Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
jalan berdua


__ADS_3

Siang itu, mereka menikmati makan bako bersama. Anna merasa kedekatannya bersama Abbas mengalir begitu saja. Sikap yang ia tunjukan kepada Abbas pun, murni tanpa ada kepura-puraan. Anna menunjukkan sikap yang sesungguhnya, tanpa ada kecanggungan. Tak seperti wanita lain yang berusaha mendekati Abbas. Mereka menunjukkan sikap cari perhatian dan sok manis di depan Abbas. Abbas menyukai sikap Anna yang menjadi diri sendiri.


Bakso di mangkuk Anna kandas tak tersisa lalu ia meneguk habis jeruk hangat miliknya. Bakso di mangkuk mereka pun sudah habis beberapa saat lalu, tapi mereka masih enggan beranjak dari kedai bakso tersebut. Abbas dan Anna masih asik berbincang ringan sambil tertawa.


Abbas masih setia menemani Anna. Hari ini banyak senyum yang menghiasi wajah tampannya. Senyum melihat semangatnya seorang Anna bercerita tentang keseharian dan beberapa kegiatan yang ia lakukan saat libur kuliah. Ada hal lucu yang Anna ceritakan kepada Abbas. sungguh sikap cerianya menular kepada seorang Abbas yang biasa diam dan dingin.


Anna juga banyak bertanya kepada Abbas tentang dasar-dasar ilmu Agama Islam. Abbas memberikan jawaban atas apa yang ingin Anna ketahui. Sebelum bertemu dan kenal Abbas pun Anna memang sudah mempunyai niat mengenal islam lebih jauh. Sedikit demi sedikit ia di bantu sahabatnya mempelajari apa bacaan Al quran sampai akhirnya saat ini ia bisa membacany meski tak selancar Maira.


Merasa sudah terlalu lama mereka berada di sana. Anna beranjak pamit kepada Abbas.“Bang, Anna ke kasir dulu ya, sebentar!” Anna berdiri lalu melangkah ke arah kasir. Ia hendak membayar tagihan makanan yang mereka pesan, tanpa sadar Abbas mengikutinya dari belakang.


“Bill meja nomer sembilan, Mas?” tanya Anna kepada penjaga kasir.


“Ini bill nya, Mbak?” kasir itu menyerahkan tagihan kepada Anna. Lekas Anna mengambil dompet di dalam tas selempangnya untuk membayar tagihan tersebut. Tetapi Abbas telah lebih dulu membayarnya.


“Kembaliannya ambil saja, Mas!” Abbas menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribu ke meja kasir di hadapan Anna.


“Loh, Abang ...! ‘kan aku yang ngajakin makan bakso di sini, kenapa malah abang yang bayar?” protes Anna saat ia melihat Abbas memberikan uang kepada kasir. Tangan kanannya hendak membuka dompet yang baru saja ia keluarkan dari tasnya.


“Hari ini, biar aku yang telaktir kamu! Kamu hutang satu telaktiran untukku, nanti! Abbas berkata singkat dan berbalik melangkah ke arah luar kedai. Anna mengikuti langkah Abbas tanpa di suruh.


“Ko, jadi hutang sih? tadi juga ‘kan aku mau bayar, tapi malah keduluan sama Abang. Ikhlas enggak, nih, telaktir aku?” Anna menghentikan langkahnya sambil menggerutu.


Abbas memutar setengah tubuhnya menghadap Anna.” Aku ikhlas, An.” Tangannya di angkat menggapai kepala Anna, lalu mengacak rambut Anna pelan sambil tersenyum. Senyum yang membuat wanita jika melihatnya bisa berdebar.


Anna tertunduk malu, saat Abbas melakukan hal itu terhadapnya.


“Duh, Bang Abbas ngajak olahraga jantung aja,” batin Anna. Ia merasakan jantungnya berdebar tak karuan saat perlakuan manis Abbas terhadapnya. Terlebih dia melakukannya di tempat umum.


Abbas dan Anna kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kedai bakso itu.


Baru sampai di luar Kedai Bakso, langkah mereka terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya dari dalam kedai. Pelayan pria yang bertugas membersihkan meja makan yang baru selesai di gunakan pun, memanggil Anna sambil berlari pelan menyusul Anna dan Abbas


.


“Mbak, ini makanan milik kalian, ‘kan?” pelayan pria itu mengangkat kantong hitam yang ia temukan di


meja nomer sembilan.


Anna dan Abbas berbalik badan saat pelayan itu me


manggilnya.“Ya ampun, aku sampai lupa. Anna menepuk keningnya pelan. Terima kasih ya, Mas. Maaf, saya lupa tadi bawa ini dari luar.” Anna mengambil kantong hitam berisi kerupuk kulit yang di sodorkan pelayan itu.


“Iya. Mbak, enggak pa-pa ko, untung kalian masih ada di sini, jadi bisa saya kejar.” ucap pelayan itu.


“Sekali lagi, terima kasih ya, Mas!” ucap Anna.


Anna mendelik kearah Abbas.”Abang sih, aku jadi lupa sama kantong bawaan!” keluh Anna.

__ADS_1


Abbas memiringkan kepala, matanya menyipit. Bingung akan ucapan Anna.


“Kenapa jadi aku yang di salahkan? Sudahlah yang pentingkan kantong itu sudah berada di tanganmu ‘kan!”


Anna mendesah pelan, ia juga bingung kenapa harus menyalahkan Abbas.


