
...🌴🌴🌴🌴...
Setelah selesai solat maghrib Rayyan kira ia akan kembali bermanja dengan istrinya tapi ternyata tidak. Maira bilang mau mengaji sebentar, tapi malah berlanjut sampai waktu isya.
Rayyan yang menunggunya di tempat tidur terlelap karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang Maira baca. Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita itu, selepas magrib untuk mengaji sambil menunggu waktu solat berikutnya tiba. Sebab jarak solat magrib dan isya hanya sebentar. Jadi, Maira rasa sayang sekali jika masih dalam keadaan suci dalam wudu harus terlewati begitu saja.
Maira tersenyum melihat Rayyan yang tengah memejamkan matanya sambil tengkurap menghadapnya. Alunan ayat suci yang Maira bacakan seperti lagu pengantar tidur untuk Rayyan.
"Shadaqallahul adzim." Maira menutup Qur'an setelah membaca dia penutup.
Maira memandangi wajah Rayyan yang begitu lelah. Dengan benjolan di dahi yang saat ini terlihat biru lebam.
"Kasihan sekali, Mas Rayyan! Pasti sakit banget deh rasanya!" Maira mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi suaminya.
Saat merasakan sentuhan, Rayyan membuka mata. Pria itu tersenyum saat wajah Maira menjadi hal pertama yang dilihatnya.
"Maaf, Neng. Mas ketiduran, abisnya suaranya bikin tenang. Mas berasa di nina boboin sama kamu," ujar Rayyan membuat Maira terkekeh kecil.
"Sudah masuk waktu isya, solat yuk?" ajak Maira.
Rayyan mengangguk pelan. Kemudian ia bangkit dari tengkurap nya. Saat Maira membuka mukena ingin berwudu lagi karena batal wudu setelah bersentuhan dengan Rayyan. Maira di cekal oleh Rayyan.
"Maaf, Mas belum bisa jadi imam yang baik buat kamu!" Ucao Rayyan sambil menatap mata Maira penuh sesal.
Rayyan sadar seharusnya dia 'lah yang membimbing istrinya. Tapi pertama kali tinggal bersama Rayyan dibuat malu oleh kelakuannya sendiri.
"Aku juga belum baik jadi makmum kamu, Mas! Kita sama-sama belajar."
Keduanya saling melempar senyum. Rayyan menarik Maira dalam pelukannya.
"Mas janji akan bersikap lebih baik lagi. Mas ingin keluarga kita bahagia dunia akhirat." Rayyan mengecup kening Maira dalam dan lama. Maira pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Rayyan.
"Ambil wudu dulu, sekalian kita solat sunat dua rakaat ya?"
Maira mengangguk pelan. Mereka bedua bergantian untuk mengambil air wudu.
__ADS_1
solat jama'ah kemabli mereka lakukan hanya berdua. Sebab hanya ada mereka saja di sana. Setelah dua solat wajib dan solat sunat dikerjakan. Rayyan terdiam sejenak dalam duduknya.
Pria itu tengah menengadahkan tangan. Mengucapkan rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Telah mempersatukan cintanya dengan wanita pujaan hatinya. Untaian doa dan harapkan tak lupa Rayyan sebutkan. Maira mengaminkan semua yang Rayyan pinta. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu melimpah pada kehidupan rumah tangga mereka berdua.
Rayyan menghadap ke arah Maira. Mengulurkan tangan agar istrinya itu menyalaminya.
"Terima kasih, mau menerima kekuranganku," Ucap Rayyan usai Maira mengecup punggung tangan Rayyan. dengan cepat Rayyan menarik Maira dana pelukan.
"Mas sangat bahagia saat ini. Mas berharap kedepannya kamu lebih bersabar. Sabar dengan kehidupan yang akan kita jalani. Sabar menghadapi sikapmu maupun masa lalu, Mas!" Ucapnya disela pelukkan.
"InsyaAllah, aku akan selalu sabar dan selalu iklhas menerima semua yang pernah terjadi dimasa lalu kamu, Mas."
Rayyan meregangkan pelukannya. Manik mata mereka saling bersitatap.
Perlahan Rayyan mendekatkan wajahnya. Bak gayung bersambut, Maira menutup mata. Memberikan kebebasan untuk suaminya.
Rayyan tersenyum melihatnya. Pria itu mengecup kening Maira. Setelahnya mengucap seuntai doa yang wajib dibaca oleh pengantin baru yang hendak melakukan kewajiban mereka.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".
