Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Menyebutnya dalam doa


__ADS_3

Langkah mereka terhenti di depan Toko Muslimah. Abbas menyuruh Anna menunggu sebentar. Ia masuk ke dalam toko tersebut, entah apa yang akan Abbas beli. Anna tak mau bertanya. Anna memilih duduk di depan toko sambil melihat keramaian di deretan ruko yang sejajar dengannya.


 Abbas kembali dengan satu buah paper bag di tangannya. Ia serahkan paper bag itu kepada Anna. 


Anna menyatukan alisnya. "Untukku." Anna menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. 


"Iya ... untukmu, itu akan menambah bacaan mu tentang islam,"ucap Abbas. 


Anna membuka sedikit paper bag yang ia terima. Matanya melebar saat ia mengintip isi dari dalam paper bag tersebut.


“Ko ... banyak, Bang? Enggak hanya buku loh?” tanya Anna heran.


“Aku ingin kamu bisa memakainya? jika suatu saat nanti, niat hati yang pernah kamu ucapkan padaku bisa terlaksana, mudah-mudahan sesuai ukurannya denganmu!” Abbas menjawab dengan mengacak rambut di pucuk kepalanya.


Anna kembali tersenyum lalu tertunduk akan perlakuan Abbas terhadapnya. Sikapnya sungguh menunjukkan perasannya terhadap Anna.


“Terima kasih, Bang.” Ucap Anna pelan.


Di sisi tembok, toko tersebut seorang wanita berhijab sedang bersembunyi dari dua orang yang di kenalnya. Awalnya hendak memasuki toko muslimah, tapi langkah nya terhenti saat melihat Abbas keluar dengan membawa Paper bag dari dalam.


Maira makin memundurkan langkahnya agar tak terlihat oleh Anna. senyum merekah dengan tatapan yang beda ia lihat dari wajah Abbas. Maira yakin Abbas mempunyai perasaan suka kepada sahabatnya itu.


Akhirnya Maira mengurungkan niatnya untuk memasuki toko muslimah itu. ia berbalik dan pergi meninggalkan toko itu.


keputusanku sudah benar, aku akan berusaha mengubur perasaan ini. Maafkan aku, Anna, tak bisa berterus terang kepadamu. meski berapa kali kamu bertanya siapa lelaki pujaan ku, Aku akan tetap menutupinya. karena aku mencintainya dalam diam. Cintanya hanya terpancar untuk mu An. aku bisa lihat itu. Semoga Allah akan berikan pengganti terbaik untukku," Batin Maira.


Maira melangkah perlahan meninggalkan Anna dan Abbas yang tak mengetahui keberadaanya. membawa sejuta perasaan yang harus terkubur sebelum berkembang.


... ***...


Sore itu Abbas dan Anna melaju ke Toko Bahan yang pesanan Bu Lidia di Pasar Anyar kota Bogor. Tak lama mereka di sana. Anna memilih untuk diam di dalam mobil, sedangkan Abbas sendiri yang mengambil pesanan Bu Lidia. Anna memperhatikan langkah Abbas dari ia keluar mobil hingga masuk ke dalam toko.


Anna tak menyangka seorang pemimpin jasa pengiriman seperti Abbas rela ikut turun tangan untuk permintaan sang Bu. Biasanya mereka yang mempunyai jabatan akan melimpahkan semua kepada asistennya, tapi selama ini Anna tidak pernah melihat itu dari Abbas. dari segi pandangan Anna, Abbas selalu mendengar apa yang Bu Lidia ucapkan. Meski ia bukanlah orang tua kandungnya. Anna sangat mengagumi sikap Abbas yang begitu penyayang terhadap Bu Lidia dan adik asuhnya di Rumah Bintang. Meski mempunyai jabatan tinggi di perusahaan yang ia pimpin tetapi sikap rendah hati selalu ia tunjukan.


Abbas kembali dengan kantong putih besar di tangannya. Kantong yang bertuliskan Toko Bahan Madani. Ia membuka pintu belakang mobilnya, menaruh barang pesanan Bu Lidia dan segera kembali ke bangku kemudi untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.


