
Usai mengucapkan bela sungkawa. Abbas, Anna serta Pak Irwan bergegas menuju rumah sakit. Sebab operasi sudah berlangsung. Sebelumnya Pak Irwan sudah menghubungi Bu Ratmi akan terlambat datang ke rumah sakit. Sehingga operasi bisa langsung dilakukan tanpa menunggu kedatangan Pak Irawan.
****
Satu minggu sudah pasca operasi.
Riska masih memakai perban di matanya. Dan hari ini adalah hari di mana Riska membuka perban.
Perasaan tak sabar Riska rasakan. Rasanya sudah ingin sekali ia melihat dunia. Setelah hampir 20 tahun ia hidup dalam kegelapan.
Pak Irawan dan Bu Ratmi sudah siap dari tadi pagi. Mereka juga tidak ingin melewatkan hari ini.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka. Riska mengira dokterlah yang membuka pintu kamarnya. Tapi ternyata orang lain.
“Maaf! Kalian pasti mengira dokter yang masuk, ya?” sapa Rio ketika melihat reaksi wajah dari Bu Ratmi dan Pak Irwan yang ternyata juga gugup.
Rio selalu bercanda ketika masuk ke dalam ruangan itu. Kehadiran Rio membuat suasana menjadi ramai. Itu yang Riska rasakan. Kehadiran Rio akhir-akhir ini sedikit banyak telah menebarkan keceriaan pada diri Riska.
“Kak Rio udah bikin aku deg-degan deh!” ucap Riska dengan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
Rio hanya bisa tersenyum membalas ucapan Riska. Dari gerak bibir Riska, Rio sudah memastikan kalau gadis itu tengah merasa gugup dan malu.
“Sudah gak sabar banget, ya?”
Riska mengangguk.
“Bukan hanya Riska yang merasa gugup dan takut. Entah kenapa ibu juga sedikit takut, Nak Rio!” Bu Ratmi menimpali.
“Itu hal yang wajar, Bu!” sahut Rio. “Saya juga ikut takut!”
“Kenapa Kak Rio ikut takut?” tanya Riska.
Rio tersenyum masam.
‘Aku merasa takut jika setelah melihat nanti kamu akan melupakanku'
Batin Rio.
Satu minggu, asisten Abbas itu tidak pernah absen menemani Riska. Pernah satu malam ia menginap menggantikan Pak Irwan yang sedang kurang sehat.
“Kenapa?”
“Apa Kak Abbas akan ke sini melihatku membuka perban?” tanya Riska.
“Dia pasti ke sini, setahuku mereka sedang dalam perjalanan!” balas Rio yang sudah menduga jika Abbas ‘lah yang kembali dipertanyakan.
“Ris, apa kamu masih bersikeras ingin melanjutkan permintaanmu kepada Abbas jika operasi ini tidak berhasil?”
“Itu bukan sebuah permintaan, Kak Rio. Tapi sebuah amanah yang harus dilakukan apalagi itu amanah dari orang tua Kak Abbas,” sahut Riska.
Melihat putrinya sedang berbicara serius dengan Rio. Bu Ratmi mengajak Pak Irwan keluar dari ruangan.
Merasakan kepergian kedua orang tua Riska. Rio mendekati Riska yang duduk di atas tempat tidurnya
“Apa kamu tidak melihat pengorbanan Abbas selama ini buat kesembuhanmu, Ris?” tutur Rio.
Pria itu ingin Riska mengikhlaskan semuanya. Tanpa harus menuntut Abbas dari tanggung jawab yang seharusnya tidak ia lakukan.
__ADS_1
“Tapi Kak Anna menyetujui semuanya!” balas Riska dan membuat Rio diam mematung mendengarnya.
“M-maksud kamu apa?” tanya Rio sedikit tergagap saat ia tahu jika Anna menyetujui semuanya.
“Aku bersedia melakukan operasi karena Kak Anna. Jika operasi ini gagal pun Kak Abbas akan bersedia menikahiku!” ujar Riska dan mendapat celengan kepala dari Rio.
“Apa Pak Abbas tahu tentang ini?”
“Entahlah! Yang pasti menurut Kak Anna, Kak Abbas akan bertanggung jawab atas amanah orang tuanya itu.”
“Selamat siang! Halo Riska, apakah sudah siap untuk kita buka perbannya?” Dokter Halim menyapa sekaligus bertanya kepada Riska. Dia adalah dokter yang menangani Riska.
Dan di saat yang bersamaan Abbas dan Anna datang. Tak lama setelah itu Pak Irwan dan Bu Ratmi. Mereka juga ingin menyaksikan pembukaan perban dan melihat hasil dari operasi itu.|
“Selamat siang juga, Dokter!” Jawab Riska dan Rio.
“Saya siap untuk pembukaan perban nya dokter!” ucap Anna.
“Bagus kalau begitu! Suster tolong persiapkan semuanya!” ucap Dokter Halim.
“Baik, dokter!” sahut suster yang ikut mendampingi dokter tersebut.
“Assalamu’alaikum,” bisik Anna ke telinga Riska.
“Waalaikumussalam, Kak Anna! Kalian ke sini juga?” tanya Riska.
“Ya, aku dan Kak Abbas juga ingin melihat keberhasilan operasi iniini,” balas Anna.
Padahal dalam hatinya Anna tidak bisa tenang ia takut hasilnya nanti akan membuat ia kehilangan keutuhan perhatian Abbas.
Selama seminggu ini Anna terus melangitkan doa untuk Riska. Dan selama itu pula Anna tidak menceritakan obrolannya dengan Riska. Ia yakin kalau operasi itu akan berhasil dan kali ini mereka akan melihat hasilnya. semoga sesuai dengan harapan
Rio menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak percaya istri dari bisnya itu menyetujui permintaan Riska tanpa sepengetahuan Abbas.
Padahal Abbas sendiri selalu menolak karena tidak ingin. Menodai hati Anna.
Bersambung
__ADS_1