Ucap Rayyan membuat Maira membuka mata. Ia tersenyum kepada suaminya. Ternyata Rayyan hapal dengan adab sebelum berhubungan. Maira pun ikut berdoa dalam hatinya.
Maira tidak sekaku saat pertama kali mereka berciuman, tadi. Ia lebih santai dan mampu mengimbangi permainan Rayyan.
Rayyan melepaskan pagutannnya. Pria itu melepas mukena yang dipakai Maira. Kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh istrinya.
"Ah... Mas!" Maira dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Rayyan.
Pelan dan sangat hati-hati Rayyan berjalan menuju tempat tidur. Wajah Maira sudah semerah tomat dengan perlakuan Rayyan yang begitu manis padanya.
Rayyan kembali menyambar bibir Maira sambil terus berjalan menuju tempat tidur. Tanpa melepaskan panutannya, Rayyan membaringkan tubuh Maira di tempat tidur. Tangan Rayyan bergerak lincah melepas semua helai kain yang menempel di tubuh Maira. Kemudian ia lepas pakaiannya sendiri.
"Eugh..." Suara kenikmatan lolos begitu saja dari mulut Maira saat Rayyan menyusuri leher putih dan mengecupi kulit yang menyembul dibalik helai kain berbentuk kacamata itu.
Melihat reaksi dari Maira. Rayyan semakin bersemangat. Gelora hasrat telah memenuhi tubuhnya. Bibir Rayyan masih ingin bermain di atas gunung sintal putih itu.
__ADS_1
Maira menggeliat nikmat dengan setiap sentuhan yang Rayyan berikan. Disaat semuanya sudah siap Rayyan mulai melanjutkan aksinya.
"Maaf, kalau ini akan menyakitimu!" bisik Rayyan di telinga Maira.
Maira hanya mengangguk pelan dan mulai merasakan sakit dan perih saat sesuatu menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya.
Malam ini pun menjadi malam yang indah buat keduanya. Rayyan menjadi orang pertama yang menyentuhnya.
"Terima kasih, Sayang sudah memberikan sesuatu yang berharga untukku."
Maira hanya bisa mengangguk pelan. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa lelah dan nyeri pada tubuhnya membuatnya ingin sekali memejamkan mata.
Rayyan menarik Maira dalam pelukan. Mereka saling mendekap. Menutupi tubuh polos keduanya dalam satu selimut yang sama.
****
Seminggu sudah Rayyan dan Maira di tempat itu. Berbagai kisah seru sudah mereka abadikan dalam foto dan video.
Dunia serasa milik berdua saat itu. Malam pertamanya yang sedikit sulit, sekarang menjadi hal biasa yang menjadi candu. Tak gatal setiap kali berdekatan dengan Maira, Rayyan selalu beraksi.
Rayyan tidak peduli entah siang, malam ataupun sore ia menginginkannya. Yang pasti saat mereka berdua. Pasti Maira akan jadi santapan nikmat bagi Rayyan.
Seperti pagi ini, Rayyan tidak mau melewati kesempatan berharga untuk yang terakhir kali di tempat itu. Ia akan sedikit kesulitan saat di Bogor nanti. Rayyan pasti merasa canggung karena setelah ini mereka akan tinggal di rumah Maira lebih dulu. Barulah pindah ke rumah Rayyan. Sebenarnya Rayyan sudah menyiapkan kejutan untuk Maira. Sebuah rumah yang akan mereka tempati nanti, tapi Rayyan masih menahannya. Sebab rumah itu masih salam proses pengerjaan dan belum selesai.
"Mas, lepaskan! Kita harus segera bersiap. penerbangan dua jam lagi loh. kita bahkan masih di sini!" Maira berusaha melepas pelukan Rayyan dari belakang.
Maira sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di meja makan. Dalam satu gerakan cepat Rayyan membalikkan tubuh Maira agar menghadapnya.
"Sekali lagi ya, sebentar saja sebelum kita pulang," bisik Rayyan dan berhasil membuat wajah Maira kembali memerah. Entah apalagi gaya yang akan mereka lakukan.
Rayyan menaikkan tubuh Maira agar duduk di meja makan. Sebelum sarapan makanan untuk jasmaninya, Rayyan lebih memilih sarapan untuk batinnya terlebih dulu. Agar seimbang menurutnya.
Lengkuhan dan suara indah kembali terdengar lagi ini di ruang makan. Berakhir sudah petualang bebas Rayyan di tempat itu. Sebab esok hari, Rayyan tidak bisa melakukan itu di sembarang tempat seperti di Bungalow ini. Hanya di kamar pribadi tempatnya bermain panas.
.
__ADS_1
.
.