Abbas berjalan sambil tersenyum, sesekali melirik ke arah Anna yang berjalan mengikutinya.


“Kamu mau langsung pulang, atau pergi lagi?” Abbas menghentikan langkahnya untuk bertanya kepada Anna.


“Langsung pulang, Bang. Kenapa? Emang mau kemana lagi?” tanya Anna bingung.


“Mau ikut denganku? Itupun kalau kamu mau? “ ajak Abbas. Ia melanjutkan langkahnya menuju parkiran di depan ruko. Dimana mobil hitamnya terparkir.


“Ck. Ditanya suka gitu dia mah, niat ngajak apa enggak sih, sebenarnya?” decak Anna tetapi ia tetap mengikuti langkah Abbas, tak terasa langkah mereka terhenti saat mereka sampai parkiran yang jaraknya memang tak jauh dari Kedai Bakso.


Abbas membuka pintu mobil, ia menyuruh Anna agar kantong bawaannya di simpan dulu di mobilnya.


“Emang kita mau kemana sih, Bang?”Anna penasaran dengan ajakan Abbas.


“Aku cuma mau ajak kamu keliling sekitar sini saja.”


“Kita jalan pelan, aku tau kakimu baru sembuh.” Tegas Abbas.


“Ok deh..”


Sepanjang perjalannan nya Abbas terlihat berbeda dari biasanya. Sikapnya menunjukan perhatian terhadap Anna, Anna bisa merasakannya. Tatapan nya hangat saat mata mereka bertemu. Senyum mereka terus terpancar sepanjang kebersamaannya siang itu.


Mereka melewati beberapa ruko yang menjual berbagai kebutuhan. Mulai dari kids shop, Butik pengantin dan Toko muslimah yang menjual berbagai kebutuhan wanita muslimah, dari kerudung, gamis, dan banyak pernak-pernik untuk hijab.


Saat melewati satu toko, langkah Anna terhenti,. Ia memperhatikan pajangan yang menghiasi dinding kaca toko tersebut. Pohon cemara yang di hiasi berbagai macam pernak pernik pelengkap. Bertuliskan Merry Christmas. Sesaat ia teringat akan orang tuanya. Rasa rindu itu kembali terasa.


Abbas memperhatikan Anna. Terlihat kesedihan dalam wajah Anna. Abbas mengajaknya terus berjalan santai sesekali menghiburnya. Sejenak Anna dan Abbas berhenti di jalan berpagar besi. Abbas hendak membeli dua cup kopi.


“Ada kedai kopi. Kamu mau ngga?”


“Wah .. Boleh bang. Aku mau Vanilla late ya.” Pinta Anna.


“Mau minum di sana atau di—“


“Take A way aja, Bang! Kita minum di sana saja, ” Anna menunjuk tempat duduk yang berada di Taman.


Abbas mengangguk.


“Kamu tunggu di sini, aku kedalam dulu.” Abbas masuk kedalam Kedai kopi. Ia membeli pesanan kopi yang Anna minta dan kopi creamy latte kesukaan Abbas.


Tak lama Abbas keluar dengan dua cup kopi di tangannya.Abbas menyodorkan kopi itu ke arah Anna. Anna menoleh dan menerima kopi tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, Bang." Anna berbalik menghadap pemandangan di depan matanya. Tangannya bertumpu pada pagar besi yang memanjang. sambil menggenggam kopi yang ia pegang.


"Ada yang kamu pikirkan?" Anna menoleh saat Abbas bertanya kepadanya. Anna menggeleng sambil menarik sedikit sudut bibirnya kemudian kembali menghadap lurus ke depan.


Tubuh Abbas menyender di pagar besi kemudian berbalik, posisi mereka hanya berjarak setengah meter. mereka menghadap ke arah yang sama. Memandang deretan toko yang berada di bawah mereka dengan aktivitas para pemburu kebutuhan yang hilir mudik memasuki toko.


"Aku kepikiran sama orang tua ku di Surabaya, Bang!


aku merasa ada yang mereka sembunyikan.


"Mama jarang memberi kabar kepadaku, akhir-akhir ini"


"Papa juga selalu menghindar saat aku berlama-lama berkomunikasi dengannya. Omku bilang ada sedikit masalah dengan perusahaan tempat papa bekerja, Anna takut membebani mereka di sini," keluh Anna. wajahnya cantiknya terlihat sendu.


Abbas tak bergeming. ia diam mendengarkan keluhan Anna, sesekali ia pandang wajah cantik itu.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Abbas bertanya tanpa menoleh ke arah Anna.


"Aku ingin pulang ke Surabaya, tapi entahlah, aku bingung, Bang. Anna menghela napas. kemudian berbalik, tubuhnya ia sandarkan di besi penyangga.


.


.


.


.


.


Selamat beraktifitas buat para pembaca mohon maaf author kemarin enggak up. kondisi badan sedang berperang dengan m'flu. suara juga kayak abis konser.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat. sehat kantong, sehat bada, sehat pikiran.


jangan lupa


👍like


✍️komen


tambah ke favorit❤️ jika belum klik tombol love.


sebenarnya author buat spoiler di IG. untuk bab ini. cuma kemarin belum tuntas penulisan terkendala kondisi badan. jadi spoiler aja yang di update.


Tetap semangat untuk menjalani hari ini ini.


terima kasih untuk yang bersedia mampir di lapak receh ini.

__ADS_1


Salam hangat dari Author Mayya_zha


__ADS_2