Abbas mendaratkan tubuhnya di bangku kemudi. Ia melirik Anna, pandangan mereka bertemu. Anna mencoba mengalihkan pandangannya.“Maaf, membuat mu, lama menunggu!” ucapnya pada Anna, lalu menarik sabuk pengaman kemudian memakainya. Tanda Abbas siap untuk melanjutkan perjalanan.


 “Tidak pa-pa, Bang. Aku justru yang minta maaf tidak bisa bantu Abang. Kakiku terasa linu.” Keluh Anna.


“Apa terasa sangat sakit,” tanya Abbas khawatir. Maaf jika aku yung mengajakku berjalan terlalu jauh.


Anna menggeleng. “Istirahat sebentar juga sembuh, Bang! Kita langsung saja, takut Bu Lidia menunggu,” ajak Anna.


“Baiklah,” Abbas melajukan kendaraannya membelah jalanan di kota Bogor.


Sepanjang perjalanan mereka lewati dengan bahan obrolan yang tak ada habisnya. Seperti biasa Abbas hanya mendengarkan Anna bercerita, sesekali ia jawab pertanyaan Anna. Makanan kesukaan, hal yang di suka dan tak ia suka. Ada pribahasa yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Mungkin ini yang Abbas dan Anna alami. Semakin mereka saling mengenal rasa sayang di antara keduanya semakin tumbuh.

__ADS_1


Tak terasa di dampingi obrolan yang membuat mereka berdua tertawa dengan canda tawa, perjalanan menuju rumah Bu Lidia akhirnya sampai.


Di Rumah Bintang, Anna di sambut oleh anak-anak yang sudah menunggu kedatangan Abbas dan Anna. Sebelumnya Bu Lidia sudah memberi tahunya kepada anak-anak. Keakraban Anna dan Anak-anak di rumah  bintang sangat terlihat dari perlakuan balasan yang di tunjukan anak-anak terhadap Anna. Beberapa kali kunjungan Anna ke rumah bintang membuat hubungan mereka semakin akrab.


Pintu mobil di samping Anna terbuka, Abbas menyambutnya untuk keluar dari dalam mobil.


“Terima kasih, Bang.” Ucap Anna.


“Sama-sama, gimana kakimu, sudah lebih baik?"


“Sudah, Bang!”. Anna bersiap keluar dari mobil, sebelumnya Anna hendak mengambil barang pesanan Bu Lidia di bangku belakang dan kantong hitam yang berisi kerupuk kulit yang ia beli tadi siang. Tetapi tangannya tak bisa menggapainya.


“Biar aku yang mengambilnya” Abbas melihat Anna kesulitan mengambil barang di jok belakang.


 Anna keluar dari dalam mobil dengan paper bag pemberian dari Abbas. terdengar teriakan Beberapa anak yang memanggil Anna.


“KAK ANNA ...” Anak-anak memanggil Anna kompak. Anna melambaikan tangannya membalas sapaan yang terdengar jelas.


Meisya salah satu dari anak di rumah bintang. Ia berlari kecil menghampiri Abbas dan Anna. begitu tak sabarnya ingin bertemu Anna.


“Kak, Anna. Apa kabar? Gimana kakinya kak Anna, sudah sembuh kan?” sapa Meisya terdengar khawatir, pandangannya ia alihkan ke kaki Anna.


“Baik, sayang. Kakak sudah sembuh ko, lihat sudah berjalan normal kan?” Anna mengelus rambut Meisya pelan. Mereka berjalan beriringan menghampiri Bu Lidia. Sedangkan Abbas mengikuti dari belakang sambil membawa dua jinjingan barang bawaan.


“Alhamdulillah, kalau begitu. Meisya masih ngeri, kalau ingat kakinya Kak Anna banyak keluar darah, ih ... Pasti sakit banget ya, Kak.” Meisya Meringis membayangkannya.


“Sekarang sudah tidak, Mei.”


“Assalamu'alaikum.” Anna mencium tangan Bu Lidia dengan takzim. Meski Keyakinannya berbeda tapi Anna terbiasa mengucapkan kata salam saat berjumpa dengan umat muslim.


“Waalaikumsalam.” Bu Lidia membalasnya dengan pelukan dan cium tempel di pipi kiri dan kanan.


“Apa kabar, Bu? “ sapa Anna saat Bu Lidia melepaskan pelukannya.


“Baik, Nak. Kamu sendiri, gimana, lukamu? Sudah membaik?”


“Seperti yang Bunda lihat, Aku sudah bisa berjalan meski harus berhati-hati. Beruntung bisa sembuh cepat. Kalau tidak sidang skripsi bisa tertunda, Bun.” Anna memberitahu dengan nada manja.


“Syukur Alhamdulillah kalau begitu.” Bu Lidia mengelus pelan pundak Anna.


“KAKAK ... “ suara kompak anak-anak terdengar memanggilnya. Satu persatu anak di Rumah Bintang mendekat dan menyodorkan tangannya untuk salim dengan Anna.


“Hai ... Kalian apa kabar? Anna menerima uluran tangan dari anak-anak. Aldi, Vira, Tino, loh Laras mana?” tanya Anna kepada anak-anak.


“Kak Laras ada di kamar, besok Senin dia ujian!” Vira memberitahu dengan semangat.


“Kenapa kalian tidak ikut belajar?” Anna mencubit hidung Vira pelan. merasa gemas dengan tingkah mereka.

__ADS_1


“Nanti aja ka, belajarnya. Kita kan nungguin Kak Anna!” Timpal Tino.


“E-eh .. kalian harus belajar sendiri. Kasihan Kak Anna, baru sembuh, sekarang kalian ke dalam dulu, ya.” Bu Lidia menyuruh anak-anak kembali ke dalam rumah.


Abbas yang berada di belakang Anna menghentikan langkahnya. Ia tersenyum melihat antusiasnya anak-anak akan kedatangannya


“Bun, ini bahannya di simpan di mana?” sela Abbas seraya mengangkat lengan kanannya, menunjukkan Paper bag berisi bahan pesanan Bunda.


“Oh, ya di ruang jahit saja, Nak!” ucap Bunda.


“Ini, milikmu.” Abbas menyerahkan kantong hitam kepada Anna. Bu Lidia memperhatikan itu.


“Buat di sini saja, Bang! Ya. Bun” Anna melirik ke arah Bu Lidia meminta persetujuannya.


Bu Lidia mengerutkan Alis.” Memangnya apa sih? Yang kalian pegang itu?” Bunda Lidia terlihat heran.


“Ini kerupuk kulit, Bu. Tadi Anna beli tapi masih banyak ko.” Anna memperlihatkan isi kantong itu ke arah nya. Bu Lidia hanya melirik sebentar.


“Ya ampun. Ibu kira apa? Simpan di meja makan aja Bang! Nanti kita kan makan bareng.” Usul Bu Lidia.


“Hm..” Abbas melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Menyimpan barang pesanan Ibunya dan menaruh kerupuk di ruang makan.


Abbas meninggalkan Bu Lidia dan Anna di ruang keluarga. Abbas memilih untuk membersihkan badan terlebih dulu di kamarnya. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, karena waktu Ashar masih ada. Ia segerakan kewajibannya. Abbas sebut dalam doanya nama seseorang yang akhir-akhir ini membuat hatinya gelisah. Ia tahu perasaan ini salah jika di teruskan. Lagi-lagi perbedaan yang membuatnya berpikir ulang.


Mendengar niat hati Anna saat Anna bercerita. Abbas kembali menyebutnya dalam doa. Karena hanya Allah yang membolak-balikkan hati. Entah mengapa perasaannya terhadap Anna begitu besar. Rasa nyaman ia rasakan selama bersamanya.


semoga apa yang Abbas harapkan bisa berbuah kebahagiaan.


.


.


.


.


.


Hai .. para pembaca yang setia


Selamat tahun baru 2022. telat si buat ngucapinnya. tapi aku tetap semangat.


Semoga semua harapan kita di tahun yang baru ini bisa tercapai. menjadikan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Berusaha menjadi pribadi yang baik dari sebelumnya. bertambah keimanan, dan lebih bersyukur akan apa yang sudah kita raih sampai saat ini.


Maaf kepanjangan ceramahnya.


jangan lupa ya. like 👍 komen✍️ tambah favorit ya ❤️..

__ADS_1


tahun baru kita berbagi dukungan. kirim hadiah atau vote juga di persilahkan. author sangat bersenang hati


salam hangat dari author Mayya_zha


__ADS_2